Simulacra

Bandung, 17 Juli 2017

10:00am

Hi readers, setelah sebelumnya saya share tentang Memetics, sekarang saya mau share tentang Simulacra. Istilah dan teori Simulacra ini dilontarkan oleh seorang tokoh besar cultural-studies bernama Jean Baudrillard.

Image result for simulacra adalah

Dalam hal simulasi, manusia mendiami suatu realitas, di mana perbedaan antara yang real (nyata) dan fantasi, antara asli dan palsu sangatlah tipis. Dunia-dunia tersebut dapat diibaratkan seperti disneyland, universal studio, china town, las vegas atau beverly hills. Lewat media informasi, seperti iklan, televisi, dan film dunia simulasi tampil sempurna. Dunia simulasi itulah yang kemudian dapat dikatakan tidak lagi peduli dengan realitas atau kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang tanda. Di samping itu, tidak dapat lagi dikenal mana yang asli dan mana yang palsu. Semua itu pada akhirnya menjadi bagian realitas yang di jalani dan dihidupi masyarakat saat ini. Kesatuan inilah yang kemudian oleh Baudrilard disebut sebagai simulacra, yaitu sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya antara nilai, fakta, tanda, citra, dan kode.

Dengan demikian simulacra adalah suatu kebohongan berupa tanda, atau image yang dibangun seseorang yang memiliki sifat pada kontennya yang jauh dari realitas asli orang tersebut.

Contoh: misal saja ada seseorang yang dalam realitas hidupnya berdosa dan kurang bermoral, namun melalui akun pribadinya di sosial media, dia bisa saja memposting hal-hal yang religious mulai dari gambar hingga ayat-ayat suci. Dalam hal ini orang tersebut sedang melakukan suatu simulasi yang berbeda dengan realitas dirinya yang asli. Inilah yang disebut dengan simulacra.

Dalam buku yang berjudul “Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard” yang ditulis oleh M. Imam Aziz, Aziz mengatakan bahwa Iklan telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi semua masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonis kepuasan murni, seperti suatu keadaan alam baru di jantung yang kita miliki dalam hiperperadaban. Kebebasan yang kita miliki dalam hiperperadaban sepenuhnya dibatasi oleh sistem komoditas: “Bebas untuk menjadi diri sendiri” ternyata berarti bebas untuk mengarahkan hasrat pribadi pada barang-barang yang diproduksi. “Bebas untuk menikmati hidup” berarti bebas untuk mundur dan bersikap irasional, dan kemudian menerima suatu organisasi sosial produksi tertentu.

Kalimat “bebas menjadi diri sendiri” yang disebut diatas bukan berarti bebas menjadi diri apa adanya (real), tetapi setiap individu bebas menciptakan diri yang seperti apa yang dia inginkan untuk dilihat orang lain di sosial media. Jika setiap orang melakukan simulasi ini, lantas siapa yang jujur menunjukkan diri aslinya. Bahkan saat seseorang membangun image yang sederhana, ramah, dan baik hatipun mungkin saja itu juga merupakan simulasi.

Orang-orang modern dikelompokkan menurut komoditas yang mereka miliki. Konsumsi merupakan suatu tindakan sistematik dari manipulasi tanda-tanda, yang menandai status sosial melalui pembedaan. Konsumsi menentukan status sosial seseorang melalui objek-objek, setiap pribadi dan kelompok mencari tempatnya dalam suatu aturan, sejenak kemudian mencoba untuk mendesak-desak aturan ini menurut lintasan pribadi.

Dalam Simulacra, ada istilah yang disebut dengan Hyperreal, di mana hyperreal ini merepresentasi fase-fase yang lebih berkembang dalam pengertian bahwa pertentangan antara yang nyata dan yang imajiner ini dihapuskan. Yang tak nyata bukan lagi mimpi atau fantasi, tentang, yang melebihi atau yang di dalam, melainkan kemiripan halusinasi dari yang nyata dengan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, ada 3 istilah yang saling terkait; yaitu simulasi, simulacra, dan hiperrealitas. Simulasi berarti tiruan. Maksudnya adalah realitas tiruan yang masih mengacu pada realitas yang sesungguhnya. Sedangkan kedua, Simulacra. Baudrillard mengartikannya dengan realitas tiruan yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Artinya realitas sesungguhnya sudah dibelokkan yang kemudian benar-benar ditutup dari acuannya. Akan tetapi, realitas ini belum sepenuhnya sempurna dikatakan sebagai sebuah realitas yang benar-benar real. Karena, hubungan timbal baik/ interaktif belum terjadi. Atau kita bisa menyebutnya sebagai semi-realitas.
Nah, yang ketiga adalah Hiperrealitas. Inilah yang disebut sebagai realitas yang benar-benar real, bahkan di atas yang real, yang nantinya akan menggantikan realitas yang real sebelumnya. Artinya, Hiperrealitas adalah sebuah dekonstruksi dari realitas real sebelumnya, karena realitas ini akan sangat benar-benar berbeda dari sebelumnya. Atau dalam bukunya Yasraf Amir Pilliang yang berjudul Dunia Yang Dilipat, Hiperrealitas (Hyper-reality) dijelaskan oleh Baudrillard sebagai, keadaan runtuhnya realitas, karena telah diambil alih oleh rekayasa virtual yang dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur. Sedangkan perbedaan antara fase simulacra dengan fase hiperrealitas, terletak pada cirinya yang interaktivis. Yakni, hal-hal yang tadinya hanya dapat dilakukan dalam realitas real, kini telah tergantikan dalam realitas virtual, seperti berinteraksi, transaksi ekonomi, rapat, belajar dsb. Bahkan, lebih efektif dan efisien cara-cara yang baru ini. sedangkan dalam fase simulasi maupun fase simulacra belum terjadi hal-hal seperti ini.

Image result for simulacra adalah

Dalam buku Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi, Nasrullah menulis bahwa Baudrillard mengungkapkan gagasan simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara terus menerus. Khalayak seolah-olah tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang ada di layar. Khalayak seolah-olah berada di antara realitas dan ilusi sebab tanda yang ada di media sepertinya telah terputus dari realitas.

Term simulakra digunakan Baudrillard untuk menggambarkan bagaimana realitas yang ada di media adalah ilusi, bukan cerminan dari realitas, sebuah penandaan yang tidak lagi mewakili tanda awal, tetapi sudah menjadi tanda baru. Baudrillard menyebutnya sebagai “a copy of a copy with no original“. Di media sosial interaksi yang terjadi adalah simulasi dan terkadang berbeda sama sekali. Misalnya, di media sosial identitas menjadi cair dan bisa berubah-ubah. Perangkat di media sosial memungkinkan siapapun untuk menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang berbeda sekali dengan realitasnya, seperti pertukaran identitas jenis kelamin, hubungan perkawinan, sampai pada foto profil.

Term ini terjadi melalui 4 tahap proses:

  1. Tanda (sign) merupakan presentasi realitas.
  2. Tanda mendistorsi realitas
  3. Realitas semakin kabur, bahkan hilang, malah tanda merupakan representasi dari representasi itu sendiri.
  4. Tanda bukan lagi berhubungan dengan realitas. Imaji telah menjadi pengganti dari realitas itu sendiri.

Contoh: saya memiliki pengalaman berkenalan dengan seorang pria yang sangat genius dalam bidang seni rupa, semua gambar hasil karyanya yang di post olehnya di sosial media sangatlah indah dan bagus, namun ada yang membuat saya curiga dan penasaran. Kebanyakan gambar-gambarnya mengandung unsur nudity, sex, wanita sexy, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Saat saya melihat semua gambar-gambar itu ada dua hipotesa yang ada di pikiran saya. Yang pertama, mungkin saja dia tidak pernah mengenal sex atau tidak pernah menyentuh tubuh wanita sehingga dia berimajinasi dan menuangkannya pada karya-karyanya. Yang kedua, mungkin saja dia orang yang senang berhubungan sex dan menyukai pornografi dan dia terang-terangan membagikan hasil karyanya tersebut pada sosial media. Singkat cerita hubungan kami semakin dekat dan saya jatuh cinta kepadanya. Hingga saya menemukan banyak hal-hal yang aneh yang jauh dari estimasi awal saya sebelumnya. Kesimpulan singkatnya, “ternyata dia adalah pelaku simulakra“. Dia melakukan simulasi dengan membangun image sebagai laki-laki jantan (yang menyukai sex) di sosial media, sementara di dunia real dia sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan dia sangat dingin. Awalnya saya curiga mungkin saja dia impoten atau tidak menyukai lawan jenis, sampai saya akhirnya berkesimpulan bahwa dia adalah seorang Asexual Aromantic (bisa dilihat di post blog saya sebelumnya). Selain image dari hasil karyanya tersebut, dia juga melakukan simulasi lain seperti memamerkan saya sebagai pasangannya dan seringkali comment kalimat-kalimat yang seakan romantis atau seakan dia peduli pada saya, sementara di dunia real dia bahkan tidak pernah berkomunikasi intens dengan saya. Dua bulan sejak kami kenal dan dekat saya terus menganalisa dia, dan akhirnya saya menemukan bahwa dia melakukan kebohongan citra/image yang dia bangun hanya untuk dilihat oleh teman-teman di sosial medianya. Ini sangat mengecewakan karena ternyata saya telah menjalin hubungan dengan seorang penipu citra. ^_^

Nah, jika simulasi yang dibuatnya di sosial media membuat orang yang melihatnya yakin dan percaya bahwa yang ditampilkan di sosial media adalah real, maka orang-orang tersebut dianggap telah terjebak dalam dunia simulacra; padahal konten-konten yang ditampilkan bersifat semu dan jauh dari realitas aslinya.

Inilah yang terjadi dalam cyberspace di mana proses simulasi itu terjadi dan perkembangan teknologi komunikasi serta kemunculan media baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas, menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual.

Menurut Baudrillard, realitas terkadang sudah tidak memiliki kesamaan dengan apa yang direpresentasikan. Teknologi dan media memiliki kekuatan tidak hanya untuk melakukan produksi, tetapi juga mereproduksi tanda (signs) dan objek (objects).

Untuk menjelaskan bagaimana konsep simulakra ini terjadi di media sosial, Tim Jordan mengatakan, ketika berinteraksi dengan pengguna lain melalui antarmuka (interface) di media sosial, pengguna harus melalui 2 kondisi berikut:

  1. Pengguna harus melakukan koneksi untuk berada di ruang siber. Koneksi ini merupakan prosedur standar yang harus dilakukan oleh semua pengguna ketika memanfaatkan media sosial.
  2. Ketika berada di media sosial, penguna kadang melibatkan keterbukaan dalam identitas diri sekaligus mengarahkan bagaimana individu tersebut mengidentifikasikan atau mengonstruk dirinya di dunia virtual.

Image result for simulacra adalah

Realitas Buatan

Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulacra, yaitu “daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa”. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya. Sulit memperkirakan hal-hal yang nyata dari hal-hal yang menyimulasikan yang nyata itu.

Baudrillard memberi contoh media massa. Media lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencerminkan realitas, bahkan menjadi realitas itu sendiri. Saksikan dengan seksama bagaimana media mendramatisasi peristiwa, jika suka atau tidak suka. Semua ada narasi simulasinya. Dia menyebutnya sebagai “cyberblitz“.

Realitas yang ditampilkan tampak benar dan objektif, tetapi sebuah kebenaran dan objektivitas yang dikonstruksi sesuai selera para aktor yang berkepentingan.

Sebenarnya pengertian simulakra tidak sesempit dan sesederhana itu, kita yang menganggap diri jujur, benar, dan apa adanya pun masih saja terjebak dalam dunia simulacra. Kejujuran yang kita post apa adanya sesuai pemikiran dan perasaan kita di sosial mediapun kerapkali dianggap pencitraan, pembentukan image, dan lain sebagainya. Ini dikarenakan masyarakat telah terbiasa melakukan simulasi, sehingga mereka menganggap kita melakukan simulasi yang sama. Sehingga semua yang buruk bisa menjadi baik saat disimulasi, dan semua yang baik menjadi buruk karena dipaksa untuk melakukan simulasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, simulakra dalam kaitannya dengan hiperrealitas terjadi karena gencatan yang terpaksa harus dilakukan oleh sebagian khalayak yang psikisnya telah terpapar oleh teknologi media. Misal dengan adanya fasilitas “follow“, “like“, “love“, dan lain sebagainya tersebut membuat khalayak berlomba-lomba membuat simulasi yang terbaik untuk mencitrakan dirinya atau untuk membuat image yang disukai masyarakat, di mana hal tersebut telah dibuat jauh dari karakter realnya. Seakan merupakan kebanggaan pribadi saat seseorang memiliki followers terbanyak atau mendapatkan likes terbanyak. Fasilitas ini tidak hanya mempengaruhi psikis seseorang, tetapi juga memengaruhi kualitas emosi orang tersebut. Tidak sedikit orang yang sebal, kesal, dan iri jika orang lain memliki lebih banyak followers dibandingkan dirinya. Perasaan seperti ini adalah perasaan simulakrum. Suatu emosi yang terjebak pada dunia imitasi. Mereka marah karena dunia imitasinya tidak lebih baik dari dunia imitasi orang lain.

Sampai disini dulu yah penjelasan saya tentang simulacra. Semoga bermanfaat… ^_^

 

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

Aziz, M. Imam. 2001. Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard. Yogyakarta: LKiS

Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalasutra.

https://lingkarstudipopularculture.wordpress.com/2010/05/08/simulasi-simulacra-dan-hiperrealitas/

http://www.republika.co.id/berita/kolom/teh-anget/16/09/23/odytgn319-paradoks-dunia-simulacra

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Advertisements

Mass Psychology & Propaganda

 For Edward Bernays, the conscious and intelligent manipulation of the organized habits and opinions of the masses is an important element in democratic society. Those who manipulate this unseen mechanism of society constitute an invisible government which is the true ruling power of our country.

We are governed, our minds are molded, our tastes formed, our ideas suggested, largely by men we have never heard of. This is a logical result of the way in which our democratic society is organized. Vast numbers of human beings must cooperate in this manner if they are to live together as a smoothly functioning society.
Our invisible governors are, in many cases, unaware of the identity of their fellow members in the inner cabinet.

PROPAGANDA AND POLITICAL LEADERSHIP

Source @flickr

THE great political problem in our modern democracy is how to induce our leaders to lead. The dogma that the voice of the people is the voice of God tends to make elected persons the will-less servants of their constituents. This is undoubtedly part cause of the political sterility of which certain  critics constantly complain. 
      No serious sociologist any longer believes that the voice of the people expresses any divine or specially wise and lofty idea. The voice of the people expresses the mind of the people, and that mind is made up for it by the group leaders in whom it believes and by those persons who understand the manipulation of public opinion. It is composed of inherited prejudices and symbols and cliches and verbal formulas supplied to them by the leaders.

History of the Modern Propaganda

A few things happened in the 21st century that caught the attention of powerful organizations, individuals and public officials. First, the US entered WWI, and many Americans were ambivalent about their involvement.

The government enlisted a group of influential people to serve on theCommittee on Public Information, orCPI, designed to help sell the war domestically. George Creel and Edward Bernays (the latter considered the founder of the public relations industry) were enlisted in the effort. Bernays was the newphew of Sigmund Freud, one of the founders of the modern discipline of psychology, and was quite interested in Freud’s theories of personality and psychotherapy. Except Bernays interest was in understanding how to move masses, how to use Frued’s theory of the unconscious to persuade, not individuals, but populations. He would later become quite wealthy, using what he had learned and Freud’s theories to sell a variety of ideas and products and presidents and candidates.

Bernays is considered the most important figure in making it socially acceptable for women to smoke–quite a feat, when you think abou it. Smoking was, in Freudian terms, tied up with masculinity and male sexual prowess, and hence even though one might say smoking was in a sense the height of conformity to a certain set of institutions, Bernays made it seem rebellious, referring to the cigarettes women were smoking as ‘torches of freedom.’

Every industry in a society of 100 + million, if it is to survive as a nation-wide entity, must mass produce. This requires lots of political mobilization–lawyers and lobbyists, influencing legislators and regulators, funding political campaigns, etc., with the intent of making sure that no laws or regulations get passed that would hurt sales or profits, or whose costs could not be passed on to consumers. But mass production implies that what industries are producing has a market. How to get consumers to buy the stuff being mass-produced? Why mass consumption, of course!

The advertising and public relations industries were built around the idea that mass production required means of increasing levels of consumption, and they’ve been pretty darned successful. They’ve taken advantage of research and theory from disparate social scientific fields, especially from psychology–from the work of Sigmund Freud andB.F. Skinner especially. Although as the authors of Age of Propaganda point out, the literature on the psychology of persuasion dates back a few thousand years to the times of the SophistsAristotleCicero, etc. But while the Greeks looked at persuasion as a means of elevating public debate and discourse, advertisers have used what they’ve learned about persuasion mainly to move products and services, and as an industry to present consumption as the highest expression of post-industrial society.

At some point in the 20th century, a certain segment of the ruling class began viewing citizens less as citizens, less as workers, and more as consumers (of course consuming requires a job, and there have to be some democratic rituals to justify power relations).

Theories and Practice of Mass Propaganda

Source: @flickr

In theory, every citizen makes up his mind on public questions and matters of private conduct. In practice, if all men had to study for themselves the abstruse economic, political, and ethical data involved in every question, they would find it impossible to come to a conclusion about anything.

We have voluntarily agreed to let an invisible government sift the data and high-spot the outstanding issues so that our field of choice shall be narrowed to practical proportions. From our leaders and the media they use to reach the public, we accept the evidence and the demarcation of issues bearing upon public questions; from some ethical teacher, be it a minister, a favorite essayist, or merely prevailing opinion, we accept a standardized code of social conduct to which we conform most of the time.
In theory, everybody buys the best and cheapest commodities offered him on the market. In practice, if every one went around pricing, and chemically testing before purchasing, the dozens of soaps or fabrics or brands of bread which are for sale, economic life would become hopelessly jammed. To avoid such confusion, society consents to have its choice narrowed to ideas and objects brought to its attention through propaganda of all kinds. There is consequently a vast and continuous effort going on to capture our minds in the interest of some policy or commodity or idea.
It might be better to have, instead of propaganda and special pleading, committees of wise men who would choose our rulers, dictate our conduct, private and public, and decide upon the best types of clothes for us to wear and the best kinds of food for us to eat. But we have chosen the opposite method, that of open competition. We must find a way to make free competition function with reasonable smoothness. To achieve this society has consented to permit free competition to be organized by leadership and propaganda.

To-day, however, a reaction has set in. The minority has discovered a powerful help in influencing majorities. It has been found possible so to mold the mind of the masses that they will throw their newly gained strength in the desired direction. In the present structure of society, this practice is inevitable. Whatever of social importance is done to-day, whether in politics, finance, manufacture, agriculture, charity, education, or other fields, must be done with the help of propaganda. Propaganda is the executive arm of the invisible government.

The invisible government tends to be concentrated in the hands of the few because of the expense of manipulating the social machinery which controls the opinions and habits of the masses. To advertise on a scale which will reach fifty million persons is expensive. To reach and persuade the group leaders who dictate the public’s thoughts and actions is likewise expensive.

Source @flickr

For this reason there is an increasing tendency to concentrate the functions of propaganda in the hands of the propaganda specialist. This specialist is more and more assuming a distinct place and function in our national life.
New activities call for new nomenclature. The propagandist who specializes in interpreting enterprises and ideas to the public, and in interpreting the public to promulgators of new enterprises and ideas, has come to be known by the name of “public relations counsel.” 

Source:

Mass Psychology and Propaganda in Politics – http://wp.me/p5k5vA-9hZ


You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Trustworthy Journalism

If you are hungry for news you can trust, journalism that helps you make decisions about your community, reporting that holds power to account, then this is for you. This is my personal advice for people who want to support journalism that matters. It is just a starting point, it is not comprehensive, and it’ll become stronger and more useful if you add your ideas to it. Use the comments to add your list of newsrooms you subscribe to and support.

Now more than ever, it is important to our democracy that we seek out and support good journalism. Every person is going to construct their media diet differently, so any list I create will be incomplete. My goal here is to provide a framework for you to find the news that will challenge, inspire, inform and engage you.

A few key pieces of advice:

  1. Support local news: Subscribe to your local newspapers, donate to a nonprofit newsrooms, become a member at your public broadcasting stations and support the local businesses that advertise on community news sites. Build a relationship with your local journalists, give them feedback, tell them what you’d like to see covered, share their stories.
  2. Support a mix of media: Construct a diverse media diet with a good mix of indie and alternative news, local, national and international coverage, niche and countervailing points of view.Get outside your bubble.
  3. Support journalism about the causes you care about: If you care about climate change, support environmental journalism. If you care about kids and schools, support a newsrooms focused on education. If you care about hunger and homelessness, support reporting about poverty, etc… (more on that below)

Finally, where ever you land on the web look for the about section, see if they post a code of ethics, figure out who the staff are. Here is a great guide to spotting fake and untrustworthy news.

The advice below focuses mostly on nonprofit newsrooms, but there are many commercial newsrooms who do important work and deserve your support as well. Give them your attention, subscribe, and engage with them too.

LOCAL NEWS: If you want to support local local news start here. I can’t list every local newsrooms deserving of your attention and your support, but there are a number of great directories where you can find links to trustworthy journalism in your area:

NICHE AND TOPIC FOCUSED REPORTING: If you care about a specific cause, there is likely a reporting project focused on that issue. Below are a few examples organized into imperfect categories, but check out the Institute for Nonprofit News and The Media Consortium for longer lists of newsrooms covering these topics. 

Photo by Glenn Halog, used via creative commons

PRESS FREEDOM: As the news landscape has shifted fewer and fewer newsroom and journalists have regular access to legal support and protection. This come at a time when we have unprecedented legal, technological and cultural threats to freedom of the press. Support these organizations who are on the front lines of defending the rights of journalists and all of us.

(Also notable are the Committee to Protect Journalists and Reporters Without Borders, though their work is focused more internationally. There are other important rights organizations and government transparency groups whose work intersects with press freedom as well.)

Building a New Infrastructure for News

As with the press freedom groups listed above, there is increasingly a need to support the organizations that support journalists. We have to help create a new infrastructure for independent media. These organizations help train journalists, offer fellowships, fund research and support small independent newsrooms in other ways.

A few of these groups include Dart Center for Journalism and Trauma,National Association of Black JournalistsNational Association of Hispanic JournalistsMaynard InstituteAsian American Journalists AssociationNative American Journalists AssociationNational Lesbian and Gay Journalists AssociationJournalism and Women SymposiumWomen’s Media Center,Online News Association and others mentioned throughout this post and beyond.)

Today, creating the journalism we want, demands that we help support and defend the media we need.

These places need your support. Your donations will go a long way at all of these newsrooms and organizations. But you can support these places in other ways besides your money. Giving your time, your expertise, or your connections can all help small independent newsrooms. Share their work with a friend or family member via email, social media, or in person. Subscribe to their podcasts, email newsletters, social media accounts. Participate by attending local events, meetings that they are hosting, call-in to talk shows, share feedback when it’s asked for.

Be engaged with the journalism you care about, participate in the news that matters to you, and give what you can to support it.


Source: 

How to Find and Support Trustworthy Journalism – http://wp.me/p6uZT-w8


You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari