Buku: The Magic Library (Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken), Jostein Gaarder

Bandung, 28 Juni 2017

04:00pm

Hi readers,

Saya baru saja selesai membaca novelnya Jostein Gaarder yang berjudul “The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”, seperti biasa saya akan share hal-hal menarik dari buku ini. Dalam novel ini diceritakan sepasang sepupu bernama Nils dan Berit yang tinggal berjauhan dan saling berkomunikasi melalui buku-surat (mereka surat menyurat pada sebuah buku). Di awal novel kita disajikan bacaan surat yang seakan kita sedang membaca surat-menyurat mereka.

Dalam buku-surat tersebut, Nils dan Berit saling beradu pendapat, bertengkar, dan melakukan investigasi bersama mengenai seorang penulis misterius bernama Bibbi Bokken. Di awal cerita mereka berdebat mengenai definisi bibliografer dan incunabula, hingga akhirnya terjadi kesepakatan bahwa bibliografer berasal dari kata Yunani biblion yang berarti “buku”, bibliografer berarti seseorang yang melakukan kegiatan bibliografi, atau hal-hal mengenai buku-buku. Berbeda dengan bibliophile yang berarti pencinta buku, yaitu seseorang yang mengoleksi buku-buku langka dan bermutu. Sementara incunabula adalah kata Latin yang berarti “timbangan”, namun untuk masa modern seperti sekarang incunabula merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan pada buku-buku yang diterbitkan sebelum tahun 1500. Incunabula adalah buku yang pertama kali dicetak setelah seni percetakan buku ditemukan.

Nils dan Berit juga menyebut tentang Anne Frank dalam buku-suratnya. Berit menceritakan pada Nils tentang Anne Frank. Anne Frank adalah gadis yang berasal dari keluarga Yahudi-Jerman. Pada tahun 1933, ia melarikan diri dari Jerman dan menetap di Amsterdam. Saat Jerman kemudian menduduki Belanda, orang Yahudi di sana dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi (Jerman ingin membasmi semua orang Yahudi Eropa. Korbannya mencapai 6 juta orang). Untuk menyelamatkan jiwa mereka, keluarga Anne Frank bersembunyi di dalam ruang kecil di belakang toko yang dulunya adalah tempat ayahnya bekerja. Mereka sempat tak tertangkap selama 2 tahun, dan Anne Frank mengisi waktunya dengan menulis buku harian. Ia bercita-cita menjadi penulis dan berharap buku hariannya dapat diterbitkan setelah perang usai. Namun datanglah tragedi pada Agustus 1944, Nazi menyerbu masuk ke tempat persembunyiannya dan seluruh anggota keluarga Anne pun dikirim ke salah satu kamp konsentrasi yang mengerikan di Jerman. Dua bulan sebelum perang berakhir, Anne meninggal dunia.

Untungnya buku harian Anne ditemukan oleh seseorang yang baik hati, ia menjaga buku itu baik-baik. Setelah perang usai, buku harian Anne diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Dengan begitu, Anne pun berhasil menjadi seorang penulis. Ia telah menulis salah satu karya paling terkemuka di dunia. Tetapi, ia sendiri tak bisa menyaksikan ketenarannya ini. Buku harian Anne ditulis antara 14 Juni 1942 sampai dengan 1 Agustus 1944 (yaitu 3 hari sebelum Nazi menyerbu persembunyian mereka). Pada 20 Juni 1942, Anne menulis:

“Untuk seseorang yang seperti aku, ada perasaan aneh ketika menulis buku harian. Bukan hanya karena aku belum pernah menulis, melainkan karena aku pun berpikir bahwa baik aku maupun orang lain tak akan tertarik pada curahan hati seorang remaja berusia 13 tahun. Tapi, sebenarnya bukan itu permasalahannya. Aku ingin menulis dan berbincang dengan diriku sendiri tentang apa saja yang muncul dari dalam jiwaku. Kertas kan lebih sabar daripada manusia”.

“Untuk itulah, buku harian ini ada. Supaya lebih kuat lagi kesan kehadiran seorang teman yang kurindukan, aku tidak hanya menuliskan fakta dalam buku harianku, seperti orang lain. Namun buku harian ini sendiri yang akan menjadi temanku dan ia bernama Kitty.”

Anne Frank yang pada saat itu dalam keadaan tertekan, bingung, dan kesepian menggantungkan diri sosialnya dengan buku hariannya, yang menurutnya kertas lebih sabar daripada manusia. Anne mengangap kertas adalah sahabatnya yang setia mendengar dan menyaksikannya menulis dan bercerita.

Bagi yang belum tahu Anne Frank, di bawah ini adalah foto Anne Frank:

Image result for anne frank
Anne Frank
Image result for buku harian anne frank
Buku Harian Anne Frank yang diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia
Image result for buku harian anne frank
Buku Harian Anne Frank
Related image
Secarik kertas pada buku harian Anne Frank yang ditulis oleh Anne sendiri

Itulah kira-kira sedikit cerita tentang Anne Frank. Bagi yang penasaran mengenai isi dari buku harian Anne Frank, bisa cari buku-bukunya di toko-toko buku yah. Sudah banyak penerbit di seluruh dunia yang menerbitkan buku tentang Anne Frank.

