Puisi W.S. Rendra

Bandung, 9 Juni 2017

11:15pm

Related image

W.S. Rendra adalah sastrawan Indonesia yang lahir pada tahun 1935 dan meninggal dunia pada tahun 2009. Rendra yang dijuluki sebagai “Burung Merak” ini telah menciptakan banyak karya, baik drama maupun puisi. Karyanya mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri, banyak mendapatkan penghargaan dalam berbagai ajang. Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri, dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India. Ia pun menonjol dalam membacakan puisi. Tahun 1967 ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta, dan memindahkannya ke Depok pada Oktober 1985. Karya Rendra yang dianggap paling baik diantaranya adalah Sajak Sebatang Lisong, dan Sajak Potret Keluarga.

Related image

Berikut ini adalah beberapa karya W.S. Rendra:

 

Pasar Malam Sriwedari, Solo

W.S. Rendra

 

Di tengah lampu aneka warna

Balon mainan bundar-bundar

Rok-rok pesta warna

Dan wajah-wajah tanpa jiwa

Kita jagal sendiri hati kita

Setelah telinga jadi pekak

Dan mulut terlalu banyak tertawa

Dalam dusta yang murah

Dan bujukan yang hampa

Mencubiti pantat wanita

Tidak membuat kita tambah dewasa

Dilindungi bayangan tenda-tenda

Kita menutup malu kita

Dengan kenakalan tanpa guna

Tempat ini sangat bising dan bising sekali

Gong, gendang, gitar dan biola

Terkacau dalam sebuah luka

Ayolah!

Anda sedang menertawakan dunia,

ataukah dunia sedang menertawakan anda?

 

Sajak Sebatang Lisong

W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papan tulis-papan tulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samudra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamflet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

 

Sajak Potret Keluarga

W.S. Rendra

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Wajah molek bersolek di angkasa.
Kemarau dingin jalan berdebu.
Ular yang lewat dipagut naga.
Burung tekukur terpisah dari sarangnya.
Kepada rekannya berkatalah suami itu :
“Semuanya akan beres. Pasti beres.
Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya.
Kesukaran selalu ada.
Itulah namanya kehidupan.
Apa yang kita punya sudah lumayan.
Asal keluarga sudah terjaga,
rumah dan mobil juga ada,
apalagi yang diruwetkan ?
Anak-anak dengan tertib aku sekolahkan.
Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa.
Di rumah ada TV, anggrek,
air conditioning, dan juga agama.
Inilah kesejahteraan yang harus dibina.
Kita mesti santai.
Hanya orang edan sengaja mencari kesukaran.
Memprotes keadaaan, tidak membawa perubahan.
Salah-salah malah hilang jabatan.

Tanggal lima belas tahun rembulan
Angin kemarau tergantung di blimbing berkembang.
Malam disambut suara halus dalam rumputan.
Anjing menjenguk keranjang sampah.
Kucing berjalan di bubungan atap.
Dan ketonggeng menunggu di bawah batu.

Istri itu duduk di muka kaca dan berkata :
“Hari-hari mengalir seperti sungai arak.
Udara penuh asap candu.
Tak ada yang jelas di dalam kehidupan.
Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan.
Tak ada yang bisa diambil pegangan.
Suamiku asyik dengan mobilnya
padahal hidupnya penuh utang.
Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.
Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.
Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.
Apakah jaminan pendidikannya ?
Ah, Suamiku !
Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,
pikirannya jelas pula.
Tetapi kini serba tidak kebenaran.
Setiap barang membuatnya brengsek.
Padahal harganya mahal semua.
TV Selalu dibongkar.
Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.
Akhirnya tertidur…….
Sementara TV-nya membuat kegaduhan.
Tak ada lagi yang bisa menghiburnya.
Gampang marah soal mobil
Gampang pula kambuh bludreknya
Makanan dengan cermat dijaga
malahan kena sakit gula.
Akulah yang selalu kena luapan.
Ia marah karena tak berdaya.
Ia menyembunyikan kegagalam.
Ia hanyut di dalam kemajuan zaman.
Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya.

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Tujuh unggas tidur di pohon nangka
Sedang di tanah ular mencari mangsa.
Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan.
Di tebing yang landai tidurlah buaya.
Di antara batu-batu dua ketam bersenggama.

Sang Putri yang di SLA, berkata :
“Kawinilah aku. Buat aku mengandung.
Bawalah aku pergi. Jadikanlah aku babu.
Aku membenci duniaku ini.
Semuanya serba salah, setiap orang gampang marah.
Ayah gampang marah lantaran mobil dan TV
Ibu gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.
Suasana tegang di dalam rumah
meskipun rapi perabotannya.
Aku yakin keluargaku mencintaiku.
Tetapi semuanya ini untuk apa?
Untuk apa hidup keluargaku ini?
Apakah ayah hidup untuk mobil dan TV?
Apakah ibu hidup karena tak punya pilihan?
Dan aku ? Apa jadinya aku nanti?
Tiga belas tahun aku belajar di sekolah.
Tetapi belum juga mampu berdiri sendiri.
Untuk apakah kehidupan kami ini?
Untuk makan? Untuk baca komik?
Untuk apa?
Akhirnya mendorong untuk tidak berbuat apa-apa!
Kemacetan mencengkeram hidup kami.
Kekasihku, temanilah aku merampok Bank.
Pujaanku, suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
di bawah cahaya bulan.
Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan.
Akar bambu bercahaya pospor.
Kelelawar terbang menyambar-nyambar.
Seekor kadal menangkap belalang.
Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :
Ayah dan ibu yang terhormat,
aku pergi meninggalkan rumah ini.
Cinta kasih cukup aku dapatkan.
Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
tetapi kehilangan kesejahteraan.
Bahkan kemewahan yang ayah punya
tidak juga berarti kemakmuran.
Ayah berkata : “santai, santai!“
tetapi sebenarnya ayah hanyut
dibawa arus jorok keadaan
Ayah hanya punya kelas,
tetapi tidak punya kehormatan.
Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
Hasil dari bekerja? Bekerja apa?
Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi?
Seorang petani lebih produktif daripada ayah.
Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
Ayah hanya bisa membuat peraturan.
Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
Ayah tidak produktif melainkan destruktif.
Namun toh ayah mendapat gaji besar!
Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan?
tidak pernah, bukan?
Terlalu beresiko, bukan?
Apakah aku harus mencontoh ayah?
Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
Ayah dan ibu, selamat tinggal.
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya.

