Buku: Dunia Anna; Sebuah Novel Filsafat Semesta (Jostein Gaarder)

Bandung, 12 Juli 2016
20:00 WIB

Hellou readers, kali ini gw mo ngebahas salah satu novel karya Jostein Gaarder, yg judulnya Dunia Anna. Buat yg blm tau Jostein Gaarder, beliau adalah seorang penulis novel-novel filsafat yg mulai populer waktu novel filsafat nya yg berjudul Dunia Sophie laku di pasaran pada tahun 1996.

Novel Dunia Anna ini, sesuai dengan sub judulnya “Sebuah Novel Filsafat Semesta”, ngebahas tentang filsafat alam semesta; mulai dari pembahasan tentang pemanasan global, perubahan iklim, kepunahan flora & fauna, dsb. Dalam novel ini, Anna sebagai tokoh utamanya yg adalah seorang siswi kelas 1 SMU yg kemudian berpacaran dengan kakak kelasnya yg bernama Jonas. Selain Anna & Jonas, tokoh lain yg berperan penting dlm novel ini adalah Dokter Benjamin, yg merupakan dokter pribadi Anna, beliau adalah seorang psikiater. Anna dipaksa oleh orangtuanya untuk memeriksakan dirinya ke psikiater krn sejak kecil Anna seringkali berfantasi yg aneh2. Walau demikian Dokter Benjamin tidak menemukan hal yg aneh dlm diri Anna, Anna hanya seorang gadis yg memiliki imajinasi yg luar biasa.

Dokter Benjamin: “Ada sesuatu yg km khawatirkan Anna?”

Anna: “Pemanasan Global. Saya khawatir akan perubahan iklim yg diakibatkan oleh ulah manusia. Saya takut kalau kita yg hidup saat ini mempertaruhkan iklim & lingkungan bumi ini tanpa memedulikan generasi selanjutnya”.

Dari kutipan dialog di atas menarik sekali waktu Anna, seorang gadis berusia 16 tahun begitu concern dan peduli terhadap perubahan iklim dan pemanasan global, bahkan Anna sempat2nya berpikir jauh ke masa depan tentang nasib generasi2 setelahnya. Novel filsafat ini mengajari kita untuk peduli atas nasib bumi ini, seperti halnya Anna.

Dan gw jg baru mudeng saat baca novel ini waktu Anna dan Dokter Benjamin ngebahas kalau tanaman mengisap CO2  dr udara melalui proses fotosintesis dan mengikatkan karbon pd berbagai organisme, lalu gas yg sama dilepaskan ke udara melalui sistem pernafasan hewan & dekomposisi bahan2 organik. Ini merupakan siklus keseimbangan unsur karbon dmn jumlah CO2 yg ditransfer ke atmosfer dr letusan gunung berapi setara dengan jumlah CO2 yg diurai oleh iklim & angin yg pd akhirnya terikat di kerak bumi. Lalu seluruh unsur karbon yg selama berjuta2 tahun telah menjadi bagian dr minyak, batu bara, dan gas itu masuk & keluar dari siklus td. Sehingga keseimbangan tersebut menjadi rapuh  krn telah terusik melalui pembakaran minyak, batu bara, dan gas yg kemudian melepaskan CO2 ke atmosfer. Sehingga makin lama jumlah CO2 di atmosfer semakin meningkat dan bumi menjadi lebih hangat. Semakin banyak CO2 di atmosfer bumi, semakin meningkatkan suhunya. Lalu terlepaslah gas metana dan CO2 ke atmosfer. Metana adalah salah satu unsur utama rumah kaca dan mengakibatkan semakin panasnya bumi. Hadehhhh kok rempong bgt yah si Jostein Gaarder ini ngejelasin detail tentang pemanasan global dalam novel ini. Hahahaha

Jadi dari penjelasan di atas kita bisa bayangin kan kalau es dan gletser di bumi mencair krn suhu bumi yg makin meningkat, sehingga lama-kelamaan es di Greenland pun akan meleleh, dan kemudian es di Antartika jg akan ikut meleleh. Haduhhh… Kok jd serem gini yah ngebayangin pemanasan global.

Hal aneh namun menarik dlm novel ini adalah saat Anna seringkali terbangun di pagi hari menjadi seorang gadis bernama Nova yg hidup pd tahun 2082. Dalam kehidupan Nova, habitat monyet berkepala kapas (Saguinus Oedipus) di Amerika Selatan telah hangus & layu, sisa2 penangkaran pun telah direnggut maut, sehingga banyak binatang primata yg telah dinyatakan punah. Bahkan sekawanan antilop, rusa kutub, dan jerapah di Afrika pun telah punah. Selain itu tak tersisa sedikitpun es di kutub Utara, Nova merasa begitu sedih dan sengsara hidup pada generasinya.

