Buku: Para Pembunuh Tuhan (A. Setyo Wibowo)

Bandung, August 30th 2016
19:45 wib

Hi readers, 

Kali ini gw mo ngebahas buku yg berjudul “Para Pembunuh Tuhan”. Buku ini ditulis oleh A. Setyo Wibowo bersama dengan para penulis lain yaitu; Fitzgerald K. Sitorus, Sumarwan, F.X. Haryanto Cahyadi, Abdul Hakim, dan Trisno S. Sutanto.  Buku ini membahas tentang pemikiran filsuf2 seperti Nietzsche, Heidegger, Horkheimer, Adorno, dan Derrida. Secara garis besar buku ini didominasi dengan pembahasan tentang pemikiran Nietzsche, dan kemudian para penulis membahas pemikiran2 Heidegger, Horkheimer, Adorno, dan Derrida untuk menanggapi pemikiran Nietzche.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai isi buku ini, gw mo kasih tau kalau buku ini merupakan hadiah dari teman kerja gw di tempat kerja sebelumnya. Sebut saja dia MJ (bukan nama sebenarnya) wkwkwkwkwkwkkk Gw kerja selama 2 tahun, sedangkan MJ bekerja selama 8 tahun disana. Kemudian antara periode bulan Mei-Juni 2016 kami berdua sama2 resign dan MJ menghadiahi gw buku ini sebagai kenang2an. Btw, si MJ ini ngakunya ngefans bgt sm Nietzsche; terutama sm pemikirannya yg unik, berani & out of the box. Jd tulisan gw di blog ini gw dedikasikan buat MJ. Thanks buat hadiahnya. HahahaBtw, tulisan MJ diatas emang sedikit konyol; sesuai sama karakter orangnya yg agak ngocol. Sampai2 waktu adik sepupu gw yg berusia 12 tahun baca tulisan itu dan liat ada tulisan “jangan membunuh”, spontan adik sepupu gw itu ngomong gini: “hah? Emangnya mba Indah temannya Jessica yg membunuh Mirna pake sianida itu?”. Wkwkwkwkwkwkkkkk 

Well readers, balik lagi ke topik buku ini. Buat yg belum tau siapa Nietzsche, beliau adalah seorang filsuf Jerman yg bernama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzsche. Dia lahir di Saxony, Prussia pada tanggal 15 Oktober 1844; dan meninggal di Weimar, 20 Agustus 1900 di usia 55 tahun. Selain sebagai filsuf, Nietzsche juga seorang ahli ilmu filologi yg meneliti teks2 kuno, kritikus budaya, penyair, dan komposer. Dia menulis beberapa teks kritis terhadap agama, moralitas, budaya kontemporer, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Dia merupakan salah seorang tokoh pertama dari eksistensialisme modern yg ateistik.

Dalam buku ini, Setyo Wibowo berfokus pada topik “Tuhan itu Mati”, dimana Nietzsche menjadi pencetus kalimat tersebut. Sehingga judul buku ini pun ditulis dengan kalimat “Para Pembunuh Tuhan”.

“Manusia adalah binatang pemuja”, kata Nietzsche dalam La Gaya Scienza. Jika pujaan dalam bentuk Tuhan mati, manusia akan mencari pujaan2 lainnya termasuk dirinya sendiri. Manusia butuh pujaan, butuh sesuatu di luar dirinya untuk dijadikan pegangan. Jika pegangan dalam bentuk Tuhan mati, pegangan dalam bentuk lain bermunculan: sains, ideologi, kepercayaan lain, bahkan atheisme. Nietzsche mengungkapkan ada kepercayaan baru yg namanya “ketidakpercayaan”. Jika Tuhan pujaannya mati, jika tidak ada pegangan lain, bisa saja ia mengimani ketiadaan Tuhan dengan sepenuh hati: “Tuhan tidak ada”, demikian credo imannya.

Di awal pembahasan ini saya setuju dengan penjelasannya Nietzsche. Bukan setuju karena Tuhan sudah mati, tapi saya setuju pada penjelasan bahwa manusia sebagai makhluk pemuja, jika manusia tidak memiliki Tuhan untuk dipujanya; ia akan mencari hal lain untuk nantinya menjadi pujaannya. Pujaan lain bisa saja berupa Tuhan yg lain (Tuhan agama lain), menciptakan Tuhan atau aliran atau kepercayaan sendiri, atau bisa juga berupa idola lain seperti wanita, harta, pendidikan, selebriti, dan sebagainya. Saya adalah seseorang yang menganut agama. Jadi saya lebih memilih untuk mengidolakan Tuhan saya sebagai pegangan saya, dibandingkan harus memuja hal lainnya. ^_^

Filsuf lain, Jean Paul Sartre dengan sangat optimis membuang Tuhan tanpa banyak argumentasi. Menurutnya, kematian Tuhan adalah fakta yg tidak perlu dipertanyakan, dan manusia dapat menjadi Tuhan atau Tuan bagi dirinya sendiri. Manusia bebas untuk memilih nilai2 apapun untuk dianutnya. Walau demikian, Sartre meyakini bahwa “kita tidak pernah bisa memilih kejahatan; apa yg kita pilih selalu merupakan kebaikan”. Sartre percaya bahwa manusia bebas tidak akan ngawur. Ia yg bebas akan dengan sendirinya bertanggung jawab. Manusia adalah legislator dan eksekutor untuk proyek bagi dirinya sendiri.

Menurut saya Sartre lebih to the point. Seakan dia berkata begini, “Tuhan itu tidak ada. Jadi tidak perlu dibahas!”. Well sepertinya Sartre optimis & positive thinking sekali dengan mengatakan bahwa manusia bebas pasti memilih kebaikan & tidak akan ngawur. Bagi saya pribadi, pada dasarnya manusia itu pasti ada kehendak & keinginan untuk berbuat jahat di waktu2 tertentu & kepada orang2 tertentu. Untuk meredam keinginan jahat tersebut, dengan demikian manusia memerlukan teladan yg dapat dijadikan panutan, memberikan nasehat, dan memberikan nilai2. Moralitas semacam itu salah satunya ditemukan dalam doktrin agama. Di mana semua jenis agama berupaya untuk mengantarkan umatnya menuju manusia yg lebih baik. Lalu bagaimana manusia bebas (tanpa Tuhan) dapat memilih nilai2 yg baik tanpa ada satu pun yg mengajarkan atau memberitahukannya?

Nietzsche menulis, “terhadap kabar bahwa Tuhan yg kuno sudah mati, kita, para filsuf yg lain, para roh bebas yg lain, kita merasa disentuh oleh berkas2 sinar fajar. Di depan kabar itu, hati kita dilimpahi rasa syukur, ketakjuban, isyarat, dan penantian.”

Saya langsung tepok jidat pas baca bagian ini. Biasanya kita manusia yg religious merasa tercerahkan ketika kita sedang atau setelah beribadah kepada Tuhan, sementara Nietzsche merasa tercerahkan saat dengan penuh kepastian dia meyakini bahwa Tuhan telah mati. Luar biasa… ^_^ Dalam pernyataan Nietzsche diatas, seakan ia merasa begitu bahagia dan bebas melakukan apa saja, semua beban terlepas. Ia tidak perlu harus merasa berdosa, ia tidak perlu menyenangkan hati Tuhannya, ia tidak perlu merasa takut akan Tuhannya, ia tidak perlu harus menghormati altar Tuhannya, ia benar2 merasa sangat bebas dan bahagia.

Selain binatang pemuja, menurut Nietzsche, manusia juga merupakan binatang pencuriga. Ia tidak pernah percaya begitu saja pada pujaan yg ia miliki, dan ia bisa menggantinya dengan mencari pujaan lain yg di matanya lebih layak. Seperti yg sudah dibahas di awal, bahwa memang demikianlah manusia terhadap pujaannya. Manusia memiliki pegangan, kemudian mempertanyakan pegangannya, kemudian mencari tahu tentang pujaan lain, dan kemudian mengganti pujaannya dengan yg menurutnya lebih baik atau lebih sesuai dengan hatinya, atau bahkan manusia mencari pujaan yg sesuai dengan cara pemikiran manusia itu sendiri.

Kemudian tentang nihilisme, yg merupakan langkah pertama untuk penegakan “kerajaan manusia di dunia”, dimana manusia tak perlu lagi menyiksa diri dengan mengarahkan pandangannya pada “kerajaan ide diatas sana”. Nietzsche mengatakan, “Task: to see things as they are! My philosophy – to draw men away from semblance, no matter what the danger! And no fear that the life will perish!”

Entah apa misi Nietzsche, namun terlihat sekali bahwa ia ingin mendirikan kerajaan manusia atas manusia. Hanya manusia dan manusia, tidak perlu ada Tuhan. Nietzsche merasa bahwa Tuhan hanya dapat menambah beban, penderitaan, dan menyiksa manusia dengan banyak sekali peraturan2 agama, persyaratan, hukum2, nilai2, dan lain sebagainya.

“Weisheit ist ein Verbrechen an der Natur” (Kebijaksanaan adalah sebentuk kejahatan atas alam) – Nietzsche.

Sulit bagi saya untuk mencerna kalimat Nietzsche diatas. Kenapa kebijaksanaan dianggap sebagai kejahatan? Bukankah kebijaksanaan merupakan salah satu cara untuk setidaknya menjaga keseimbangan dunia ini, keseimbangan dalam kehidupan.

Dibawah ini merupakan syair Promotheus karya Goethe yg dikutip oleh Nietzsche:

“Hier sitz’ ich, forme Menschen

Nach meinem Bilde,

Ein Geschlecht, das mir gleich sei,

Zu leiden, zu weinen,

Zu geniefen und zu freuen sich,

Und dein nicht zu achten,

Wie ich!”

(Di sini aku duduk, membentuk manusia

Menurut citraanku,

Sebuah ras yg akan menjadi sepertiku,

Menderita, menangis,

Menikmati, bersuka cita,

Dan mengabaikanmu,

Seperti yg kulakukan!)

Dalam syair diatas seakan mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk akhirnya diabaikan. Lewat kutipan syair ini, Nietzsche seakan ingin menekankan bahwa Tuhan tidak pernah melakukan apapun dalam hidup manusia. Tuhan tidak pernah menolong, karena sosoknya tidak ada. Tuhan tidak pernah memberi, karena manusialah yg tetap harus berjuang mendapatkannya. Tuhan tidak pernah mengasihi, karena manusia tidak dapat merasakan sentuhannya.

Pada tanggal 11 Juni 1865, saat Nietzsche berusia 21 tahun, ia menulis surat kepada adiknya begini:

“…iman tidak memberi sedikit pun bagi suatu bukti kebenaran yg objektif. Di sini, jalan manusia berpisah arah: jika kamu ingin mencari kedamaian jiwa dan kesenangan, maka percayalah; jika kamu ingin menjadi murid kebenaran, maka carilah.”

Ehmmm… Nietzsche menulis jika ingin mencari kedamaian jiwa & kesenangan, kita bisa saja mempercayai adanya Tuhan; dan jika ingin mendapatkan kebenaran, kita harus mencarinya. Dalam hal ini Nietzsche seakan mengungkapkan bahwa “Tuhan tidak benar, untuk itu kita harus mencari tahu.” Menurut saya, semua jenis agama di dunia pasti mengatakan bahwa “Tuhannya adalah kebenaran”. Jika para penganut agama menganggap Tuhannya tidak benar, tentu saja tidak akan ada umat yg ingin menjadi pengikutnya.

Kalimat dibawah ini adalah slogan atau kalimat kemenangan Nietzsche yg menyatakan bahwa Tuhan telah mati: 

“Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getotet!” (Tuhan telah mati! Tuhan tetap mati! Dan kitalah yg membunuhnya!”.

Di buku ini, saya melihat Nietzsche bersemangat & ngotot sekali bahwa Tuhan itu sudah mati. Dan ia bangga sekali telah membunuh Tuhan.

Secara khusus, fokus pembunuhan Nietzsche adalah terhadap Tuhan umat Kristen. Karena pada waktu itu agama Kristenlah yg mendominasi Eropa. Nietzsche juga mengutip syair Jean Paul Frederic Richter:

“Sabda Kristus yg mati dari ketinggian di atas dunia: Tuhan tidak ada. Tuhan telah mati! Sorga kosong. Menangislah wahai anak2, kalian tidak memiliki Bapak.”

Syair diatas benar2 menggetarkan hati saya, ga pernah terbayang jika Sorga kosong dan tidak ada Bapa, atau Tuhan, atau Nabi di Sorga. Saya melongo membaca kalimat “menangislah anak2, kalian tidak memiliki Bapak.” ^_^

Sampai disini aja yah pembahasan tentang Nietzsche dari buku ini. Banyak sekali pembahasan yg lebih berat & lebih mendetail yg bisa anda temukan dengan membaca langsung buku ini.

Thank you for reading…

With Love,

Naomi Indah Sari

Source:

Para Pembunuh Tuhan, A. Setyo Wibowo, dkk, Pustaka Filsafat, 2009.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s