Buku: Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng (Jostein Gaarder)

Bandung, 7 Agustus 2016
22:45 wib

Hi readers,

Setelah sebelumnya kita uda ngebahas tentang novel filsafat Dunia Anna & Dunia Cecilia, berikut ini salah satu novel yg merupakan karangan Jostein Gaarder juga, yg berjudul Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng.

Yg menjadi tokoh utama dalam novel ini adalah Peter, seorang pria dewasa (btw, jarang bgt lho si Jostein Gaarder menggunakan tokoh pria dewasa dalam novelnya, biasanya/kebanyakan Jostein Gaarder menggunakan tokoh gadis remaja sebagai tokoh utama novelnya). Peter ditokohkan sebagai sosok pria yg sejak kecil memang cerdas dan penuh imajinasi. Waktu baca halaman2 awal gw malah berpikir sosok Peter ini kok kayak mengalami delusi2 dari pikirannya sendiri, sampai2 dy sendiri takut dengan tokoh imajinasi yg dia ciptakan sendiri. Hohoho

Selain cerdas & imajinatif, Peter kecil jg merupakan anak yg nakal dan iseng. Peter yg iseng nelponin 6 taxi sekaligus dan order semua taxi itu ke satu alamat yg sama, ke alamat di sebrang jalan rumahnya, si Peter punya kepuasan sendiri melihat dari jendelanya, taxi-taxi berdatangan & melihat yg punya rumah bingung kenapa banyak taxi padahal dia tidak memesan.

Ngomong-ngomong soal telepon sehubungan dengan ulah si Peter, gw jadi inget ulah gw waktu kecil yg iseng bgt nelponin tetangga2 gw, pas telponnya diangkat sama tetangga gw, gw cuma diem aja, trs gagang teleponnya gw taro di sebelah pesawat telpon. Trs gw langsung bertengger di pager rumah dan langsung melihat arah rumah yg gw telpon, dimana tetangga gw lg bingung sambil megangin telpon, terus bodohnya gw teriak dr pager manggil tetangga gw, ya jelas donk tetangga gw langsung tau itu ulah siapa, karena pasti suara teriakan gw bergema masuk juga ke gagang telpon gw. Wkwkwkwkwkkk mulai dari situ gw ga pernah isengin tetangga gw lagi. Hehehe 

Karna si Peter sering banget iseng suka telpon sana telpon sini, nelponin bagian informasi dengan tujuan ga jelas, suatu hari ibunya Peter marah karna tagihan telpon jadi mahal. Btw, si Peter ini kok beneran isengnya kayak gw waktu kecil. Waktu gw awal SMP sekitar tahun 2000, waktu itu lagi zamannya telpon online cari teman gt. Nomor telponnya klo ga salah kebanyakan dimulai dengan nomor 0809-1234-5678, kira2 kyk gt deh nomornya. Banyak di iklan TV, radio, dan majalah; iklan itu ngajak kita gabung di obrolan telpon untuk sekedar cari teman atau cari pacar. Wkwkwkwkwkkk waktu itu umur gw baru 12 tahun dan hampir tiap hari gw telpon kesitu. Moment yg gw inget, waktu gw telpon,operatornya ngajak gw ngobrol sebentar, trs dia langsung nyambungin line gw ke line cowok buat kenalan gt. Hahaha terus gw inget juga dulu gw nyanyi2 pas lg ngobrol sama operator telponnya, dia nanya: “Indah bisa nyanyi ga?”, terus dengan PD nya gw nyanyiin lagunya Inka Kristi yg kira2 begini, “hati dilanda kekeringan…bla bla bla…” wkwkwkwkwkkkkkk klo kalian remajanya di tahun 1998-an kalian pasti tau lagu ini. Hahaha terus pas tagihan telepon dateng, gw dimarahin sama mami (nenek gw) karna tagihannya mahal. Sampai2 pesawat telepon di rumah gw dikerangkeng & digembok biar cuma bisa buat terima telpon aja. Berhubung gw emang anaknya iseng, gw akalin pake pensil atau lidi buat mencet tombol2nya terus gw sukses telponan lagi. Hahahaha tapi setelah itu gw sadar klo gw uda merugikan keluarga, trs gw uda ga iseng kayak gitu lagi. Hahahaha

Lanjut, waktu si Peter berumur 7 tahun dia nonton teater yg berjudul East of Eden. Lalu ada satu dialog menarik dari teater tersebut:

Sungguh menyakitkan jika  seseorang merasa tidak dicintai. Itu akan membuat orang menjadi jahat“.

Waktu gw baca kalimat ini, gw langsung berpikir bahwa ini gw bgt. Pernah ga sih kalian ada di posisi tidak merasa dicintai oleh keluarga, teman2, atau pacar? Jujur gw uda ngerasain semua, bukan karena gw jahat dan ga layak untuk dicintai yah, tapi memang Tuhan punya cara lain untuk mengasah mental & jiwa kita. Nah klo dari kutipan diatas kan umumnya orang yg merasa tidak dicintai pasti merasa sangat sensitif, lalu kemudian menjadi sangat emosional, berontak terhadap lingkungan yg secara tidak sadar dianggap memusuhi dirinya. Tapi klo gw pribadi malah berpikir sebaliknya, jika memang kita merasa atau memang benar2 tidak dicintai oleh siapapun, bukan berarti kita harus jadi jahat, tapi melalui peristiwa itu kita bisa menjadi diri kita apa adanya dan tidak henti untuk berbuat baik. Gw yakin someday pihak yg tidak mencintai kita pun akan merasakan posisi “tidak dicintai” oleh pihak yg lain. Dan tentu saja kita menang, karna kita sudah melewatinya lebih dulu dan tetap berbuat baik setelahnya. Hohoho *lg sok bijak. ^_^

Adapun kalimat bijak si Peter Kecil yg bilang, “saya tidak pernah membocorkan rahasia. Menurut saya, membocorkan rahasia sama saja dengan meniru kejadian yg sebenarnya. Itu terlalu murahan“. Wah wah…si Peter bijak & berintegritas yah. Cz kebanyakan dalam kehidupan sosial, mustahil jika seseorang tidak menceritakan tentang sesamanya kepada orang lain. Baik itu hal positif ataupun negatif, informasi dari mouth to mouth alias gosip, alias kepo, alias ember selalu ada di setiap diri kita. Hayo ngaku! Kamu juga pasti pernah kan??? Jujur gw juga pernah. Wkwkwkwk maklum gw orangnya extrovert, jadi gw suka cerita2, terlebih suka ceritain aib gw sendiri. Buahahahahaaaa tp di usia yg uda dewasa kayak gini uda ga gitu lagi kok. Makanya gw suka bgt sama kalimatnya si Peter soal ini.

Tapi gw sebel bgt sm karakter Peter dewasa. Dalam novel ini diceritakan bahwa Peter dewasa adalah pria yg playboy, dan seringkali mengajak gadis2 secara bergantian ke apartemennya di hari2 yg berbeda, lalu hanya untuk malam itu saja, Peter tidak mau melanjutkan komunikasi dengan gadis2 yg sudah ia undang ke apartemennya, karna Peter tidak suka komitmen. Nyebelin bgt kan…sok kegantengan.

Lalu suatu hari Peter berjumpa dengan seorang gadis yg bernama Maria, Peter merasa cocok & menikmati hubungannya dengan Maria. Yg paling membuat Peter tambah happy lagi adalah “Maria ingin hamil dari Peter tanpa Peter harus bertanggungjawab”. Menurut gw tokoh si Maria ini bodoh sekali. Bahkan Peter berkata, “memberikan anak kepada seorang wanita,  anak yg tidak akan menjadi milik saya, sungguh cocok dengan saya. Saya selalu senang menebarkan benih di mana saja“. Sebenernya gw males bgt ngebahas bagian ini. Gw juga belum mengerti kenapa Jostein Gaarder menciptakan tokoh seperti ini dalam novelnya. Pokoknya bagi gw baik Maria maupun Peter, mereka sangat bodoh dengan mempermainkan benih semacam itu. Bagaimana Maria ingin punya anak tanpa suami? Apakah ia tidak memikirkan kondisi psikis anak yg tumbuh tanpa sosok ayah? Well, whatever… It’s just a novel anyway…

Well, daripada bahas itu mending kita bahas topik paling menarik dalam buku ini. Si Peter ceritanya adalah seorang penjual dongeng atau cerita2 karyanya yg dijual kepada orang lain. Someday diceritakan Peter berjumpa dengan seorang pelanggan yg merupakan seorang antroposofis, yaitu sebuah sistem yg dikembangkan oleh filosof Austria, Rudolf Steiner, yg berusaha mengoptimalkan kesehatan dan kebahagiaan fisik maupun mental. Lalu berangkat dari situ Peter menggarap suatu cerita yg diberi judul Konstanta Jiwa. Ceritanya begini:

Ketika penduduk dunia berada pada kisaran 12 M, seorang anak aneh lahir di sebuah desa kecil di Bolivia. Pablo, anak yg tampan, dan terlihat seperti layaknya bayi laki2 biasa. Namun ketika dia tumbuh, orang2 di sekitarnya melihat bahwa anak kecil itu tidak memiliki kemampuan spiritual. Dia menjadi objek penyelidikan neurologis yg menegaskan fakta bahwa dia tidak menderita kerusakan otak, ataupun gangguan fisik. Dia bahkan belajar membaca dan menghitung dengan cepat, tetapi dia tidak punya jiwa. Pablo adalah sekam kosong, kulit tanpa buah, kotak perhiasan tanpa perhiasan. Sebagai hasilnya, dia tumbuh seperti hewan-manusia yg sama sekali tidak punya kesadaran diri ataupun pertimbangan terhadap orang lain. 

Dari usia 18 bulan, Pablo harus selalu diikat dengan rantai, ini membuat orangtuanya menderita. Di sekolah dia diikat pada bangku sekolah yg sangat kuat dan digembok ke lantai dari beton. Namun dia sama sekali tidak dapat merasa malu atau membenci diri sendiri. Satu2nya kesalahan pada dirinya adalah bahwa dia tidak berjiwa.

Beberapa detik setelah Pablo lahir, seorang bayi tak berjiwa lainnya lahir di London, gadis itu bernama Linda. Beberapa menit kemudian, anak serupa lahir di Afrika, Cina, Jepang, India, dan Bangladesh. Anak2 tak berjiwa tersebut seringkali memiliki kecerdasan diatas rata2.

Ketika Pablo berusia 20 tahun dan telah melakukan sejumlah pembunuhan serta kejahatan kekerasan lainnya, termasuk pembunuhan kejam terhadap ibu kandungnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan sebuah laporan internasional yg mencakup 2.000 kejadian yg disebut Penyakit Tanpa Jiwa (PTJ).

Gereja katolik Roma melarang secara resmi penggunaan kontrasepsi. Paus dan Dewan Kuria membuat slogan, “Lahirkan cinta, bukan cacing!”. Tanpa kompromi, Gereja menolak membaptis anak2 penderita PTJ. Tindakan itu dianggap menghina Tuhan seperti halnya mencoba mengkristenkan seekor anjing.

Secara hukum, penderita PTJ tidak dapat bertanggungjawab atas perbuatannya. Sama seperti sebuah gelombang pasang raksasa atau ledakan gunung berapi yg tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Celakanya sangat tidak mungkin mendeteksi PTJ dengan menggunakan amniocentesis, yaitu prosedur medis yg digunakan untuk diagnosis prakelahiran. Biasanya dilakukan ketika ada resiko tinggi kelainan genetik. Tiadanya sifat2 jiwa tidak berkaitan dengan gen.

Pablo dari Bolivia dan Linda dari Inggris saling diperkenalkan dan dilepaskan dari ikatan dan gembok. Mereka saling memukul satu dengan yg lain, kemudian bercinta dengan brutal dan kasar, lalu melakukan adegan kamasutra. Pablo dan Linda tidak punya jiwa untuk saling mencintai. Mereka tidak merasa malu atau risih, karena tanpa jiwa tak ada sesuatupun yg dapat menjinakkan ataupun mengendalikan nafsu mereka.

Pertemuan Pablo dan Linda menghasilkan kehamilan dan kelahiran, anehnya mereka melahirkan bayi perempuan yg sangat normal yg memiliki jiwa dan kehidupan. Bayi tersebut diberi nama Cartesiana, seperti nama filosof Prancis, Rene Descartes, karena bayi perempuan itu menunjukkan pada dunia bahwa jiwa tidak diturunkan, hanya ciri2 fisik kitalah yg diturunkan. Kita tidak mewarisi setengah jiwa dari ibu ataupun ayah. Jiwa tidak dapat dibagi dua, dua jiwa juga tidak dapat disatukan. Jiwa adalah entitas yg tidak dapat dibagi, atau sebuah monad.

Cartesiana dirawat oleh Badan Perlindungan Anak dengan alasan mengantisipasi pengabaian pengasuhan dari orangtua biologisnya. Atas desakan gereja, mayoritas penderita PTJ dipaksa untuk menjalani sterilisasi.

Salah satu aspek dari cerita ini, sejak itu manusia memiliki rasa hormat yg lebih mendalam terhadap sesamanya sebagai makhluk spiritual. Orang tidak lagi terperosok ke dalam perbuatan tercela dengan mengutuk dan menyiksa sebuah jiwa.

Well readers, bagaimana pendapat kalian tentang Penyakit Tanpa Jiwa (PTJ) ini?

Dari keseluruhan isi buku ini, topik inilah yg paling menarik. Bahkan gw jadi terinspirasi untuk meneliti topik ini. Gw sempat berpikir jika dihubungkan dengan realitas yg ada saat ini, penyakit seperti apa yg dapat digolongkan dengan penyakit tanpa jiwa? Misalkan saja penderita Autism dan Down Syndrom, apa mereka tidak memiliki jiwa? Tentu saja mereka punya, karena faktanya penderita autism dan down sydrome memiliki perasaan untuk menyukai, mencintai, perasaan ingin dikasihi, dan sebagainya.

Nah jika mengacu pada cerita diatas, Penyakit Tanpa Jiwa ini dihubungkan dengan adanya “spritualitas” dalam diri seseorang atau tidak. Jika seorang manusia tidak memiliki kehidupan spiritual dan tidak mengasah spiritualitasnya, tentu saja orang tersebut akan mengarah kepada berkurangnya eksistensi jiwa dalam dirinya. Sayapun masih menganalisa apakah “tanpa jiwa” berbeda ataukah sama dengan “sakit jiwa”. Namun kalau boleh saya pahami, sakit jiwa lebih kepada kondisi jiwa seseorang yg sudah ada dan awalnya normal, namun dengan begitu banyaknya benturan terhadap jiwanya, sehingga mengakibatkan orang tersebut menderita sakit jiwa. Berbeda dengan tanpa jiwa, dimana jiwa itu memang tidak pernah ada di dalam diri seseorang. Ini sedikit membingungkan dan membuat saya penasaran. Contoh, misal ada seseorang yg seringkali membunuh sesamanya tanpa merasa bersalah, bukankah hal ini serupa dengan cerita Pablo diatas bahwa Pablo juga melakukan hal serupa tanpa merasa bersalah. Lalu seorang pembunuh tersebut secara psikologis dapat pula disebut sebagai seorang psychopat, jika saya tidak salah psychopat juga merupakan salah satu bentuk dari sakit jiwa. Jadi, apakah “tanpa jiwa” dan “sakit jiwa” adalah sama?

Well, jika tulisan Jostein Gaarder tersebut mengarah pada realitas sosial saat ini, dimana banyak sekali pelaku kejahatan di seluruh dunia disebabkan oleh orang2 yg tidak memiliki jiwa, atau secara realistis kita sebut tidak memiliki kemampuan spiritual atau tidak memiliki kehidupan spiritual, sehingga para pelaku tidak merasa bersalah atas perbuatannya. Bukankah ini merupakan tugas umat manusia di seluruh dunia untuk berupaya memberikan solusi dengan meningkatkan kualitas spiritual seseorang sebagai suatu bentuk upaya mengurangi perilaku kejahatan2 di seluruh dunia. 

Dalam cerita diatas saya coba mengutip kalimat ini: “karena tanpa jiwa tak ada sesuatupun yg dapat menjinakkan ataupun mengendalikan nafsu mereka.”

Tanpa jiwa = nafsu. Mari kita cermati lagi perbedaan manusia dengan binatang. Manusia memiliki tubuh, jiwa, dan roh; sedangkan binatang hanya memiliki tubuh dan roh, tanpa jiwa. Dengan demikian wajar jika binatang hanya memiliki nafsu; nafsu untuk makan dan nafsu untuk kawin; binatang tidak punya jiwa, sehingga mereka tidak berpikir. Sekarang mari kita bandingkan dengan manusia2 yg merupakan pelaku kejahatan seksual, yg ada pada pikiran manusia2 semacam ini hanya ada nafsu, nafsu yg mendominasi jiwa mereka ini membuat mereka seakan tidak berjiwa karena tidak dapat merasa kasihan, merasa iba, tidak dapat berpikir sebab akibat. Jika manusia2 macam ini dapat berpikir dan merasa, sebut saja memiliki jiwa; tentu saja mereka tidak mungkin melakukan kejahatan seksual seperti pemerkosaan terhadap bayi, anak2 balita, anak2 dibawah umur, remaja, atau bahkan orang dewasa, atau bahkan pemerkosaan massal yg dilakukan secara bergantian oleh para pelaku terhadap korbannya. Bukankah itu biadab & penuh nafsu binatang? Well, kalau boleh saya membuat kesimpulan mengenai hal ini dalam realitas sosial saat ini, berarti manusia2 biadab macam itu dapat juga donk disebut sebagai penderita Penyakit Tanpa Jiwa. Hehehe

Lalu berikutnya seperti yg sudah disebut dalam cerita diatas bahwa jiwa tidak diturunkan, hanya ciri2 fisik saja yg diturunkan. Apakah kalian setuju?
Misalkan seorang pembunuh memiliki seorang anak, apakah anaknya juga memiliki bakat yg sama untuk membunuh? Hal inipun sedikit membingungkan saya, karena dalam beberapa kasus psikologi, beberapa penderita “penyakit jiwa” disebabkan oleh faktor genitas. Jadi mana yg benar, jiwa diturunkan atau tidak diturunkan?

Jika kalian ingin menyampaikan pendapat & menjelaskan soal ini, silahkan comment yah… 

Thank you for reading.. ^_^
With Love,

Naomi Indah Sari
Source:

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, Jostein Gaarder, 2015, Mizan.

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s