Nils dan Berit akhirnya berhasil memecahkan misteri mengenai Bibbi Bokken dan dapat langsung bertemu dengannya di perpustakaan ajaibnya. Pada list buku perpustakaan ajaib Bibbi Bokken tertulis 990 jenis buku yang terdapat pada perpustakaan tersebut. Ada pula buku mengenai Rhaeto-Romanik, yaitu kelompok bahasa Romawi dan berikut dialek-dialeknya yang masih digunakan di beberapa tempat di Pegunungan Alpen, Swiss, dan Italia.

Dalam buku-surat Nils dan Berit, mereka membahas sebuah cerita dongeng yang terkenal, yaitu dongeng tentang bulu yang berubah menjadi 5 ekor ayam. Pengarangnya berkebangsaan Denmark bernama Hans Christian Andersen.

Ceritanya adalah tentang seekor ayam yang mencabuti bulunya sendiri dan berkotek-kotek sambil berkata “Hilanglah ia. Semakin banyak kucabuti, semakin cantik aku jadinya”. Ayam lain melihat itu berbisik kepada ayam di sebelahnya bahwa ayam pertama yang mencabuti semua bulunya itu tengah mencari muka di hadapannya. Seekor burung hantu yang mendengar tentang itu menceritakannya kepada burung hantu lain, lalu cerita itu sampai juga kepada dua ekor merpati dan seekor ayam. Namun ceritanya sudah mengalami perubahan. Dan si ayam berkokok pada ketiga ayam lain yang semuanya sudah mencabuti bulu-bulu mereka dan menjadi kedinginan karena cinta yang tak berbalas kepada seekor ayam. Lalu cerita itu pun terus beredar hingga akhirnya sampai kembali pada si ayam pertama yang mencabuti bulunya, dan saat itu ceritanya sudah berubah menjadi seperti ini:

Dahulu kala hiduplah 5 ekor ayam yang semuanya mencabuti bulu-bulu mereka untuk membuktikan siapa di antara mereka yang paling menderita akibat cinta yang tak berbalas kepada seekor ayam. Kemudian, mereka saling mematuk hingga berdarah-darah, lalu mati karena merasa malu kepada keluarga mereka dan karena merasa sangat kehilangan harta mereka yang paling berharga.

Ayam pertama menjadi jengkel dan memasukkan cerita tersebut ke koran sebagai shock therapy sekaligus peringatan. Dan ketika cerita itu terpampang di koran, tentu saja semua menganggap cerita itu benar. Karena koran kan tak mungkin berbohong.

Saya sedikit bingung menerjemahkan maksud dari dongeng tersebut, namun bila boleh saya sederhanakan setiap informasi yang beredar from mouth to mouth ceritanya selalu saja berubah ada yang dikurangi dan dilebihkan, sehingga cerita yang didengar oleh orang yang terakhir menjadi jauh berbeda dari cerita dari orang pertama. Kalimat terakhir dongeng tersebut membuat saya tertawa, “karena koran kan tak mungkin berbohong.” Menurut saya kedua hal pada dongeng tersebut seakan sia-sia. Jika berita beredar dari mouth to mouth merupakan kebohongan, maka berita yang disampaikan melalui koran juga merupakan kebohongan walaupun informasi yang diambil langsung dari pihak pertama. Jadi kesimpulannya, nobody is telling you the truth. ^_^

Dalam buku-surat Bils dan Berit seringkali menyebutkan kota Fjaerland. Fjaerland adalah salah satu kota di Norwegia yang menjadi tempat diselenggarakan peresmian Museum Gletser Norwegia pada 31 Mei 1991 oleh Ratu Sonja.

Related image
Museum Gletser Norwegia

Sang arsitek, Sverre Fehn, mendirikan dan merancang museum unik ini sebagai prasarana untuk memfasilitasi pengumpulan informasi atau pengetahuan empiris seputar fenomena gletser dan cuaca yang selanjutnya dilakukan analisa dan disebarkan kepada masyarakat luas. Obyek-obyek yang terpajang di museum ini menjelaskan kepada pengunjung bagaimana proses pembentukan gletser dan mengapa keberadaannya saat ini menjadi langka seiring peningkatan pemanasan global.

Sverre menentukan dan mengatur sendiri komposisi dan material bangunan untuk ruang pamer, aula pertunjukan, toko buku, dan tempat makan. Pada 1997, Sverre dianugerahi penghargaan internasional “Pritzker” atas karya arstitekturnya, dan museum gletser tercatat sebagai salah satu hasil karyanya yang sangat luar biasa.

