Buku: Socrates (Sahrul Mauludi)

Bandung, 11 November 2016.

Hi readers, ga terasa uda 1 bulan lebih saya ga ngeblog. Maklum sibuk…hahaha lebih tepatnya saya belum sempat mikirin ide mau nulis apa, belum sempat baca buku, jadi belum sempat ngeblog. hehehe

Kali ini saya mau mereview suatu buku yang sarat makna dan inspirasi yang berjudul Socrates, buku ini ditulis oleh Sahrul Mauludi yang adalah seorang penulis dan jurnalis. Sebelumnya saya pernah membahas tentang biografinya Socrates di blog sebelumnya, kali ini saya lebih membahas tentang beberapa point  menarik yang saya kutip dari buku ini.

Socrates adalah orang yang baik hati dan bijaksana (sok tahu banget yah, padahal ga pernah kenalan^_^), saya merasa demikian karena dari beberapa tulisan yang saya baca tentang Socrates. Socrates membagikan nilai-nilai dan pemikirannya kepada murid-muridnya dan masyarakat Athena pada masa hidupnya, sampai dia dianggap manusia paling bijaksana di Athena pada saat itu.
Dalam buku ini, Sahrul Mauludi mengutip kalimat George Rudebusch (2009) yang mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah darah dan daging tertentu (yaitu manusianya), melainkan pikiran besarnya (great mind) yang perlu kita pahami.

Berdasarkan kutipan diatas, George ingin menekankan bahwa hal-hal yang bersifat badaniah, jasmani, manusia, darah dan daging, fisik, penampilan tidaklah penting. Yang terpenting adalah bagaimana seorang manusia berpikir, ide apa yang dimilikinya, imajinasi apa yang dimilikinya, dan apa yang dia pikirkan. Karena pikiran lah yang dapat mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan manusia.

Sebagai seorang filsuf, Socrates seringkali dianggap atheis oleh sebagian orang. Namun Socrates berusaha membela dirinya bahwa ia bukan seorang atheis dan ia tidak memiliki maksud untuk merusak pikiran kaum muda. Bahkan, menurut Socrates, apa yang dilakukannya berdasarkan perintah Tuhan. “Tuhan memerintahkanku untuk hidup berfilsafat, menguji diriku dan orang lain.”

Memang apa salahnya berfilsafat? apa filsafat menjauhkan manusia dari Tuhan? apa filsafat bermakna anti Tuhan? kalau boleh saya perjelas disini, filsafat adalah suatu cara untuk mencari, mempelajari, dan mendapatkan kebijaksanaan. Sebagai seorang penganut agama pun kita dituntut untuk menjadi umat yang bijaksana, bijaksana dalam berpikir, bijaksana dalam bertindak, bijaksana dalam berucap. Jika para penganut agama tidak bijaksana, bisa saja memiliki karakter dan pikiran yang negatif, dan tidak menghargai kemanusiaan. Bahkan Socrates sendiri mengatakan bahwa kita harus menguji diri kita sendiri dan orang lain. Dalam arti, kita tidak boleh merasa diri kita lah yang paling benar, tetapi kita diajak untuk menguji diri kita, sudah sejauh mana kita merasa benar, kelemahan apa yang kita miliki, aspek mana yang perlu kita perbaiki. Sehingga dengan demikian kita tidak bisa bermegah dan sombong atas diri kita, tetapi dengan bijaksana merendahkan diri dan menguji diri kita sendiri.

Menurut Ronald Gross, Socrates telah memperkenalkan cara berpikir baru mengenai diri dan kehidupan kita:

  1. Ia mendasarkan pada pemikiran daripada unsur spiritual. Daripada bertanya pada pendeta atau peramal sebagai panduan, Socrates menekankan menggunakan akal untuk memahami diri kita sendiri dan memecahkan masalah.
  2. Socrates mempertanyakan “kearifan konvensional” yang telah lazim dianut saat itu. Melalui diskusi yang sering ia lakukan, Socrates mempertanyakan apa itu cinta, keberanian, keadilan, persahabatan, dan seterusnya. Orang akan menjawab sesuai dengan asumsinya masing-masing. Lalu Socrates menanggapinya dengan pernyataan yang berlawanan sehingga membuat bingung lawan bicaranya; sampai akhirnya mereka mulai meragukan pendapat mereka sendiri.
  3. Socrates menjadikan diskusi atau dialog sebagai sarana pencarian. Hal ini karena memang saling membutuhkan satu sama lain untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai diri kita. Kita perlu mengemukakan dan membela pemikiran kita dan mendengarkan bagaimana tanggapan orang lain. Sering kali kita tidak betul-betul menyadarai apa sesungguhnya pemikiran dan pendapat kita sampai mendengar apa yang kita kemukakan sendiri lalu kita menyadari ternyata tidak sepenuhnya benar dan untuk itu perlu diperbaiki.

Socrates juga merevolusi nilai dengan berargumen bahwa apa yang paling membuat manusia bahagia bukanlah uang, popularitas, atau kekuasaan, tetapi keadaan jiwa seseorang. Dia merevolusi etika dengan menekankan bahwa seseorang yang baik tidak akan merugikan orang lain.

Setuju dengan Socrates bahwa kepuasan tertinggi manusia tidak akan pernah bisa didapat dari harta, popularitas, dan kekuasaan, tetapi pada jiwa. Walaupun dengan memiliki kekayaan dan kekuasaan membuat jiwa kita secara otomatis bahagia, namun itu tetap saja bukan kebahagiaan sejati. Bahagia yang demikian hanya akan berlangsung sesaat saja.

Jika seorang manusia memiliki jiwa yang sehat dan bahagia, manusia tersebut akan terpanggil hati nuraninya untuk berbuat baik. seperti yang dikatakan Socrates bahwa orang yang baik tidak akan merugikan orang lain. Catat! ^_^

Hal yang paling menarik adalah saat Chaerepon (sahabat setia Socrates) mendatangi kuil dewa Apollo dan bertemu dengan peramal (orakel), Chaerepon bertanya pada peramal itu “apakah ada orang yang lebih arif bijaksana daripada Socrates?”, lalu peramal tersebut menjawab, “Sophocles bijaksana, Euripides bijaksana, namun yang paling bijaksana dari semuanya adalah Socrates.” Mendengar jawaban peramal tersebut, Chaerepon langsung mendatangi Socrates dan menyampaikan ucapan peramal tersebut bahwa Socrates adalah yang paling bijaksana. Lalu Socrates kaget dan dengan rendah hati dia berkata, “saya bijak? mengapa saya? memangnya siapa saya?”

Respon dan jawaban Socrates sungguh memukau saya. Di Athena kala itu, semua orang yang berdarah biru dan berpendidikan berlomba-lomba ingin dianggap bijak. Karena memiliki predikat bijak di Athena pada zaman itu dianggap memiliki prestise yang tinggi. Namun Socrates tidak dengan mudah merasa bangga saat menerima kabar itu, melainkan dia berpikir dan melihat dirinya lagi, “apakah saya benar bijaksana?”.

Akhirnya Socrates menyadari bahwa dirinya disebut bijaksana bukan karena “serba tahu”, tetapi karena “ia sadar bahwa dirinya tidak tahu”, ia sadar dirinya bukanlah orang bijaksana. Sedangkan mereka yang merasa bijaksana pada dasarnya adalah tidak bijaksana karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana. Ini merupakan ironi.

Dari cerita diatas, kunci dari kebijaksanaan Socrates adalah kerendahanhati. Karena hanya orang yang rendah hati lah yang tidak merasa diri bijaksana, dan tidak merasa diri pintar. Hanya orang yang rendah hati lah yang mau bertanya, belajar, dan mencari tahu.

Socrates memiliki pemikiran yang luar biasa. Pemikiran adalah kekuatan kita, seperti yang dikatakan Robert Kiyosaki (2000) dalam bukunya Rich Dad Poor Dad mengatakan, bahwa in reality, the only real asset you have is your mind, the most powerful tool we have (dalam kenyataannya, satu-satunya aset  nyata yang anda miliki adalah pikiran anda, alat yang paling kuat yang kita miliki).

Alfred North Whithead (1929) mengatakan “fungsi dari pemikiran adalah untuk menunjang hidup.” Yang pertama untuk hidup (to live), kedua untuk hidup dengan baik (to live well), ketiga untuk hidup lebih baik (to live better).

Dalam buku ini kita diajak untuk berpikir kritis, berpikir kreatif, berpikir mendalam, dan berpikir positif. Karena berpikir positif itu baik dan bermanfaat, sementara berpikir negatif itu merusak. Dengan berpikir positif kita bisa mengembangkan ide, kreatifitas, pengetahuan, dan hal-hal bermanfaat lainnya, sementara dengan berpikir negatif menimbulkan perpecahan, konflik, tekanan batin, merusak emosi, dan lain sebagainya.

Menurut Napoleon Hill, orang-orang paling sukses di dunia telah memperbaiki titik lemah tertentu dalam kepribadian mereka sebelum mereka mulai sukses. Kelemahan ini antara lain sikap intoleran, serakah, iri, curiga, dendam, egoisme, sombong, kecenderungan untuk mendapatkan apa yang tidak mereka lakukan, dan kebiasaan menghabiskan lebih daripada apa yang mereka dapatkan.

Ehm….bagus sekali jika analisa Napoleon Hill ini benar terjadi. Namun pada kenyataannya kok banyak orang sukses, atau pemimpin yang karakternya berbanding terbalik dengan analisanya Napoleon Hill. hehehehe Tapi tentu saja saya sangat setuju jika kita mau sukses, kita harus memperbaiki kepribadian kita, setidaknya mereduksi sifat-sifat atau perilaku-perilaku negatif kita, sehingga kita dapat memiliki integritas dan dapat bekerja, berusaha, dan menggapai sukses melalui integritas yang dimiliki.  Bahasa agamanya TOBAT! wkwwkkwwkk ^_^

Menurut Gardner, seseorang dengan kecerdasan personal mampu mengenali dirinya dengan lebih baik maupun dengan orang lain. Gardner menulis bahwa inti pengetahuan diri (personal knowledge) terdapat dua jenis informasi:

  1. Kemampuan kita untuk mengenal orang lain; seperti mengenal wajah, suara dan kepribadian mereka, menanggapi mereka dengan tepat, terlibat dalam aktivitas mereka.
  2. Kepekaan kita terhadap perasaan kita sendiri, harapan, dan ketakutan.

Bagi Socrates pengetahuan kita tentang diri sangatlah sedikit dan perlu terus belajar. Manusia perlu untuk menyadari kebodohannya agar terus belajar. Menurut Socrates, kebijaksanaan sejati datang kepada kita ketika menyadari betapa sedikitnya pemahaman kita atas kehidupan, diri sendiri, dan dunia sekeliling kita. Socrates menambahkan bahwa hidup yang tak teruji adalah hidup yang tak bermakna.

Tidak seperti kaum sofis yang mengajarkan kebenaran dan kebijaksanaan, agar orang-orang menjadi pandai dan mengetahui banyak hal, Socrates malah mengingatkan bahwa kita tidak tahu banyak hal. Dia malah memuji kesadaran akan ketidaktahuan sebagai kebijaksanaan, orang yang bijaksana bukan orang yang serba tahu, tetapi mereka yang sadar akan ketidaktahuannya, sadar akan kebodohannya, lalu mau terus belajar.

Dalam konteks ini, Socrates bukan memuji kebodohan dan meremehkan pengetahuan, tetapi mengajarkan ilmu padi, semakin pandai semakin rendah hati, semakin terpelajar semakin tahu diri, semakin luas pengetahuan semakin senang belajar, semakin mendalam wawasan semakin suka mendengarkan. Itulah kebijaksanaan.

Dengan demikian kesadaran akan keterbatasan diri merupakan sikap rendah hati yang bijaksana. Sementara itu merasa diri bijak adalah sikap yang naif, cenderung merasa puas dan hebat. Socrates mempraktikkan jalan hidup yang bermakna. Tidak dengan kemewahan, tetapi dengan kebenaran, tidak dengan pemuasan nafsu jasadi, tetapi dengan kebajikan, tidak dengan bersenang-senang, tetapi dengan pemikiran dan pengetahuan.

Untuk membangun kualitas jiwa kita, kita harus memiliki kecerdasan spiritual. Kita harus melatih jiwa kita dan mengajarkan jiwa kita hal-hal yang baik dan positif. Kita harus berpikir, berfilsafat, dan menguji diri. Walau begitu Sahrul menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh.

Well readers, sampai disini dulu yah. Thank you for reading.

With love,

Naomi Indah Sari ^_^

Source:

Mauludi, Sahrul. 2016. Socrates: Inspirasi dan Pencerahan untuk Hidup Lebih Bermakna. Jakarta: Elex Media Komputindo.

 

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Advertisements

One thought on “Buku: Socrates (Sahrul Mauludi)

  1. wah sangat bermanfaat sekali, baru tahu saya bahwa ada sesosok orang yang memiliki jiwa bijaksana dan baik, namun sifat apa saja yang anda ketahui dari buku sahrul mauludi ini ?” agar saya mengerti dengan jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s