Buku: The Orange Girl: Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan (Jostein Gaarder)

Bandung, 6 Juni 2017

08:15pm

Hi readers, apa kabar semua?

Kali ini saya mau review satu buku lagi dari Jostein Gaarder yang berjudul The Orange Girl atau Gadis Orange. Novel filsafat ini cukup menarik karena membahas teleskop ruang angkasa Hubble dan tentu saja tentang kisah sang ayah bersama si Gadis Jeruk. Sub Judul buku ini adalah “Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan”. Setelah saya baca buku ini sampai selesai, rasanya saya masih belum puas dan belum mudeng dengan ceritanya. Jadi saya baca ulang lagi buku ini. hehhehehe

Dalam buku ini diceritakan seorang anak bernama Georg Roed yang berasal dari Humleveien, Oslo; yang berusia 15 tahun tiba-tiba menemukan surat dari almarhum ayahnya yang sudah meninggal sejak 11 tahun sebelumnya (saat usia Georg 4 tahun). Menjelang ajalnya sang Ayah telah menulis surat untuk Georg di masa depan. Tidak ada satupun anggota keluarga yang tahu bahwa sang ayah menyimpan surat itu di kereta dorong Georg sekian lama. Sampai akhirnya Georg menemukannya saat usianya 15 tahun.

Dalam review ini saya tidak akan membahas banyak tentang si Gadis Jeruk, jika kalian penasaran silahkan langsung beli bukunya saja yah. Saya hanya akan sedikit menyinggung sedikit tentang si Gadis Jeruk.

Kisah Gadis Jeruk dimulai ketika ayah Georg berdiri diluar Teater Nasional di akhir musim gugur tahun 1970-an. Lalu ayah Georg melihat seorang gadis cantik berdiri di lorong sambil merangkul erat sebuah kantong kertas besar penuh dengan jeruk. Gadis itu mengenakan mantel kulit tua panjang berwarna orange. Nah… biarlah kisah Gadis Jeruk ini jadi misteri untuk kalian yang belum baca yah. Karena kalau saya ceritakan semua kok terkesan membocorkan rahasia buku ini. Etisnya beli dulu bukunya, bacalah, dan temukan yah. hehehehehhe

Saya akan bahas tulisan-tulisan ayah Georg tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble saja yah. Dalam buku ini, Jostein Gaarder seakan memuji-muji Teleskop Hubble, entah apakah ini bagian dari sponsor, politik, atau mungkin konspirasi tentang eksistensi alam semesta. Saya kurang tahu pasti, namun yang jelas kalau memang Teleskop Ruang Angkasa Hubble ini benar-benar dapat menangkap ribuan gambar di ruang angkasa, berarti saya harus yakin bahwa bentuk bumi itu bulat yah (bukan datar). Well, walau tidak bisa juga saya menyimpulkan dengan sangat sederhana semacam itu, tapi sekiranya novel ini seperti mengarahkan kita pada perspektif tersebut. ^_^

Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah diluncurkan  ke orbitnya seputar bumi dari pesawat ruang angkasa Discovery pada 25 April 1990 dari Cape Canaveral. Para ahli menemukan bahwa ada masalah optik yang serius dengan cermin utama teleskop itu, namun kerusakan ini telah diperbaiki oleh para astronaut dari pesawat ruang angkasa Endeavour pada Desember 1993.

Image result for hubble telescope
Hubble Telescope

Gambar-gambar alam semesta yang diambil dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble adalah yang terjelas yang pernah diambil. Ada gambar bintang raksasa Eta Carinae yang sebening kristal, yang jaraknya lebih dari 8.000 tahun cahaya dari sistem tata surya. Eta Carinae adalah salah satu bintang yang paling masif di Bima Sakti dan akan segera meledak menjadi sebuah supernova sebelum sebelum akhirnya mengerut dan membentuk bintang neutron atau sebuah lubang hitam. Ada juga gambar kabut gas dan debu raksasa di Nebula Eagle (M16). Teleskop ini telah mengambil ribuan foto galaksi dan nebula berjarak beberapa juta tahun cahaya dari Bima Sakti.

Related image
Eta Carinae by Hubble Telescope

Related image
Nebula Eagle (M16) by Hubble Telescope

Cahaya bergerak dengan kecepatan 300.000 km/detik. Cahaya dari galaksi-galaksi yang jauh butuh waktu miliaran tahun untuk dapat nampak dari tata surya. Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah mengambil gambar-gambar galaksi yang jauhnya lebih dari dua miliar tahun cahaya.

Dalam novel ini ada tulisan yang menurut saya agak lucu, yaitu waktu Georg mengomentari teman-teman perempuannya yang sibuk dengan eyeliner dan lipstick, dan teman-teman lelakinya yang sibuk dengan sepak bola:

“Kenyataannya kita hidup di sebuah planet di ruang angkasa. Bagiku itu adalah pemikiran yang luar biasa. Sekedar memikirkan keberadaan ruang angkasa saja sudah membuat pikiran takjub. Tapi ada anak-anak perempuan yang tidak bisa melihat alam semesta lantaran eyeliner. Dan ada anak-anak lelaki yang matanya tidak pernah melebihi cakrawala lantaran sepak bola.”

Sontak saya tertawa membaca tulisan diatas, entah karena itu lucu, entah karena mungkin saya merasa bahwa saya adalah salah satu wanita yang juga sibuk dengan eyeliner dan lipstick. hahahhaa Namun perkataan Georg ada benarnya juga. Manusia dibuat sibuk dengan apa yang ada di daratan bumi, dalam arti sibuk dengan penampilannya, sibuk dengan kehidupan sosialnya dan sebagainya; sehingga jarang sekali ada manusia yang berpikir tentang alam semesta, atau jarang sekali ada manusia yang takjub melihat, memikirkan, ataupun mempelajari alam semesta. Padahal kita hidup di suatu sistem Bima Sakti, di mana kita tinggal di salah satu planet yang ada di ruang angkasa bernama Bumi. ^_^

Dalam buku ini ditulis arti kata teleskop adalah “melihat sesuatu yang jauh”. Tujuan menempatkan sebuah teleskop di ruang angkasa jelaslah bukan untuk mendekati bintang-bintang atau planet-planet yang akan diteliti oleh teleskop itu. Ide yang melatarbelakangi pembuatan sebuah teleskop ruang angkasa adalah untuk mempelajari ruang angkasa dari sebuah titik di luar atmosfer bumi.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble membutuhkan waktu 97 menit untuk mengorbit bumi pada kecepatan 28.000 km/jam. Teleskop Ruang Angkasa Hubble mempunyai dua sayap yang terbuat dari panel-panel surya. Panjangnya 12 m dan lebarnya 2.5 m. Panel ini menyediakan tenaga sebesar 3.000 watt untuk satelit itu.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble diberi nama oleh seorang astronom Edwin Powell Hubble. Dialah yang membuktikan bahwa semesta itu mengembang. Pertama dia menemukan bahwa Halo Andromeda sebenarnya bukan sekedar sekumpulan partikel debu dan gas di dalam galaksi kita, melainkan merupakan sebuah galaksi yang sama sekali terpisah di luar Bima Sakti. Penemuan bahwa Bima Sakti hanya merupakan salah satu dari banyak galaksi merevolusi pandangan para astronom alam semesta.

Penemuan Hubble yang terpenting dilontarkan pada 1929 ketika dia mampu memperlihatkan bahwa semakin jauh sebuah galaksi dari Bima Sakti, laju pergerakannya akan tampak semakin cepat. Penemuan ini merupakan landasan dari Teori Dentuman Besar. Menurut teori ini, yang diterima oleh hampir seluruh astronom, alam semesta tercipta oleh sebuah ledakan besar sekitar 12-14 miliar tahun yang lalu.

Menurut Georg, ayahnya sangat mengerti tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble, betapa teleskop tersebut sangat penting bagi umat manusia. Setelah berusia hampir 15 miliar tahun, barulah alam semesta mendapatkan alat yang begitu fundamental seperti mata untuk melihat dirinya sendiri, yaitu Teleskop Ruang Angkasa Hubble yang disebut juga Mata Semesta.

Oh iya, sekali lagi saya masih belum paham kenapa Jostein Gaarder mengangkat tentang teleskop Hubble. Apakah ada kaitannya dengan konspirasi alam semesta antara Globe Earth vs Flat Earth? Saya belum berani berasumsi banyak soal ini. Dan saya pun masih belum mengerti apa kaitannya kisah si Gadis Jeruk dalam novel ini dengan teleskop Hubble? Well, sepertinya akan lebih seru kalau kalian juga baca bukunya dan bisa saling share disini yah. ^_^

Dalam buku ini, Jostein Gaarder menyebutkan lagu Moonlight Sonata dan Unforgettable. Diceritakan ayah Georg seringkali memainkan lagu Moonlight Sonata (Beethouven) dengan pianonya dengan harapan kiranya permainannya dapat terdengar hingga ke seluruh galaksi ruang angkasa.

Sementara lagu Unforgettable disebut dalam buku ini untuk memberikan pengantar bahwa kisah dalam buku ini tentang seorang ayah yang menjelang ajalnya menulis surat untuk Georg di masa depan, sehingga pada saat Georg menerima surat tersebut seakan dia menerimanya dari almarhum sang ayah. Lagu Unforgettable adalah lagu yang dinyanyikan oleh Nat King Cole yang sudah meninggal dunia dan direkam ulang oleh Natalie Cole (anak perempuan Nat King Cole), di mana Natalie akhirnya dapat bernyanyi duet dengan almarhum ayahnya melalui lagu ini.

Well readers, kiranya dua lagu indah tersebut dapat menambah mood kalian jadi lebih baik yah setelah membaca ini. Cerita tentang alam semesta adalah topik yang selalu menarik dan selalu membuat kita penasaran tentang hal-hal yang sulit dilihat dan dijangkau oleh manusia di Bumi. Mari kita berhenti sejenak dari rutinitas kita dan sempatkan diri untuk memandang ke langit dan takjub akan indahnya alam semesta ini.

Thank you for reading…

Sumber:

Gaarder, Jostein. 2016. The Orange Girl. Bandung: Mizan.

You also can follow me on instagram: naomiindahsari

or add me ass friend on facebook: Naomi Indah Sari

 

It’s Not a Sin

Image result for it's not a sin

IT’S NOT A SIN

Sosokmu penuh pesona

Senyum manismu bermekaran di jiwa

Terkadang menyebalkan

Tetapi apalah daya

Fisikmu samar-samar

Sulit dijangkau oleh jiwa

Sulit diwujudkan oleh rasa

Tak mungkin dimimpikan

Tak mungkin digapai

Hingga jiwa kehilangan raga

Jika boleh ku mengungkapkan

Perasaan ini adalah yang terdahsyat yang pernah ada

Apa cinta ini dapat terwujud?

Jawabannya selalu “tidak”

Mencintaimu adalah ilusi

Bersamamu adalah khayalan

Namun kupastikan, jiwaku ada disana

Imajinasiku jadi nyata

Sin won’t be sin

When you see the beauty in it

by: Naomi Indah Sari

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari

SEPASANG LAYANGAN

Image result for two kites

SEPASANG LAYANGAN

Timbangan nyata penuh makna dan tanda tanya

Keseimbangan terkadang hanya melalui kata-kata

Tuhan… apakah ini hanya euforia-Mu semata?

Sehingga ada rasa dari semua alam semesta.

Desir angin pantai malaikat pun tak kunjung datang

Hingga sampai dirimu datang

Hasratku menyentuh langit terbentang

Jangan biarkan musuh menghadang

Sekalipun kau yakin tak pernah menang

Bergeraklah melawan!

Sampai Tuhan melihat hati berlinang.

Koleksi: Naomi Indah Sari

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari

SEMENTARA

Image result for sementara

SEMENTARA

Bertemu denganmu, tak pernah kusangka

Berjalan bersamamu, tak pernah ku kira

Hidup bersamamu, aku pikir bukan realita

Tapi aku harus yakin, bahwa semua ini nyata

Rasa ini, apakah hanya sementara?

Rindu ini. apakah akan terlupa?

Cinta ini. apakah akan musnah?

Sungguh… aku tak ingin terluka

Kau ragu jalan bersamaku

Akupun merasa begitu

Namun, kita harus lewati itu

Karena aku tak ingin kehilanganmu.

By: Naomi Indah Sari ^_^

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari

Shakespeare Vs Donald Trump

Bandung, November 24th 2016

06:00pm

I copied this article from another blog that I follow. Haven’t heard about Shakespeare for so long, and this article is interesting.

Happy reading….😁

I’ve been preoccupied with two people this year. The first, of course, is William Shakespeare. The other, alack, is Donald Trump.

I’ve avoided writing about the latter. It’s not that I don’t see the man everywhere in Shakespeare’s plays. I see him in Richard III’s Machiavellian machinations. In Richard II’s incompetence, overreach, and rashness. I see him in Iago’s Janus-faced manipulations. In Timon of Athen’s extreme egotism. In the glib sexual presumption of Falstaff as he appears in The Merry Wives of Windsor.

It’s that I’ve wanted to keep the two separated. Maybe because I’ve felt the connections were too pat, that discussing today’s politics would be such an obvious, unoriginal move. Maybe because I haven’t wanted to talk about him – because he’s all we ever talk about anymore.

You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

Or maybe it’s because, in spite of my efforts to make sense of my mundane life in 2016, I’ve ended up seeking escape in the Bard, trying to locate, somehow, even my self-divulging, self-indulging reflections in a kind of sacrosanct timelessness I want unsullied by the small, groping, orange hands of the 45th president of the United States. You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

But if there’s one thing I’ve learned from Shakespeare, it’s that all politics is personal.

***

I’m shocked. I’m angry. I’m scared. I’m eager for action – no,  this middle-class white guy isn’t pretending this essay on Shakespeare makes a meaningful difference. But I’m also longing to understand. To understand my country. To understand people I know – family, for God’s sake – who cast their vote for a bigot. To understand “what happened,” as we’ve been widely referring to Trump’s election.

And it’s this “what happened” that I’ve been stuck on when it comes to Trump and Shakespeare. “What happened?” we ask, bewildered, when Othello kills Desdemona. “How the hell did this happen?” we ask when Lear cradles a dead Cordelia. “Why in God’s name did we end up here?” when ask, beholding Macbeth’s bloodbath. “What happened?” millions of America’s are asking, dazed and gobsmacked, since November 9. The aftermath all seems so unlikely, so improbable, so dramatic. Too dramatic. Laughably dramatic.

What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary.

Like in The Winter’s Tale. In this romance play, Leontes, King of Sicilia, sees his wife, Hermione, innocently clasp hands with his lifelong friend and King of Bohemia, Polixenes. He becomes paranoid. He silences his advisers. He plots to kill Polixenes. He imprisons his wife, who is pregnant and gives birth while jailed. He wants the newborn burned until deciding to have her abandoned in the wilderness. And, oh my, the ways he talks about women: hagharlotcallathobby-horse,thing. (I’d like to say I’m fishing for Trumpian comparisons here, but no. It’s all there.) And Leontes causes so much terror and stress it ends up killing Leontes’ dear son and Hermione.

How did this happen?

The events are so hyperbolic that we tend to attribute it to larger-than-life personalities and passions, to outsized faults and flaws. Celebrities and Shakespearean villains – they’re just not like us. But we confound the outcome with the cause. What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary: “I have too much believed mine own suspicion,” Leontes plainly sums it when he first reckons with the death of his wife and son (3.2.149).

Shakespeare, in that extraordinary way the playwright takes us into that interior stage of the mind, lets us glimpse how ‘it happened’ for Leontes. As he works himself up into a frenzy, Leontes rampages:

…Is whispering nothing?
Is leaning cheek to cheek? Is meeting noses?
Kissing with inside lip? Stopping the career
Of laughter with a sigh? – a note infallible
Of breaking honesty. Horsing foot on foot?
Skulking in corners? Wishing clocks more swift,
Hours minutes, noon midnight? And all eyes
Blind with the pin and web but theirs, theirs only,
That would be unseen be wicked? Is this nothing?
Why then the world and all that’s in’t is nothing,
The covering sky is nothing, Bohemia is nothing,
My wife is nothing, nor nothing have these nothings
If this be nothing. (1.2.286-98)

What happened? How did we get here? It was a whisper. It was nothing.

***

We read Shakespeare, we often say, because of how profoundly he probes and depicts human nature. We try to distill his characters down to raw elements: jealousy, ambition, power, hesitation, arrogance, suspicion. Yes, these, but I think Shakespeare ultimately strikes a deeper vein: irrationality.

It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

We, as humans, like to think we’re rational actors. That we make decisions based on the best available evidence. That we weigh choices based on risk and reward. Which is why Shakespeare’s Lears and Macbeths and Leontes evoke so much outrage, pity, and pathos. Why wouldn’t Lear just listen to what Cordelia was saying to him? Why did Macbeth carry out his assassinations in spite of his persistent moral reservations? How could Leontes let his suspicions get so out of hand and so quickly? If only they could see what they were doing, all the suffering, all the loss, all the grief, all the blood and gore would have been avoided. I would never act like that, we tell ourselves as Lear roves the heath and Macbeth talks to imaginary daggers. This is not what I would have done, we say as Leontes, foaming with self-feeding, despotic jealousy, justifies his anger.

Which is precisely why Shakespeare’s tragic figures are so horrifying. Because we do act like them. Because we’re irrational. We turn petty grievances into catastrophes. We let slights fester into disease. We take revenge on others because we are small, broken, needy beings. All for appearing right, to be recognized, not thinking ahead to, and never actually really wanting, the wreckage our egos leave in their wake. We feel guilty when we finally get what we say we want.

As Paulina, Hermione’s faithful attendant, stands up to Leontes:

…Thy tyranny, together working with thy jealousies –
Fancies too weak for boys, too green and idle
For girls of nine – O think, what they have done,
And the run made indeed, stark mad, for all
Thy bygone fooleries were but spices of it. (3.2.177-82).

We’re Leontes, ruled by the petty, childish tyrannies of our unreason – and our blind insistence otherwise – that bemonsters, Hulk-like and Hyde-like, whispers into so much woe. It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

***

Leontes repents. Sixteen years later, magically, it turns out his baby daughter, Perdita, had survived and was raised by a shepherd in Bohemia, where Polixenes’ son, Florizel, has fallen in love with her. But Polixenes will not have his son marry some country girl and responds with all the tyrannical violence of Leontes. The lovers flee to Sicilia, where Leontes reunites with his daughter and discovers Paulina, Hermione’s attendant, has been keeping the queen alive as a statue all this time.

It’s romantic idea, America, but is it a Romance play, where what’s lost is found, what’s divided is reunited? America’s going to need some repentance. It’s going to need some time. It’s going to need a whole lot of self-government, and that starts with checking our inner, irrational autocrats.

Some fairy-tale magic wouldn’t hurt, either. “It is required / You do awake your faith,” Paulina tells Leontes’ court when Hermione’s statue comes alive (5.3.94-95). But we should remember that while Leontes cried in the chapel everyday for 16 years, Paulina was attending to the statue of her Queen every day. That doesn’t just take faith. It takes commitment  and discipline – which require self-government.

And it’s not lost on me that the person who stands up to the tyrant, who puts in the work, is a woman.

Source: 

Shakespeare, Trump, and radical experiments of self-government: The Winter’s Tale – http://wp.me/p76JYn-z1

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Buku: Socrates (Sahrul Mauludi)

Bandung, 11 November 2016.

Hi readers, ga terasa uda 1 bulan lebih saya ga ngeblog. Maklum sibuk…hahaha lebih tepatnya saya belum sempat mikirin ide mau nulis apa, belum sempat baca buku, jadi belum sempat ngeblog. hehehe

Kali ini saya mau mereview suatu buku yang sarat makna dan inspirasi yang berjudul Socrates, buku ini ditulis oleh Sahrul Mauludi yang adalah seorang penulis dan jurnalis. Sebelumnya saya pernah membahas tentang biografinya Socrates di blog sebelumnya, kali ini saya lebih membahas tentang beberapa point  menarik yang saya kutip dari buku ini.

Socrates adalah orang yang baik hati dan bijaksana (sok tahu banget yah, padahal ga pernah kenalan^_^), saya merasa demikian karena dari beberapa tulisan yang saya baca tentang Socrates. Socrates membagikan nilai-nilai dan pemikirannya kepada murid-muridnya dan masyarakat Athena pada masa hidupnya, sampai dia dianggap manusia paling bijaksana di Athena pada saat itu.
Dalam buku ini, Sahrul Mauludi mengutip kalimat George Rudebusch (2009) yang mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah darah dan daging tertentu (yaitu manusianya), melainkan pikiran besarnya (great mind) yang perlu kita pahami.

Berdasarkan kutipan diatas, George ingin menekankan bahwa hal-hal yang bersifat badaniah, jasmani, manusia, darah dan daging, fisik, penampilan tidaklah penting. Yang terpenting adalah bagaimana seorang manusia berpikir, ide apa yang dimilikinya, imajinasi apa yang dimilikinya, dan apa yang dia pikirkan. Karena pikiran lah yang dapat mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan manusia.

Sebagai seorang filsuf, Socrates seringkali dianggap atheis oleh sebagian orang. Namun Socrates berusaha membela dirinya bahwa ia bukan seorang atheis dan ia tidak memiliki maksud untuk merusak pikiran kaum muda. Bahkan, menurut Socrates, apa yang dilakukannya berdasarkan perintah Tuhan. “Tuhan memerintahkanku untuk hidup berfilsafat, menguji diriku dan orang lain.”

Memang apa salahnya berfilsafat? apa filsafat menjauhkan manusia dari Tuhan? apa filsafat bermakna anti Tuhan? kalau boleh saya perjelas disini, filsafat adalah suatu cara untuk mencari, mempelajari, dan mendapatkan kebijaksanaan. Sebagai seorang penganut agama pun kita dituntut untuk menjadi umat yang bijaksana, bijaksana dalam berpikir, bijaksana dalam bertindak, bijaksana dalam berucap. Jika para penganut agama tidak bijaksana, bisa saja memiliki karakter dan pikiran yang negatif, dan tidak menghargai kemanusiaan. Bahkan Socrates sendiri mengatakan bahwa kita harus menguji diri kita sendiri dan orang lain. Dalam arti, kita tidak boleh merasa diri kita lah yang paling benar, tetapi kita diajak untuk menguji diri kita, sudah sejauh mana kita merasa benar, kelemahan apa yang kita miliki, aspek mana yang perlu kita perbaiki. Sehingga dengan demikian kita tidak bisa bermegah dan sombong atas diri kita, tetapi dengan bijaksana merendahkan diri dan menguji diri kita sendiri.

Menurut Ronald Gross, Socrates telah memperkenalkan cara berpikir baru mengenai diri dan kehidupan kita:

  1. Ia mendasarkan pada pemikiran daripada unsur spiritual. Daripada bertanya pada pendeta atau peramal sebagai panduan, Socrates menekankan menggunakan akal untuk memahami diri kita sendiri dan memecahkan masalah.
  2. Socrates mempertanyakan “kearifan konvensional” yang telah lazim dianut saat itu. Melalui diskusi yang sering ia lakukan, Socrates mempertanyakan apa itu cinta, keberanian, keadilan, persahabatan, dan seterusnya. Orang akan menjawab sesuai dengan asumsinya masing-masing. Lalu Socrates menanggapinya dengan pernyataan yang berlawanan sehingga membuat bingung lawan bicaranya; sampai akhirnya mereka mulai meragukan pendapat mereka sendiri.
  3. Socrates menjadikan diskusi atau dialog sebagai sarana pencarian. Hal ini karena memang saling membutuhkan satu sama lain untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai diri kita. Kita perlu mengemukakan dan membela pemikiran kita dan mendengarkan bagaimana tanggapan orang lain. Sering kali kita tidak betul-betul menyadarai apa sesungguhnya pemikiran dan pendapat kita sampai mendengar apa yang kita kemukakan sendiri lalu kita menyadari ternyata tidak sepenuhnya benar dan untuk itu perlu diperbaiki.

Socrates juga merevolusi nilai dengan berargumen bahwa apa yang paling membuat manusia bahagia bukanlah uang, popularitas, atau kekuasaan, tetapi keadaan jiwa seseorang. Dia merevolusi etika dengan menekankan bahwa seseorang yang baik tidak akan merugikan orang lain.

Setuju dengan Socrates bahwa kepuasan tertinggi manusia tidak akan pernah bisa didapat dari harta, popularitas, dan kekuasaan, tetapi pada jiwa. Walaupun dengan memiliki kekayaan dan kekuasaan membuat jiwa kita secara otomatis bahagia, namun itu tetap saja bukan kebahagiaan sejati. Bahagia yang demikian hanya akan berlangsung sesaat saja.

Jika seorang manusia memiliki jiwa yang sehat dan bahagia, manusia tersebut akan terpanggil hati nuraninya untuk berbuat baik. seperti yang dikatakan Socrates bahwa orang yang baik tidak akan merugikan orang lain. Catat! ^_^

Hal yang paling menarik adalah saat Chaerepon (sahabat setia Socrates) mendatangi kuil dewa Apollo dan bertemu dengan peramal (orakel), Chaerepon bertanya pada peramal itu “apakah ada orang yang lebih arif bijaksana daripada Socrates?”, lalu peramal tersebut menjawab, “Sophocles bijaksana, Euripides bijaksana, namun yang paling bijaksana dari semuanya adalah Socrates.” Mendengar jawaban peramal tersebut, Chaerepon langsung mendatangi Socrates dan menyampaikan ucapan peramal tersebut bahwa Socrates adalah yang paling bijaksana. Lalu Socrates kaget dan dengan rendah hati dia berkata, “saya bijak? mengapa saya? memangnya siapa saya?”

Respon dan jawaban Socrates sungguh memukau saya. Di Athena kala itu, semua orang yang berdarah biru dan berpendidikan berlomba-lomba ingin dianggap bijak. Karena memiliki predikat bijak di Athena pada zaman itu dianggap memiliki prestise yang tinggi. Namun Socrates tidak dengan mudah merasa bangga saat menerima kabar itu, melainkan dia berpikir dan melihat dirinya lagi, “apakah saya benar bijaksana?”.

Akhirnya Socrates menyadari bahwa dirinya disebut bijaksana bukan karena “serba tahu”, tetapi karena “ia sadar bahwa dirinya tidak tahu”, ia sadar dirinya bukanlah orang bijaksana. Sedangkan mereka yang merasa bijaksana pada dasarnya adalah tidak bijaksana karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana. Ini merupakan ironi.

Dari cerita diatas, kunci dari kebijaksanaan Socrates adalah kerendahanhati. Karena hanya orang yang rendah hati lah yang tidak merasa diri bijaksana, dan tidak merasa diri pintar. Hanya orang yang rendah hati lah yang mau bertanya, belajar, dan mencari tahu.

Socrates memiliki pemikiran yang luar biasa. Pemikiran adalah kekuatan kita, seperti yang dikatakan Robert Kiyosaki (2000) dalam bukunya Rich Dad Poor Dad mengatakan, bahwa in reality, the only real asset you have is your mind, the most powerful tool we have (dalam kenyataannya, satu-satunya aset  nyata yang anda miliki adalah pikiran anda, alat yang paling kuat yang kita miliki).

Alfred North Whithead (1929) mengatakan “fungsi dari pemikiran adalah untuk menunjang hidup.” Yang pertama untuk hidup (to live), kedua untuk hidup dengan baik (to live well), ketiga untuk hidup lebih baik (to live better).

Dalam buku ini kita diajak untuk berpikir kritis, berpikir kreatif, berpikir mendalam, dan berpikir positif. Karena berpikir positif itu baik dan bermanfaat, sementara berpikir negatif itu merusak. Dengan berpikir positif kita bisa mengembangkan ide, kreatifitas, pengetahuan, dan hal-hal bermanfaat lainnya, sementara dengan berpikir negatif menimbulkan perpecahan, konflik, tekanan batin, merusak emosi, dan lain sebagainya.

Menurut Napoleon Hill, orang-orang paling sukses di dunia telah memperbaiki titik lemah tertentu dalam kepribadian mereka sebelum mereka mulai sukses. Kelemahan ini antara lain sikap intoleran, serakah, iri, curiga, dendam, egoisme, sombong, kecenderungan untuk mendapatkan apa yang tidak mereka lakukan, dan kebiasaan menghabiskan lebih daripada apa yang mereka dapatkan.

Ehm….bagus sekali jika analisa Napoleon Hill ini benar terjadi. Namun pada kenyataannya kok banyak orang sukses, atau pemimpin yang karakternya berbanding terbalik dengan analisanya Napoleon Hill. hehehehe Tapi tentu saja saya sangat setuju jika kita mau sukses, kita harus memperbaiki kepribadian kita, setidaknya mereduksi sifat-sifat atau perilaku-perilaku negatif kita, sehingga kita dapat memiliki integritas dan dapat bekerja, berusaha, dan menggapai sukses melalui integritas yang dimiliki.  Bahasa agamanya TOBAT! wkwwkkwwkk ^_^

Menurut Gardner, seseorang dengan kecerdasan personal mampu mengenali dirinya dengan lebih baik maupun dengan orang lain. Gardner menulis bahwa inti pengetahuan diri (personal knowledge) terdapat dua jenis informasi:

  1. Kemampuan kita untuk mengenal orang lain; seperti mengenal wajah, suara dan kepribadian mereka, menanggapi mereka dengan tepat, terlibat dalam aktivitas mereka.
  2. Kepekaan kita terhadap perasaan kita sendiri, harapan, dan ketakutan.

Bagi Socrates pengetahuan kita tentang diri sangatlah sedikit dan perlu terus belajar. Manusia perlu untuk menyadari kebodohannya agar terus belajar. Menurut Socrates, kebijaksanaan sejati datang kepada kita ketika menyadari betapa sedikitnya pemahaman kita atas kehidupan, diri sendiri, dan dunia sekeliling kita. Socrates menambahkan bahwa hidup yang tak teruji adalah hidup yang tak bermakna.

Tidak seperti kaum sofis yang mengajarkan kebenaran dan kebijaksanaan, agar orang-orang menjadi pandai dan mengetahui banyak hal, Socrates malah mengingatkan bahwa kita tidak tahu banyak hal. Dia malah memuji kesadaran akan ketidaktahuan sebagai kebijaksanaan, orang yang bijaksana bukan orang yang serba tahu, tetapi mereka yang sadar akan ketidaktahuannya, sadar akan kebodohannya, lalu mau terus belajar.

Dalam konteks ini, Socrates bukan memuji kebodohan dan meremehkan pengetahuan, tetapi mengajarkan ilmu padi, semakin pandai semakin rendah hati, semakin terpelajar semakin tahu diri, semakin luas pengetahuan semakin senang belajar, semakin mendalam wawasan semakin suka mendengarkan. Itulah kebijaksanaan.

Dengan demikian kesadaran akan keterbatasan diri merupakan sikap rendah hati yang bijaksana. Sementara itu merasa diri bijak adalah sikap yang naif, cenderung merasa puas dan hebat. Socrates mempraktikkan jalan hidup yang bermakna. Tidak dengan kemewahan, tetapi dengan kebenaran, tidak dengan pemuasan nafsu jasadi, tetapi dengan kebajikan, tidak dengan bersenang-senang, tetapi dengan pemikiran dan pengetahuan.

Untuk membangun kualitas jiwa kita, kita harus memiliki kecerdasan spiritual. Kita harus melatih jiwa kita dan mengajarkan jiwa kita hal-hal yang baik dan positif. Kita harus berpikir, berfilsafat, dan menguji diri. Walau begitu Sahrul menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh.

Well readers, sampai disini dulu yah. Thank you for reading.

With love,

Naomi Indah Sari ^_^

Source:

Mauludi, Sahrul. 2016. Socrates: Inspirasi dan Pencerahan untuk Hidup Lebih Bermakna. Jakarta: Elex Media Komputindo.

 

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Socrates

Image result

Bandung, 7 September 2016

Hi readers, setelah sebelumnya kita membahas tentang para filsuf Yunani kuno seperti Aristoteles dan Plato, sekarang mari kita membahas tentang Socrates yang juga merupakan filsuf Yunani kuno yang merupakan guru dari Plato. Mari kita simak…

Socrates adalah filsuf yang berasal dari Athena. Ia hidup sejak tahun 469 SM hingga 399 SM. Socrates merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato.

Socrates diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak.

Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan Plato, yang berjudul Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah penggambaran Socrates dalam dialog-dialog yang ditulis oleh Plato. Dalam karya-karyanya, Plato selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama sehingga sangat sulit memisahkan gagasan Socrates yang sesungguhnya dengan gagasan Plato. Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam karyanya yang berjudul Apologi, dan sekali dalam karyanya yang berjudul Phaedrus.

Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan senang berkeliling  untuk mendatangi masyarakat Athena untuk berdiskusi mengenai filsafat. Metode berfilsafatnya ia sebut sebagai metode kebidanan. Ia menggunakan analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Socrates memberikan suatu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.

Cara berpikir Socrates pada masa itu dianggap membahayakan, karena mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat merasa terancam karena ternyata mereka tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka ketahui. Kemudiaan Socrates diadili dengan tuduhan merusak generasi muda. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.

Socrates sebenarnya dapat saja lari dari penjara Athena, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu “kontrak” yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato.

Peninggalan pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas suatu permasalahan melalui suatu dialektika. Perubahan fokus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga dikatakan sebagai jasa dari Socrates. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam semesta.

Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.

Buku Apologi memberi gambaran jelas tentang sosok manusia tertentu: seorang manusia yang sangat percaya diri, berjiwa besar, tak peduli pada kesukaan duniawi, yakni bahwa ia dibimbing oleh suara illahi, dan yakin bahwa penalaran yang jernih adalah syarat terpenting untuk hidup secara benar. Dalam Apologi, Socrates membela dirinya bukanlah demi kepentingannya sendiri, melainkan demi kepentingan para hakim. Menurutnya, para hakim adalah nyamuk masyarakat, dikirim dewa ke negeri itu, dan tak mudah menemukan orang lain semacam dia (Socrates). Socrates menjawab (menyangkal) tuduhan itu, dan menanyakan kepadanya , siapakah orang yang memperbaiki pemuda. Melithus menjawab mula-mula para hakim, kemudian terdesak sedikit mengatakan bahwa semua orang Athena kecuali Socrates memperbaiki pemuda. Socrates mengucapkan selamat bahwa Athena memiliki nasib baik untuk memiliki begitu banyak orang yang berusaha memperbaiki pemuda, dan orang-orang baik tentu lebih pantas untuk dipergauli dari pada orang jelek, maka dari itu ia tidak akan dapat menjadi begitu bodoh untuk dapat merusak mereka dengan sengaja. Setelah keputusan dibacakan, ia ditolak hukuman alternatif sebesar tiga puluh minae (yang untuk ini Socrates menyebut nama Plato sebagai salah seorang yang sanggup membayarnya, dan hadir dalam sidang itu), dan Socrates menyampaikan pidato terakhirnya tentang kematian. Ia mengatakan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, kematian merupakan terpisahnya jasad dari ruh untuk melanjutkan ke dunia selanjutnya.

Kaum sofis hidup sejaman dengan Socrates, dan memang ada kesamaan pendapat diantara keduanya itu. Socrates memindahkan filsafat dari langit ke bumi, artinya sasaran yang diselidiki bukan lagi jagat raya, melainkan manusia. Akan tetapi bukan hanya Socrates yang membuat demikian, kaum sofis juga. Mereka juga menjadikan manusia sasaran pemikiran mereka. Itulah sebabnya Aristophanes menyebut Socrates seorang sofis. Sekalipun demikian ada perbedaan yang besar antara Socrates dan kaum sofis. Filsafat Socrates adalah suatu reaksi dan suatu kritik terhadap kaum sofis. Sebutan “sofis” mengalami perkembangan sendiri. Sebelum abad ke-5 istilah itu berarti: sarjana, cendekiawan. Pada abad ke-4 para sarjana atau cendekiawan bukan lagi disebut “sofis”, tetapi “filosofis”, filsuf, sedang sebutan “sofis” dikenakan untuk para guru yang berkeliling dari kota ke kota untuk mengajar.

Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyangkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Kaum sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada kaum sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi itu sendiri. Jadi, kaum sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenarannya relatif.

Ajarannya dapat diperoleh dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato. Ajaran Socrates itu ditujukan untuk menentang ajaran relativisme sofis. Ia ingin menegakkan sains dan agama. Cara socrates memberikan ajarannya adalah ia mendatangi orang dengan bermacam-macam latar belakang mereka, seperti: ahli politik, pejabat, tukang dan lain-lain. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut, dsb. Socrates selalu menanggapi jawaban pertama sebagai hipotesis dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut dan menarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan begitu seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. Metode yang biasa digunakan Socrates biasanya disebut dialektika. Menurut Plato, dialektika dalam pengertian sebagai metode untuk menggali pengetahuan dengan cara tanya jawab, bukan ditemukan oleh Socrates. Agaknya metode ini pertama kali dipraktikkan secara sistematis oleh Zeno, murid Parmenindes; dalam dialog Plato berjudul Parmenindes, Zeno mengungguli Socrates lewat cara yang sama dengan yang terjadi dalam dialog-dialog Plato lainnya di mana Socrates mengungguli orang-orang lain. Namun ada cukup alasan untuk menduga bahwa Socrates mempraktikkan sekaligus mengembangkan merode ini. Metode Socrates dinamakan dialektika karena dialog mempunyai peranan penting didalamnya.

Socrates menemukan suatu cara berfikir yang disebut induksi, yaitu: menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal khusus. Untuk mengetahui apakah “keutamaan” pada umumnya, semua sifat khusus keutamaan-keutamaan yang bermacam-macam itu harus disingkirkan. Tinggallah keutamaan yang sifatnya umum. Demikianlah dengan induksi itu sekaligus ditemukan apa yang disebut definisi umum. Definisi umum ini pada waktu itu belum dikenal. Socrateslah yang menemukannya, yang ternyata penting sekali bagi ilmu pengetahuan. Bagi Socrates definisi umum bukan pertama-tama diperlukan bagi keperluan ilmu pengetahuan, melainkan bagi etika. Yang diperlukan adalah pengertian-pengertian etis, seperti umpamanya: keadilan, kebenaran, persahabatan dan lain-lainya.

Socrates juga mengatakan bahwa jiwa manusia bukanlah nafasnya semata-mata, tetapi asas hidup manusia dalam arti yang lebih mendalam. Jiwa itu adalah intisari manusia, hakekat manusia sebagai pribadi yang bertanggung jawab. Oleh karena jiwa adalah intisari manusia, maka manusia wajib mengutamakan lebahagiaan jiwanya (eudaimonia = memiliki daimon atau jiwa yang baik), lebih dari pada kebahagiaan tubuhnya atau kebahagiaan yang lahiriah, seperti umpamanya: kesehatan dan kekayaan. Manusia harus membuat jiwanya menjadi jiwa yang sebaik mungkin. Jikalau hanya hidup saja, hal tersebut belum ada artinya. Pendirian Socrates yang terkenal adalah “Keutamaan adalah Pengetahuan”. Keutamaan di bidang hidup baik tentu menjadikan orang dapat hidup baik. Hidup baik berarti mempraktekkan pengetahuannya tentang hidup baik itu. Jadi baik dan jahat dikaitkan dengan soal pengetahuan, bukan dengan kemauan manusia.

Pada bagian kisah terakhir dalam hidup Socrates, dimana ia menyampaikan pandangan tentang apa yang terjadi sesudah mati, ia benar-benar yakin pada imortalitas. Socrates telah percaya bahwa ada kehidupan setelah mati, dan mati merupakan perpindahan jiwa manusia ke dunia selanjutnya. Orang mati hanya meninggalkan jasad. Socrates berpendapat bahwa ruh itu telah ada sebelum manusia, dalam keadaan yang tidak kita ketahui. Kendatipun ruh itu telah bertali dengan tubuh manussia, tetapi diwaktu manusia itu mati, ruh itu kembali kepada asalnya semua. Diwaktu orang berkata kepada Socrates, bahwa raja bermaksud akan membunuhnya. Dia menjawab: “Socrates adalah di dalam kendi, raja hanya bisa memecahkan kendi. Kendi pecah, tetapi air akan kembali ke dalam laut”. Maksudnya, yang hancur luluh adalah tubuh, sedangkan jiwa adalah kekal (abadi).

 Image result

Source:

https://id.wikipedia.org/wiki/Socrates

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/21/socrates-dan-pemikirannya/

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari