Buku: Supernova 1 (Kesatria, Putri & Bintang Jatuh), Dee Lestari

Bandung, 6 Agustus 2017

02:15pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat terkenal dan fenomenal di Indonesia yang ditulis oleh mantan penyanyi zaman saya SD, yaitu Dee Lestari. hehehehe Buku ini adalah serangkaian buku-buku yang diberi nama “Supernova” yang terdiri dari 6 seri. Nah yang mau saya share sekarang adalah buku seri pertama yang berjudul “Kesatria, Putri & Bintang Jatuh”.

Kalau boleh berkomentar dulu, ini bukunya agak sedikit rumit dan membingungkan yah. Saya sampai harus lihat-lihat lagi halaman-halaman berikutnya supaya benar-benar nangkep maksud/ pesan dari buku ini. Saya tertarik mau baca buku ini karena beberapa orang bilang ini bukunya bagus banget dan ditulis dengan sangat cerdas oleh Dee Lestari, sampai-sampai waktu saya search buku ini via online (ceritanya mau beli di toko buku online), ada orang yang mention saya terus semangat banget rekomendasiin buku ini ke saya, katanya “Wajib banget baca kak. Sumpah si Dee pinter banget. Semua ilmu ada di buku supernova”. Ok ok, akhirnya setelah keliling semua toko buku di Jakarta (tempat saya tinggal sebelum pindah ke Bandung) tidak ketemu buku supernova 1 ini atau biasanya disingkat dengan “KPBJ”, dan akhirnya saya memutuskan beli online.

Well, waktu awal saya baca buku KPBJ ini, saya langsung tertarik karena Dee menggunakan pasangan homoseksual sebagai tokoh utama buku ini, yang bernama Dimas & Reuben. Kenapa saya tertarik? Karena di buku ini si Dimas & Reuben diceritakan sebagai pasangan homoseksual yang berintelektual, alias berpendidikan. Ide ini bagus banget untuk membangun citra bahwa homoseksual sama seperti orang normal yang berpendidikan tinggi, cerdas, intelek, kreatif, dan mampu berkarya. Tidak seperti stereotype yang sudah melekat di masyarakat bahwa homoseksual adalah menjijikkan, tidak berpendidikan, tidak bermoral, bahkan phedofil.

Selain itu, sangat menarik karena Dee menulis cerita di dalam cerita. Maksudnya, Dee menciptakan Dimas & Reuben dalam bukunya, lalu Dimas & Reuben menulis juga tentang tokoh-tokoh lain yang diciptakannya dalam tulisannya. Ini sangat menarik walaupun sedikit membingungkan karena setting ceritanya lompat-lompat ke cerita yang berbeda, namun masih saling terkait.

Kenapa Dee dipuji-puji sangat cerdas melalui buku ini, karena buku ini menyajikan istilah-istilah atau membahas teori-teori yang beragam seperti sastra, filsafat, sains, fisika, kimia, matematika, biologi, anatomi, psikologi, dan lain sebagainya. Seakan Dee berusaha menggabungkan semua ilmu tersebut dalam suatu kehidupan manusia, yang memang saling berkaitan satu sama lain.

Dalam buku ini tokoh Reuben mengatakan, “bahwa kebenaran yang utuh baru kamu dapatkan setelah melihat kedua sisi cermin kehidupan. Tidak cuma sebelah. Dan, cermin itu sangat dekat”. Lalu ia memperjelas bahwa cermin tersebut berada di setiap atom tubuh kita sendiri.

Kalau boleh saya mendefinisikan versi saya sendiri, mungkin maksudnya adalah saat kita mau mencari suatu kebenaran jangan hanya melihat dari satu sisi saja, atau satu aspek saja, atau satu paham saja, atau satu ideologi saja, atau satu agama saja, atau satu ide saja, tetapi pelajarilah, analisalah, lihatlah dari dua sisi yang berbeda, analisalah. Dengan demikian kita akan menemukan kebenaran. Jika kita hanya melihat dari sisi kita sendiri, atau melihat yang kita yakini saja, maka kebenaran tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Adapula dialog dimana Reuben bercerita pada Dimas bahwa orangtua Reuben sudah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang gay, lalu Reuben berkata, “Kalau sampai saya dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka (orangtua Reuben) bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya, kalau saya dianggap produk gagal, berarti mereka juga”.

Wkwkwkwkwkwkwkkwk Dialog ini lucu sekaligus menyindir. Seakan berkata bahwa tidak ada manusia yang merupakan produk gagal, jika seorang manusia adalah heteroseksual, bukan berarti juga dia sempurna. Artinya ya semua manusia diciptakan dengan pribadi yang unik & layak, jika ia terlahir cacat tubuh misalnya, bukan berarti dia produk gagal, dia tetap sempurna. Karena Tuhan pasti adil, ada hal yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain dan begitupun sebaliknya.

Oh iya, tokoh Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh adalah tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Dimas & Reuben, mereka yang menulis cerita atau novel tentang itu. Diceritakan seorang Kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri, namun putri tersebut bukanlah seorang wanita single, namun milik seorang pangeran. Kesatria & Putri sangat sedih & tersiksa karena kenyataannya mereka saling mencintai. Lalu ada tokoh Bintang Jatuh yang diciptakan sebagai seseorang yang harus sepenuhnya mewakili area abu-abu. Teori relativitas berjalan. Manusia yang penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, juga bukan protagonis. Penuh kebajikan, tapi juga penuh kepahitan. Dialah meteor langit setiap orang. Penuh kesan, tapi dengan cepat melesat hilang. Tidak terbendung institusi apa-apa, organisasi manapun, bukan properti siapa-siapa.

Lalu ada dialog di mana Reuben menyebut tentang filosofinya Abraham Maslow yang seorang penemu konsep psikologi transpersonal, yang didasari pada kerangka kerja idealis monistik, yaitu paradigma yang mengatakan bahwa otak dan pikiran berada di realitas yang sama. Idenya adalah sebagai berikut, “Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun dimungkinkan untuk mengejar pencarian lebih tinggi. Aktualisasi diri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri di level yang paling dalam”.

Walaupun cuma sekutipan saja, tetapi bermakna cukup dalam yah. Intinya kita sebagai manusia harus mengejar pencarian yang lebih tinggi, yaitu aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini bentuknya atau kegiatannya bermacam-macam sesuai panggilan nurani setiap manusia. Setiap orang berbeda-beda dalam menangkap konsep aktualisasi diri ini, dengan demikian aktualisasi diri tidak bisa digeneralisasikan sebagai suatu pikiran/tindakan/kegiatan tertentu.

Supernova bukan hanya nama serial buku ini, tetapi juga nama tokoh yang akan selalu ada diseluruh seri buku Supernova. Namun sosok supernova sebenarnya adalah misteri, kalau dibaca dari buku KPBJ, kita belum bisa menemukan siapa supernova sebenarnya.

Dari keseluruhan cerita KPBJ, menurut saya Dee menitikberatkan keseluruhan ceritanya pada teori “Order and Chaos“. Order and Chaos adalah teori tentang sistem deterministik, tetapi pergerakannya sangat sensitif terhadap kondisi-kondisi inisial sehingga tidak memungkinkan adanya prediksi jangka panjang.

Sesempurna apapun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengubrak-abrik. Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya order and chaos hadir bersamaan sebagai perekat. Di mana terdapat zona kuantum, rimba infinit di mana segalanya relatif, kumpulan potensi, dan probabilitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus-putusan. Paradigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan, bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat bagi yang mengagung-agungkan objektivitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif, dan seringkali harus subjektif.

Well readers, uda pusing belum? Sepertinya kalian sama pusingnya seperti saya yah. Pokoknya buku ini recommended banget untuk kamu baca. Pusing sedikit gapapa lah yah untuk menambah pengetahuan kamu.

Untuk cerita detail dan teori-teori serta konsep-konsep keilmuan apa saja yang dibahas di buku ini, kalian bisa langsung beli bukunya dan baca sendiri yah. Semangat!!!

With love,

Naomi Indah Sari

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Simulacra

Bandung, 17 Juli 2017

10:00am

Hi readers, setelah sebelumnya saya share tentang Memetics, sekarang saya mau share tentang Simulacra. Istilah dan teori Simulacra ini dilontarkan oleh seorang tokoh besar cultural-studies bernama Jean Baudrillard.

Image result for simulacra adalah

Dalam hal simulasi, manusia mendiami suatu realitas, di mana perbedaan antara yang real (nyata) dan fantasi, antara asli dan palsu sangatlah tipis. Dunia-dunia tersebut dapat diibaratkan seperti disneyland, universal studio, china town, las vegas atau beverly hills. Lewat media informasi, seperti iklan, televisi, dan film dunia simulasi tampil sempurna. Dunia simulasi itulah yang kemudian dapat dikatakan tidak lagi peduli dengan realitas atau kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang tanda. Di samping itu, tidak dapat lagi dikenal mana yang asli dan mana yang palsu. Semua itu pada akhirnya menjadi bagian realitas yang di jalani dan dihidupi masyarakat saat ini. Kesatuan inilah yang kemudian oleh Baudrilard disebut sebagai simulacra, yaitu sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya antara nilai, fakta, tanda, citra, dan kode.