Buku-buku yang berada di perpustakaan ajaib Bibbi Bokken disusun dengan menggunakan sistem Dewey, yaitu berdasarkan Klasifikasi Desimal Dewey. Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC), juga disebut Sistem Desimal Dewey) adalah sebuah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey (1851-1931) pada tahun 1876. Klasifikasi Dewey muncul pada sisi buku-buku koleksi perpustakaan. Klasifikasi dilakukan berdasarkan subjek, kecuali untuk karya umum dan fiksi. Kodenya ditulis atau dicetak ke sebuah stiker yang dilekatkan ke sisi buku atau koleksi perpustakaan tersebut. Bentuk kodenya harus lebih dari tiga digit; setelah digit ketiga akan ada sebuah tanda titik sebelum diteruskan angka berikutnya.

Contoh kode:

  • 330.94 = ekonomi Eropa, di mana 330 adalah kode untuk Ekonomi dan 94 untuk Eropa.

Buku-buku diletakkan dengan mengurutkan berdasarkan nomor. Jika dua atau lebih buku memiliki nomor klasifikasi yang sama, sistem akan membagi kelas tersebut secara alfabet. Ada sepuluh kelas utama dalam klasifikasi Dewey. Sepuluh kelas tersebut dibagi lagi kepada 10 bagian; yang lalu bisa dibagi lagi kepada 10 bagian. Sepuluh kelas utama tersebut adalah:

  • 000 Komputer, Informasi dan Referensi Umum
  • 100 Filsafat dan Psikologi
  • 200 Agama
  • 300 Ilmu Sosial
  • 400 Bahasa
  • 500 Sains dan Matematika
  • 600 Teknologi
  • 700 Kesenian dan rekreasi
  • 800 Sastra
  • 900 Sejarah dan Geografi

Tidak hanya perpustakaan ajaib Bibbi Bokken saja yang menggunakan sistem Dewey pada penataan buku-bukunya, namun banyak juga perpustakaan di seluruh dunia yang menggunakan sistem Dewey tersebut.

Nils dan Berit mengingatkan saya kembali melalui buku ini bahwa dulu harga buku mahal dan tak terjangkau oleh sebagian besar orang. Di beberapa tempat di dunia, dicoba untuk menggoreskan huruf pada pelat kayu sehingga bisa berkali-kali cetak. Dengan cara inilah, berkembang seni penggandaan. Namun pencetakan buku adalah sebuah proses yang makan waktu dan mahal. Bisa dibayangkan pada zaman itu hanya orang-orang dari kalangan tertentu saja yang bisa membeli atau membaca buku, buku dianggap sebagai barang yang mewah dan berharga karena selain jumlahnya masih sedikit; pengetahuan di dalamnya pun sangat berharga.

Setelah itu dunia boleh berbahagia karena pada tahun 1450 muncul Gutenberg. Seni pencetakan buku merupakan revolusi terbesar kedua dalam budaya huruf pada saat itu. Gutenberg menggunakan huruf bongkar pasang (movable type) dari timah hitam. Pada awalnya, ia adalah seorang pandai besi. Tapi, sebagaimana ia mahir membuat perhiasan dari emas dan perak, ia pun dapat membuat cetakan huruf. Demikianlah, ia akhirnya mampu mencetak seluruh halaman buku. Huruf bongkar pasang tersebut dapat dipergunakan berulang-ulang. Ia menciptakan atom-atom dan molekul-molekul dari dunia perbukuan. Pada era inilah yang dinamakan era cetak (printed era) dimana percetakan atau penggandaan buku mulai maju pesat.

Image result for mesin cetak gutenberg

Bibbi Bokken menjelaskan pada Nils dan Berit bahwa pada tahun 1989, Parlemen Norwegia memutuskan membangun tempat penyimpanan di Mo i Rana. Dan sampai sekarang di sana sudah dibuat 2 buah gua besar di pegunungan. Di salah satu gua, dibangun sebuah bangunan berlantai 4. Di dalamnya terdapat apa yang dinamakan kompakt-magazine (Penyimpanan Lengkap), yang berisi segala macam buku, surat kabar, foto, film, dan kaset. Selain itu, di sana juga ada rekaman segala acara televisi dan radio dari stasiun Norwegia. Tempat ini disebut Divisi Rana yang berada di Perpustakaan Nasional Norwegia.

Image result for perpustakaan nasional norwegia
Tampak luar Perpustakaan Nasional Norwegia

Novel Jostein Garrder ini mengajarkan kita bahwa buku adalah teman terbaik. Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur, di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam.

Well readers, sampai disini yah pembahasan kita mengenai The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi bokken, jika kalian ingin tahu lebih lanjut mengenai petualangan Nils dan Berit bisa langsung beli bukunya yah.

Thank you for reading…

With Love,

Naomi Indah Sari

Source:

Gaarder, Jostein. 2016. The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Bandung: Mizan.

https://museumku.wordpress.com/2010/12/30/museum-gletser-norwegia/

https://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_Desimal_Dewey

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s