Sangat menarik membaca novel ini yg sedikit banyak mengingatkan kita betapa kita harus peduli akan kesehatan bumi kita. Berikut adalah kalimat-kalimat bijak yg ditulis dlm novel ini:

Salah satu dasar segala permasalahan etika adalah aturan emas atau prinsip resiprositas: Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Aturan ini tidak hanya menyangkut dimensi horizontal: kita dan orang lain. Prinsip resiprositas juga mempunyai dimensi vertikal: Perlakukanlah generasi selanjutnya sebagaimana engkau telah diperlakukan oleh generasi sebelummu.

Waktu gw baca kalimat itu, gw jd inget salah satu ayat di Alkitab yg juga mengatakan demikian, kalau boleh gw kutip ayatnya tertulis dalam kitab Lukas 6:31, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Berdasarkan ayat itu, gw sempet stalked profilnya Jostein Gaarder yg selain seorang filosof dan penulis novel filsafat, beliau juga seorang Katolik yg taat. Gw agak sedikit takjub waktu ayat ini ditulis oleh Jostein Gaarder dalam novel ini dengan cerdas bahwa bukan hanya hubungan relational secara horizontal aja (generasi sekarang), tapi kita jg harus memikirkan bagaimana kita memperlakukan generasi2 cucu cicit kita di masa mendatang (dimensi vertikal), warisan alam semesta yg seperti apa yg bisa kita tinggalkan untuk cucu dan cicit kita nanti. Kenapa gw bilang Jostein cerdas dlm hal ini, krn gw merasa sangat dicerahkan oleh penjelasan ini. Gw bahkan belum pernah terpikir tentang dimensi vertikal sehubungan dengan ayat tersebut. *thumbs up.

Selanjutnya Jostein menulis:

Cintailah tetanggamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Dan itu tentu saja harus mencakup “tetangga” generasi atau generasi selanjutnya. Ini harus melingkupi seluruh makhluk yg akan hidup di bumi sesudah kita.

Sama halnya dgn tulisan Jostein sebelumnya, kutipan ini jg tertulis dalam Alkitab, tepatnya pada Matius 22:39, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Sesama manusia disini tentu saja termasuk tetangga dan orang lain. Melalui novel ini Jostein seakan mengingatkan kita bahwa kita harus peduli tidak hanya pada nasib generasi sekarang, namun juga pada nasib generasi mendatang. Maaf bukan maksud saya masuk ke ranah Theologi, hanya saja saya teringat kutipan2 Jostein tersebut ada di Alkitab juga. Hehehe

Oh iya ada sedikit tambahan nie:

Pertama, baca novel Dunia Anna ini berasa kyk lagi nonton flash news, cz dikasih banyak bgt info soal kerusakan lingkungan.. Trus infonya lumayan to the point.

Kedua, style pacarannya Anna & Jonas bs dibilang keren buat ukuran seumur itu cz udh sampe ngebahas soal masalah kelestarian lingkungan 😄.. Kayaknya si Jostein terkesan mo ngasih inspirasi ke pembacanya yg remaja supaya ngikut style pacarannya Jonas & Anna. Pacaran dengan cara yg smart dan bermanfaat.

Ketiga, lewat novel ini, sepertinya si Jostein udah bisa berusaha ngebuktiin kepada pembaca yg beranggapan klo filsafat itu cm rame doang, tp ngga praktis. Umumnya filsafat emang kadang “terkesan” rame doang alias berbelit belit pembahasannya cz emang kadang beberapa filsuf emg suka bgitu sih ngomongnya muter2 😅, tp tetep aja dibalik itu, filsafat ngajarin berfikir gmn cara mikir yg tepat. Filsafat bs ngajarin hakikat kehidupan, makanya akhirnya si Jostein bisa bikin novel ini dan bisa ngajarin apa arti pentingnya alam buat manusia. Trus manusia mesti baik bukan cuma sama generasinya, tp sama generasi selanjutnya jg. Trus Jostein jg ngasih solusi kreatif (sisi praktis).

Keempat, melalui tokoh Jonas, Jostein bisa kasih solusi yg kreatif tentang bagaimana cara menyelamatkan lingkungan. Cara yg manfaatin sifat manusia yg ingin dihibur alias senang dengan permainan2. Ini secara ga langsung agak sedikit mirip sama konsep inner child dalam ilmu psikologi.

Kelima, Karakter Nova memang sedikit membingungkan. Hubungan Nova dan Anna dan cara mereka berkomunikasi lebih membingungkan lg. Hehehe. Klo misalkan Nova itu pure cuma imajinasinya Anna di dunia mimpi, knp Anna pernah ngeliat Nova waktu Anna lg berduaan sama Jonas di semacem pondok gitu. Jangan2 apa si Anna udah kena skizofrenia ya 😅. Cz banyak orang yg cerdas diduga kuat punya bakat penyakit jiwa..hehe.. 

Btw, kayaknya sampai disini aja yah pembahasan tentang Dunia Anna. Buat yg penasaran tentang kelanjutan cerita Anna, bisa langsung cari bukunya di Gramedia. Hehehe Mari kita mulai peduli akan bumi kita! ^_^
Source:

Dunia Anna; Sebuah Novel Filsafat Semesta, Jostein Gaarder, 2015, Mizan.
With Love, 

Naomi Indah Sari

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s