Buku: Dunia Cecilia; Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi (Jostein Gaarder)

Bandung, 13 Juli 2016

21:25 WIB

Hellou readers, setelah kemarin kita ngebahas tentang novel Dunia Anna; Sebuah Novel Filsafat Semesta, sekarang gw mo ngebahas buku Jostein Gaarder yg judulnya Dunia Cecilia; Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi. Kalau menurut gw pribadi Dunia Cecilia lebih keren & lebih asik dibaca daripada Dunia Anna. Mungkin krn Dunia Cecilia menceritakan tentang Surga, Bumi, Malaikat, dan kehidupan spiritual; so ini menarik bgt buat gw. Yuk kita tengok sedikit ceritanya si Cecilia.

Di halaman awal buku ini kita disambut oleh sebuah puisi karya Edith Sodergran (1892-1923) yg ditulisnya saat usianya 16 tahun: 

Bahagia adalah kupu-kupu

Mengepak lemah, rendah dekat tanah

Tapi nestapa adalah rajawali

Dengan dua sayap hitam raksasa nan perkasa

Ia mengangkatmu tinggi di atas kehidupan

Yang merekah di bawah sana, di hangat surya dan pertumbuhan

Rajawali nestapa tinggi terbang

Ke negeri para malaikat yg setia menjaga sarang kematian

Dalam novel ini diceritakan Cecilia seorang gadis yg sedang menderita sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Bosan berada di kamar tanpa melakukan apapun dan bosan larut dalam kesedihan, lalu Cecilia mulai menulis di buku catatannya:

Kita menangis saat ada sesuatu yg menyedihkan. Kita juga sering mencucurkan air mata saat ada sesuatu yg indah. Ketika ada sesuatu yg lucu atau jelek, kita tertawa. Mungkin kita sedih saat merasakan keindahan karena kita tahu itu tak akan berlangsung selamanya. Kita tertawa ketika ada sesuatu yang jelek karena kita tahu itu hanyalah canda.

Hingga suatu hari Cecilia berjumpa dengan seorang malaikat dari depan jendela kamarnya. Malaikat itu mengenakan jubah putih panjang, bertelanjang kaki dan tidak memiliki sehelai rambut pun. Nama malaikat itu Ariel. Malaikat Ariel dapat masuk ke dalam kamar Cecilia kapan saja tanpa melewati pintu ataupun jendela, mungkin dy menembus dinding seperti di film-film. Hehehe

Di tengah percakapan antara Cecilia dan Malaikat Ariel, Cecilia bertanya:

Cecilia: “Mana yg lebih dulu ada: ayam atau telur?”

Malaikat Ariel: “Tentu saja lebih dulu telur. Apa kau pikir ayam pertama di dunia muncul begitu saja dari udara? Begitu juga dengan anak-anak, merekalah yg lebih dulu ada di dunia ini”.

Well readers, ini pertanyaan klasik bgt. Pasti beberapa orang pernah bertanya mana yg lebih dulu; ayam atau telur? Kalau gw pribadi sih ga mau pusing mikirin ini. Karena jujur gw masih belum dpt point yg bikin gw klik tentang hal ini. Bahkan jawaban Malaikat Ariel pun masih absurb menurut gw. Kalau menurut kalian mana yg lebih dulu dan mengapa?

Dialog selanjutnya:

Cecilia: “Apa kau benar-benar yakin Adam dan Hawa tercipta sebagai anak-anak?”

Malaikat Ariel: “Yakin sekali. Apa tak pernah terpikir olehmu bahwa anak-anaklah yg paling mirip dengan malaikat-malaikat di surga?”

Well readers, gw jadi berpikir si Jostein Gaarder tau dari mana atau terinspirasi dari mana sampai dia bisa tau kalau Adam dan Hawa adalah anak-anak saat mereka diciptakan. Kalau misal mereka memang anak-anak, kenapa mereka saling merasa malu saat mereka menyadari bahwa diri mereka telanjang setelah makan buah terlarang. Bukankah anak-anak juga sama polosnya dengan Adam dan Hawa sebelum makan buah terlarang?

Kejadian 3:7-10,  Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” 

Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Coba liat kalimat yg di bold, ditulis di kitab suci kalau “manusia itu dan isterinya“, apa mungkin Tuhan menciptakan Adam dan Hawa sebagai anak-anak yg seperti suami-isteri? Duh…seandainya gw bisa bertanya langsung sama Jostein Gaarder via email. Huhuhuhu bukannya gw mau meragukan filosofinya si Jostein Gaarder, gw cm butuh penjelasan lebih lanjut tentang hal ini. Apa kalian sependapat dengan Jostein Gaarder?

Selanjutnya Cecilia kembali menulis buku catatannya:

Setiap detik, bayi-bayi baru muncul dari lengan jas Tuhan. Sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yg menghilang. Mantra KELUAR terucap, maka kau pun harus keluar.

Bukan kita yg datang ke dunia. Dunialah yg datang kepada kita. Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini.

Kadang-kadang, Tuhan hanya berkata, ” Aku tahu, banyak hal bisa dibikin berbeda, tapi semua sudah terjadi, dan Aku sudah berbuat sebisa-Ku”.

Btw, tulisan Cecilia di buku catatannya itu merupakan catatan obrolannya dengan malaikat Ariel. Malaikat Ariel lah yg bercerita kepada Cecilia bahwa Tuhan berkata, “tapi semua sudah terjadi, dan Aku sudah berbuat sebisa-Ku”. Kebayang ga sih kalau Tuhan beneran ngomong kyk gt, seakan kok bahasanya Tuhan kayak pasrah bgt gt yah. Hehehe

Lalu buat kalian yg seringkali bertanya apakah malaikat itu bersayap atau tidak, ini kutipan dialog Cecilia dan malaikat Ariel perihal ini:

Cecilia: “Mengapa kau tidak punya sayap?”

Malaikat Ariel: “Sayap malaikat hanyalah takhayul kuno yg dimulai pada masa ketika manusia menganggap bumi ini datar seperti kue dadar. Burung memerlukan sayap untuk terbang karena mereka terbuat dari darah dan daging. Kami terbuat dari ruh, jadi kami tidak memerlukan sayap untuk bergerak di alam semesta ini”.

Jadi menurut Jostein Gaarder, malaikat itu tidak bersayap atau lebih tepatnya tidak perlu sayap, karena malaikat tidak terbuat dari darah dan daging. Malaikat tidak perlu sayap untuk bisa terbang. ^_^ 

Oh iya ada yg menarik nie menurut gw, waktu Cecilia berkomentar bahwa tak seorangpun astronaut pernah melihat Tuhan atau malaikat. Lalu malaikat Ariel menjawab:

“Tak seorang pun ahli bedah otak pernah menemukan pikiran di dalam otak. Dan tak seorang pun psikolog pernah melihat mimpi orang lain. Itu tak berarti pikiran dan mimpi tak benar-benar ada di dalam kepala manusia”.

Sedikit mo komentar buat kalian yg atheist, jawaban malaikat Ariel itu sedikit banyak bisa menjelaskan bahwa walau kita tidak bisa melihat Tuhan atau malaikat, atau bahkan kita tidak bisa membuktikannya, bukan berarti Tuhan dan malaikat itu tidak ada. Sama hal nya seperti pikiran dan mimpi, kita bisa bercerita, tapi tak ada satu pun orang yg bisa membuktikannya. ^_^

Berikut ini kutipan dari catatan Cecilia yg menurut gw sangat “gw banget”, hehehe:

Bukan anak yg dilimpahi kasih sayang yg mendapat banyak nama. Tapi anak yg hilang. Anak yg ditinggalkan di depan pintu. Anak yg tak seorang pun tahu asal-usulnya. Anak yg melayang-layang di ruang hampa.

Inti dari semuanya yg gw suka dari novel ini adalah waktu malaikat Ariel ngejelasin walau dy adalah makhluk abadi dy ga ngerasa hidup, krn dy ga terbuat dari darah dan daging, dy ga bisa merasa sakit dan mati. Manusialah yg datang dan pergi, manusialah yg tidak abadi.

Klo baca Dunia Cecilia gw ngerasa diingetin betapa fananya kita dan betapa ga layaknya kita buat sombong2 di bumi. Inget yah kita ga layak buat sombong atau bertingkah seenaknya di bumi. Kita itu makhluk fana. Jd harus tetap belajar respect sama sang Pencipta yah. ^_^

Sampai disini aja yah pembahasan kita tentang Dunia Cecilia. Banyak hal menarik di buku ini yg akan lebih seru jika kamu baca dan temukan sendiri. Btw, di halaman terakhir buku ini, Jostein Gaarder mengutip salah satu ayat dari Alkitab:
For now we see through a glass, darkly;

But then face to face:

Now I know in part;

But then shall I know even as also I am known.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin

Suatu gambaran yg samar-samar,

Tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.

Sekarang aq hanya mengenal dengan tidak sempurna,

Tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna,

Seperti aku sendiri dikenal.

1 Korintus 13:12.

Source:

Dunia Cecilia; Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi, 2015, Mizan.



With Love,

Naomi Indah Sari

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s