Puisi W.S. Rendra

Bandung, 9 Juni 2017

11:15pm

Related image

W.S. Rendra adalah sastrawan Indonesia yang lahir pada tahun 1935 dan meninggal dunia pada tahun 2009. Rendra yang dijuluki sebagai “Burung Merak” ini telah menciptakan banyak karya, baik drama maupun puisi. Karyanya mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri, banyak mendapatkan penghargaan dalam berbagai ajang. Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri, dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India. Ia pun menonjol dalam membacakan puisi. Tahun 1967 ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta, dan memindahkannya ke Depok pada Oktober 1985. Karya Rendra yang dianggap paling baik diantaranya adalah Sajak Sebatang Lisong, dan Sajak Potret Keluarga.

Related image

Berikut ini adalah beberapa karya W.S. Rendra:

 

Pasar Malam Sriwedari, Solo

W.S. Rendra

 

Di tengah lampu aneka warna

Balon mainan bundar-bundar

Rok-rok pesta warna

Dan wajah-wajah tanpa jiwa

Kita jagal sendiri hati kita

Setelah telinga jadi pekak

Dan mulut terlalu banyak tertawa

Dalam dusta yang murah

Dan bujukan yang hampa

Mencubiti pantat wanita

Tidak membuat kita tambah dewasa

Dilindungi bayangan tenda-tenda

Kita menutup malu kita

Dengan kenakalan tanpa guna

Tempat ini sangat bising dan bising sekali

Gong, gendang, gitar dan biola

Terkacau dalam sebuah luka

Ayolah!

Anda sedang menertawakan dunia,

ataukah dunia sedang menertawakan anda?

 

Sajak Sebatang Lisong

W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papan tulis-papan tulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samudra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamflet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

 

Sajak Potret Keluarga

W.S. Rendra

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Wajah molek bersolek di angkasa.
Kemarau dingin jalan berdebu.
Ular yang lewat dipagut naga.
Burung tekukur terpisah dari sarangnya.
Kepada rekannya berkatalah suami itu :
“Semuanya akan beres. Pasti beres.
Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya.
Kesukaran selalu ada.
Itulah namanya kehidupan.
Apa yang kita punya sudah lumayan.
Asal keluarga sudah terjaga,
rumah dan mobil juga ada,
apalagi yang diruwetkan ?
Anak-anak dengan tertib aku sekolahkan.
Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa.
Di rumah ada TV, anggrek,
air conditioning, dan juga agama.
Inilah kesejahteraan yang harus dibina.
Kita mesti santai.
Hanya orang edan sengaja mencari kesukaran.
Memprotes keadaaan, tidak membawa perubahan.
Salah-salah malah hilang jabatan.

Tanggal lima belas tahun rembulan
Angin kemarau tergantung di blimbing berkembang.
Malam disambut suara halus dalam rumputan.
Anjing menjenguk keranjang sampah.
Kucing berjalan di bubungan atap.
Dan ketonggeng menunggu di bawah batu.

Istri itu duduk di muka kaca dan berkata :
“Hari-hari mengalir seperti sungai arak.
Udara penuh asap candu.
Tak ada yang jelas di dalam kehidupan.
Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan.
Tak ada yang bisa diambil pegangan.
Suamiku asyik dengan mobilnya
padahal hidupnya penuh utang.
Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.
Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.
Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.
Apakah jaminan pendidikannya ?
Ah, Suamiku !
Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,
pikirannya jelas pula.
Tetapi kini serba tidak kebenaran.
Setiap barang membuatnya brengsek.
Padahal harganya mahal semua.
TV Selalu dibongkar.
Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.
Akhirnya tertidur…….
Sementara TV-nya membuat kegaduhan.
Tak ada lagi yang bisa menghiburnya.
Gampang marah soal mobil
Gampang pula kambuh bludreknya
Makanan dengan cermat dijaga
malahan kena sakit gula.
Akulah yang selalu kena luapan.
Ia marah karena tak berdaya.
Ia menyembunyikan kegagalam.
Ia hanyut di dalam kemajuan zaman.
Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya.

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Tujuh unggas tidur di pohon nangka
Sedang di tanah ular mencari mangsa.
Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan.
Di tebing yang landai tidurlah buaya.
Di antara batu-batu dua ketam bersenggama.

Sang Putri yang di SLA, berkata :
“Kawinilah aku. Buat aku mengandung.
Bawalah aku pergi. Jadikanlah aku babu.
Aku membenci duniaku ini.
Semuanya serba salah, setiap orang gampang marah.
Ayah gampang marah lantaran mobil dan TV
Ibu gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.
Suasana tegang di dalam rumah
meskipun rapi perabotannya.
Aku yakin keluargaku mencintaiku.
Tetapi semuanya ini untuk apa?
Untuk apa hidup keluargaku ini?
Apakah ayah hidup untuk mobil dan TV?
Apakah ibu hidup karena tak punya pilihan?
Dan aku ? Apa jadinya aku nanti?
Tiga belas tahun aku belajar di sekolah.
Tetapi belum juga mampu berdiri sendiri.
Untuk apakah kehidupan kami ini?
Untuk makan? Untuk baca komik?
Untuk apa?
Akhirnya mendorong untuk tidak berbuat apa-apa!
Kemacetan mencengkeram hidup kami.
Kekasihku, temanilah aku merampok Bank.
Pujaanku, suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
di bawah cahaya bulan.
Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan.
Akar bambu bercahaya pospor.
Kelelawar terbang menyambar-nyambar.
Seekor kadal menangkap belalang.
Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :
Ayah dan ibu yang terhormat,
aku pergi meninggalkan rumah ini.
Cinta kasih cukup aku dapatkan.
Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
tetapi kehilangan kesejahteraan.
Bahkan kemewahan yang ayah punya
tidak juga berarti kemakmuran.
Ayah berkata : “santai, santai!“
tetapi sebenarnya ayah hanyut
dibawa arus jorok keadaan
Ayah hanya punya kelas,
tetapi tidak punya kehormatan.
Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
Hasil dari bekerja? Bekerja apa?
Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi?
Seorang petani lebih produktif daripada ayah.
Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
Ayah hanya bisa membuat peraturan.
Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
Ayah tidak produktif melainkan destruktif.
Namun toh ayah mendapat gaji besar!
Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan?
tidak pernah, bukan?
Terlalu beresiko, bukan?
Apakah aku harus mencontoh ayah?
Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
Ayah dan ibu, selamat tinggal.
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya.

 

Thank you for reading…

With Love,

Naomi Indah Sari

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Puisi Chairil Anwar

Bandung, 9 Juni 2017

11:00pm

Image result for chairil anwar

Hi readers, kali ini saya mau share karya-karyanya Chairil Anwar. Chairil Anwar lahir tahun 1922 dan meninggal di tahun 1949, ia dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang” dari karyanya yang berjudul “Aku” (oh iya, karya Chairil yang berjudul “Aku” ini sempat booming lagi setelah tenarnya film Ada Apa Dengan Cinta lho). Chairil adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus pelopor puisi modern Indonesia. Puisinya membahas berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang bermakna multi interpretasi.

Berikut ini adalah beberapa karya Chairil Anwar:

 

Persetujuan Dengan Bung Karno

Chairil Anwar

 

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

Dipanggang diatas apimu

Digarami lautmu

Dari mulai tanggal 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api

Aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat, satu urat

Di zatmu. di zatku, kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu, di uratku, kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

 

AKU

Chairil Anwar

 

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Thank you for reading…^_^

With Love,

Naomi Indah Sari

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Lets Pretend by Prynczzwonda


Playing pretend

Imagine if we faked something so deep

it becomes real

Let’s pretend you love me half 

as much as I do you

I was catching fake feelings

And we had this fake strong connection

Would we have the perfect fake love?
Let’s pretend that our eyes were locked 

for a moment

Whilst my hands search your body purposely? 

Would you run away and hope I chase you?

Would it even matter?

Lets pretend that this was real

Would you still pretend you never felt it too? 

Source:

http://wp.me/p2gY3X-NZ 


You also can follow me on instagram: naomiindahsari 

Or add me as friend on facebook: Naomi Indah Sari

It’s Not a Sin

Image result for it's not a sin

IT’S NOT A SIN

Sosokmu penuh pesona

Senyum manismu bermekaran di jiwa

Terkadang menyebalkan

Tetapi apalah daya

Fisikmu samar-samar

Sulit dijangkau oleh jiwa

Sulit diwujudkan oleh rasa

Tak mungkin dimimpikan

Tak mungkin digapai

Hingga jiwa kehilangan raga

Jika boleh ku mengungkapkan

Perasaan ini adalah yang terdahsyat yang pernah ada

Apa cinta ini dapat terwujud?

Jawabannya selalu “tidak”

Mencintaimu adalah ilusi

Bersamamu adalah khayalan

Namun kupastikan, jiwaku ada disana

Imajinasiku jadi nyata

Sin won’t be sin

When you see the beauty in it

by: Naomi Indah Sari

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari

SEPASANG LAYANGAN

Image result for two kites

SEPASANG LAYANGAN

Timbangan nyata penuh makna dan tanda tanya

Keseimbangan terkadang hanya melalui kata-kata

Tuhan… apakah ini hanya euforia-Mu semata?

Sehingga ada rasa dari semua alam semesta.

Desir angin pantai malaikat pun tak kunjung datang

Hingga sampai dirimu datang

Hasratku menyentuh langit terbentang

Jangan biarkan musuh menghadang

Sekalipun kau yakin tak pernah menang

Bergeraklah melawan!

Sampai Tuhan melihat hati berlinang.

Koleksi: Naomi Indah Sari

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari

SEMENTARA

Image result for sementara

SEMENTARA

Bertemu denganmu, tak pernah kusangka

Berjalan bersamamu, tak pernah ku kira

Hidup bersamamu, aku pikir bukan realita

Tapi aku harus yakin, bahwa semua ini nyata

Rasa ini, apakah hanya sementara?

Rindu ini. apakah akan terlupa?

Cinta ini. apakah akan musnah?

Sungguh… aku tak ingin terluka

Kau ragu jalan bersamaku

Akupun merasa begitu

Namun, kita harus lewati itu

Karena aku tak ingin kehilanganmu.

By: Naomi Indah Sari ^_^

My instagram: naomiindahsari

My facebook: Naomi Indah Sari

EGO by Tom Burkin

England, June 12th 2016 

06:30 am
There’s writing and there’s writings

There’re thoughts and there’re thoughts

There are actions and actions

There are words and there are words
Intention, intention, intention

Motivation and inspiration

The place of source, the origin

Distinguishes from original sin
There’s desires and deviancies

There’s want and there’s need

There’s what within, what’s beneath

And there’s what we’re fed to believe
What is a truth, but a subjective opinion

What is a belief, but a personal delusion

What is our sight but perfect illusion

What are we ourselves but an ego creation

============≠====================== 
Instagram: naomiindahsari
Facebook: Naomi Indah Sari