Dengan demikian simulacra adalah suatu kebohongan berupa tanda, atau image yang dibangun seseorang yang memiliki sifat pada kontennya yang jauh dari realitas asli orang tersebut.

Contoh: misal saja ada seseorang yang dalam realitas hidupnya berdosa dan kurang bermoral, namun melalui akun pribadinya di sosial media, dia bisa saja memposting hal-hal yang religious mulai dari gambar hingga ayat-ayat suci. Dalam hal ini orang tersebut sedang melakukan suatu simulasi yang berbeda dengan realitas dirinya yang asli. Inilah yang disebut dengan simulacra.

Dalam buku yang berjudul “Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard” yang ditulis oleh M. Imam Aziz, Aziz mengatakan bahwa Iklan telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi semua masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonis kepuasan murni, seperti suatu keadaan alam baru di jantung yang kita miliki dalam hiperperadaban. Kebebasan yang kita miliki dalam hiperperadaban sepenuhnya dibatasi oleh sistem komoditas: “Bebas untuk menjadi diri sendiri” ternyata berarti bebas untuk mengarahkan hasrat pribadi pada barang-barang yang diproduksi. “Bebas untuk menikmati hidup” berarti bebas untuk mundur dan bersikap irasional, dan kemudian menerima suatu organisasi sosial produksi tertentu.

Kalimat “bebas menjadi diri sendiri” yang disebut diatas bukan berarti bebas menjadi diri apa adanya (real), tetapi setiap individu bebas menciptakan diri yang seperti apa yang dia inginkan untuk dilihat orang lain di sosial media. Jika setiap orang melakukan simulasi ini, lantas siapa yang jujur menunjukkan diri aslinya. Bahkan saat seseorang membangun image yang sederhana, ramah, dan baik hatipun mungkin saja itu juga merupakan simulasi.

Orang-orang modern dikelompokkan menurut komoditas yang mereka miliki. Konsumsi merupakan suatu tindakan sistematik dari manipulasi tanda-tanda, yang menandai status sosial melalui pembedaan. Konsumsi menentukan status sosial seseorang melalui objek-objek, setiap pribadi dan kelompok mencari tempatnya dalam suatu aturan, sejenak kemudian mencoba untuk mendesak-desak aturan ini menurut lintasan pribadi.

Dalam Simulacra, ada istilah yang disebut dengan Hyperreal, di mana hyperreal ini merepresentasi fase-fase yang lebih berkembang dalam pengertian bahwa pertentangan antara yang nyata dan yang imajiner ini dihapuskan. Yang tak nyata bukan lagi mimpi atau fantasi, tentang, yang melebihi atau yang di dalam, melainkan kemiripan halusinasi dari yang nyata dengan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, ada 3 istilah yang saling terkait; yaitu simulasi, simulacra, dan hiperrealitas. Simulasi berarti tiruan. Maksudnya adalah realitas tiruan yang masih mengacu pada realitas yang sesungguhnya. Sedangkan kedua, Simulacra. Baudrillard mengartikannya dengan realitas tiruan yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Artinya realitas sesungguhnya sudah dibelokkan yang kemudian benar-benar ditutup dari acuannya. Akan tetapi, realitas ini belum sepenuhnya sempurna dikatakan sebagai sebuah realitas yang benar-benar real. Karena, hubungan timbal baik/ interaktif belum terjadi. Atau kita bisa menyebutnya sebagai semi-realitas.
Nah, yang ketiga adalah Hiperrealitas. Inilah yang disebut sebagai realitas yang benar-benar real, bahkan di atas yang real, yang nantinya akan menggantikan realitas yang real sebelumnya. Artinya, Hiperrealitas adalah sebuah dekonstruksi dari realitas real sebelumnya, karena realitas ini akan sangat benar-benar berbeda dari sebelumnya. Atau dalam bukunya Yasraf Amir Pilliang yang berjudul Dunia Yang Dilipat, Hiperrealitas (Hyper-reality) dijelaskan oleh Baudrillard sebagai, keadaan runtuhnya realitas, karena telah diambil alih oleh rekayasa virtual yang dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur. Sedangkan perbedaan antara fase simulacra dengan fase hiperrealitas, terletak pada cirinya yang interaktivis. Yakni, hal-hal yang tadinya hanya dapat dilakukan dalam realitas real, kini telah tergantikan dalam realitas virtual, seperti berinteraksi, transaksi ekonomi, rapat, belajar dsb. Bahkan, lebih efektif dan efisien cara-cara yang baru ini. sedangkan dalam fase simulasi maupun fase simulacra belum terjadi hal-hal seperti ini.

Image result for simulacra adalah

Dalam buku Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi, Nasrullah menulis bahwa Baudrillard mengungkapkan gagasan simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara terus menerus. Khalayak seolah-olah tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang ada di layar. Khalayak seolah-olah berada di antara realitas dan ilusi sebab tanda yang ada di media sepertinya telah terputus dari realitas.

Term simulakra digunakan Baudrillard untuk menggambarkan bagaimana realitas yang ada di media adalah ilusi, bukan cerminan dari realitas, sebuah penandaan yang tidak lagi mewakili tanda awal, tetapi sudah menjadi tanda baru. Baudrillard menyebutnya sebagai “a copy of a copy with no original“. Di media sosial interaksi yang terjadi adalah simulasi dan terkadang berbeda sama sekali. Misalnya, di media sosial identitas menjadi cair dan bisa berubah-ubah. Perangkat di media sosial memungkinkan siapapun untuk menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang berbeda sekali dengan realitasnya, seperti pertukaran identitas jenis kelamin, hubungan perkawinan, sampai pada foto profil.

Term ini terjadi melalui 4 tahap proses:

  1. Tanda (sign) merupakan presentasi realitas.
  2. Tanda mendistorsi realitas
  3. Realitas semakin kabur, bahkan hilang, malah tanda merupakan representasi dari representasi itu sendiri.
  4. Tanda bukan lagi berhubungan dengan realitas. Imaji telah menjadi pengganti dari realitas itu sendiri.

Contoh: saya memiliki pengalaman berkenalan dengan seorang pria yang sangat genius dalam bidang seni rupa, semua gambar hasil karyanya yang di post olehnya di sosial media sangatlah indah dan bagus, namun ada yang membuat saya curiga dan penasaran. Kebanyakan gambar-gambarnya mengandung unsur nudity, sex, wanita sexy, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Saat saya melihat semua gambar-gambar itu ada dua hipotesa yang ada di pikiran saya. Yang pertama, mungkin saja dia tidak pernah mengenal sex atau tidak pernah menyentuh tubuh wanita sehingga dia berimajinasi dan menuangkannya pada karya-karyanya. Yang kedua, mungkin saja dia orang yang senang berhubungan sex dan menyukai pornografi dan dia terang-terangan membagikan hasil karyanya tersebut pada sosial media. Singkat cerita hubungan kami semakin dekat dan saya jatuh cinta kepadanya. Hingga saya menemukan banyak hal-hal yang aneh yang jauh dari estimasi awal saya sebelumnya. Kesimpulan singkatnya, “ternyata dia adalah pelaku simulakra“. Dia melakukan simulasi dengan membangun image sebagai laki-laki jantan (yang menyukai sex) di sosial media, sementara di dunia real dia sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan dia sangat dingin. Awalnya saya curiga mungkin saja dia impoten atau tidak menyukai lawan jenis, sampai saya akhirnya berkesimpulan bahwa dia adalah seorang Asexual Aromantic (bisa dilihat di post blog saya sebelumnya). Selain image dari hasil karyanya tersebut, dia juga melakukan simulasi lain seperti memamerkan saya sebagai pasangannya dan seringkali comment kalimat-kalimat yang seakan romantis atau seakan dia peduli pada saya, sementara di dunia real dia bahkan tidak pernah berkomunikasi intens dengan saya. Dua bulan sejak kami kenal dan dekat saya terus menganalisa dia, dan akhirnya saya menemukan bahwa dia melakukan kebohongan citra/image yang dia bangun hanya untuk dilihat oleh teman-teman di sosial medianya. Ini sangat mengecewakan karena ternyata saya telah menjalin hubungan dengan seorang penipu citra. ^_^

Nah, jika simulasi yang dibuatnya di sosial media membuat orang yang melihatnya yakin dan percaya bahwa yang ditampilkan di sosial media adalah real, maka orang-orang tersebut dianggap telah terjebak dalam dunia simulacra; padahal konten-konten yang ditampilkan bersifat semu dan jauh dari realitas aslinya.

Inilah yang terjadi dalam cyberspace di mana proses simulasi itu terjadi dan perkembangan teknologi komunikasi serta kemunculan media baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas, menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual.

Menurut Baudrillard, realitas terkadang sudah tidak memiliki kesamaan dengan apa yang direpresentasikan. Teknologi dan media memiliki kekuatan tidak hanya untuk melakukan produksi, tetapi juga mereproduksi tanda (signs) dan objek (objects).

Untuk menjelaskan bagaimana konsep simulakra ini terjadi di media sosial, Tim Jordan mengatakan, ketika berinteraksi dengan pengguna lain melalui antarmuka (interface) di media sosial, pengguna harus melalui 2 kondisi berikut:

  1. Pengguna harus melakukan koneksi untuk berada di ruang siber. Koneksi ini merupakan prosedur standar yang harus dilakukan oleh semua pengguna ketika memanfaatkan media sosial.
  2. Ketika berada di media sosial, penguna kadang melibatkan keterbukaan dalam identitas diri sekaligus mengarahkan bagaimana individu tersebut mengidentifikasikan atau mengonstruk dirinya di dunia virtual.

Image result for simulacra adalah

Realitas Buatan

Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulacra, yaitu “daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa”. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya. Sulit memperkirakan hal-hal yang nyata dari hal-hal yang menyimulasikan yang nyata itu.

Baudrillard memberi contoh media massa. Media lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencerminkan realitas, bahkan menjadi realitas itu sendiri. Saksikan dengan seksama bagaimana media mendramatisasi peristiwa, jika suka atau tidak suka. Semua ada narasi simulasinya. Dia menyebutnya sebagai “cyberblitz“.

Realitas yang ditampilkan tampak benar dan objektif, tetapi sebuah kebenaran dan objektivitas yang dikonstruksi sesuai selera para aktor yang berkepentingan.

Sebenarnya pengertian simulakra tidak sesempit dan sesederhana itu, kita yang menganggap diri jujur, benar, dan apa adanya pun masih saja terjebak dalam dunia simulacra. Kejujuran yang kita post apa adanya sesuai pemikiran dan perasaan kita di sosial mediapun kerapkali dianggap pencitraan, pembentukan image, dan lain sebagainya. Ini dikarenakan masyarakat telah terbiasa melakukan simulasi, sehingga mereka menganggap kita melakukan simulasi yang sama. Sehingga semua yang buruk bisa menjadi baik saat disimulasi, dan semua yang baik menjadi buruk karena dipaksa untuk melakukan simulasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, simulakra dalam kaitannya dengan hiperrealitas terjadi karena gencatan yang terpaksa harus dilakukan oleh sebagian khalayak yang psikisnya telah terpapar oleh teknologi media. Misal dengan adanya fasilitas “follow“, “like“, “love“, dan lain sebagainya tersebut membuat khalayak berlomba-lomba membuat simulasi yang terbaik untuk mencitrakan dirinya atau untuk membuat image yang disukai masyarakat, di mana hal tersebut telah dibuat jauh dari karakter realnya. Seakan merupakan kebanggaan pribadi saat seseorang memiliki followers terbanyak atau mendapatkan likes terbanyak. Fasilitas ini tidak hanya mempengaruhi psikis seseorang, tetapi juga memengaruhi kualitas emosi orang tersebut. Tidak sedikit orang yang sebal, kesal, dan iri jika orang lain memliki lebih banyak followers dibandingkan dirinya. Perasaan seperti ini adalah perasaan simulakrum. Suatu emosi yang terjebak pada dunia imitasi. Mereka marah karena dunia imitasinya tidak lebih baik dari dunia imitasi orang lain.

Sampai disini dulu yah penjelasan saya tentang simulacra. Semoga bermanfaat… ^_^

 

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

Aziz, M. Imam. 2001. Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard. Yogyakarta: LKiS

Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalasutra.

https://lingkarstudipopularculture.wordpress.com/2010/05/08/simulasi-simulacra-dan-hiperrealitas/

http://www.republika.co.id/berita/kolom/teh-anget/16/09/23/odytgn319-paradoks-dunia-simulacra

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: Memetics (Eko Wijayanto)

Bandung, 4 Juli 2017

10:30pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat menarik yang saya pinjam dari teman saya yang berinisial DS. Buku ini digunakan oleh DS sebagai salah satu referensi untuk tesis S2 nya. Kami sering ngobrol dan diskusi tentang banyak hal, dan sering pula DS berdiskusi dengan saya tentang pengetahuan yang didapatnya selama pengerjaan tesisnya. Dengan penuh semangat DS berbagi ilmu dengan saya dan meminjamkan buku ini untuk saya baca, dan dengan semangat pula saya menyambut buku ini.

Buku Memetics ini merupakan hasil disertasi penulis, Eko Wijayanto saat beliau menempuh pendidikan S3 Filsafat di Universitas Indonesia. Konon menurut cerita DS, Eko Wijayanto adalah orang Indonesia pertama yang membahas tentang Memetics ini, sebelumnya referensi mengenai Memetics ini hanya didapat dari penulis-penulis luar.

Kalian semua pasti sudah mengetahui apa itu meme, namun memetics yang dibahas disini berbeda dengan meme yang kalian sudah ketahui. Walau begitu meme dan memetics tetap ada kaitannya. Meme yang sudah sangat dikenal sekarang ini, misal meme internet itu merupakan hasil/bentuk khusus dari memetics. Sebut saja meme adalah suatu objek, yang dapat kita lihat (ada gambar, ada tulisan, dan lain sebagainya); sedangkan memetics adalah teori dasar mengenai penyebaran atau terbentuknya suatu meme tersebut.

GENETIKA

Sebelum lebih jauh kita membaca tentang memetics, kita harus ketahui lebih dahulu tentang genetika. Genetika identik dengan suatu DNA dalam tubuh manusia. DNA (deoxyribonucleic acid) berperan aktif dalam menentukan aktivitas biokimia dan sifat-sifat khusus sel. Dengan demikian, sifat-sifat bawaan manusia-seperti penyakit tertentu, kepribadian, naluri, perilaku, dan lainnya-sudah terkodekan dalam DNA. Melalui DNA inilah gen diwariskan dari generasi ke generasi. Yang unik pada manusia adalah terdapatnya replikator lain selain gen yang juga diwariskan, yakni replikator yang disebut meme. Meme meliputi segala sesuatu yang kita pelajari melalui imitasi, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan. Meme mudah menyebar, menular, dan melompat dari satu pikiran ke pikiran lain. Meme menyebarkan diri tanpa melihat apakah ia akan berguna, netral, ataupun merugikan manusia.

Contoh meme yang akhirnya menjadi sebuah kepercayaan akan Tuhan. Dahulu kala manusia prasejarah mengenal ide-ide tentang sesuatu yang lebih tinggi dari kehidupan manusia dan melakukan pemujaan terhadapnya untuk mendapatkan kesejahteraan. Seiring perkembangan zaman, meme awal tersebut dianut oleh semakin banyak orang-dan kemungkinan juga mengalami distorsi-sampai akhirnya memiliki kekuatan untuk bertahan hingga sekarang.

DNA adalah protein dalam tubuh makhluk hidup yang membawa informasi genetik yang akan memengaruhi fenotipe dan genotipe kita. DNA diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, setiap generasi tidak mungkin mewarisi DNA yang sama. Pasti terjadi sebuah eror yang disebut mutasi. Mutasi inilah yang menyebabkan perbedaan antara generasi satu dengan generasi lain.

Dengan mengamati fenotipe, kita bisa melihat bagaimana gen membentuk karakteristik individu. Fenotipe adalah karakteristik organisme yang dapat diamati secara langsung seperti warna iris, panjang ekor, warna kulit, dan sebagainya. Variasi makhluk hidup ini terjadi karena pembentukan genetik (genetic make up). Namun, ia tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik, lantaran fenotipe merupakan hasil dari interaksi antara gen dengan lingkungan. Misalnya, orang-orang yang tinggal di sekitar ekuator umumnya memiliki kulit yang lebih gelap daripada mereka yang tinggal di daerah subtropis, apalagi kutub. Hal ini merupakan sebentuk adaptasi untuk melindungi tubuh dari cahaya matahari khatulistiwa yang lebih terik ketimbang di daerah kutub.

Menurut Dawkins, meme sangat mudah menular karena kita mempunyai kecenderungan meniru orang lain, meniru pemikiran dan ucapan orang merupakan langkah pertama dalam belajar. Kita juga merasa nyaman untuk meniru ide-ide dan gaya hidup orang-orang sukses, entah dalam bentuk mode pakaian ataupun cara berbisnis, misalnya.

MEMETIKA

Memetika merupakan derivasi dari teori evolusi Darwin. Jika genetika adalah ilmu yang mempelajari gen, maka memetika adalah ilmu yang mempelajari meme. Meme memiliki daur hidup dan tersebar layaknya virus yang berpindah dan bisa dipindahkan dari pikiran seseorang ke pikiran orang lain.

Penelitian dalam buku ini menggunakan hermeneutika evolusi (evolutionary hermeneutics) sebagai metodenya. Sebagai perkakas teoretis untuk membedah kebudayaan, menurut Nick Szabo, hermeneutika evolusi merupakan metode dalam kajian budaya yang merupakan sintesis antara hermeneutika, di mana Heidegger adalah pionirnya dengan kajian meme sebagai unit informasi budaya; di mana Richard Dawkins adalah pionirnya.

Memetika adalah ilmu pengetahuan yang menyingkap meme sebagai bahan dasar pembentuk mental seseorang. Berbeda dengan makhluk hidup lain, manusia memiliki kemampuan untuk mereplikasi mentalnya ke dalam berbagai bentuk artefak budaya-seni, sastra, agama, dan sebagainya. Hal ini layaknya gen yang bereplikasi membentuk gugusan sel, kemudian tubuh yang mampu bereproduksi.

William D. Hamilton, seorang ahli biologi, mengungkapkan teori seleksi kekerabatan (kin selection). Teori Hamilton ini merupakan pengembangan teori Darwin. Seleksi alam tidak peduli apakah suatu organisme bahagia atau sengsara dalam menjalani prosesnya, karena yang penting, informasi yang terdapat di dalam gen organisme tersebut dapat terus ada secara berkelanjutan. Pada setiap makhluk hidup juga terdapat gen altruisme. Besarnya altruisme pada amasing-masing individu berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang memengaruhinya, salah satunya derajat kedekatan.

ALTRUISME

Altruisme didefinisikan sebagai sikap bersedia berkorban dan berbuat kebaikan demi kepentingan orang lain, baik dengan mengorbankan suatu usaha, waktu, pengeluaran, atau apa pun. Padahal, manusia secara instingtif dan rasional selalu mengejar kepentingan, kesenangan, dan kebahagiannya sendiri.

Dalam buku The Expression of the Emotions in Man and Animals (1872) karya Charles Darwin terdapat sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa seseorang lebih merasakan simpati kepada penderitaan orang lain daripada penderitaannya sendiri. Hal ini membawa kita pada teori Darwin tentang moral manusia. Dalam The Descent of Man, Darwin menulis bahwa seseorang yang terbiasa berbuat baik kepada orang lain akan mendapatkan balasan yang setimpal. Apabila ia terus-menerus mempertahankan perbuatan baik tersebut, maka rasa simpati pun ikut tertanam di jiwanya. Rasa simpati ini, menurut Darwin, nantinya dapat diwariskan melalui gen.

Mengacu pada tulisan Darwin tersebut, George William menambahkan beberapa hal tentang hubungan timbal balik, bahwa apabila seseorang memaksimalkan hubungan pertemanan dan meminimalkan keegoisannya, maka orang tersebut akan mendapatkan keuntungan evolusioner dan bertahan dalam seleksi alam. Menurutnya hal tersebut dapat mengambangkan optimisme dalam hubungan antarindividu.

Darwinisme, yang dinamai oleh T. H. Huxley dan dikenal juga sebagai darwinisme ortodoks, setia pada pandangan awal Darwin bahwa mekanisme seleksi alam terjadi  di level individu dan berlangsung sangat panjang sebagai akibat dari mutasi di level genetik. Sementara sosiobiologi menolak pandangan tersebut dengan argumen bahwa mekanisme seleksi alam berlangsung di level sosial atau kelompok. Sosiobiologi berdiri di atas dua tesis mendasar:

  1. Beberapa sifat tingkah laku itu diwarisi;

  2. Sifat-sifat tingkah laku yang terwarisi itu diasah oleh mekanisme seleksi alam.

MEME

Menurut Richard Dawkins, meme adalah unit kebudayaan yang dapat dipindahkan, dikomunikasikan, digandakan, dan diwariskan. Contohnya lagu, puisi, teknik matematika, mode pakaian, dan berbagai pemanfaatan teknologi. Meme memperbanyak dirinya dengan melompat dari otak ke otak melalui imitasi.

Meme yang terdapat pada pikiran seseorang secara harafiah menjadi parasit dalam otak orang tersebut. Meme mengubah manusia tersebut menjadi perangkat untuk memperbanyak diri dengan cara yang sama dengan virus yang menjadi parasit pada mekanisme genetik sel induknya.

Suatu meme dapat tetap populer karena beberapa faktor:

Pertama, sifatnya yang tak dapat dibantah. Suatu meme doa, misalnya, menjadi berlipat ganda karena terus-menerus dipanjatkan dan tampaknya dikabulkan. Doa tersebut memiliki peluang untuk dipercayai dan sedikit peluang untuk ditolak.

Kedua, murah dalam hal waktu, uang, dan usaha. Ketiga, terasa menyenangkan dan menenteramkan, tak peduli apakah doa kita berhasil atau tidak, berdoa kerap kali tetap melegakan.

Kunci pembahasan Dawkins tentang meme adalah sifatnya yang selfish (egois) dan ruthless (kejam). Meme akan berkompetisi dengan meme rivalnya untuk memperebutkan perhatian otak manusia, mengingat otak manusia dan tubuh yang dikontrolnya tidak dapat menangani lebih dari satu atau beberapa problem pada saat yang bersamaan.

Dalam menjalani replikasi diri, meme mudah berkembang dan mengalami perubahan bentuk. Akan tetapi, sebagian memeplex merupakan konsepsi kuat yang dipegang teguh sehingga sulit untuk diubah. Dawkins menyebutnya sebagai virus of mind, virus pikiran yang tertanam dalam benak dan pemikiran seseorang sehingga sulit diubah dari bentuk awalnya. Virus pikiran ini sangat efektif ditanamkan terutama pada masa kanak-kanak-jika diterapkan pada orang dewasa konsep ini kerap mengalami hambatan dalam replikasinya.

Dalam pemikiran Dawkins, meme digunakan untuk menggambarkan bagaimana prinsip darwinian menjelaskan penyebaran ide dan fenomena budaya. Baik gen maupun meme sama-sama merupakan replikator. Hanya saja, gen diturunkan melalui reproduksi biologis, sementara meme diturunkan melalui proses pembelajaran budaya atau imitasi (mimesis). Sebagaimana gen yang merupakan unit transmisi biologis, sebagai unit transmisi kultural meme juga mengalami mutasi, kombinasi, dan seleksi oleh lingkungannya. Meme juga merupakan salah satu faktor yang berdampak besar terhadap perkembangan seorang individu dalam masyarakat. Di dalam otak manusia, meme tidak hanya tersimpan sebagai informasi untuk diingat, melainkan juga menjadi alat dalam berpikir. Meme juga dapat meniru atau memindahkan apa yang ada dalam satu kepala ke kepala lain melalui suatu rangkaian sosialisasi. Meme juga bukan sekadar faktor yang membantu otak mengingat, melainkan juga membantu menanamkan suatu gagasan dalam benak individu lain melalui persuasi sehingga apa yang ada di dalam pikiran kita dapat dimengerti oleh individu tersebut.

MEME dan MEMEPLEXES

Banyak orang menganggap jiwa sebagai diri yang sesungguhnya, yang akan tetap hidup sekalipun seseorang sudah meninggal. Di sinilah muncul pandangan dualisme yang menganggap bahwa diri terdiri atas mesin yang berupa tubuh dan jiwa yang menggerakkannya. Sebaliknya, ada pula ekstrem yang berseberangan dengan pendapat itu, yang menganggap bahwa diri kita adalah keseluruhan otak ataupun keseluruhan raga.

Ketika suatu meme sudah tersimpan di dalam diri kita sebagai memori, maka ia akan memengaruhi segala tindakan yang kita lakukan. Kesadaran bahkan agak diabaikan ketika memori yang terangkai dari meme Tuhan dan meme-meme lain yang menyokongnya. Ketika orang sudah memiliki keyakinan terhadap Tuhan lantaran meme tentangnya sudah melekat benar di dalam diri orang tersebut, maka ia akan bersedia mengorbankan apa pun demi Tuhannya. Oleh karena itu, tentunya tidak gampang untuk mengontrol diri agar dapat menjadi sosok yang memiliki kesadaran penuh terhadap diri sendiri. Memori dalam hal ini merupakan fakta fisikalitas otak yang sangat terkait dengan temuan Libet mengenai readiness potential. Memori nampaknya bukan hanya mendahului tindakan kita, tapi bahkan mendahului keputusan kita untuk melakukan suatu tindakan. Gagasan ini tentu saja mengusik keyakinan umum tentang (otonomi) diri.

Terkait entitas yang kita namakan diri, kita dapati adanya dua konsep yang kerap digunakan untuk menjelaskannya:

Pertama, konsep real self yang menganggap diri sebagai entitas yang mampu bertahan sepanjang hidup dan terpisah dari otak maupun dunia luar, memiliki memori dan kepercayaan, melakukan imitasi tindakan, mengalami berbagai pengalaman dalam hidup, dan membuat keputusan.

Di sisi lain ada konsep kedua, yaitu illusory self, yang menganggap diri sebagai sekumpulan pikiran, sensasi, dan pengalaman yang disatukan bersama oleh sejarah. Menurut konsep ini ilusi tersebut berasal dari pemikiran otak ataupun sebuah fantasi.

Dalam memetika, diri merupakan memeplex besar yang terdiri atas berbagai pemikiran dan pengalaman yang mendukung tindakan sehari-hari. Memeplex merupakan sekumpulan meme yang berhimpun bersama demi keuntungan bersama dan membentuk suatu kesatuan yang dapat melakukan seleksi untuk menerima ataupun menolak meme baru yang ingin masuk. Dengan kata lain, memeplex menjadi filter bagi kita dalam berinteraksi dengan dunia luar. Agama, ideologi, maupun pendirian merupakan produk dari memeplex yang bekerja dengan sangat sistematis di dalam diri manusia. Pada titik ini kita melihat bahwa meme-meme dapat memperoleh keuntungan dengan membentuk satu asosiasi yang kemudian menjadi konsep diri seseorang.

Meme yang berhasil masuk ke dalam diri dan menjadi ide-ku atau opini-ku adalah para pemenang dalam kompetisi antar meme. Kepemilikan manusia atas sesuatu mempunyai banyak fungsi, termasuk menentukan status personal. Dalam hal ini, kepemilikan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang tanpanya kita akan merasakan kehilangan. Dengan kata lain, kepemilikan inilah yang memberi kita perasaan akan diri. Bentuk-bentuk kepemilikan ini dapat hidup dalam diri kita berkat kontribusi meme yang menjangkiti diri kita. Akan tetapi, hal ini pun menimbulkan konsekuensi: semakin kita terikat pada apa yang kita miliki; kepercayaan, opini, pilihan personal, maka kita sendiri akan kian menjadi pelindung utama bagi meme yang terkait kepemilikan itu. Apalagi semakin kompleks masyarakat yang kita tinggali, semakin banyak pula meme yang berlomba-lomba masuk ke dalam otak kita. Dengan demikian, meme kita mungkin malah akan menjadi senjata makan tuan jika kita salah memanfaatkannya.

Singkat kata, suatu selfplex, diri yang dikonstruksi oleh meme-meme; disebut sukses bukan karena ia benar, baik, atau indah, bukan pula karena ia membuat kita bahagia dan mendukung kelanjutan gen kita. Melainkan, selfplex tersebut sukses tatkala meme yang masuk ke dalam diri mendorong dan berhasil membuat kita bekerja demi kepentingan replikasi mereka. Dengan kata lain, hidup kita ini merupakan bentukan meme, di mana kita terjebak dalam tirani meme.

Meme memang tersimpan dalam otak. Setiap input yang masuk ke otak adalah sesuatu yang didasarkan pada pengalaman. Bila tidak begitu penting dan berharga, maka suatu memori akan menghilang dengan sendirinya. Namun bila inputnya besar atau memori itu penting, ia akan terus berada di otak dan mudah direkonstruksi serta diingat. Begitu pula dengan input yang berupa meme. Suatu meme berada di otak dan mudah bereplikasi jika mudah diingat.

Menurut Lamarck, upaya setiap individu untuk mencapai perbaikan dirinya merupakan sifat yang diturunkan (herediter). Kini istilah Lamarckian mengacu pada karakteristik individu yang diperoleh dalam hidupnya yang dapat diturunkan. Bila dalam hidup individu memperoleh keahlian baru, maka keahlian itu bisa diturunkan. Pandangan ini tidak terlalu cepat karena mengasumsikan keahlian akan berpengaruh terhadap gen seseorang. Hal ini terkait erat dengan fenotipe dan genotipe dalam evolusi biologis. Genotipe merupakan penyusun genetik seseorang, sedangkan fenotipe adalah karakter fisik yang nampak, seperti warna rambut atau warna kulit. Fenotipe jelas sangat bergantung  dan ditentukan oleh genotipe; namun tidak sebaliknya. Dengan demikian, jika seseorang memperoleh keahlian baru (fenotipe), maka keahlian tersebut tidak akan berpengaruh pada genotipnya.

Ketika kita meniru tingkah laku seseorang, ada sesuatu yang berpindah yang kemudian bisa terus-menerus berpindah dari satu orang ke orang lain. “Sesuatu” inilah yang oleh Dawkins disebut meme. Meme adalah segala sesuatu yang bertransmisi dari pikiran satu orang ke orang lain, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan.

FREE WILL

Kehendak bebas sebenarnya baru terjadi ketika seseorang secara sadar dan sepenuhnya bebas memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, seseorang itu harus benar-benar menjadi agen yang memiliki kewenangan untuk melakukannya tanpa campur tangan faktor lain. Dalam pandangan filsuf Daniel Dennett, kesadaran manusia hanyalah serangkaian meme yang kompleks dan besar, yang kemudian membentuk selfplex. Semua alat berpikir yang kita gunakan selama ini sebenarnya telah disediakan secara tidak langsung oleh meme.

Well readers, jika penjelasan meme diatas membingungkan, saya akan mencoba menjelaskannya dengan sederhana. Seperti yang sudah dibahas di atas bahwa meme adalah virus of mind, atau virus pikiran yang disebarkan dari pikiran (otak) satu orang ke pikiran (otak) orang yang lain. Dalam arti, meme adalah semacam ideologi, nilai-nilai, pemikiran, konsep-konsep, teori-teori, dan lain sebagainya yang digunakan oleh seseorang dan disebarkan atau dibagikan kepada orang lain melalui pikiran yang dikomunikasikan.

Seperti yang sudah kita baca di atas, meme bersaing dengan meme yang lain. Meme yang kuat (meme yang diberikan secara berulang-ulang) akan menang dan mengalahkan meme yang lain yang lebih lemah.

DS berpendapat berdasarkan buku Memetics ini bahwa meme yang paling kuat adalah meme agama, di mana meme agama sudah ditanamkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sejak masa kanak-kanak. Anak-anak ini akhirnya memiliki konsep pemikiran yang telah dibentuk oleh meme agama tersebut. Semakin sering, semakin banyak, dan semakin rutin anak tersebut menerima meme yang sama setiap saat, meme ini akan semakin kuat mempengaruhi otak/pikiran anak hingga dewasa. Eko Wijayanto sendiri menulis dalam bukunya bahwa saking kuatnya meme agama, banyak pula orang-orang yang bertindak sedemikian rupa untuk membela agamanya, dan lain sebagainya.

Selain itu, DS juga memberikan contoh lain. Misal meme bahasa, saat kita sudah terbiasa berbahasa Indonesia misalnya, lalu kita pindah dan tinggal ke daerah Jawa Barat yang berbahasa Sunda (misal 1 tahun); meme bahasa Indonesia dapat melemah, dan meme bahasa Sunda akan meningkat.

Meme dapat berupa banyak hal, meme hadir pada pikiran manusia tanpa mengetahui apakah dia berguna atau tidak, apakah akan bermanfaat atau tidak, apakah akan merugikan atau menguntungkan, dan sebagainya. Meme adalah salah satu konstruksi yang direplikasikan pada pikiran manusia. Kita semua, termasuk saya adalah bentuk dari meme. Semua yang kita lihat, semua yang kita dengar, semua yang kita pelajari merupakan meme-meme yang tersebar, masuk, dan memengaruhi pikiran kita.

Walau demikian, saya mau sedikit menambahkan walaupun kita seringkali dibenturkan atau dipertemukan oleh meme-meme yang berusaha masuk ke otak/pikiran kita, namun menurut saya kita tetap memiliki gatekeeper dalam pikiran kita yaitu berupa logika di mana kita dapat memilih untuk mengikuti meme yang sudah ditransfer atau tidak. Apapun pilihan kita tersebut tetap saja merupakan pengaruh dari meme sebelumnya yang sudah ada dalam pikiran kita dan standing still (kuat) dan tidak mudah dikalahkan dengan meme lain yang baru saja masuk ke pikiran kita.

Penjelasan saya diatas merupakan penjelasan mengenai teori meme. Nah sekarang apa yang kalian tahu tentang meme? Apakah meme yang seperti di bawah ini?

Untitled.jpg

Gambar di atas tersebut adalah meme, mari kita sebut gambar di atas sebagai meme internet. Meme internet tersebut berasal dan berdasarkan teori memetics. Meme merupakan suatu replikator. Dawkins mengidentifikasi 3 kriteria bagi replikator yang sukses, yaitu harus bisa dikopi secara akurat (fecundity), bisa dikopi dalam jumlah banyak (fidelity), dan bisa bertahan untuk waktu yang lama (longetivity). Nah, kenapa gambar-gambar di atas disebut meme, sederhananya dikarenakan telah memenuhi 3 aspek tersebut, di mana meme dapat dikopi, diperbanyak, disebarkan, dan bertahan dalam kurun waktu tertentu (lama). Gambar meme yang berupa candaan, sindiran, mengandung unsur politik, dan lain sebagainya tersebut dibuat sedemikian menarik untuk memengaruhi orang yang melihat gambar dan membaca tulisan pada gambar tersebut. Sedikit banyak kita tetap diantar pada teori meme, di mana gambar meme tersebut dapat saja memengaruhi pikiran kita dan dapat mengubah pola pikir kita.

Well readers, sampai disini dulu yah pembahasan kita mengenai memetics. Semoga bermanfaat. ^_^

With love,

Naomi Indah Sari

Source:

Wijayanto, Eko. 2013. Memetics: Perspektif Evolusionis Membaca Kebudayaan. Depok: Kepik.

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: The Magic Library (Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken), Jostein Gaarder

Bandung, 28 Juni 2017

04:00pm

Hi readers,

Saya baru saja selesai membaca novelnya Jostein Gaarder yang berjudul “The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”, seperti biasa saya akan share hal-hal menarik dari buku ini. Dalam novel ini diceritakan sepasang sepupu bernama Nils dan Berit yang tinggal berjauhan dan saling berkomunikasi melalui buku-surat (mereka surat menyurat pada sebuah buku). Di awal novel kita disajikan bacaan surat yang seakan kita sedang membaca surat-menyurat mereka.

Dalam buku-surat tersebut, Nils dan Berit saling beradu pendapat, bertengkar, dan melakukan investigasi bersama mengenai seorang penulis misterius bernama Bibbi Bokken. Di awal cerita mereka berdebat mengenai definisi bibliografer dan incunabula, hingga akhirnya terjadi kesepakatan bahwa bibliografer berasal dari kata Yunani biblion yang berarti “buku”, bibliografer berarti seseorang yang melakukan kegiatan bibliografi, atau hal-hal mengenai buku-buku. Berbeda dengan bibliophile yang berarti pencinta buku, yaitu seseorang yang mengoleksi buku-buku langka dan bermutu. Sementara incunabula adalah kata Latin yang berarti “timbangan”, namun untuk masa modern seperti sekarang incunabula merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan pada buku-buku yang diterbitkan sebelum tahun 1500. Incunabula adalah buku yang pertama kali dicetak setelah seni percetakan buku ditemukan.

Nils dan Berit juga menyebut tentang Anne Frank dalam buku-suratnya. Berit menceritakan pada Nils tentang Anne Frank. Anne Frank adalah gadis yang berasal dari keluarga Yahudi-Jerman. Pada tahun 1933, ia melarikan diri dari Jerman dan menetap di Amsterdam. Saat Jerman kemudian menduduki Belanda, orang Yahudi di sana dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi (Jerman ingin membasmi semua orang Yahudi Eropa. Korbannya mencapai 6 juta orang). Untuk menyelamatkan jiwa mereka, keluarga Anne Frank bersembunyi di dalam ruang kecil di belakang toko yang dulunya adalah tempat ayahnya bekerja. Mereka sempat tak tertangkap selama 2 tahun, dan Anne Frank mengisi waktunya dengan menulis buku harian. Ia bercita-cita menjadi penulis dan berharap buku hariannya dapat diterbitkan setelah perang usai. Namun datanglah tragedi pada Agustus 1944, Nazi menyerbu masuk ke tempat persembunyiannya dan seluruh anggota keluarga Anne pun dikirim ke salah satu kamp konsentrasi yang mengerikan di Jerman. Dua bulan sebelum perang berakhir, Anne meninggal dunia.

Untungnya buku harian Anne ditemukan oleh seseorang yang baik hati, ia menjaga buku itu baik-baik. Setelah perang usai, buku harian Anne diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Dengan begitu, Anne pun berhasil menjadi seorang penulis. Ia telah menulis salah satu karya paling terkemuka di dunia. Tetapi, ia sendiri tak bisa menyaksikan ketenarannya ini. Buku harian Anne ditulis antara 14 Juni 1942 sampai dengan 1 Agustus 1944 (yaitu 3 hari sebelum Nazi menyerbu persembunyian mereka). Pada 20 Juni 1942, Anne menulis:

“Untuk seseorang yang seperti aku, ada perasaan aneh ketika menulis buku harian. Bukan hanya karena aku belum pernah menulis, melainkan karena aku pun berpikir bahwa baik aku maupun orang lain tak akan tertarik pada curahan hati seorang remaja berusia 13 tahun. Tapi, sebenarnya bukan itu permasalahannya. Aku ingin menulis dan berbincang dengan diriku sendiri tentang apa saja yang muncul dari dalam jiwaku. Kertas kan lebih sabar daripada manusia”.

“Untuk itulah, buku harian ini ada. Supaya lebih kuat lagi kesan kehadiran seorang teman yang kurindukan, aku tidak hanya menuliskan fakta dalam buku harianku, seperti orang lain. Namun buku harian ini sendiri yang akan menjadi temanku dan ia bernama Kitty.”

Anne Frank yang pada saat itu dalam keadaan tertekan, bingung, dan kesepian menggantungkan diri sosialnya dengan buku hariannya, yang menurutnya kertas lebih sabar daripada manusia. Anne mengangap kertas adalah sahabatnya yang setia mendengar dan menyaksikannya menulis dan bercerita.

Bagi yang belum tahu Anne Frank, di bawah ini adalah foto Anne Frank:

Image result for anne frank
Anne Frank

Image result for buku harian anne frank
Buku Harian Anne Frank yang diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia

Image result for buku harian anne frank
Buku Harian Anne Frank

Related image
Secarik kertas pada buku harian Anne Frank yang ditulis oleh Anne sendiri

Itulah kira-kira sedikit cerita tentang Anne Frank. Bagi yang penasaran mengenai isi dari buku harian Anne Frank, bisa cari buku-bukunya di toko-toko buku yah. Sudah banyak penerbit di seluruh dunia yang menerbitkan buku tentang Anne Frank.

Nils dan Berit akhirnya berhasil memecahkan misteri mengenai Bibbi Bokken dan dapat langsung bertemu dengannya di perpustakaan ajaibnya. Pada list buku perpustakaan ajaib Bibbi Bokken tertulis 990 jenis buku yang terdapat pada perpustakaan tersebut. Ada pula buku mengenai Rhaeto-Romanik, yaitu kelompok bahasa Romawi dan berikut dialek-dialeknya yang masih digunakan di beberapa tempat di Pegunungan Alpen, Swiss, dan Italia.

Dalam buku-surat Nils dan Berit, mereka membahas sebuah cerita dongeng yang terkenal, yaitu dongeng tentang bulu yang berubah menjadi 5 ekor ayam. Pengarangnya berkebangsaan Denmark bernama Hans Christian Andersen.

Ceritanya adalah tentang seekor ayam yang mencabuti bulunya sendiri dan berkotek-kotek sambil berkata “Hilanglah ia. Semakin banyak kucabuti, semakin cantik aku jadinya”. Ayam lain melihat itu berbisik kepada ayam di sebelahnya bahwa ayam pertama yang mencabuti semua bulunya itu tengah mencari muka di hadapannya. Seekor burung hantu yang mendengar tentang itu menceritakannya kepada burung hantu lain, lalu cerita itu sampai juga kepada dua ekor merpati dan seekor ayam. Namun ceritanya sudah mengalami perubahan. Dan si ayam berkokok pada ketiga ayam lain yang semuanya sudah mencabuti bulu-bulu mereka dan menjadi kedinginan karena cinta yang tak berbalas kepada seekor ayam. Lalu cerita itu pun terus beredar hingga akhirnya sampai kembali pada si ayam pertama yang mencabuti bulunya, dan saat itu ceritanya sudah berubah menjadi seperti ini:

Dahulu kala hiduplah 5 ekor ayam yang semuanya mencabuti bulu-bulu mereka untuk membuktikan siapa di antara mereka yang paling menderita akibat cinta yang tak berbalas kepada seekor ayam. Kemudian, mereka saling mematuk hingga berdarah-darah, lalu mati karena merasa malu kepada keluarga mereka dan karena merasa sangat kehilangan harta mereka yang paling berharga.

Ayam pertama menjadi jengkel dan memasukkan cerita tersebut ke koran sebagai shock therapy sekaligus peringatan. Dan ketika cerita itu terpampang di koran, tentu saja semua menganggap cerita itu benar. Karena koran kan tak mungkin berbohong.

Saya sedikit bingung menerjemahkan maksud dari dongeng tersebut, namun bila boleh saya sederhanakan setiap informasi yang beredar from mouth to mouth ceritanya selalu saja berubah ada yang dikurangi dan dilebihkan, sehingga cerita yang didengar oleh orang yang terakhir menjadi jauh berbeda dari cerita dari orang pertama. Kalimat terakhir dongeng tersebut membuat saya tertawa, “karena koran kan tak mungkin berbohong.” Menurut saya kedua hal pada dongeng tersebut seakan sia-sia. Jika berita beredar dari mouth to mouth merupakan kebohongan, maka berita yang disampaikan melalui koran juga merupakan kebohongan walaupun informasi yang diambil langsung dari pihak pertama. Jadi kesimpulannya, nobody is telling you the truth. ^_^

Dalam buku-surat Bils dan Berit seringkali menyebutkan kota Fjaerland. Fjaerland adalah salah satu kota di Norwegia yang menjadi tempat diselenggarakan peresmian Museum Gletser Norwegia pada 31 Mei 1991 oleh Ratu Sonja.

Related image
Museum Gletser Norwegia

Sang arsitek, Sverre Fehn, mendirikan dan merancang museum unik ini sebagai prasarana untuk memfasilitasi pengumpulan informasi atau pengetahuan empiris seputar fenomena gletser dan cuaca yang selanjutnya dilakukan analisa dan disebarkan kepada masyarakat luas. Obyek-obyek yang terpajang di museum ini menjelaskan kepada pengunjung bagaimana proses pembentukan gletser dan mengapa keberadaannya saat ini menjadi langka seiring peningkatan pemanasan global.

Sverre menentukan dan mengatur sendiri komposisi dan material bangunan untuk ruang pamer, aula pertunjukan, toko buku, dan tempat makan. Pada 1997, Sverre dianugerahi penghargaan internasional “Pritzker” atas karya arstitekturnya, dan museum gletser tercatat sebagai salah satu hasil karyanya yang sangat luar biasa.

Buku-buku yang berada di perpustakaan ajaib Bibbi Bokken disusun dengan menggunakan sistem Dewey, yaitu berdasarkan Klasifikasi Desimal Dewey. Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC), juga disebut Sistem Desimal Dewey) adalah sebuah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey (1851-1931) pada tahun 1876. Klasifikasi Dewey muncul pada sisi buku-buku koleksi perpustakaan. Klasifikasi dilakukan berdasarkan subjek, kecuali untuk karya umum dan fiksi. Kodenya ditulis atau dicetak ke sebuah stiker yang dilekatkan ke sisi buku atau koleksi perpustakaan tersebut. Bentuk kodenya harus lebih dari tiga digit; setelah digit ketiga akan ada sebuah tanda titik sebelum diteruskan angka berikutnya.

Contoh kode:

  • 330.94 = ekonomi Eropa, di mana 330 adalah kode untuk Ekonomi dan 94 untuk Eropa.

Buku-buku diletakkan dengan mengurutkan berdasarkan nomor. Jika dua atau lebih buku memiliki nomor klasifikasi yang sama, sistem akan membagi kelas tersebut secara alfabet. Ada sepuluh kelas utama dalam klasifikasi Dewey. Sepuluh kelas tersebut dibagi lagi kepada 10 bagian; yang lalu bisa dibagi lagi kepada 10 bagian. Sepuluh kelas utama tersebut adalah:

  • 000 Komputer, Informasi dan Referensi Umum
  • 100 Filsafat dan Psikologi
  • 200 Agama
  • 300 Ilmu Sosial
  • 400 Bahasa
  • 500 Sains dan Matematika
  • 600 Teknologi
  • 700 Kesenian dan rekreasi
  • 800 Sastra
  • 900 Sejarah dan Geografi

Tidak hanya perpustakaan ajaib Bibbi Bokken saja yang menggunakan sistem Dewey pada penataan buku-bukunya, namun banyak juga perpustakaan di seluruh dunia yang menggunakan sistem Dewey tersebut.

Nils dan Berit mengingatkan saya kembali melalui buku ini bahwa dulu harga buku mahal dan tak terjangkau oleh sebagian besar orang. Di beberapa tempat di dunia, dicoba untuk menggoreskan huruf pada pelat kayu sehingga bisa berkali-kali cetak. Dengan cara inilah, berkembang seni penggandaan. Namun pencetakan buku adalah sebuah proses yang makan waktu dan mahal. Bisa dibayangkan pada zaman itu hanya orang-orang dari kalangan tertentu saja yang bisa membeli atau membaca buku, buku dianggap sebagai barang yang mewah dan berharga karena selain jumlahnya masih sedikit; pengetahuan di dalamnya pun sangat berharga.

Setelah itu dunia boleh berbahagia karena pada tahun 1450 muncul Gutenberg. Seni pencetakan buku merupakan revolusi terbesar kedua dalam budaya huruf pada saat itu. Gutenberg menggunakan huruf bongkar pasang (movable type) dari timah hitam. Pada awalnya, ia adalah seorang pandai besi. Tapi, sebagaimana ia mahir membuat perhiasan dari emas dan perak, ia pun dapat membuat cetakan huruf. Demikianlah, ia akhirnya mampu mencetak seluruh halaman buku. Huruf bongkar pasang tersebut dapat dipergunakan berulang-ulang. Ia menciptakan atom-atom dan molekul-molekul dari dunia perbukuan. Pada era inilah yang dinamakan era cetak (printed era) dimana percetakan atau penggandaan buku mulai maju pesat.

Image result for mesin cetak gutenberg

Bibbi Bokken menjelaskan pada Nils dan Berit bahwa pada tahun 1989, Parlemen Norwegia memutuskan membangun tempat penyimpanan di Mo i Rana. Dan sampai sekarang di sana sudah dibuat 2 buah gua besar di pegunungan. Di salah satu gua, dibangun sebuah bangunan berlantai 4. Di dalamnya terdapat apa yang dinamakan kompakt-magazine (Penyimpanan Lengkap), yang berisi segala macam buku, surat kabar, foto, film, dan kaset. Selain itu, di sana juga ada rekaman segala acara televisi dan radio dari stasiun Norwegia. Tempat ini disebut Divisi Rana yang berada di Perpustakaan Nasional Norwegia.

Image result for perpustakaan nasional norwegia
Tampak luar Perpustakaan Nasional Norwegia

Novel Jostein Garrder ini mengajarkan kita bahwa buku adalah teman terbaik. Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur, di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam.

Well readers, sampai disini yah pembahasan kita mengenai The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi bokken, jika kalian ingin tahu lebih lanjut mengenai petualangan Nils dan Berit bisa langsung beli bukunya yah.

Thank you for reading…

 

With Love,

Naomi Indah Sari

Source:

Gaarder, Jostein. 2016. The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Bandung: Mizan.

https://museumku.wordpress.com/2010/12/30/museum-gletser-norwegia/

https://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_Desimal_Dewey

 

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: The Orange Girl: Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan (Jostein Gaarder)

Bandung, 6 Juni 2017

08:15pm

Hi readers, apa kabar semua?

Kali ini saya mau review satu buku lagi dari Jostein Gaarder yang berjudul The Orange Girl atau Gadis Orange. Novel filsafat ini cukup menarik karena membahas teleskop ruang angkasa Hubble dan tentu saja tentang kisah sang ayah bersama si Gadis Jeruk. Sub Judul buku ini adalah “Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan”. Setelah saya baca buku ini sampai selesai, rasanya saya masih belum puas dan belum mudeng dengan ceritanya. Jadi saya baca ulang lagi buku ini. hehhehehe

Dalam buku ini diceritakan seorang anak bernama Georg Roed yang berasal dari Humleveien, Oslo; yang berusia 15 tahun tiba-tiba menemukan surat dari almarhum ayahnya yang sudah meninggal sejak 11 tahun sebelumnya (saat usia Georg 4 tahun). Menjelang ajalnya sang Ayah telah menulis surat untuk Georg di masa depan. Tidak ada satupun anggota keluarga yang tahu bahwa sang ayah menyimpan surat itu di kereta dorong Georg sekian lama. Sampai akhirnya Georg menemukannya saat usianya 15 tahun.

Dalam review ini saya tidak akan membahas banyak tentang si Gadis Jeruk, jika kalian penasaran silahkan langsung beli bukunya saja yah. Saya hanya akan sedikit menyinggung sedikit tentang si Gadis Jeruk.

Kisah Gadis Jeruk dimulai ketika ayah Georg berdiri diluar Teater Nasional di akhir musim gugur tahun 1970-an. Lalu ayah Georg melihat seorang gadis cantik berdiri di lorong sambil merangkul erat sebuah kantong kertas besar penuh dengan jeruk. Gadis itu mengenakan mantel kulit tua panjang berwarna orange. Nah… biarlah kisah Gadis Jeruk ini jadi misteri untuk kalian yang belum baca yah. Karena kalau saya ceritakan semua kok terkesan membocorkan rahasia buku ini. Etisnya beli dulu bukunya, bacalah, dan temukan yah. hehehehehhe

Saya akan bahas tulisan-tulisan ayah Georg tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble saja yah. Dalam buku ini, Jostein Gaarder seakan memuji-muji Teleskop Hubble, entah apakah ini bagian dari sponsor, politik, atau mungkin konspirasi tentang eksistensi alam semesta. Saya kurang tahu pasti, namun yang jelas kalau memang Teleskop Ruang Angkasa Hubble ini benar-benar dapat menangkap ribuan gambar di ruang angkasa, berarti saya harus yakin bahwa bentuk bumi itu bulat yah (bukan datar). Well, walau tidak bisa juga saya menyimpulkan dengan sangat sederhana semacam itu, tapi sekiranya novel ini seperti mengarahkan kita pada perspektif tersebut. ^_^

Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah diluncurkan  ke orbitnya seputar bumi dari pesawat ruang angkasa Discovery pada 25 April 1990 dari Cape Canaveral. Para ahli menemukan bahwa ada masalah optik yang serius dengan cermin utama teleskop itu, namun kerusakan ini telah diperbaiki oleh para astronaut dari pesawat ruang angkasa Endeavour pada Desember 1993.

Image result for hubble telescope
Hubble Telescope

Gambar-gambar alam semesta yang diambil dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble adalah yang terjelas yang pernah diambil. Ada gambar bintang raksasa Eta Carinae yang sebening kristal, yang jaraknya lebih dari 8.000 tahun cahaya dari sistem tata surya. Eta Carinae adalah salah satu bintang yang paling masif di Bima Sakti dan akan segera meledak menjadi sebuah supernova sebelum sebelum akhirnya mengerut dan membentuk bintang neutron atau sebuah lubang hitam. Ada juga gambar kabut gas dan debu raksasa di Nebula Eagle (M16). Teleskop ini telah mengambil ribuan foto galaksi dan nebula berjarak beberapa juta tahun cahaya dari Bima Sakti.

Related image
Eta Carinae by Hubble Telescope

Related image
Nebula Eagle (M16) by Hubble Telescope

Cahaya bergerak dengan kecepatan 300.000 km/detik. Cahaya dari galaksi-galaksi yang jauh butuh waktu miliaran tahun untuk dapat nampak dari tata surya. Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah mengambil gambar-gambar galaksi yang jauhnya lebih dari dua miliar tahun cahaya.

Dalam novel ini ada tulisan yang menurut saya agak lucu, yaitu waktu Georg mengomentari teman-teman perempuannya yang sibuk dengan eyeliner dan lipstick, dan teman-teman lelakinya yang sibuk dengan sepak bola:

“Kenyataannya kita hidup di sebuah planet di ruang angkasa. Bagiku itu adalah pemikiran yang luar biasa. Sekedar memikirkan keberadaan ruang angkasa saja sudah membuat pikiran takjub. Tapi ada anak-anak perempuan yang tidak bisa melihat alam semesta lantaran eyeliner. Dan ada anak-anak lelaki yang matanya tidak pernah melebihi cakrawala lantaran sepak bola.”

Sontak saya tertawa membaca tulisan diatas, entah karena itu lucu, entah karena mungkin saya merasa bahwa saya adalah salah satu wanita yang juga sibuk dengan eyeliner dan lipstick. hahahhaa Namun perkataan Georg ada benarnya juga. Manusia dibuat sibuk dengan apa yang ada di daratan bumi, dalam arti sibuk dengan penampilannya, sibuk dengan kehidupan sosialnya dan sebagainya; sehingga jarang sekali ada manusia yang berpikir tentang alam semesta, atau jarang sekali ada manusia yang takjub melihat, memikirkan, ataupun mempelajari alam semesta. Padahal kita hidup di suatu sistem Bima Sakti, di mana kita tinggal di salah satu planet yang ada di ruang angkasa bernama Bumi. ^_^

Dalam buku ini ditulis arti kata teleskop adalah “melihat sesuatu yang jauh”. Tujuan menempatkan sebuah teleskop di ruang angkasa jelaslah bukan untuk mendekati bintang-bintang atau planet-planet yang akan diteliti oleh teleskop itu. Ide yang melatarbelakangi pembuatan sebuah teleskop ruang angkasa adalah untuk mempelajari ruang angkasa dari sebuah titik di luar atmosfer bumi.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble membutuhkan waktu 97 menit untuk mengorbit bumi pada kecepatan 28.000 km/jam. Teleskop Ruang Angkasa Hubble mempunyai dua sayap yang terbuat dari panel-panel surya. Panjangnya 12 m dan lebarnya 2.5 m. Panel ini menyediakan tenaga sebesar 3.000 watt untuk satelit itu.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble diberi nama oleh seorang astronom Edwin Powell Hubble. Dialah yang membuktikan bahwa semesta itu mengembang. Pertama dia menemukan bahwa Halo Andromeda sebenarnya bukan sekedar sekumpulan partikel debu dan gas di dalam galaksi kita, melainkan merupakan sebuah galaksi yang sama sekali terpisah di luar Bima Sakti. Penemuan bahwa Bima Sakti hanya merupakan salah satu dari banyak galaksi merevolusi pandangan para astronom alam semesta.

Penemuan Hubble yang terpenting dilontarkan pada 1929 ketika dia mampu memperlihatkan bahwa semakin jauh sebuah galaksi dari Bima Sakti, laju pergerakannya akan tampak semakin cepat. Penemuan ini merupakan landasan dari Teori Dentuman Besar. Menurut teori ini, yang diterima oleh hampir seluruh astronom, alam semesta tercipta oleh sebuah ledakan besar sekitar 12-14 miliar tahun yang lalu.

Menurut Georg, ayahnya sangat mengerti tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble, betapa teleskop tersebut sangat penting bagi umat manusia. Setelah berusia hampir 15 miliar tahun, barulah alam semesta mendapatkan alat yang begitu fundamental seperti mata untuk melihat dirinya sendiri, yaitu Teleskop Ruang Angkasa Hubble yang disebut juga Mata Semesta.

Oh iya, sekali lagi saya masih belum paham kenapa Jostein Gaarder mengangkat tentang teleskop Hubble. Apakah ada kaitannya dengan konspirasi alam semesta antara Globe Earth vs Flat Earth? Saya belum berani berasumsi banyak soal ini. Dan saya pun masih belum mengerti apa kaitannya kisah si Gadis Jeruk dalam novel ini dengan teleskop Hubble? Well, sepertinya akan lebih seru kalau kalian juga baca bukunya dan bisa saling share disini yah. ^_^

Dalam buku ini, Jostein Gaarder menyebutkan lagu Moonlight Sonata dan Unforgettable. Diceritakan ayah Georg seringkali memainkan lagu Moonlight Sonata (Beethouven) dengan pianonya dengan harapan kiranya permainannya dapat terdengar hingga ke seluruh galaksi ruang angkasa.

Sementara lagu Unforgettable disebut dalam buku ini untuk memberikan pengantar bahwa kisah dalam buku ini tentang seorang ayah yang menjelang ajalnya menulis surat untuk Georg di masa depan, sehingga pada saat Georg menerima surat tersebut seakan dia menerimanya dari almarhum sang ayah. Lagu Unforgettable adalah lagu yang dinyanyikan oleh Nat King Cole yang sudah meninggal dunia dan direkam ulang oleh Natalie Cole (anak perempuan Nat King Cole), di mana Natalie akhirnya dapat bernyanyi duet dengan almarhum ayahnya melalui lagu ini.

Well readers, kiranya dua lagu indah tersebut dapat menambah mood kalian jadi lebih baik yah setelah membaca ini. Cerita tentang alam semesta adalah topik yang selalu menarik dan selalu membuat kita penasaran tentang hal-hal yang sulit dilihat dan dijangkau oleh manusia di Bumi. Mari kita berhenti sejenak dari rutinitas kita dan sempatkan diri untuk memandang ke langit dan takjub akan indahnya alam semesta ini.

Thank you for reading…

Sumber:

Gaarder, Jostein. 2016. The Orange Girl. Bandung: Mizan.

You also can follow me on instagram: naomiindahsari

or add me ass friend on facebook: Naomi Indah Sari

 

It’s Not a Sin

Image result for it's not a sin

IT’S NOT A SIN

Sosokmu penuh pesona

Senyum manismu bermekaran di jiwa

Terkadang menyebalkan

Tetapi apalah daya

Fisikmu samar-samar

Sulit dijangkau oleh jiwa

Sulit diwujudkan oleh rasa

Tak mungkin dimimpikan

Tak mungkin digapai

Hingga jiwa kehilangan raga

Jika boleh ku mengungkapkan

Perasaan ini adalah yang terdahsyat yang pernah ada

Apa cinta ini dapat terwujud?

Jawabannya selalu “tidak”

Mencintaimu adalah ilusi

Bersamamu adalah khayalan

Namun kupastikan, jiwaku ada disana

Imajinasiku jadi nyata

Sin won’t be sin

When you see the beauty in it

by: Naomi Indah Sari

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari

SEPASANG LAYANGAN

Image result for two kites

SEPASANG LAYANGAN

Timbangan nyata penuh makna dan tanda tanya

Keseimbangan terkadang hanya melalui kata-kata

Tuhan… apakah ini hanya euforia-Mu semata?

Sehingga ada rasa dari semua alam semesta.

Desir angin pantai malaikat pun tak kunjung datang

Hingga sampai dirimu datang

Hasratku menyentuh langit terbentang

Jangan biarkan musuh menghadang

Sekalipun kau yakin tak pernah menang

Bergeraklah melawan!

Sampai Tuhan melihat hati berlinang.

Koleksi: Naomi Indah Sari

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari