Buku: Motherless Daughters (True Story), Hope Edelman

Bandung, 1 Oktober 2016 

Pukul 11:30 WIB 
Hi readers, berhubung saat ini saya sedang dalam perjalanan Bandung-Bekasi dengan menggunakan bis ekonomi, dan saya bingung mau ngapain selama perjalanan; jadi saat ini saya memilih untuk membahas buku yg sudah selesai saya baca & ada di dalam tas saya.

Kali ini saya mau mereview salah satu buku kisah nyata yg dikaji dalam ilmu psikologi, yg berjudul “Motherless Daughters: Gema Suara Perempuan yang Kehilangan Ibu” yg ditulis oleh Hope Edelman. 
Di halaman awal bab pertama tertulis: 

Ibu yg kehilangan putrinya, atau sebaliknya putri yg kehilangan ibunya, adalah tragedi penting yg dialami oleh wanita.” -Adrienne Rich, Of Woman Born- 

Saya tidak menyadari bahwa kehilangan ibu adalah salah satu faktor yg memengaruhi psikis seorang anak. Sampai akhirnya saya menemukan buku ini dan mulai menganalisa diri saya sendiri sebagai salah satu anak yg tidak pernah tinggal bersama ibu. Fisik ibu berada jauh dari saya dan kami tidak pernah tinggal bersama, batin & emosional antara ibu dan anak pun tidak pernah terjalin karena kurangnya kedekatan, hanya ada “dingin“.

Beberapa ahli terapis percaya bahwa anak-anak yg kehilangan orangtua dengan jenis kelamin yang sama, selama tahap perkembangan berikutnya akan menghadapi masa-masa paling sulit. Terjebak di antara perubahan dan penyesuaian, anak-anak ini sering berusaha keras menghindari perasaan sedih mereka.

Anak-anak yg kehilangan ibu harus menghadapi perubahan dan akibat apa pun yg mengganggu. Namun, benteng pertahanan secara psikologis yg dikembangkan oleh anak itu, lebih rentan dan primitif dibanding pertahanan orang dewasa. Sementara orang dewasa memperlihatkan kedewasaan secara kognitif dan emosional terhadap situasi kehilangan, anak-anak biasanya mengambil langkah mundur, memproyeksikan, mengenalinya atau berbalik melawan dirinya sendiri pada tingkat yg lebih dramatis. 

Perkembangan yg tertahan (Arrested Development) didefinisikan bahwa kehilangan ibu menciptakan tantangan perkembangan yg penting bagi anak. Mungkin ia terpaksa bertanggung jawab pada dirinya sendiri, dan menyebabkannya meningkatnya beberapa bidang dalam perkembangannya.

Akibatnya, orang dewasa yg mempertahankan beberapa sifat pada perkembangan sebelumnya, merasa seolah bagian dari dirinya masih terjebak di masa kecil dan remajanya.

Anak yg perkembangannya tertahan di bagian tertentu, akan mengalami gangguan emosional yg berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yg secara normal terkait dengan urutan waktu usia. Anak-anak yg kehilangan ibu dianggap memiliki kesulitan mencapai kedewasaan secara intelektual dan emosional. 

Saya kurang setuju jika Hope mengatakan bahwa anak-anak yg kehilangan ibu tidak dewasa secara intelektual dan emosional, karena saya tidak merasa seperti itu. Saya bersyukur sekali dengan kehidupan kanak-kanak saya tanpa orangtua karena itu membentuk saya menjadi pribadi yg dapat belajar sendiri, baik dalam bidang akademik, non-akademik, kehidupan sosial dan sebagainya. Selain itu emosional saya juga cukup stabil karena saya mengajari diri saya sendiri untuk menerima kehidupan tanpa harus complaint, belajar bersyukur, tidak manja, serta berpikir dewasa dalam belajar dan bekerja. Jadi menurut saya tidak semua anak tak beribu gagal dalam mengembangkan intelektual & emosionalnya.

Menurut Hope, anak-anak yg kehilangan orangtuanya memperlihatkan perilaku yg lebih agresif dan mengganggu dibandingkan kawan-kawan sebayanya yg tidak kehilangan. Mereka jg lebih menutup diri dalam pergaulan, dan menderita akibat penilaian diri yg rendah.

