Buku: The Orange Girl: Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan (Jostein Gaarder)

Bandung, 6 Juni 2017

08:15pm

Hi readers, apa kabar semua?

Kali ini saya mau review satu buku lagi dari Jostein Gaarder yang berjudul The Orange Girl atau Gadis Orange. Novel filsafat ini cukup menarik karena membahas teleskop ruang angkasa Hubble dan tentu saja tentang kisah sang ayah bersama si Gadis Jeruk. Sub Judul buku ini adalah “Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan”. Setelah saya baca buku ini sampai selesai, rasanya saya masih belum puas dan belum mudeng dengan ceritanya. Jadi saya baca ulang lagi buku ini. hehhehehe

Dalam buku ini diceritakan seorang anak bernama Georg Roed yang berasal dari Humleveien, Oslo; yang berusia 15 tahun tiba-tiba menemukan surat dari almarhum ayahnya yang sudah meninggal sejak 11 tahun sebelumnya (saat usia Georg 4 tahun). Menjelang ajalnya sang Ayah telah menulis surat untuk Georg di masa depan. Tidak ada satupun anggota keluarga yang tahu bahwa sang ayah menyimpan surat itu di kereta dorong Georg sekian lama. Sampai akhirnya Georg menemukannya saat usianya 15 tahun.

Dalam review ini saya tidak akan membahas banyak tentang si Gadis Jeruk, jika kalian penasaran silahkan langsung beli bukunya saja yah. Saya hanya akan sedikit menyinggung sedikit tentang si Gadis Jeruk.

Kisah Gadis Jeruk dimulai ketika ayah Georg berdiri diluar Teater Nasional di akhir musim gugur tahun 1970-an. Lalu ayah Georg melihat seorang gadis cantik berdiri di lorong sambil merangkul erat sebuah kantong kertas besar penuh dengan jeruk. Gadis itu mengenakan mantel kulit tua panjang berwarna orange. Nah… biarlah kisah Gadis Jeruk ini jadi misteri untuk kalian yang belum baca yah. Karena kalau saya ceritakan semua kok terkesan membocorkan rahasia buku ini. Etisnya beli dulu bukunya, bacalah, dan temukan yah. hehehehehhe

Saya akan bahas tulisan-tulisan ayah Georg tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble saja yah. Dalam buku ini, Jostein Gaarder seakan memuji-muji Teleskop Hubble, entah apakah ini bagian dari sponsor, politik, atau mungkin konspirasi tentang eksistensi alam semesta. Saya kurang tahu pasti, namun yang jelas kalau memang Teleskop Ruang Angkasa Hubble ini benar-benar dapat menangkap ribuan gambar di ruang angkasa, berarti saya harus yakin bahwa bentuk bumi itu bulat yah (bukan datar). Well, walau tidak bisa juga saya menyimpulkan dengan sangat sederhana semacam itu, tapi sekiranya novel ini seperti mengarahkan kita pada perspektif tersebut. ^_^

Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah diluncurkan  ke orbitnya seputar bumi dari pesawat ruang angkasa Discovery pada 25 April 1990 dari Cape Canaveral. Para ahli menemukan bahwa ada masalah optik yang serius dengan cermin utama teleskop itu, namun kerusakan ini telah diperbaiki oleh para astronaut dari pesawat ruang angkasa Endeavour pada Desember 1993.

Image result for hubble telescope
Hubble Telescope

Gambar-gambar alam semesta yang diambil dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble adalah yang terjelas yang pernah diambil. Ada gambar bintang raksasa Eta Carinae yang sebening kristal, yang jaraknya lebih dari 8.000 tahun cahaya dari sistem tata surya. Eta Carinae adalah salah satu bintang yang paling masif di Bima Sakti dan akan segera meledak menjadi sebuah supernova sebelum sebelum akhirnya mengerut dan membentuk bintang neutron atau sebuah lubang hitam. Ada juga gambar kabut gas dan debu raksasa di Nebula Eagle (M16). Teleskop ini telah mengambil ribuan foto galaksi dan nebula berjarak beberapa juta tahun cahaya dari Bima Sakti.

Related image
Eta Carinae by Hubble Telescope

Related image
Nebula Eagle (M16) by Hubble Telescope

Cahaya bergerak dengan kecepatan 300.000 km/detik. Cahaya dari galaksi-galaksi yang jauh butuh waktu miliaran tahun untuk dapat nampak dari tata surya. Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah mengambil gambar-gambar galaksi yang jauhnya lebih dari dua miliar tahun cahaya.

Dalam novel ini ada tulisan yang menurut saya agak lucu, yaitu waktu Georg mengomentari teman-teman perempuannya yang sibuk dengan eyeliner dan lipstick, dan teman-teman lelakinya yang sibuk dengan sepak bola:

“Kenyataannya kita hidup di sebuah planet di ruang angkasa. Bagiku itu adalah pemikiran yang luar biasa. Sekedar memikirkan keberadaan ruang angkasa saja sudah membuat pikiran takjub. Tapi ada anak-anak perempuan yang tidak bisa melihat alam semesta lantaran eyeliner. Dan ada anak-anak lelaki yang matanya tidak pernah melebihi cakrawala lantaran sepak bola.”

Sontak saya tertawa membaca tulisan diatas, entah karena itu lucu, entah karena mungkin saya merasa bahwa saya adalah salah satu wanita yang juga sibuk dengan eyeliner dan lipstick. hahahhaa Namun perkataan Georg ada benarnya juga. Manusia dibuat sibuk dengan apa yang ada di daratan bumi, dalam arti sibuk dengan penampilannya, sibuk dengan kehidupan sosialnya dan sebagainya; sehingga jarang sekali ada manusia yang berpikir tentang alam semesta, atau jarang sekali ada manusia yang takjub melihat, memikirkan, ataupun mempelajari alam semesta. Padahal kita hidup di suatu sistem Bima Sakti, di mana kita tinggal di salah satu planet yang ada di ruang angkasa bernama Bumi. ^_^

Dalam buku ini ditulis arti kata teleskop adalah “melihat sesuatu yang jauh”. Tujuan menempatkan sebuah teleskop di ruang angkasa jelaslah bukan untuk mendekati bintang-bintang atau planet-planet yang akan diteliti oleh teleskop itu. Ide yang melatarbelakangi pembuatan sebuah teleskop ruang angkasa adalah untuk mempelajari ruang angkasa dari sebuah titik di luar atmosfer bumi.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble membutuhkan waktu 97 menit untuk mengorbit bumi pada kecepatan 28.000 km/jam. Teleskop Ruang Angkasa Hubble mempunyai dua sayap yang terbuat dari panel-panel surya. Panjangnya 12 m dan lebarnya 2.5 m. Panel ini menyediakan tenaga sebesar 3.000 watt untuk satelit itu.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble diberi nama oleh seorang astronom Edwin Powell Hubble. Dialah yang membuktikan bahwa semesta itu mengembang. Pertama dia menemukan bahwa Halo Andromeda sebenarnya bukan sekedar sekumpulan partikel debu dan gas di dalam galaksi kita, melainkan merupakan sebuah galaksi yang sama sekali terpisah di luar Bima Sakti. Penemuan bahwa Bima Sakti hanya merupakan salah satu dari banyak galaksi merevolusi pandangan para astronom alam semesta.

Penemuan Hubble yang terpenting dilontarkan pada 1929 ketika dia mampu memperlihatkan bahwa semakin jauh sebuah galaksi dari Bima Sakti, laju pergerakannya akan tampak semakin cepat. Penemuan ini merupakan landasan dari Teori Dentuman Besar. Menurut teori ini, yang diterima oleh hampir seluruh astronom, alam semesta tercipta oleh sebuah ledakan besar sekitar 12-14 miliar tahun yang lalu.

Menurut Georg, ayahnya sangat mengerti tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble, betapa teleskop tersebut sangat penting bagi umat manusia. Setelah berusia hampir 15 miliar tahun, barulah alam semesta mendapatkan alat yang begitu fundamental seperti mata untuk melihat dirinya sendiri, yaitu Teleskop Ruang Angkasa Hubble yang disebut juga Mata Semesta.

Oh iya, sekali lagi saya masih belum paham kenapa Jostein Gaarder mengangkat tentang teleskop Hubble. Apakah ada kaitannya dengan konspirasi alam semesta antara Globe Earth vs Flat Earth? Saya belum berani berasumsi banyak soal ini. Dan saya pun masih belum mengerti apa kaitannya kisah si Gadis Jeruk dalam novel ini dengan teleskop Hubble? Well, sepertinya akan lebih seru kalau kalian juga baca bukunya dan bisa saling share disini yah. ^_^

Dalam buku ini, Jostein Gaarder menyebutkan lagu Moonlight Sonata dan Unforgettable. Diceritakan ayah Georg seringkali memainkan lagu Moonlight Sonata (Beethouven) dengan pianonya dengan harapan kiranya permainannya dapat terdengar hingga ke seluruh galaksi ruang angkasa.

Sementara lagu Unforgettable disebut dalam buku ini untuk memberikan pengantar bahwa kisah dalam buku ini tentang seorang ayah yang menjelang ajalnya menulis surat untuk Georg di masa depan, sehingga pada saat Georg menerima surat tersebut seakan dia menerimanya dari almarhum sang ayah. Lagu Unforgettable adalah lagu yang dinyanyikan oleh Nat King Cole yang sudah meninggal dunia dan direkam ulang oleh Natalie Cole (anak perempuan Nat King Cole), di mana Natalie akhirnya dapat bernyanyi duet dengan almarhum ayahnya melalui lagu ini.

Well readers, kiranya dua lagu indah tersebut dapat menambah mood kalian jadi lebih baik yah setelah membaca ini. Cerita tentang alam semesta adalah topik yang selalu menarik dan selalu membuat kita penasaran tentang hal-hal yang sulit dilihat dan dijangkau oleh manusia di Bumi. Mari kita berhenti sejenak dari rutinitas kita dan sempatkan diri untuk memandang ke langit dan takjub akan indahnya alam semesta ini.

Thank you for reading…

Sumber:

Gaarder, Jostein. 2016. The Orange Girl. Bandung: Mizan.

You also can follow me on instagram: naomiindahsari

or add me ass friend on facebook: Naomi Indah Sari

 

Sexual Harrasment: Case Study in USA

Bandung, April 14th 2017 

6:40pm 

I found an article about the issue in USA which talk about sexual harrasment. I really concern about this topic, and I found this interesting article. Lets read it…

Happy reading….. 

====================================

One of the most pernicious ideas in American life is that sexual harassment lawsuits are an example of political correctness gone mad.

For the last few months I’ve been working on a video series for Highline, a re-examination of all the things we got wrong in the 1990s. The first episode is about the sexual harassment freakouts that cropped up in the wake of the Anita Hill hearing and what was really behind them.

Here’s a sequence that didn’t make it into the final cut, four women testifying at a 1992 Congressional hearing:

This is why we have sexual harassment laws.

Before 1986, none of these stories would have been illegal. Until Meritor Savings Bank v. Vinson, the only workplace discrimination that fell under the law was quid pro quo harassment, the kind where your boss explicitly tells you that if you want this promotion, you’ll have to sleep with him. Skeezy comments about your looks, getting groped at the water cooler, being told you had to meet a higher standard because of your gender, all that was just the cost of being a woman at work.

The most incredible thing about these cases, though, isn’t just the shittiness of the people perpetrating them. It’s the narrow-mindedness of the people in charge of punishing them.

Reading old sexual harassment cases, what you see over and over again is judges who simply couldn’t accept that women were blameless in their own abuse. One victim testified that she been assaulted by her boss for three straight years, that he touched her under the table during work meetings, that he bought her dinner her first week on the job and invited her to a motel afterward. The judges were skeptical. What was she wearing? Why did she go to dinner in the first place? Didn’t she eventually give in and have sex with him? Surely his advances weren’t that unwelcome.

This is how members of Congress treated Anita Hill too. If Clarence Thomas had been such a terrible boss, they asked her in 50 different ways, why did she later ask him for a reference? Despite all the alleged harassment, Arlen Specter pointed out, she never once complained to Thomas’s superiors. She even—gasp—picked him up at the airport once, years after they stopped working together.

It’s fascinating to me all the ways in which societal power is invisible to the people wielding it. For old, white, affluent judges, it simply didn’t make sense that a woman would have sex with her manager unless she really wanted to. Congress members couldn’t comprehend why a woman would maintain a relationship with her dickhead former boss, why she would wait years before publicly complaining about his behavior, why she would read aggression into his flirting and his backrubs and his ribald anecdotes.

I don’t think every judge and every Senator back then was a big old sleazebag. What I do think is that they suffered from a specific form of blindness, one that is human and understandable and utterly pernicious. We are all, in ways major and minor, incapable of seeing the world through anything but our own example. If you have never feared unemployment, the moral compromises others make to avoid it seem foreign. If you have never been hurt by jokes about your gender or your race or your sexuality, those who complain about them seem oversensitive.

Somehow, in the 25 years since the Anita Hill hearing (and, as I argue in the video, the passage of the 1991 Civil Rights Act), sexual harassment has become a synonym for a country that can no longer take a joke. Colleagues can’t even ask each other out for a drink nowadays. Managers can’t pat their employees on the shoulder.

But in fact, sexual harassment cases have been dwindling for years, and the mechanisms behind them have been steadily eroded. Since 1991, punitive damages have been capped at $500,000. Those eight-digit settlements you’re always reading about? Companies only have to pay a fraction of them. A study in 2002 found that more than half of large punitive damages awards got overturned on appeal. And that’s for the cases that make it to court. The vast majority of them don’t.

The real problem, in other words, is not that we have all become oversensitive. It is that we are not sensitive enough.

I am sure that, in this big and crowded country, someone somewhere has filed a frivolous lawsuit claiming to be sexual harassed when they weren’t. But becoming the country where that happens is not what we should fear. It is becoming the country that we used to be—one where  no one is allowed to file them at all. 

Source: 

What we talk about when we talk about sexual harassment 

http://wp.me/p13yED-2Ac

EGO by Tom Burkin

England, June 12th 2016 

06:30 am
There’s writing and there’s writings

There’re thoughts and there’re thoughts

There are actions and actions

There are words and there are words
Intention, intention, intention

Motivation and inspiration

The place of source, the origin

Distinguishes from original sin
There’s desires and deviancies

There’s want and there’s need

There’s what within, what’s beneath

And there’s what we’re fed to believe
What is a truth, but a subjective opinion

What is a belief, but a personal delusion

What is our sight but perfect illusion

What are we ourselves but an ego creation

============≠====================== 
Instagram: naomiindahsari
Facebook: Naomi Indah Sari

Delusion by Tom Burkin

England, May 27th 2016

4:38pm
​There’s no way to know for sure

Reality, imagination, something more

There’s no way to know for sure

Who or why to believe any more
If I told you a lie

Would you believe me?

If I nursed you the truth

Would you try to see through me?
If I screened you an illusion

Would you notice my delusion?

If I show you my mind’s eye

Would it just seem a false high?
If I bared myself, naked and alone

Would the vulnerability perturb you?

If my demons were allowed to run amok

Would their actions disturb you?
Do you think we could ever truly understand

Each other, you and me, you and I?

Do you think we can find the common ground

To find a way we in which we can all survive 

====================================
Instagram: naomiindahsari
Facebook: Naomi Indah Sari

Spring by Tom Burkin

Bandung, April 13th 2017 

14:04 WIB 

Hi readers, I really forgot that I had a friend who likes writing poem a lot. He was my partner at work. He knew that I was interested with poem, and then he sent to me his poems sometimes; but he always sent me poem when he was drunk. That’s ok. Lol. I hope you are always good, my friend; and let me share all of your poem that you sent to me.

I gave a title for this poem: 
SPRING by Tom Burkin

​England, April 29th 2016 

02:16 am
Now where’s the spring in your step?

The flash in the pan,

the moth to the flame,

The leap in your frog,

Where’s he gone?

On a whim and prayer,

Probably nowhere that’s fair

Yet he does it to himself

One does it to us all. 

===================================

Instagram: naomiindahsari
Facebook: Naomi Indah Sari

Memories by Vidur Shadev


Ever seen

the rainbow,

fall from
the sky
like a coloured
cloud,
breaking into
a kaleidoscope,
of shattered
glass,

harmless
sweet
and melting,
as
cotton candy shards,
but  intoxicating
as a raindrop,
touching
the tip,
of a waiting
tongue,

beautiful
in its vision,
its destruction,
with each
fallen
scattered piece,
mirroring
an aching memory,
stolen from
the empty skies,
of a
stormy heart.

———-

Vidur
21Feb17 

Source:

m e m o r i e s – http://wp.me/p6bVyF-JN 


You also can follow my instagram: naomiindahsari 

My facebook: naomi indah sari

A Lost Friendship


Bandung, February 22nd 2017

Hi readers, I was wondering about losing my soulmates. I lost 3 of my soulmates, 1. was SOM in 2008, 2. was LS in 2013, 3. was LN in 2016. Actually we were very bestfriends for each other, very close and fond each other. But we had so much ego and had conflict, love but hate, hate but fond, fond but lost, lost but lonely. Then I found a poem from another blog that I follow. Maybe it shows how I feel about losing my soulmates.

==================================

I walk through the road we have now abandoned, 

The torn posters on the grey walls, the memories remain stranded,

Through love clad eyes, I once again see,

Those musings we had, how happy we used to be,

Our laughter rang through the meadows, like the sea cheering in glory,

But sand has slipped through gaps between our fingers, looks like time was in a hurry!

I wish for a wishing star, will we again love and laugh? 

Those moments are long gone, but I guess we’ll find each other soon enough,

You are there, but I am here, both are tranced with worldly pleasure, 

That picture that we had once taken , singed, but I still treasure, 

Like a cherry on the top, will our story be,

Pages unturned, but the chapters sing a plea,

So if you still smile, whenever you think of me,

Know that I’ll know, wherever in this world, I might be!


Source:

A Lost Friendship (poem) – http://wp.me/p6NnN4-3b 

© thegirlonthego08 2016 


You also can follow my instagram: naomiindahsari 

My facebook: naomi indah sari