LRM_EXPORT_20180824_143338

Bandung, 23 Agustus 2018

Dear Mami,

Nenekku yang merawatku dari kecil. Kupanggil mami karena aku lahir di saat anak-anaknya masih berusia remaja. Saat aku lahir, aku seperti adik kecil bagi tante dan kedua om-ku.

Entah harus memulai dari mana untuk membahas tentang mami kali ini. Sebelum aku lahir sudah banyak drama di keluarga kami. Perbedaan agama antara mama dan papaku. Saat akhirnya mamaku menikah dengan cara agama ayahku, keluargaku terluka. Sepenglihatanku di foto pernikahan mereka, mami tidak hadir. Beberapa bulan setelah aku dilahirkan mama dan papa merencanakan untuk berpisah, bercerai secara hukum; dengan alasan perbedaan agama, dengan alasan para besan tidak saling menyukai keluarga satu sama lain. Entah apakah sudah resmi bercerai atau tidak, aku tidak pernah menanyakannya hingga detik ini.

Papa meninggal saat usiaku 2 tahun. Waktu itu aku dibawa kabur mama, entah ke Padang atau ke Palembang, aku tidak tertarik untuk menanyakannya lagi. Konon katanya papa meninggal karena kecelakaan, mami bilang papa sengaja mencelakakan dirinya (bunuh diri), dan entah rumor apa lagi yang pernah aku dengar tentang kematian papa. Sejak kecil aku percaya dengan cerita mami, namun saat dewasa aku pikir mungkin mami hanya melebih-lebihkan cerita. Entahlah… sungguh aku tidak tahu. Tidak pernah mau menanyakan tentang ini lagi kepada saudara-saudaraku.

Sejak saat itulah aku diasuh oleh keluarga dari pihak mama. Walau demikian, seingatku mama jarang menjagaku karena ia sibuk bekerja. Dia pergi bekerja saat aku masih tidur di pagi hari, dan dia pulang kerja saat aku sudah tidur di malam hari. Sehingga mami lah yang merawatku, karena kami masih tinggal satu rumah.

Seingatku, aku tidak pernah merasa dekat dengan mama. Figurnya bahkan tidak ada dalam daftar “sahabat karib”ku. Saat usiaku 6 tahun, mama menikah lagi. Setelah mama menikah, drama masih terus berlanjut. Mama akan ikut pindah dengan suami barunya ke Surabaya, rencananya aku akan dibawanya. Namun aku tidak tahu bagaimana ceritanya, sepertinya mami tidak mengizinkan mama membawa aku pergi. Sepertinya mereka bertengkar hebat tentang masalah ini. Namun akhirnya mama tetap pergi dengan suaminya, aku ditinggal bersama mami.

Aku tidak tahu jika dalam bahasa Indonesia ada kata “pilihan”, karena kenyataannya aku hanya anak kecil pasif yang hanya menonton drama keluarga tanpa mengerti apapun tentang mereka. Saat mereka bertengkar, aku tidak mengerti apa yang diributkan. Saat mereka membuat pilihan, aku tidak pernah diikutsertakan dalam membuat pilihan. Aku bagai boneka kecil. Hanya pasrah menikmati nasib.

Aku tinggal bersama mami bertahun-tahun, detailnya aku tidak perlu bahas. Lalu saat aku memutuskan untuk kuliah dan pindah ke rumah nenek dari papa kandungku, mami sangat sedih dan merasa kehilangan aku. Namun aku harus memilih untuk masa depanku. Bibi, adik dari papa kandungku akan membiaya kuliahku jika aku tinggal bersama mereka. Aku harus melangkah maju, aku tidak bisa terus tinggal bersama mami. Aku harus pergi…

Dengan penuh perasaan dingin dan tekad yang kuat, aku meninggalkan mami. Aku akhirnya kuliah. Selama kuliah aku fokus pada belajarku, tak pernah sedetik pun aku memikirkan mami. Namun tetap aku masih sering mengunjunginya. Momen natal biasanya aku harus mewajibkan diri untuk mengunjungi mami. Walau begitu kesedihan mami karena kehilanganku membuatnya murka dan mungkin membenciku. Dia marah karena kesepian, dia kesal karena tidak ada objek yang bisa dimarahinya lagi.

Aku memiliki sikap yang “dingin” dari lahir, entah… aku tidak bisa memberikan kehangatan kepada orang lain, tidak tahu bagaimana caranya. Suatu hari Mami akhirnya membeli handphone dengan tali panjang yang dikalungkan di lehernya. Dia berharap aku akan meneleponnya, namun aku tidak pernah sekalipun meneleponnya. Maaf… Aku tidak tahu harus berbicara basa basi yang seperti apa di telepon. Pada saat itu aku masih Indah yang “dingin”. Aku tidak bisa… maaf… aku menyesal. Sekarang aku baru menyadari perasaan mami, mami merasa ditinggalkan, mami merasa diabaikan, maafkan aku.

Aku ingat waktu SD mami pernah mengajak aku makan di KFC, mami tidak makan, hanya aku yang makan. Mungkin uangnya tidak cukup untuk membeli 2 paket makanan. Mami hanya melihatku makan sambil tersenyum, dia bahagia melihatku bahagia. Mami, maafkan aku…

Waktu SD juga, suatu hari aku pulang sekolah sambil menangis. Aku berkata pada mami kalau teman sekolah yang membuatku menangis. Keesokan harinya, mami datang ke sekolah sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Mami membawa payung panjang dan memukul-mukul meja murid-murid dengan kencang menggunakan payung tersebut sambil memarahi semua teman sekelasku. Semua teman menangis karena kaget melihat mami datang dan memarahi mereka. Sejak saat itu teman-temanku tidak berani lagi menggangguku, alasannya karena mereka takut pada mami. Terima kasih mami karena sudah menjadi pahlawanku…

Saat aku baru lulus kuliah, aku membeli seekor anak anjing. Aku membawa pulang anjing tersebut ke rumah mami. Aku berencana untuk tinggal lagi di rumah mami. Namun aku banyak mendapat panggilan interview di Jakarta, selama aku menjalani berbagai interview, sepupuku mengabari kalau anjingku sakit. Mami yang pergi mencari dokter hewan dengan membawa anjingku setiap hari. Setiap hari mami menanyakan kepada tetangga, orang yang lewat, dan orang-orang yang dilewati mami sepanjang jalan “dimana ada dokter hewan?”. Mami khawatir anjingku sakit atau mati, sebenarnya aku tau yang paling ditakuti mami adalah jika aku pulang dan melihat anjingku dalam kondisi tersebut, aku pasti akan sedih. Kesedihanku lah yang mami takuti sebenarnya. Saat aku pulang, anjingku sekarat. Satu jam setelah aku membawanya ke dokter hewan, anjingku mati. Aku menangis kencang terisak-isak saking sedihnya, mami tak kuasa melihat pemandangan itu. Mami membujukku nanti pasti akan dicarikan anak anjing yang lain. Terima kasih mami karena telah peduli pada anjingku… maafkan aku…

Mami, nenekku yang bersifat keras dan bersikap tegas, yang hampir setiap hari memarahiku. Sering pula aku stress dan kesal dibuatnya. Namun aku sadar bahwa dari semua anggota keluarga dan sanak saudaraku, mami lah yang selalu ada untukku. Terima kasih mami sudah setia merawat dan membesarkan aku dengan segala keterbatasan…

Hari duka pun tiba. 22 September 2016, mami meninggal di sebuah kontrakan di Surabaya dengan kondisi tubuh dikerubungi semut, sendirian, tergeletak di lantai. Di kontrakan tersebut, mami tinggal dengan om-ku yang aku anggap sudah setengah tidak waras (atau mungkin pura-pura tidak waras. Aku tak tahu). Om-ku pergi meninggalkan kontrakan sejak pagi, entah kemana. Dia yang diharapkan oleh semua keluarga untuk menjaga mami tetapi malah mengabaikan mami. Mami tidak disiapkan makanan, tidak dirawat olehnya. Mami ditemukan tewas pada sore hari di hari yang sama saat paginya om-ku meninggalkan rumah. Sungguh mengenaskan. Hal inilah yang akhirnya membuatku berpikir. Kasihan mami, dulu dia yang merawatku dari kecil hingga dewasa. Tapi di masa tuanya, aku sibuk dengan kuliah dan bekerja di kota lain. Aku tidak bisa menjaga mami. Mami… maafkan aku…

Apa yang aku ceritakan di sini adalah hal-hal baik yang pernah dilakukan mami kepadaku, walau begitu ada banyak juga hal-hal yang begitu menyakiti hatiku. Tapi rasa sakit akan sikap mami terhadapku menjadi sirna setelah aku merenungi betapa tidak layaknya kondisi mami saat ditemukan tewas. Walau demikian, tak setetes air mata pun jatuh saat kematian mami. Aku memilih bersyukur karena penderitaan mami di dunia sudah selesai. Kiranya sekarang mami bahagia di sisi Tuhan.

Terima kasih mami sudah mendidik aku, terima kasih mami sudah melatih mentalku, terima kasih mami sudah menyayangiku, terima kasih mami karena sudah mengganti peran mama. Aku mohon maaf sedalam-dalamnya. Terima kasih atas semua pelajaran hidup yang mami telah berikan untuk aku. Aku akan mengambil semua yang positif dari kehidupan kita untuk aku menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Goodbye mami, sampai bertemu di kehidupan berikutnya.

With love,

Cucu-mu…

Naomi Indah Sari

Instagram: naomiindahsari

Facebook: Naomi Indah Sari

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s