Beban perkembangan remaja yaitu dalam mengembangkan hak untuk mandiri, berhadapan dengan figur yg dapat diandalkan, belajar untuk hidup dalam pertentangan dan kebimbangan, mengembangkan kemampuan untuk menumbuhkan keakraban, mengokohkan identitas seksual, belajar mengendalikan emosi, mengembangkan cara penilaian diri, dan mempertahankan kesadaran akan keadaan berkecukupan dan kemampuan; semuanya dapat terhambat atau terhenti disebabkan oleh kehilangan ibu.

Anak-anak yg kehilangan ibu menganggap diri mereka kurang pandai bergaul dan tidak dapat mengendalikan nasib mereka dibanding teman-teman mereka yg tidak pernah mengalami kehilangan. 

Jika saya pribadi, saya merasa cukup pandai bergaul sejak saya duduk di bangku sekolah hingga saat ini. Jika ada anak tak beribu yg dianggap kurang pandai dalam bergaul, mungkin saja dikarenakan karakter anak tersebut yg cenderung pemalu atau melankolis. Tidak semua anak tak beribu memiliki karakter yg sama, sehingga tidak bisa digeneralisasikan secara umum.

Selama masa remaja yg normal, ketika gadis remaja mengendurkan ikatan dengan ibunya, ia akan mencurahkan lebih banyak energi pada kelompok teman-teman sebayanya dan mungkin juga kekasihnya. 

Yup, untuk kutipan diatas saya setuju bahwa anak-anak tak beribu atau pun anak-anak yatim piatu pasti merasakan kekosongan dalam dirinya yg belum pernah diisi oleh figur orangtua. Dengan demikian anak-anak tersebut akan mencari kenyamanan baik dalam hubungan pertemanan, persahabatan, mau pun hubungan romantika.

Terpisah dari figur ibu selama masa remaja, merupakan bagian pokok dari proses yg mengubah gadis remaja menjadi wanita dan penuh percaya diri. 

Setuju dengan Hope, bahwa berpisah dari figur ibu dapat membuat seorang anak mulai menggali kemampuan dalam dirinya dan menjadi seseorang yg penuh percaya diri.

Para remaja, ketika mengalami perpisahan dari keluarganya secara simbolis, sebenarnya memiliki banyak kesamaan dengan perasaan anak yatim piatu, yaitu perasaan terasing, pengasingan, dan rendahnya harga diri; kondisi rumah yg penuh gejolak; dan rasa takut ditinggalkan oleh kelompok yg berbeda. 

Anak-anak yg kehilangan ibu juga sering menghindari pembicaraan tentang kehilangan atau menyatakan kemarahan, depresi, rasa bersalah, kegelisahan, atau kebingungan pada teman-temannya, dengan mengadopsi cara bertahan yg tenang dan tidak emosional. Ini dilakukan sebagian untuk menyesuaikan diri terhadap perilaku kelompok “dapat diterima”, tapi juga sebagai tindakan pertahanan diri untuk melindungi dirinya dari perasaan gelisah dan dukacita yg meliputi. Namun, semakin anak remaja itu terlihat tenang, semakin besar resiko untuk mengalami dukacita yg belum terpecahkan dan bertahan lama. 

Pada waktu yg sama, anak itu mengesampingkan emosi-emosi yg sering dialami oleh orang yg berkabung, dan juga mengeluarkan sejumlah besar energi untuk terlihat normal pada dunia luar. Seolah ia berkata, “Lihat! Ini aku, kapten regu sepak bola, bendahara kelas, siswa terhormat, dan pemimpin drama sekolah. Tak ada yg salah dengan diriku.” 

Wanita yg kehilangan ibunya pada usia 20-an sering menjadi anak perempuan yg paling diremehkan dan disalahartikan. Ia salah seorang yg mungkin tinggal di luar rumah, telah merawat dirinya atau keluarganya sendiri; yg mungkin juga membuatnya putus asa dan bingung ketika peristiwa kehilangan ibu memaksanya berubah menjadi kubangan emosional. 

Hope Edelman menulis bahwa ada 74% anak perempuan berkata bahwa kehilangan ibu adalah salah satu hal tersulit yg pernah mereka hadapi, dan sisanya menganggap kematian ibunya sebagai berkat. 

Ibu yg mengabaikan anak-anaknya meninggalkan setumpuk pertanyaan: Siapakah ia dulu? siapakah ia sekarang? Di mana dia sekarang? Kenapa ia pergi? Seperti anak yg ibunya meninggal, anak-anak yg diabaikan hidup dengan perasaan kehilangan, namun ia juga berjuang dengan pengetahuan bahwa ibunya masih hidup tapi tak dapat terjangkau dan tak tersentuh. Kematian memiliki ketegasan tentang keadaan yg tak dapat ditarik kembali, sementara keadaan ditelantarkan tidak. 

Sebagai akibatnya, anak itu sering mengembangkan perasaan rendah diri dan tidak layak bahkan lebih nyata dibanding anak-anak yg ibunya telah meninggal. 

Kehilangan karena kematian, sesulit apapun, tidak akan melibatkan penolakan,” Gina Mireault, Ph.D., asisten prof. Psikologi di Johnson State University. 

Kalau ibu kita meninggal, kita bisa mengenalinya. Kita bisa berkata, “mama meninggal”, dan bukan “mama pergi”, atau “mama kabur dengan lelaki lain.” 

Sebagai ahli terapi dan orang yg bertahan hidup karena kehilangan ibu, menurut Hope ada sesuatu yg lebih berharga kalau memiliki orangtua yg sudah meninggal dibandingkan memiliki orangtua yg pergi, hampir menyerupai sesuatu yg lebih bermartabat. 

Entah ibu meninggalkan anaknya secara fisik ataupun emosional, akibatnya tetap saja seperti sebuah serangan terhadap harga diri anak itu.

Dari beberapa paragraph diatas, saya menyimpulkan bahwa ibu yg meninggal lebih bermartabat & terhormat dibandingkan ibu yg pergi, dibandingkan ibu yg menelantarkan atau mengabaikan anaknya secara fisik ataupun mental.

Judith Mishne, dalam artikelnya “Parental Abandonment: A Unique Form of Loss and Narcissistic Injury“, menerangkan bahwa anak-anak yg ditelantarkan dapat menderita kehilangan empati, depresi, perasaan hampa, kenakalan remaja, kecanduan, kemarahan tak terkendali, tindakan berdusta yg tak wajar, prasangka hypochondriacal (kegelisahan yg tidak wajar terhadap kesehatan tubuh seseorang), dan khayalan diri yg terlalu besar. 

Anak perempuan yg ditelantarkan, ditinggalkan dengan perasaan marah, penuh kebencian, dan kesedihan mendalam, Ia juga memiliki luka emosional yg diserahkan, disimpan, ditinggalkan atau dihilangkan. 

Ilusi anak perempuan yg ditelantarkan oleh sosok ibu khayalannya sangat sulit berkaitan dengan kenyataan menyakitkan tentang ibu kandungnya yg memilih untuk meninggalkan anaknya. 

Dengan demikian hal tersebut membuktikan bahwa ketika seorang ibu meninggalkan anaknya secara mental, anak itu bahkan merasa lebih kuat dibanding anak yg ibunya meninggal

Setelah Hope menganalisa hasil terapi dari beberapa wanita-wanita yg kehilangan ibu, mereka mulai memahami bahwa ibu mereka yg kurang beruntung, tidak layak, merasa tidak aman, tidak berkuasa untuk menyakiti mereka lagi. Kalau ibu mereka terus berperilaku yg bersifat merusak, dengan mudah mereka dapat pergi menjauhinya. 

Dalam audiotapeWarming the Stone Child: Myth and Stories About Abandonment and the Unmothered Child,” Clarissa Pinkola Estes, Ph.D (psikolog dan penulis) menjelaskan bahwa ditelantarkan tanpa asuhan dan perhatian ibu benar-benar neraka bagi orang yg sensitif, karena mereka adalah orang-orang yg digambarkan seperti ini, jika anda sekedar menggaruknya, akan berdarah. Mereka seperti orang-orang tanpa kulit. Berjalan berkeliaran dengan urat-urat saraf terlihat jelas. Secara individu mereka tidak mampu bangkit kembali dari kehilangan dengan cepat. 

Anak perempuan yg merasa dirinya mampu dan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri sepeninggal ibu, sering mencapai tingkat penguasaan atas lingkungannya. Ia dapat bertindak dan bereaksi terhadap kehilangan itu, ia dapat mengembangkan penghargaan diri dan kepercayaan diri tertentu sehingga membantu melindungi diri menghadapi tekanan berikutnya. Ia dapat berpegang pada sumber alami yg dimilikinya sendiri. 

Istilah tepat yatim piatu mencerminkan keunikan kondisi kemampuan untuk memahami kesendirian. Dianggap tak berharga dan tak bernilai, dipandang remeh oleh orang bodoh, tetapi dicintai oleh orang yg bijak. Bahkan kemudian, dipercayai bila para yatim piatu menyimpan pengetahuan khusus dan memperoleh pemahaman yg tidak dicapai orang lain. 

Beberapa ahli teori tentang hubungan secara umum membagi individu ke dalam tiga kelompok: 

  1. Mereka yg membentuk hubungan kuat dengan orang lain setelah dewasa;
  2. Mereka yg gelisah & memiliki sikap penolakan terhadap hubungan sosial dan asmara mereka; dan
  3. Mereka yg menghindari kedekatan dengan orang lain. 

Dari 3 point diatas, sepertinya mungkin saja saya ada berada pada point nomor 1, 2 dan 3. Hahaha Sepertinya saya merasakan seluruh point-point tersebut, hanya saja dengan persentase yg berbeda-beda. Untuk point mana yg paling dominan bagi saya, saya harus melakukan berbagai tes untuk dapat mengetahuinya sehingga tidak asal tebak saja. Hehe

Dalam buku ini pun dibahas efek ketertarikan sesama jenis yg dialami oleh anak-anak perempuan tak beribu. Anak perempuan tak beribu yg memilih wanita sebagai kekasih, mencari keamanan secara emosional yg sama seperti mereka memilih pria, juga menemukan pelipur lara dalam diri mereka yg menawarkan stabilitas dan perhatian yg tetap. 

Anak perempuan tak beribu membicarakan tentang ruang-ruang kosong. Tentang potongan-potongan yg hilang. Kehampaan ini mengubah anak-anak yg tidak mendapat perhatian dan asuhan menjadi orang yg menimbun emosi.

Ketika unsur maternal hilang dari perkembangan sifat-sifat kewanitaannya, anak itu tumbuh besar dengan  mengambil gagasan dan kebiasaan orang untuk diterapkan pada diri sendiri, kekuasaan dan otoritas tanpa mengelompokkan jenis kelamin; bukan hanya keberadaan secara sosial dan politis yg digambarkan oleh istilah wanita, tapi juga sebagai wanita itu sendiri.

Ketika anak perempuan tak beribu menemukan dirinya ditinggalkan bersama seseorang yg merawatnya, yg awalnya tak berdaya akibat dukacita atau tak mampu memenuhi tuntutan untuk membesarkan anak, ia perlu mengembangkan kepercayaan diri dan tidak perlu bantuan untuk bertahan hidup semasa kanak-kanak dan remaja sebagai wanita seorang diri. Ia harus belajar bagaimana cara menjaga dirinya sendiri. 

Kemandirian yg tangguh dan kemampuan mencukupi keperluan sendiri adalah perisainya, mendorong maju seperti memperlihatkan dirinya pada publik bahwa ia punya kemampuan; meskipun kehilangan dan menarik diri sebagai perlindungan dirinya melawan kesepian yg menghancurkan yg dirasakannya. 

Anak-anak tak beribu percaya bahwa bergantung terlalu banyak pada orang lain, berarti menanggung resiko terluka akibat kehilangan lebih jauh lagi. Ada rasa khawatir yg dirasakan karena telah terbiasanya mandiri & mengandalkan diri sendiri, yg kemudian jika kemandirian itu sirna dan mulai bergantung dengan orang lain; misal mengharapkan dan bergantung akan kasih sayang yg lebih dari kekasih, hal ini dianggap akan berdampak buruk dan akan menimbulkan kekecewaan dan kehilangan yg lebih buruk lagi dari yg pernah dialaminya.

Ada pun salah satu istilah yg disebut dalam buku ini, yaitu Matrophobia (Adrienne Rich dalam Of Woman Born), adalah perasaan takut anak perempuan untuk menjadi ibu. Perasaan takut ini disebabkan karena anak-anak perempuan tak beribu tidak pernah melihat metode-metode atau pun cara-cara bagaimana seorang ibu merawat, mendidik dan membesarkan dirinya. Sehingga timbul rasa khawatir bahwa ia tidak dapat menjadi ibu yg baik karena tidak memiliki pengalaman melihat figur seorang ibu. Kalau saya pribadi, saya yakin sekali akan dapat menjadi ibu yg baik; karena saya menyadari bahwa ketiadaan seorang ibu secara fisik dan mental sangat tidak baik bagi perkembangan psikis & emosi seorang anak. Saya ingin membuktikan bahwa saya dapat menjadi ibu yg lebih baik daripada ibu saya. ^_^

Phyllis Klaus berkata bahwa semua tragedi dalam kehidupan bisa menjadi papan loncatan untuk kreativitas dan pertumbuhan, dan mengatasi tragedi itu dengan cara yg sangat sehat. 

Yup, tidak semua anak-anak tak beribu berdampak negatif bagi hidupnya; banyak pula anak-anak tak beribu yg terbukti cerdas dan kreatif. Berikut ini beberapa tokoh sukses yg kehilangan ibu di masa kanak-kanaknya:

Dorothy Wordsworth (pada waktu kelahiran), Harriet Beecher Stowe (saat 5 tahun), Charlotte, Emily, dan Anne Bronte (saat usia 5, 3, dan 1 tahun); George Eliot (saat usia 16 tahun), Jane Adams (saat usia 2 tahun), Marie Curie (saat usia 11 tahun), Gertrude Stein (saat usia 14 tahun), Eleanor Roosevelt (saat usia 19 tahun), dan Marilyn Monroe yg menghabiskan masa kanak-kanaknya menjadi anak angkat dan berada di panti asuhan. 

Selain itu ada pula para negarawan (Thomas Jefferson, Abraham Lincoln), seniman (Michel Angelo, Ludwig van Beethoven), ahli pemikir (Charles Darwin, Georg Hegel, Immanuel Kant), dan penulis (Joseph Conrad, Yohanes Keats, Edgar Allan Poe).

Tetapi ada juga studi-studi lain yg mengungkapkan banyaknya tingkat kehilangan ibu yg tinggi di antara para kriminal dan narapidana. Itu memperlihatkan bahwa anak-anak yg kehilangan orangtua secara umum meresponnya dengan satu dari dua cara: mereka mengembangkan perasaan fatalisme (kepercayaan bahwa nasib menentukan segala sesuatu yg terjadi), mengharapkan, bahkan mendorong terjadinya peristiwa-peristiwa yg tidak menguntungkan di masa depan, atau menerimanya, menolaknya, dan menemukan tekad dan motivasi untuk melanjutkan hidup.

dr. Denes Raj menjelaskan bahwa para penganut filsafat eksistentialisme menganggap untuk mencapai keberhasilan, kita harus sadar akan keterbatasan diri kita sendiri. Kecuali jika kita merasa bahwa kehidupan berada di antara dua jangkar: kelahiran dan kematian; kita dapat memenuhi apa pun yg kita inginkan. Para penganut filsafat eksistentialisme memahami bahwa hidup ini bukan tanpa batas. Setelah orangtua meninggal, mereka akan memandang ke sekeliling dan bertanya, “Apa yg tersisa untuk kulakukan?”, lalu mencoba melakukan itu. 

Selain tokoh-tokoh sukses yg sudah disebut diatas, ada pula Jane Fonda (saat usia 15 tahun) dan Roma Downey (saat usia 10 tahun) ketika ibu mereka meninggal, penyanyi country Shania Twain (saat usia 22 tahun), aktris Mariska Hargitay (saat usia 3 tahun), dan penulis Jacqueline Mitchard (saat usia 19 tahun). Carol Burnett dibesarkan neneknya, sementara ibunya pecandu alkohol. Liza Minelli (saat usia 23 tahun) ketika ibunya over dosis. Sejak usia 3 tahun lebih, Maya Angelou lebih sering tinggal bersama neneknya di Arkansas. Oprah Winfrey dan Madonna tumbuh besar tanpa kehadiran ibu mereka. Ruth Simmons (kepala Brown University) berusia 15 tahun ketika kehilangan ibunya. Jackie Joyner Kersee (saat usia 18 tahun), Sarah Ferguson (Duchess of York terdahulu) tumbuh dewasa tanpa kehadiran ibu. Aktris Meg Ryan (saat usia 14 tahun) ketika orangtuanya bercerai, Doris Kearns Goodwin (penulis dan ahli sejarah) berusia 13 tahun ketika kehilangan ibunya. Aktris dan komedian Janeane Garafolo (saat usia 20 tahun), atlet sepatu roda Oksana Baiul (saat usia 13 tahun), Rosie O’Donnell (komedian dan pembawa acara talkshow) berusia 10 tahun ketika ibunya meninggal. 

Bukan kebetulan kalau wanita-wanita tak beribu meraih puncak dalam bidang mereka masing-masing. Banyak kondisi mereka yg menguntungkan untuk mencapai prestasi; kondisi-kondisi di mana wanita-wanita lain khususnya harus bekerja keras untuk meraihnya; yg sudah ada dalam kehidupan perempuan tak beribu, menjadikannya calon berbakat alami untuk kreativitas, prestasi, dan kesuksesan yg superior.

Jika boleh saya menambahkan satu tokoh lagi yaitu saya sendiri, Naomi Indah Sari ditinggalkan ibu menikah lagi dan pindah ke kota lain saat saya berusia 6 tahun, hampir jarang sekali ada telepon rutin atau jalinan komunikasi darinya. Namun saya ada saat ini sebagai salah satu anak perempuan yg berhasil. Berhasil disini yaitu dalam arti saya tidak pernah merokok, tidak nge-drugs, tidak hamil diluar nikah (semoga tidak terjadi); dan saya pun bersyukur dan bangga terhadap diri saya sendiri karena saya cukup berprestasi saat saat sekolah dan kuliah, dan tentu saja saya juga bangga karena saya memiliki pekerjaan yg terhormat. 

Dengan demikian saya ingin mematahkan mitos bahwa anak broken home biasanya nakal, pergaulan bebas, jadi preman, memakai narkoba, menjual diri, dan hal-hal negatif lainnya. Saya meng-encourage para pembaca yg mungkin saja seorang anak yatim piatu, khususnya anak tak beribu, anak korban perceraian, anak korban pelecehan seksual, anak korban kekerasan, anak yg ditinggalkan, ditelantarkan dan diabaikan; satu pesan saya bahwa hidup kita tidak berhenti di saat kita tidak memiliki orangtua, hidup kita tidak berhenti saat orangtua kita ada secara fisik namun tidak pernah mendukung secara moral, hidup kita tidak berhenti saat kita terlanjur dilecehkan secara seksual, hidup kita tidak berhenti saat tubuh kita sudah digerogoti oleh narkoba. Hidup kita adalah tanggung jawab kita yg bisa kita mulai detik ini juga untuk merubahnya menjadi lebih baik. Jika banyak sekali orang yg underestimate atas kita, ini saatnya kita membuat mereka untuk menelan ludah mereka sendiri bahwa kita tidak seperti yg mereka katakan. Kita berharga dan kita pasti menjadi pribadi yg lebih baik. Mari buktikan kepada mereka yg meninggalkan, menelantarkan dan mengabaikan kita bahwa mereka harus menyesal telah melakukan itu.

Hope Edelman menutup buku ini dengan beberapa kalimat yg ditulisnya mewakili para anak perempuan tak beribu:

Kehadirannya memengaruhi siapakah saya sebelumnya,

dan ketidakhadirannya memengaruhi siapa diri saya sekarang. 

Hidup kami dibentuk dari banyaknya orang-orang yg meninggalkan kami seperti juga mereka yg tetap bertahan hidup.

Kehilangan adalah warisan kami. 

Kemampuan untuk memahami segala sesuatu adalah hadiah kami. 

Memori adalah penuntun kami.


Thank you all for reading… 

With Love,

Naomi Indah Sari 

Source: 

Hope Edelman. 2010. Motherless Daughters: Gema Suara Perempuan yang Kehilangan Ibu. Jakarta: Elex Media Komputindo

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s