Bandung, January 3rd 2018

Hi readers, Merry Christmas & Happy New Year untuk kalian semua yah, khususnya bagi yang merayakan natal. Well, selama liburan Natal-Tahun baru lalu, saya menyempatkan diri untuk membaca buku yang berjudul “Yesus Anak Manusia” karya Kahlil Gibran. Buku ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Buku ini menarik, karena hampir semua buku karya Kahlil Gibran bertemakan sastra puisi dan sajak, namun kali ini Gibran menulis perspektif tentang sosok Yesus dari berbagai pandangan orang-orang yang hidup dan tinggal pada zaman Yesus. Buku ini merupakan buku fiksi dengan menggunakan latar belakang Yahudi dan sudut pandang para tokoh-tokoh yang ada di Kitab Suci maupun yang tidak, di sini Gibran seakan menulis berbagai perspektif tentang Yesus dari berbagai kalangan, mulai dari pihak yang memuja Yesus hingga pihak yang mencaci Yesus. Di sini Yesus ditulis sebagai manusia yang hidup pada zamanNya dan dianggap sebagai orang yang luar biasa sekaligus sebagai pemberontak. Dipuja sekaligus dihina.

FYI, Kahlil Gibran yang terkenal ini adalah seorang Lebanon yang beragama Kristen, jadi jangan heran jika ada beberapa karyanya yang memiliki unsur Nasrani Orotodok, atau Timur Tengah. Namun yang saya suka dari Kahlil Gibran, dalam tulisannya dia tidak berdakwah, namun murni berkarya dengan kalimat-kalimat indah yang tidak kontroversi, tidak memuji imannya, namun juga tidak merendahkan yang lainnya.

IMG_20190103_101456_BURST9

Dalam buku ini, terdapat 80 perspektif yang ditulis oleh Kahlil Gibran dengan mengatasnamakan berbagai tokoh Kitab Suci, seperti beberapa murid Yesus, Maria Magdalena, Pontius Pilatus, Barabas, Pendeta Yahudi, Zakeus, Orang Yunani, Orang Roma, dan beberapa orang lainnya seperti Penyair, Juru Tulis, Ahli Logika, Filsuf, Pedagang, Tukang Sepatu, dan lain sebagainya. Gibran menulis sudut pandang mereka semua terhadap sosok Yesus. Gibran seakan membayangkan dirinya jika ia menjadi bagian dari orang-orang tersebut pada zaman Yesus, sekiranya apa yang ada di pikiran mereka tentang Yesus.

Berikut ini hanya beberapa perspektif dari beberapa tokoh yang saya tulis di bawah ini:

Maria Magdalena

Dan aku menatap-Nya, jiwaku serasa demam, mengagumi ketampanan-Nya.

Kesendirianku atau aroma-Nya yang telah menarikku kepada-Nya? Apakah rasa haus di mataku yang mendambakan keelokan, atau keindahan-Nya yang tertangkap cahaya mataku?

Kemudian, Ia menatapku, dan kegemilangan mata-Nya menjawabku, dan kata-Nya, “Kau punya banyak kekasih, tetapi hanya Aku yang mencintaimu. Orang lain mencintai diri mereka sendiri dalam kedekatanmu. Aku mencintaimu dalam dirimu. Orang lain melihat keindahan dalam dirimu yang akan layu lebih cepat dari usia mereka. Namun, dalam dirimu Aku melihat keindahan yang tak akan layu, dan dalam musim gugur hidupmu keindahanmu tak akan takut memandang dirinya di cermin, dan tak akan merasa tersinggung. “Hanya Aku yang mencintai yang tak nampak dalam dirimu.”

Kemudian, Ia bangkit berdiri, memandangku seperti musim-musim yang menatap ladang-ladang, dan Ia pun tersenyum. Dan, Ia pun berkata lagi, “Semua lelaki mencintaimu demi diri mereka sendiri. Aku mencintaimu demi dirimu sendiri.” Dan kemudian, Ia berlalu.

Tulisan Gibran di atas menganalogikan Pertemuan Yesus dan Maria Magdalena sebagai sesuatu hal konotatif. Sapardi Djoko Damono menerjemahkan dalam kata “cinta”, namun saya yakin yang dimaksud dari tulisan di atas adalah “kasih”.

Kata cinta yang ditulis oleh Gibran di atas, bukan secara denotatif di mana Yesus mencintai Maria magdalena sebagai pria dan wanita. Namun Yesus memberikan pencerahan dan menasihati Maria Magdalena dengan cara-Nya. Yesus menekankan bahwa cinta adalah saat dilihat dari kedalaman hati & jiwa, cinta adalah untuk berbagi kebaikan, bukan seperti para lelaki yang memanfaatkan Maria Magdalena hanya untuk menikmati kecantikan dan kemolekan tubuhnya saja. Kasih Yesus jauh lebih dalam dari itu. Yesus melihat hal terdalam yang tidak dilihat oleh orang yang lain. Jika kalian yang membaca tulisan ini adalah Maria Magdalena di zaman modern sekarang ini, kiranya Kasih Yesus yang dalam itu dapat menyentuh hati kalian juga seperti Maria Magdalena.

 

Yohana, Istri Pegawai Istana Herodes

Mereka bilang Yesus tak memedulikan hukum Musa, dan bahwa Ia memberi maaf sebesar-besarnya kepada para pelacur di Jerusalem dan sekitarnya.

Pada waktu itu aku memang seorang pelacur sebab mencintai lelaki yang bukan suamiku, dan ia memang tukang merayu.

Dan, pada hari ketika para perayu datang ke rumahku ketika aku sedang bersama kekasihku, dan mereka menangkapku, dan kekasihku pergi begitu saja meninggalkanku.

Kemudian, mereka mengarakku ke pasar tempat Yesus sedang berkhotbah.

Memang niat mereka untuk membawaku ke hadapan-Nya sebagai percobaan dan jebakan bagi-Nya.

Tetapi, Yesus tidak menghakimiku. Ia mempermalukan mereka yang akan mempermalukanku. Dan, Ia membiarkanku menempuh jalanku.

Dan, semenjak itu segala buah yang hambar dalam kehidupan terasa manis di mulutku, dan bunga mekar yang tak berbau menjadi wangi di hidungku. Aku menjelma menjadi perempuan tanpa kenangan bernoda, dan aku bebas, dan kepalaku tak tunduk lagi.

Saya ingat kisah ini, di mana saat seorang pelacur dibawa ke hadapan Yesus, orang-orang sengaja ingin menjebak Yesus dikiranya Yesus akan menghina atau menyiksa pelacur tersebut. Namun Yesus berkata kepada mereka, seakan seperti ini, “Perempuan ini memang berdosa, namun jika kalian semua yang ingin menghakimi perempuan ini adalah orang suci dan tidak berbuat dosa sama sekali, silahkan kalian yang tidak berbuat dosa untuk melemparkan batu kepada perempuan ini”. Setelah Yesus berkata demikian, tidak ada satu pun yang berani melemparkan batu kepada perempuan tersebut, karena mereka menyadari bahwa mereka juga pernah melakukan dosa (Yohanes 8:3-11).

Elmadam Ahli Logika

Ia bukanlah anak Negara yang dapat dibanggakan; ataupun warga negara Kerajaan yang dilindungi; oleh sebab itu, Ia telah menghina baik Negara maupun Kerajaan.

Tidak ada orang yang membuka pintu air leluhurnya tanpa tenggelam. Ini sudah hukumnya. Dan, karena orang Nazaret itu melanggar hukum, Ia dan para saksi pengikut-Nya dibawa menuju kehampaan.

Mereka sendiri telah berubah, dan mereka semua adalah pecundang. Jadi begini, Tuan, aku hanya bisa menertawakan laki-laki ini dan para pengikut-Nya yang sesat.

 

Nikodemus Sang Penyair

Banyak orang bodoh yang mengatakan bahwa Yesus berdiri di jalur-Nya dan menentang diri-Nya sendiri; bahwa Ia tidak mengerti jalan pikiran-Nya sendiri, dan dalam kealpaan itu, Ia menghancurkan diri-Nya sendiri.

Aku tahu semua itu. Mereka adalah orang-orang yang menolak apa yang dikatakan Yesus pada suatu hari, “Aku membawa perdamaian bagimu,” dan hari lainnya, “Aku membawa pedang.”

Orang-orang itu tidak memahami bahwa sebenarnya yang Ia katakan adalah, “Aku membawa perdamaian bagi orang-orang yang baik, dan aku meletakkan pedang di antara yang akan berdamai dan yang akan berperang.”

Apa kau tidak ingat kepadaku, Nicodemus, yang tidak percaya apa-apa, kecuali hukum dan peraturan dan selalu tunduk pada upacara adat?

Apakah tugasku sebagai manusia berkurang karena aku percaya kepada manusia yang lebih besar?

 

Manasse, Pengacara dari Jerusalem

Ya, aku biasa mendengar omongan-Nya. Kata-kata-Nya selalu siap muncul dari bibir-Nya.

Tetapi, aku mengagumi-Nya sebagai manusia ketimbang sebagai pemimpin. Ia memberikan khotbah di luar seleraku, mungkin di luar pikiranku. Dan, aku tak suka mendengar khotbah.

Aku kagum dengan suara-Nya dan gerak-gerik-Nya, tapi tidak dengan isi khotbah-Nya. Ia memikatku, tapi tidak pernah meyakinkanku; Karena Ia terlalu kabur, terlalu jauh, dan sulit dipahami oleh akal.

Aku kenal orang-orang seperti-Nya. Mereka tidak pernah tetap maupun taat pada asas. Mereka memikat telingamu dan pikiranmu dengan keterampilan bicara, bukan dasar pikiran, tetapi tidak pernah menyentuh inti jiwamu.

Sayang sekali musuh-musuh-Nya menantang-Nya dan memaksakan masalah itu. Itu tidak perlu. Aku percaya kekasaran akan menguntungkan nama baik-Nya dan mengubah kelemahan-Nya menjadi kekuatan.

Aku tidak tahu musuh-musuh-Nya, tapi aku yakin bahwa dalam ketakutan akan orang yang tidak berbahaya, mereka telah memberikan-Nya kekuatan dan membuat-Nya berbahaya.

 

Pontius Pilatus

Mesir berakhir ketika Hiksos dari Arab memperkenalkan Tuhan satu-satunya dari padang pasir mereka. Dan, Yunani ditaklukkan dan hancur menjadi abu ketika Ashtarte dan tujuh perempuannya datang dari Pantai Siria.

Sedangkan Yesus, aku belum pernah melihat orang itu sebelum Ia dibawa kepadaku sebagai pembuat onar, sebagai musuh Negeri-Nya sendiri dan juga Romawi.

Dan kemudian, aku melihat-Nya hanya sebagai orang biasa yang dituduh melakukan pengkhianatan oleh kaum-Nya sendiri. Dan, aku adalah penguasa dan hakim-Nya.

Dan, aku ingat sesuatu yang aku baca yang ditulis oleh seorang pemikir Yunani: “Orang yang sendirian adalah orang yang paling kuat.” Pada saat itu orang Nazaret itu lebih besar daripada suku bangsa-Nya.

Sebenarnya, aku mempunyai kekuasaan untuk menyelamatkan-Nya, tetapi menyelamatkan-Nya akan menyebabkan pergolakan; dan bagi pemerintah Provinsi Romawi adalah bijaksana untuk memahami sikap keagamaan dari suku bangsa yang ditaklukkan. Apa yang aku perintahkan bukanlah keinginanku, tapi demi Romawi.

 

Anas Pendeta Agung (Pendeta Yahudi)

Ia adalah rakyat jelata, perampok, penipu ulung dan pemain trompet. Ia hanya menarik bagi yang najis dan yang dicabut hak warisnya, dan untuk itu Ia harus mengikutinya ke jalan orang-orang yang ternoda dan tercemar.

Ia mengolok-olok kami dan hukum kami; Ia menghina kehormatan kami dan mencemooh martabat kami. Ia bahkan berkata akan menghancurkan kuil dan menodai tempat-tempat suci. Ia tidak punya rasa malu, dan untuk ini Ia harus menjalani kematian yang memalukan.

Ia adalah orang Galilea yang bukan orang Yahudi, orang asing, dari Kerajaan Utara tempat Adonis dan Ashtarte masih menguasai Israel dan Tuhan Israel.

Ia yang lidah-Nya terhenti ketika Ia mengutip perkataan nabi kita, dan memekakkan telinga ketika Ia berbicara menggunakan bahasa haram dari kalangan bawah dan kasar.

Apalagi yang bisa kuperbuat, kecuali menentukan kematian-Nya?

Ia dapat menguasai diri-Nya sendiri; dan dalam kesehatan jiwa-Nya yang masuk akal Ia mencela dan menantang kami semua.

Karena itulah aku menyalib-Nya, dan penyaliban-Nya merupakan tanda dan peringatan kepada yang lain yang juga dicap sebagai jahanam.

 

Laki-Laki dari Lebanon

Guru, Guru Cahaya,

Yang mata-Nya di jari-jari tangan si buta,

Kau tetap dihina dan diejek

Lelaki yang terlalu lemah untuk menjadi Tuhan,

Tuhan yang diagungkan oleh begitu banyak orang.

 

Kau masih berjalan hari ini:

Dan, tak ada busur dan tombak yang menahan langkah-Mu,

Kau berjalan melawan anak panah kami.

Kau tersenyum kepada kami,

dan meskipun Kau yang termuda di antara kami, Bapa-Mu adalah segalanya.

 

Penyair, Penyanyi, Jiwa Agung,

Semoga Tuhan kami memberkati nama-Mu

dan rahim yang mengandung-Mu dulu,

dan dada yang memberi-Mu susu.

 

Sumber:

Gibran, Kahlil. 2017. Yesus Anak Manusia. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.

 

Facebook: Naomi Indah Sari

Instagram: @naomiindahsari

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s