 

Thank you for reading…

With Love,

Naomi Indah Sari

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Puisi Chairil Anwar

Bandung, 9 Juni 2017

11:00pm

Image result for chairil anwar

Hi readers, kali ini saya mau share karya-karyanya Chairil Anwar. Chairil Anwar lahir tahun 1922 dan meninggal di tahun 1949, ia dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang” dari karyanya yang berjudul “Aku” (oh iya, karya Chairil yang berjudul “Aku” ini sempat booming lagi setelah tenarnya film Ada Apa Dengan Cinta lho). Chairil adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus pelopor puisi modern Indonesia. Puisinya membahas berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang bermakna multi interpretasi.

Berikut ini adalah beberapa karya Chairil Anwar:

 

Persetujuan Dengan Bung Karno

Chairil Anwar

 

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

Dipanggang diatas apimu

Digarami lautmu

Dari mulai tanggal 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api

Aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat, satu urat

Di zatmu. di zatku, kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu, di uratku, kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

 

AKU

Chairil Anwar

 

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Thank you for reading…^_^

With Love,

Naomi Indah Sari

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Shakespeare Vs Donald Trump

Bandung, November 24th 2016

06:00pm

I copied this article from another blog that I follow. Haven’t heard about Shakespeare for so long, and this article is interesting.

Happy reading….😁

I’ve been preoccupied with two people this year. The first, of course, is William Shakespeare. The other, alack, is Donald Trump.

I’ve avoided writing about the latter. It’s not that I don’t see the man everywhere in Shakespeare’s plays. I see him in Richard III’s Machiavellian machinations. In Richard II’s incompetence, overreach, and rashness. I see him in Iago’s Janus-faced manipulations. In Timon of Athen’s extreme egotism. In the glib sexual presumption of Falstaff as he appears in The Merry Wives of Windsor.

It’s that I’ve wanted to keep the two separated. Maybe because I’ve felt the connections were too pat, that discussing today’s politics would be such an obvious, unoriginal move. Maybe because I haven’t wanted to talk about him – because he’s all we ever talk about anymore.

You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

Or maybe it’s because, in spite of my efforts to make sense of my mundane life in 2016, I’ve ended up seeking escape in the Bard, trying to locate, somehow, even my self-divulging, self-indulging reflections in a kind of sacrosanct timelessness I want unsullied by the small, groping, orange hands of the 45th president of the United States. You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

But if there’s one thing I’ve learned from Shakespeare, it’s that all politics is personal.

***

I’m shocked. I’m angry. I’m scared. I’m eager for action – no,  this middle-class white guy isn’t pretending this essay on Shakespeare makes a meaningful difference. But I’m also longing to understand. To understand my country. To understand people I know – family, for God’s sake – who cast their vote for a bigot. To understand “what happened,” as we’ve been widely referring to Trump’s election.

And it’s this “what happened” that I’ve been stuck on when it comes to Trump and Shakespeare. “What happened?” we ask, bewildered, when Othello kills Desdemona. “How the hell did this happen?” we ask when Lear cradles a dead Cordelia. “Why in God’s name did we end up here?” when ask, beholding Macbeth’s bloodbath. “What happened?” millions of America’s are asking, dazed and gobsmacked, since November 9. The aftermath all seems so unlikely, so improbable, so dramatic. Too dramatic. Laughably dramatic.

What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary.

Like in The Winter’s Tale. In this romance play, Leontes, King of Sicilia, sees his wife, Hermione, innocently clasp hands with his lifelong friend and King of Bohemia, Polixenes. He becomes paranoid. He silences his advisers. He plots to kill Polixenes. He imprisons his wife, who is pregnant and gives birth while jailed. He wants the newborn burned until deciding to have her abandoned in the wilderness. And, oh my, the ways he talks about women: hagharlotcallathobby-horse,thing. (I’d like to say I’m fishing for Trumpian comparisons here, but no. It’s all there.) And Leontes causes so much terror and stress it ends up killing Leontes’ dear son and Hermione.

How did this happen?

The events are so hyperbolic that we tend to attribute it to larger-than-life personalities and passions, to outsized faults and flaws. Celebrities and Shakespearean villains – they’re just not like us. But we confound the outcome with the cause. What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary: “I have too much believed mine own suspicion,” Leontes plainly sums it when he first reckons with the death of his wife and son (3.2.149).

Shakespeare, in that extraordinary way the playwright takes us into that interior stage of the mind, lets us glimpse how ‘it happened’ for Leontes. As he works himself up into a frenzy, Leontes rampages:

…Is whispering nothing?
Is leaning cheek to cheek? Is meeting noses?
Kissing with inside lip? Stopping the career
Of laughter with a sigh? – a note infallible
Of breaking honesty. Horsing foot on foot?
Skulking in corners? Wishing clocks more swift,
Hours minutes, noon midnight? And all eyes
Blind with the pin and web but theirs, theirs only,
That would be unseen be wicked? Is this nothing?
Why then the world and all that’s in’t is nothing,
The covering sky is nothing, Bohemia is nothing,
My wife is nothing, nor nothing have these nothings
If this be nothing. (1.2.286-98)

What happened? How did we get here? It was a whisper. It was nothing.

***

We read Shakespeare, we often say, because of how profoundly he probes and depicts human nature. We try to distill his characters down to raw elements: jealousy, ambition, power, hesitation, arrogance, suspicion. Yes, these, but I think Shakespeare ultimately strikes a deeper vein: irrationality.

It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

We, as humans, like to think we’re rational actors. That we make decisions based on the best available evidence. That we weigh choices based on risk and reward. Which is why Shakespeare’s Lears and Macbeths and Leontes evoke so much outrage, pity, and pathos. Why wouldn’t Lear just listen to what Cordelia was saying to him? Why did Macbeth carry out his assassinations in spite of his persistent moral reservations? How could Leontes let his suspicions get so out of hand and so quickly? If only they could see what they were doing, all the suffering, all the loss, all the grief, all the blood and gore would have been avoided. I would never act like that, we tell ourselves as Lear roves the heath and Macbeth talks to imaginary daggers. This is not what I would have done, we say as Leontes, foaming with self-feeding, despotic jealousy, justifies his anger.

Which is precisely why Shakespeare’s tragic figures are so horrifying. Because we do act like them. Because we’re irrational. We turn petty grievances into catastrophes. We let slights fester into disease. We take revenge on others because we are small, broken, needy beings. All for appearing right, to be recognized, not thinking ahead to, and never actually really wanting, the wreckage our egos leave in their wake. We feel guilty when we finally get what we say we want.

As Paulina, Hermione’s faithful attendant, stands up to Leontes:

…Thy tyranny, together working with thy jealousies –
Fancies too weak for boys, too green and idle
For girls of nine – O think, what they have done,
And the run made indeed, stark mad, for all
Thy bygone fooleries were but spices of it. (3.2.177-82).

We’re Leontes, ruled by the petty, childish tyrannies of our unreason – and our blind insistence otherwise – that bemonsters, Hulk-like and Hyde-like, whispers into so much woe. It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

***

Leontes repents. Sixteen years later, magically, it turns out his baby daughter, Perdita, had survived and was raised by a shepherd in Bohemia, where Polixenes’ son, Florizel, has fallen in love with her. But Polixenes will not have his son marry some country girl and responds with all the tyrannical violence of Leontes. The lovers flee to Sicilia, where Leontes reunites with his daughter and discovers Paulina, Hermione’s attendant, has been keeping the queen alive as a statue all this time.

It’s romantic idea, America, but is it a Romance play, where what’s lost is found, what’s divided is reunited? America’s going to need some repentance. It’s going to need some time. It’s going to need a whole lot of self-government, and that starts with checking our inner, irrational autocrats.

Some fairy-tale magic wouldn’t hurt, either. “It is required / You do awake your faith,” Paulina tells Leontes’ court when Hermione’s statue comes alive (5.3.94-95). But we should remember that while Leontes cried in the chapel everyday for 16 years, Paulina was attending to the statue of her Queen every day. That doesn’t just take faith. It takes commitment  and discipline – which require self-government.

And it’s not lost on me that the person who stands up to the tyrant, who puts in the work, is a woman.

Source: 

Shakespeare, Trump, and radical experiments of self-government: The Winter’s Tale – http://wp.me/p76JYn-z1

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Rakyat Thailand Mencintai Rajanya. Bagaimana dengan Indonesia?

Bandung, Indonesia, 11 November 2016

Hi readers,

Bulan lalu, tepatnya tanggal 13 Oktober 2016 Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej meninggal dunia. Walau dia raja negara lain, bukan bangsa saya; namun tetap saja mengharukan buat saya melihat di semua pemberitaan yang menayangkan meninggalnya sang Raja Thailand. Yang membuat saya haru adalah betapa luar biasa melihat rakyat Thailand menangis histeris, terisak-isak, dan terharu atas meninggalnya sang raja tercinta. Ini luar biasa. Sosok sang raja begitu dicintai oleh rakyatnya. Bahkan sejak beberapa tahun lalu saat sang raja mulai keluar masuk rumah sakit karena penyakitnya, rakyat sudah banyak mendoakan untuk kesembuhan sang raja. Apalagi saat keadaan sang raja sudah mulai kritis, tak henti-henti rakyat Thailand memanjatkan doa untuk kesembuhan beliau. Lalu saat sang raja diberitakan meninggal, seluruh rakyat Thailand merasa sangat berduka. Iring-iringan mobil jenazah raja Bhumibol disambut oleh segenap rakyat Thailand di sepanjang jalan di Bangkok. Ribuan rakyat Thailand berkumpul di sepanjang jalan di Bangkok menggunakan baju hitam dan putih sebagai respon rasa duka mereka atas meninggalnya sang raja yang begitu dicintai. Bahkan ribuan rakyat Thailand sudah stand by di sekitar Grand Palace, tempat raja dimakamkan, sejak malam sebelum jenazah raja tiba.

Wah wah readers, wow banget yah melihat itu semua. Mari kita bandingkan dengan negara kita, Indonesia. Pemerintahan kita memang bukan monarki atau kerajaan, tapi setidaknya melihat rakyat yang mencintai pemimpin negaranya merupakan pemandangan yang begitu indah dan agung. Di Indonesia, banyak sekali kubu-kubu atau kelompok-kelompok yang menjunjung tinggi kepentingan dan ideologi kelompoknya, sehingga mengesampingkan kepentingan dan ideologi bangsa atau kepentingan seluruh rakyat banyak. Sejak saya lahir di Indonesia sejak tahun 1987 hingga saat ini, tidak pernah saya melihat peristiwa seperti di Thailand terjadi di negara saya dimana rakyatnya begitu cinta dan berjuang untuk pemimpinnya. Sementara di Indonesia, rakyat berupaya dengan semangat yang radikal dan dengan kegigihannya, serta dengan ideologi yang mungkin sudah di brainwash oleh kelompok-kelompok tertentu, sehingga dengan semangat gerilya rakyat Indonesia berusaha untukmenjatuhkan pemimpinnya. Entah itu walikota, gubernur, presiden, atau mungkin RT dan RW juga kena sikut. ^_^ Mungkin di Indonesia ini kental sekali dengan budaya sirik, tidak sportif, negative thinking, menghakimi, merasa kelompoknya benar, anti pluralisme, dan rasisme. Sebagai generasi muda yang lahir, besar, dan tinggal di Indonesia, saya ingin sekali melihat negara ini damai dan bisa saling mencintai antara presiden dengan rakyatnya, gubernur dengan warganya, antar kelompok, antar ras, dan antar agama. Bahkan yang saya lihat, Bhineka Tunggal Ika hanyalah sebuah slogan saja di  bawah lambang garuda. Rakyat tidak benar-benar memahami dan menganut Bhineka Tunggal Ika sebagai suatu nilai yang bisa dipegang guna menjaga kesatuan bangsa.

Tapi saya yakin dan percaya bahwa tidak semua rakyat Indonesia seperti itu, ada banyak juga rakyat Indonesia yang cinta damai, pluralisme, dan mencintai teman-teman dari ras atau agama lain. Dan saya mau jadi salah satunya…

Well readers, sampai disini dulu yah…

Thank you for reading.

With Love,

Naomi Indah Sari.

After the death of Thailand’s King Bhumibol Adulyadej on October 13, 2016, photographer Aaron Joel Santos captured the crowds of people paying their respects, waiting for the funeral procession from Siriraj Hospital to the Grand Palace in Bangkok.

via Everything Went Black | Bangkok, Thailand — Discover

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Socrates

Image result

Bandung, 7 September 2016

Hi readers, setelah sebelumnya kita membahas tentang para filsuf Yunani kuno seperti Aristoteles dan Plato, sekarang mari kita membahas tentang Socrates yang juga merupakan filsuf Yunani kuno yang merupakan guru dari Plato. Mari kita simak…

Socrates adalah filsuf yang berasal dari Athena. Ia hidup sejak tahun 469 SM hingga 399 SM. Socrates merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato.

Socrates diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak.

Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan Plato, yang berjudul Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah penggambaran Socrates dalam dialog-dialog yang ditulis oleh Plato. Dalam karya-karyanya, Plato selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama sehingga sangat sulit memisahkan gagasan Socrates yang sesungguhnya dengan gagasan Plato. Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam karyanya yang berjudul Apologi, dan sekali dalam karyanya yang berjudul Phaedrus.

Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan senang berkeliling  untuk mendatangi masyarakat Athena untuk berdiskusi mengenai filsafat. Metode berfilsafatnya ia sebut sebagai metode kebidanan. Ia menggunakan analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Socrates memberikan suatu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.

Cara berpikir Socrates pada masa itu dianggap membahayakan, karena mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat merasa terancam karena ternyata mereka tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka ketahui. Kemudiaan Socrates diadili dengan tuduhan merusak generasi muda. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.

Socrates sebenarnya dapat saja lari dari penjara Athena, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu “kontrak” yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato.

Peninggalan pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas suatu permasalahan melalui suatu dialektika. Perubahan fokus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga dikatakan sebagai jasa dari Socrates. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam semesta.

Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.

Buku Apologi memberi gambaran jelas tentang sosok manusia tertentu: seorang manusia yang sangat percaya diri, berjiwa besar, tak peduli pada kesukaan duniawi, yakni bahwa ia dibimbing oleh suara illahi, dan yakin bahwa penalaran yang jernih adalah syarat terpenting untuk hidup secara benar. Dalam Apologi, Socrates membela dirinya bukanlah demi kepentingannya sendiri, melainkan demi kepentingan para hakim. Menurutnya, para hakim adalah nyamuk masyarakat, dikirim dewa ke negeri itu, dan tak mudah menemukan orang lain semacam dia (Socrates). Socrates menjawab (menyangkal) tuduhan itu, dan menanyakan kepadanya , siapakah orang yang memperbaiki pemuda. Melithus menjawab mula-mula para hakim, kemudian terdesak sedikit mengatakan bahwa semua orang Athena kecuali Socrates memperbaiki pemuda. Socrates mengucapkan selamat bahwa Athena memiliki nasib baik untuk memiliki begitu banyak orang yang berusaha memperbaiki pemuda, dan orang-orang baik tentu lebih pantas untuk dipergauli dari pada orang jelek, maka dari itu ia tidak akan dapat menjadi begitu bodoh untuk dapat merusak mereka dengan sengaja. Setelah keputusan dibacakan, ia ditolak hukuman alternatif sebesar tiga puluh minae (yang untuk ini Socrates menyebut nama Plato sebagai salah seorang yang sanggup membayarnya, dan hadir dalam sidang itu), dan Socrates menyampaikan pidato terakhirnya tentang kematian. Ia mengatakan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, kematian merupakan terpisahnya jasad dari ruh untuk melanjutkan ke dunia selanjutnya.

Kaum sofis hidup sejaman dengan Socrates, dan memang ada kesamaan pendapat diantara keduanya itu. Socrates memindahkan filsafat dari langit ke bumi, artinya sasaran yang diselidiki bukan lagi jagat raya, melainkan manusia. Akan tetapi bukan hanya Socrates yang membuat demikian, kaum sofis juga. Mereka juga menjadikan manusia sasaran pemikiran mereka. Itulah sebabnya Aristophanes menyebut Socrates seorang sofis. Sekalipun demikian ada perbedaan yang besar antara Socrates dan kaum sofis. Filsafat Socrates adalah suatu reaksi dan suatu kritik terhadap kaum sofis. Sebutan “sofis” mengalami perkembangan sendiri. Sebelum abad ke-5 istilah itu berarti: sarjana, cendekiawan. Pada abad ke-4 para sarjana atau cendekiawan bukan lagi disebut “sofis”, tetapi “filosofis”, filsuf, sedang sebutan “sofis” dikenakan untuk para guru yang berkeliling dari kota ke kota untuk mengajar.

Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyangkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Kaum sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada kaum sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi itu sendiri. Jadi, kaum sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenarannya relatif.

Ajarannya dapat diperoleh dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato. Ajaran Socrates itu ditujukan untuk menentang ajaran relativisme sofis. Ia ingin menegakkan sains dan agama. Cara socrates memberikan ajarannya adalah ia mendatangi orang dengan bermacam-macam latar belakang mereka, seperti: ahli politik, pejabat, tukang dan lain-lain. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut, dsb. Socrates selalu menanggapi jawaban pertama sebagai hipotesis dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut dan menarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan begitu seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. Metode yang biasa digunakan Socrates biasanya disebut dialektika. Menurut Plato, dialektika dalam pengertian sebagai metode untuk menggali pengetahuan dengan cara tanya jawab, bukan ditemukan oleh Socrates. Agaknya metode ini pertama kali dipraktikkan secara sistematis oleh Zeno, murid Parmenindes; dalam dialog Plato berjudul Parmenindes, Zeno mengungguli Socrates lewat cara yang sama dengan yang terjadi dalam dialog-dialog Plato lainnya di mana Socrates mengungguli orang-orang lain. Namun ada cukup alasan untuk menduga bahwa Socrates mempraktikkan sekaligus mengembangkan merode ini. Metode Socrates dinamakan dialektika karena dialog mempunyai peranan penting didalamnya.

Socrates menemukan suatu cara berfikir yang disebut induksi, yaitu: menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal khusus. Untuk mengetahui apakah “keutamaan” pada umumnya, semua sifat khusus keutamaan-keutamaan yang bermacam-macam itu harus disingkirkan. Tinggallah keutamaan yang sifatnya umum. Demikianlah dengan induksi itu sekaligus ditemukan apa yang disebut definisi umum. Definisi umum ini pada waktu itu belum dikenal. Socrateslah yang menemukannya, yang ternyata penting sekali bagi ilmu pengetahuan. Bagi Socrates definisi umum bukan pertama-tama diperlukan bagi keperluan ilmu pengetahuan, melainkan bagi etika. Yang diperlukan adalah pengertian-pengertian etis, seperti umpamanya: keadilan, kebenaran, persahabatan dan lain-lainya.

Socrates juga mengatakan bahwa jiwa manusia bukanlah nafasnya semata-mata, tetapi asas hidup manusia dalam arti yang lebih mendalam. Jiwa itu adalah intisari manusia, hakekat manusia sebagai pribadi yang bertanggung jawab. Oleh karena jiwa adalah intisari manusia, maka manusia wajib mengutamakan lebahagiaan jiwanya (eudaimonia = memiliki daimon atau jiwa yang baik), lebih dari pada kebahagiaan tubuhnya atau kebahagiaan yang lahiriah, seperti umpamanya: kesehatan dan kekayaan. Manusia harus membuat jiwanya menjadi jiwa yang sebaik mungkin. Jikalau hanya hidup saja, hal tersebut belum ada artinya. Pendirian Socrates yang terkenal adalah “Keutamaan adalah Pengetahuan”. Keutamaan di bidang hidup baik tentu menjadikan orang dapat hidup baik. Hidup baik berarti mempraktekkan pengetahuannya tentang hidup baik itu. Jadi baik dan jahat dikaitkan dengan soal pengetahuan, bukan dengan kemauan manusia.

Pada bagian kisah terakhir dalam hidup Socrates, dimana ia menyampaikan pandangan tentang apa yang terjadi sesudah mati, ia benar-benar yakin pada imortalitas. Socrates telah percaya bahwa ada kehidupan setelah mati, dan mati merupakan perpindahan jiwa manusia ke dunia selanjutnya. Orang mati hanya meninggalkan jasad. Socrates berpendapat bahwa ruh itu telah ada sebelum manusia, dalam keadaan yang tidak kita ketahui. Kendatipun ruh itu telah bertali dengan tubuh manussia, tetapi diwaktu manusia itu mati, ruh itu kembali kepada asalnya semua. Diwaktu orang berkata kepada Socrates, bahwa raja bermaksud akan membunuhnya. Dia menjawab: “Socrates adalah di dalam kendi, raja hanya bisa memecahkan kendi. Kendi pecah, tetapi air akan kembali ke dalam laut”. Maksudnya, yang hancur luluh adalah tubuh, sedangkan jiwa adalah kekal (abadi).

 Image result

Source:

https://id.wikipedia.org/wiki/Socrates

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/21/socrates-dan-pemikirannya/

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

MERDEKA!!!

Naomi Indah Sari
Foto ini gw ambil dari foto teman special gw yg sedang ada diatas puncak di salah satu gunung di Indonesia. Tepat pada tgl 17 Agustus 2016.

Bandung, 17 Agustus 2016
18:40 wib
Hellouuu readers, Selamat Hari Kemerdekaan 17 Agustus yg ke-71! MERDEKA! MERDEKA!

Btw, foto bendera diatas gw ambil dari foto teman special gw yg tepat hari ini 17 Agustus 2016, dia sedang ada di salah satu puncak gunung di Indonesia. Terima kasih fotonya. ^_^

Well readers, kata MERDEKA sering kali dikumandangkan setiap kali kita, bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus. Namun, apakah kita sebagai bangsa, sebagai seorang individu, sebagai pelajar, sebagai mahasiswa, sebagai pekerja, dsb benar2 sudah merdeka di era sekarang?

Bung Karno & bung Hatta beserta para pemuda pemudi di tahun 1945 telah berjuang mati2an untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Baik bangsa Belanda ataupun bangsa Jepang harus hengkang & tidak berhak lagi untuk menjajah bangsa kita. 

3,5 abad Indonesia dijajah Belanda & 3,5 tahun Indonesia dijajah Jepang. Betapa bahagianya bangsa kita kala itu saat bung Karno dan seluruh rakyat bahu membahu untuk mewujudkan kemerdekaan ini. Merdeka artinya bebas dari perbudakan, bebas dari campur tangan asing, bebas dari beban mental & emosi, bebas dari berbagai hal yg menghalangi kebahagiaan kita dalam hidup.

Jika kita melihat kehidupan kita di zaman modern saat ini, apakah menurut kalian kita sudah merdeka? Apa kita sedang tidak dijajah?

Sedikit saya mau bercerita pengalaman saya mengajar bahasa Inggris bersama para natives/bule. Guru lokal digaji jauh lebih rendah dari gaji native. Gaji yg diperoleh native bisa 3 sampai 4 kali lipat dari gaji guru lokal. Apa ini yg namanya merdeka? Saya katakan tidak.

Pernah ada satu teman guru, beliau orang Indonesia bercerita saat beliau mengajar di sekolah Internasional. Bahwa di sekolah Internasional tempat beliau mengajar dulu ada perbedaan gaji berdasarkan ras. Misal orang bule mendapat gaji dengan nilai paling tinggi, orang India & Filipina digaji dengan nilai menengah, dan kemudian orang Indonesia digaji dengan nilai yg paling rendah, atau jika perlu digaji sesuai atau tidak jauh dari angka UMR. Apakah ini yg dinamakan merdeka? Mengapa orang asing yg bekerja sebagai karyawan di Indonesia tidak digaji sesuai dengan gaji Indonesia. Mengapa orang Indonesia harus memberikan penghargaan yg lebih besar & lebih mahal kepada bangsa asing, sementara memberikan sedikit penghargaan & memberi nilai yg murah kepada bangsa sendiri? Dimana nilai nasionalisme dalam hal ini? Bukankah secara tidak langsung kita juga sedang dijajah? Dijajah oleh bangsa asing atau dijajah oleh bangsa sendiri yg mengagungkan bangsa asing?

Saking terbukanya  & bangganya & noraknya orang Indonesia menerima orang asing bekerja di perusahaannya, sampai2 dengan tanpa berpikir panjang berani memberikan gaji besar kepada orang asing, dan begitu kerasnya berpikir untuk memberikan gaji yg layak kepada bangsa sendiri. ^_^

Apakah dengan cara demikian kita sudah membantu para perintis kemerdekaan menjaga martabat bangsa kita? Saya rasa tidak. Kita bahkan membuat citra kita sebagai bangsa Indonesia lebih rendah dibandingkan bangsa lain. Dimana rasa nasionalisme kita? Apa ada di hatimu? Di jiwamu?

Hal lain yg membuat kesal jika kita pergi ke supermarket yg ada di mall2, biasanya ada banyak sekali produk2 pertanian impor. Beras Thailand lha, cabai dari Filipina, Jagung Kamboja lha, buah2an dari Singapore lha. Memangnya bangsa kita sudah tidak mampu bertani & bercocok tanam? Bukankan petani2 di desa masih butuh produknya untuk dibeli orang? Bukankah petani di Indonesia masih butuh makan untuk hidup? Bukankah petani Indonesia membutuhkan kita bangsanya untuk mendukung pekerjaannya? Semakin rakyat Indonesia diberkati dengan kekayaan, semakin mereka berhasrat untuk mengkonsumsi produk asing. ^_^

Berdasarkan artikel dari liputan6.com bulan Oktober 2013, berikut ini daftar 29 komoditas sembako yang diimpor dari berbagai negara dengan nilai total mencapai US$ 6,16 miliar dan volume 12,25 miliar kg. Nilai & volume impor dibawah ini terhitung hingga bulan Agustus 2013 antara lain :
1. Beras
Nilai impor sampai Agustus : US$ 156,332 juta.
Volume impor sampai Agustus: 302,71 juta kg.
Negara asal : Vietnam, Thailand, Pakistan, India, Myanmar, dan lainnya. 
2. Jagung
Nilai impor sampai Agustus : US$ 544,189 juta 
Volume impor sampai Agustus: 1,80 miliar kg.
Negara asal : India, Argentina, Brazil, Thailand, Paraguay dan lainnya.
3. Kedelai
Nilai impor sampai Agustus : US$ 735,437 juta.
Volume impor sampai Agustus: 1,19 miliar kg.
Negara asal : Amerika Serikat, Argentina, Malaysia, Paraguay, Kanada dan lainnya.
4. Biji Gandum dan Mesin
Nilai impor sampai Agustus : US$ 1,66 miliar.
Volume impor sampai Agustus: 4,43 miliar kg.
Negara asal : Australia, Kanada, India, Amerika Serikat, Singapura dan lainnya.
5. Tepung Terigu
Nilai impor sampai Agustus : US$ 45,29 juta.
Volume impor sampai Agustus: 104,21 juta kg.
Negara asal : Srilanka, India, Turki, Ukraina, Jepang dan lainnya.
6. Gula Pasir
Nilai impor sampai Agustus : US$ 31,11 juta.
Volume impor sampai Agustus: 52,45 juta kg.
Negara asal : Thailand, Malaysia, Australia, Korea Selatan, Selandia Baru dan lainnya.
7. Gula Tebu
Nilai impor sampai Agustus : US$ 1,16 miliar.
Volume impor sampai Agustus: 2,21 miliar kg.
Negara asal : Thailand, Brazil, Australia, El Savador, Afrika Selatan dan lainnya.
8. Daging Sejenis Lembu
Nilai impor sampai Agustus : US$ 121,14 juta. 
Volume impor sampai Agustus: 25,21 juta kg.
Negara asal : Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Singapura.
9. Jenis Lembu
Nilai impor sampai Agustus : US$ 192,56 juta.
Volume impor sampai Agustus: 72,54 juta kg.
Negara asal : Australia.
10. Daging Ayam
Nilai impor sampai Agustus : US$ 30,26 ribu.
Volume impor sampai Agustus: 10,83 ribu kg.
Negara asal : Malaysia.
11. Garam 
Nilai impor sampai Agustus : US$ 59,51 juta.
Volume impor sampai Agustus: 1,29 miliar kg.
Negara asal : Australia, India, Selandia Baru, Jerman, Denmark, lainnya.
12. Mentega
Nilai impor sampai Agustus : US$ 60,09 juta.
Volume impor sampai Agustus: 13,51 juta kg.
Negara asal : Selandia Baru, Belgia, Australia, Perancis, Belanda dan lainnya.
13. Minyak Goreng
Nilai impor sampai Agustus : US$ 45,55 juta.
Volume impor sampai Agustus: 48,01 juta kg.
Negara asal : Malaysia, India, Vietnam, Thailand, Indonesia dan lainnya.
14. Susu
Nilai impor sampai Agustus : US$ 530,47 juta.
Volume impor sampai Agustus: 139,68 juta kg.
Negara asal : Selandia Baru, Amerika Serikat, Australia, Belgia, Jerman dan lainnya.
15. Bawang Merah
Nilai impor sampai Agustus : US$ 32,00 juta.
Volume impor sampai Agustus: 70,95 juta kg.
Negara asal : India, Thailand, Vietnam, Filipina, Cina dan lainnya.
16. Bawang Putih
Nilai impor sampai Agustus : US$ 272,47 juta.
Volume impor sampai Agustus: 332,88 juta kg.
Negara asal : Cina, India, Vietnam.
17. Kelapa
Nilai impor sampai Agustus : US$ 698,49 ribu.
Volume impor sampai Agustus: 672,70 ribu kg.
Negara asal : Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam.
18. Kelapa Sawit
Nilai impor sampai Agustus : US$ 1,87 juta.
Volume impor sampai Agustus: 3,25 juta kg.
Negara asal : Malaysia, Papua Nugini, Virgin Island .
19. Lada
Nilai impor sampai Agustus : US$ 2,38 juta.
Volume impor sampai Agustus: 224,76 ribu kg.
Negara asal : Vietnam, Malaysia, Belanda, Amerika Serikat dan lainnya.
20. Teh
Nilai impor sampai Agustus : US$ 20,66 juta.
Volume impor sampai Agustus: 14,58 juta kg.
Negara asal : Vietnam, Kenya, India, Iran, Srilanka dan lainnya.
21. Kopi
Nilai impor sampai Agustus : US$ 33,71 juta.
Volume impor sampai Agustus: 14,03 juta kg.
Negara asal : Vietnam, Brazil, Italia, Amerika Serikat dan lainnya.
22. Cengkeh
Nilai impor sampai Agustus : US$ 2,79 juta.
Volume impor sampai Agustus: 262,30 ribu kg.
Negara asal : Madagaskar, Mauritius, Singapura, Brazil, Comoros.
23. Kakao
Nilai impor sampai Agustus : US$ 48,52 juta.
Volume impor sampai Agustus: 19,51 juta kg.
Negara asal : Ghana, Pantai Gading, Papua Nugini, Kamerun, Ekuador dan lainnya.
24. Cabai (segar)
Nilai impor sampai Agustus : US$ 360,08 ribu.
Volume impor sampai Agustus: 281,93 ribu kg.
Negara asal : Vietnam, India.
25. Cabai (kering-tumbuk)
Nilai impor sampai Agustus : US$ 15,00 juta.
Volume impor sampai Agustus: 12,26 juta kg.
Negara asal : India, Cina, Jerman, Malaysia, Spanyol dan lainnya.
26. Cabai (awet sementara)
Nilai impor sampai Agustus : US$ 1,56 juta.
Volume impor sampai Agustus: 1,64 juta kg.
Negara asal : Thailand, Cina, Malaysia.
27. Tembakau
Nilai impor sampai Agustus : US$ 371,09 juta.
Volume impor sampai Agustus: 72,98 juta kg.
Negara asal : Cina, Turki, Brazil, Amerika Serikat, Filipina dan lainnya.
28. Ubi Kayu
Nilai impor sampai Agustus : US$ 38,38 ribu.
Volume impor sampai Agustus: 100,80 ribu kg.
Negara asal : Thailand.
29. Kentang
Nilai impor sampai Agustus : US$ 18,18 juta.
Volume impor sampai Agustus: 27,39 juta kg.
Negara asal : Australia, Kanada, Mesir, Cina, Inggris.

Dari laporan diatas terdapat 29 komoditas pangan yg diimpor ke Indonesia. Kita kan punya semua itu di Indonesia. Kalian merasa sedih ga sih melihat ini semua? Bisa kalian bayangkan tidak nasib para petani kita? Bisa kalian bayangkan tidak jika kita hidup di desa & harus berlelah2 bekerja menjadi petani, tetapi kerja keras kita tidak dihargai oleh bangsa sendiri?

Kembali ke kata MERDEKA, terlepas dari kita dijajah dalam hal penghasilan & komoditas pangan. MERDEKA juga erat kaitannya dengan hak kita sebagai warga negara untuk beribadah sesuai dengan agamanya masing2 dengan tentram & damai, sesuai dengan Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”):

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Namun pada kenyataannya para umat pemeluk agama tertentu masih belum merasa merdeka, karena seringkali terjadi konflik antaragama di beberapa daerah dikarenakan berbagai hal, umumnya adalah dikarenakan sulitnya untuk menerima keberadaan agama lain dalam lingkungannya, atau sulitnya berdamai & berpikir positif tentang agama lain sehingga menimbulkan berbagai konflik. Idealnya jika Bhineka Tunggal Ika memang benar ada & tidak hanya sebuah slogan, harusnya kita bisa saling menghargai & menghormati sebagai suatu bangsa (bangsa yg sama, kami sama2 orang Indonesia), bukan berdasarkan ras atau agama. Bukankah ketertiban & kedamaian akan sangat indah bila benar2 bisa terwujud? Sedikit banyak beberapa dari kita masih belum merdeka dengan adanya konflik2 & prasangka yg ada, kita masih terjajah oleh hal2 tersebut. ^_^

Jika boleh saya bicara lebih mengerucut lagi, seperti yg kita tahu bahwa karakter bangsa Indonesia, dalam hal ini orang Indonesia tidak banyak yg memiliki integritas yg tinggi dalam hidup. Orang Indonesia secara keseluruhan, baik yg tinggal di desa, pinggiran kota, atau kota besar sekalipun masih banyak orang yg memiliki karakter yg belum terbuka, belum bijaksana, belum berhikmat, dan sebagainya. Contoh besarnya: koruptor, seorang pejabat tinggi yg memiliki intelektual harusnya memiliki sikap idealis untuk bisa menolak segala bentuk tawaran negatif. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Contoh kecilnya: tukang gosip, karakter bangsa Indonesia harusnya memiliki karakter pelajar & pejuang. Bangsa Indonesia terdahulu menekankan pendidikan, lihat saja Ki Hajar Dewantara, Ibu Kartini, bahkan bung Karno sekalipun. Mereka semua merupakan para pelajar & para perintis pendidikan & ideologi bangsa. Dahulu zaman belum semodern sekarang, seluruh rakyat (terutama yg miskin) berlomba2 untuk dapat mengenyam pendidikan. Zaman modern saat ini, teknologi lebih sering digunakan sebagai media pencari kesalahan/dosa orang lain, untuk selanjutnya dipublikasikan, lalu digosipkan & dibicarakan yg buruk2. Ini adalah mental intimidator, bukan mental motivator. ^_^ Dalam hal ini pun kita masih terjajah, terjajah oleh pikiran kita sendiri yg sempit.

Well readers, ada banyak hal lain mengenai kemerdekaan dalam arti luas yg mungkin tidak terpikir oleh saya untuk dibahas disini. Namun sedikit banyak kita harus belajar untuk menjadi pribadi yg merdeka. Kemerdekaan dimulai dari diri kita pribadi, karakter kita, sifat kita. Mari di Hari Kemerdekaan ini kita dapat melatih diri kita untuk menjadi bangsa yg lebih baik untuk Indonesia. MERDEKA! 

With Love,

Naomi Indah Sari

Source: 

http://m.liputan6.com/bisnis/read/719523/daftar-lengkap-29-komoditas-pangan-yang-diimpor-ri

http://m.hukumonline.com/klinik/detail/cl6556/ham-dan-kebebasan-beragama-di-indonesia


You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari