Buku: Supernova 1 (Kesatria, Putri & Bintang Jatuh), Dee Lestari

Bandung, 6 Agustus 2017

02:15pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat terkenal dan fenomenal di Indonesia yang ditulis oleh mantan penyanyi zaman saya SD, yaitu Dee Lestari. hehehehe Buku ini adalah serangkaian buku-buku yang diberi nama “Supernova” yang terdiri dari 6 seri. Nah yang mau saya share sekarang adalah buku seri pertama yang berjudul “Kesatria, Putri & Bintang Jatuh”.

Kalau boleh berkomentar dulu, ini bukunya agak sedikit rumit dan membingungkan yah. Saya sampai harus lihat-lihat lagi halaman-halaman berikutnya supaya benar-benar nangkep maksud/ pesan dari buku ini. Saya tertarik mau baca buku ini karena beberapa orang bilang ini bukunya bagus banget dan ditulis dengan sangat cerdas oleh Dee Lestari, sampai-sampai waktu saya search buku ini via online (ceritanya mau beli di toko buku online), ada orang yang mention saya terus semangat banget rekomendasiin buku ini ke saya, katanya “Wajib banget baca kak. Sumpah si Dee pinter banget. Semua ilmu ada di buku supernova”. Ok ok, akhirnya setelah keliling semua toko buku di Jakarta (tempat saya tinggal sebelum pindah ke Bandung) tidak ketemu buku supernova 1 ini atau biasanya disingkat dengan “KPBJ”, dan akhirnya saya memutuskan beli online.

Well, waktu awal saya baca buku KPBJ ini, saya langsung tertarik karena Dee menggunakan pasangan homoseksual sebagai tokoh utama buku ini, yang bernama Dimas & Reuben. Kenapa saya tertarik? Karena di buku ini si Dimas & Reuben diceritakan sebagai pasangan homoseksual yang berintelektual, alias berpendidikan. Ide ini bagus banget untuk membangun citra bahwa homoseksual sama seperti orang normal yang berpendidikan tinggi, cerdas, intelek, kreatif, dan mampu berkarya. Tidak seperti stereotype yang sudah melekat di masyarakat bahwa homoseksual adalah menjijikkan, tidak berpendidikan, tidak bermoral, bahkan phedofil atau psikopat.

Selain itu, sangat menarik karena Dee menulis cerita di dalam cerita. Maksudnya, Dee menciptakan Dimas & Reuben dalam bukunya, lalu Dimas & Reuben menulis juga tentang tokoh-tokoh lain yang diciptakannya dalam tulisannya. Ini sangat menarik walaupun sedikit membingungkan karena setting ceritanya lompat-lompat ke cerita yang berbeda, namun masih saling terkait.

Kenapa Dee dipuji-puji sangat cerdas melalui buku ini, karena buku ini menyajikan istilah-istilah atau membahas teori-teori yang beragam seperti sastra, filsafat, sains, fisika, kimia, matematika, biologi, anatomi, psikologi, dan lain sebagainya. Seakan Dee berusaha menggabungkan semua ilmu tersebut dalam suatu kehidupan manusia, yang memang saling berkaitan satu sama lain.

Dalam buku ini tokoh Reuben mengatakan, “bahwa kebenaran yang utuh baru kamu dapatkan setelah melihat kedua sisi cermin kehidupan. Tidak cuma sebelah. Dan, cermin itu sangat dekat”. Lalu ia memperjelas bahwa cermin tersebut berada di setiap atom tubuh kita sendiri.

Kalau boleh saya mendefinisikan versi saya sendiri, mungkin maksudnya adalah saat kita mau mencari suatu kebenaran jangan hanya melihat dari satu sisi saja, atau satu aspek saja, atau satu paham saja, atau satu ideologi saja, atau satu agama saja, atau satu ide saja, tetapi pelajarilah, analisalah, lihatlah dari dua sisi yang berbeda, analisalah. Dengan demikian kita akan menemukan kebenaran. Jika kita hanya melihat dari sisi kita sendiri, atau melihat yang kita yakini saja, maka kebenaran tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Adapula dialog dimana Reuben bercerita pada Dimas bahwa orangtua Reuben sudah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang gay, lalu Reuben berkata, “Kalau sampai saya dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka (orangtua Reuben) bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya, kalau saya dianggap produk gagal, berarti mereka juga”.

Wkwkwkwkwkwkwkkwk Dialog ini lucu sekaligus menyindir. Seakan berkata bahwa tidak ada manusia yang merupakan produk gagal, jika seorang manusia adalah heteroseksual, bukan berarti juga dia sempurna. Artinya ya semua manusia diciptakan dengan pribadi yang unik & layak, jika ia terlahir cacat tubuh misalnya, bukan berarti dia produk gagal, dia tetap sempurna. Karena Tuhan pasti adil, ada hal yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain dan begitupun sebaliknya.

Oh iya, tokoh Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh adalah tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Dimas & Reuben, mereka yang menulis cerita atau novel tentang itu. Diceritakan seorang Kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri, namun putri tersebut bukanlah seorang wanita single, namun milik seorang pangeran. Kesatria & Putri sangat sedih & tersiksa karena kenyataannya mereka saling mencintai. Lalu ada tokoh Bintang Jatuh yang diciptakan sebagai seseorang yang harus sepenuhnya mewakili area abu-abu. Teori relativitas berjalan. Manusia yang penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, juga bukan protagonis. Penuh kebajikan, tapi juga penuh kepahitan. Dialah meteor langit setiap orang. Penuh kesan, tapi dengan cepat melesat hilang. Tidak terbendung institusi apa-apa, organisasi manapun, bukan properti siapa-siapa.

Lalu ada dialog di mana Reuben menyebut tentang filosofinya Abraham Maslow yang seorang penemu konsep psikologi transpersonal, yang didasari pada kerangka kerja idealis monistik, yaitu paradigma yang mengatakan bahwa otak dan pikiran berada di realitas yang sama. Idenya adalah sebagai berikut, “Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun dimungkinkan untuk mengejar pencarian lebih tinggi. Aktualisasi diri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri di level yang paling dalam”.

Walaupun cuma sekutipan saja, tetapi bermakna cukup dalam yah. Intinya kita sebagai manusia harus mengejar pencarian yang lebih tinggi, yaitu aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini bentuknya atau kegiatannya bermacam-macam sesuai panggilan nurani setiap manusia. Setiap orang berbeda-beda dalam menangkap konsep aktualisasi diri ini, dengan demikian aktualisasi diri tidak bisa digeneralisasikan sebagai suatu pikiran/tindakan/kegiatan tertentu.

Supernova bukan hanya nama serial buku ini, tetapi juga nama tokoh yang akan selalu ada diseluruh seri buku Supernova. Sosok supernova sebenarnya adalah misteri, namun setelah saya nonton film Supernova KPBJ yang diadopsi langsung dari buku ini; ternyata baru terlihat siapa supernova sebenarnya. ^_^

Dari keseluruhan cerita KPBJ, menurut saya Dee menitikberatkan keseluruhan ceritanya pada teori “Order and Chaos“. Order and Chaos adalah teori tentang sistem deterministik, tetapi pergerakannya sangat sensitif terhadap kondisi-kondisi inisial sehingga tidak memungkinkan adanya prediksi jangka panjang.

Sesempurna apapun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengubrak-abrik. Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya order and chaos hadir bersamaan sebagai perekat. Di mana terdapat zona kuantum, rimba infinit di mana segalanya relatif, kumpulan potensi, dan probabilitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus-putusan. Paradigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan, bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat bagi yang mengagung-agungkan objektivitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif, dan seringkali harus subjektif.

Well readers, uda pusing belum? Sepertinya kalian sama pusingnya seperti saya yah. Pokoknya buku ini recommended banget untuk kamu baca. Pusing sedikit gapapa lah yah untuk menambah pengetahuan kamu.

Untuk cerita detail dan teori-teori serta konsep-konsep keilmuan apa saja yang dibahas di buku ini, kalian bisa langsung beli bukunya dan baca sendiri yah. Semangat!!!

With love,

Naomi Indah Sari

 

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Advertisements

Simulacra

Bandung, 17 Juli 2017

10:00am

Hi readers, setelah sebelumnya saya share tentang Memetics, sekarang saya mau share tentang Simulacra. Istilah dan teori Simulacra ini dilontarkan oleh seorang tokoh besar cultural-studies bernama Jean Baudrillard.

Image result for simulacra adalah

Dalam hal simulasi, manusia mendiami suatu realitas, di mana perbedaan antara yang real (nyata) dan fantasi, antara asli dan palsu sangatlah tipis. Dunia-dunia tersebut dapat diibaratkan seperti disneyland, universal studio, china town, las vegas atau beverly hills. Lewat media informasi, seperti iklan, televisi, dan film dunia simulasi tampil sempurna. Dunia simulasi itulah yang kemudian dapat dikatakan tidak lagi peduli dengan realitas atau kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang tanda. Di samping itu, tidak dapat lagi dikenal mana yang asli dan mana yang palsu. Semua itu pada akhirnya menjadi bagian realitas yang di jalani dan dihidupi masyarakat saat ini. Kesatuan inilah yang kemudian oleh Baudrilard disebut sebagai simulacra, yaitu sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya antara nilai, fakta, tanda, citra, dan kode.

Dengan demikian simulacra adalah suatu kebohongan berupa tanda, atau image yang dibangun seseorang yang memiliki sifat pada kontennya yang jauh dari realitas asli orang tersebut.

Contoh: misal saja ada seseorang yang dalam realitas hidupnya berdosa dan kurang bermoral, namun melalui akun pribadinya di sosial media, dia bisa saja memposting hal-hal yang religious mulai dari gambar hingga ayat-ayat suci. Dalam hal ini orang tersebut sedang melakukan suatu simulasi yang berbeda dengan realitas dirinya yang asli. Inilah yang disebut dengan simulacra.

Dalam buku yang berjudul “Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard” yang ditulis oleh M. Imam Aziz, Aziz mengatakan bahwa Iklan telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi semua masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonis kepuasan murni, seperti suatu keadaan alam baru di jantung yang kita miliki dalam hiperperadaban. Kebebasan yang kita miliki dalam hiperperadaban sepenuhnya dibatasi oleh sistem komoditas: “Bebas untuk menjadi diri sendiri” ternyata berarti bebas untuk mengarahkan hasrat pribadi pada barang-barang yang diproduksi. “Bebas untuk menikmati hidup” berarti bebas untuk mundur dan bersikap irasional, dan kemudian menerima suatu organisasi sosial produksi tertentu.

Kalimat “bebas menjadi diri sendiri” yang disebut diatas bukan berarti bebas menjadi diri apa adanya (real), tetapi setiap individu bebas menciptakan diri yang seperti apa yang dia inginkan untuk dilihat orang lain di sosial media. Jika setiap orang melakukan simulasi ini, lantas siapa yang jujur menunjukkan diri aslinya. Bahkan saat seseorang membangun image yang sederhana, ramah, dan baik hatipun mungkin saja itu juga merupakan simulasi.

Orang-orang modern dikelompokkan menurut komoditas yang mereka miliki. Konsumsi merupakan suatu tindakan sistematik dari manipulasi tanda-tanda, yang menandai status sosial melalui pembedaan. Konsumsi menentukan status sosial seseorang melalui objek-objek, setiap pribadi dan kelompok mencari tempatnya dalam suatu aturan, sejenak kemudian mencoba untuk mendesak-desak aturan ini menurut lintasan pribadi.

Dalam Simulacra, ada istilah yang disebut dengan Hyperreal, di mana hyperreal ini merepresentasi fase-fase yang lebih berkembang dalam pengertian bahwa pertentangan antara yang nyata dan yang imajiner ini dihapuskan. Yang tak nyata bukan lagi mimpi atau fantasi, tentang, yang melebihi atau yang di dalam, melainkan kemiripan halusinasi dari yang nyata dengan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, ada 3 istilah yang saling terkait; yaitu simulasi, simulacra, dan hiperrealitas. Simulasi berarti tiruan. Maksudnya adalah realitas tiruan yang masih mengacu pada realitas yang sesungguhnya. Sedangkan kedua, Simulacra. Baudrillard mengartikannya dengan realitas tiruan yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Artinya realitas sesungguhnya sudah dibelokkan yang kemudian benar-benar ditutup dari acuannya. Akan tetapi, realitas ini belum sepenuhnya sempurna dikatakan sebagai sebuah realitas yang benar-benar real. Karena, hubungan timbal baik/ interaktif belum terjadi. Atau kita bisa menyebutnya sebagai semi-realitas.
Nah, yang ketiga adalah Hiperrealitas. Inilah yang disebut sebagai realitas yang benar-benar real, bahkan di atas yang real, yang nantinya akan menggantikan realitas yang real sebelumnya. Artinya, Hiperrealitas adalah sebuah dekonstruksi dari realitas real sebelumnya, karena realitas ini akan sangat benar-benar berbeda dari sebelumnya. Atau dalam bukunya Yasraf Amir Pilliang yang berjudul Dunia Yang Dilipat, Hiperrealitas (Hyper-reality) dijelaskan oleh Baudrillard sebagai, keadaan runtuhnya realitas, karena telah diambil alih oleh rekayasa virtual yang dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur. Sedangkan perbedaan antara fase simulacra dengan fase hiperrealitas, terletak pada cirinya yang interaktivis. Yakni, hal-hal yang tadinya hanya dapat dilakukan dalam realitas real, kini telah tergantikan dalam realitas virtual, seperti berinteraksi, transaksi ekonomi, rapat, belajar dsb. Bahkan, lebih efektif dan efisien cara-cara yang baru ini. sedangkan dalam fase simulasi maupun fase simulacra belum terjadi hal-hal seperti ini.

Image result for simulacra adalah

Dalam buku Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi, Nasrullah menulis bahwa Baudrillard mengungkapkan gagasan simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara terus menerus. Khalayak seolah-olah tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang ada di layar. Khalayak seolah-olah berada di antara realitas dan ilusi sebab tanda yang ada di media sepertinya telah terputus dari realitas.

Term simulakra digunakan Baudrillard untuk menggambarkan bagaimana realitas yang ada di media adalah ilusi, bukan cerminan dari realitas, sebuah penandaan yang tidak lagi mewakili tanda awal, tetapi sudah menjadi tanda baru. Baudrillard menyebutnya sebagai “a copy of a copy with no original“. Di media sosial interaksi yang terjadi adalah simulasi dan terkadang berbeda sama sekali. Misalnya, di media sosial identitas menjadi cair dan bisa berubah-ubah. Perangkat di media sosial memungkinkan siapapun untuk menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang berbeda sekali dengan realitasnya, seperti pertukaran identitas jenis kelamin, hubungan perkawinan, sampai pada foto profil.

Term ini terjadi melalui 4 tahap proses:

  1. Tanda (sign) merupakan presentasi realitas.
  2. Tanda mendistorsi realitas
  3. Realitas semakin kabur, bahkan hilang, malah tanda merupakan representasi dari representasi itu sendiri.
  4. Tanda bukan lagi berhubungan dengan realitas. Imaji telah menjadi pengganti dari realitas itu sendiri.

Contoh: saya memiliki pengalaman berkenalan dengan seorang pria yang sangat genius dalam bidang seni rupa, semua gambar hasil karyanya yang di post olehnya di sosial media sangatlah indah dan bagus, namun ada yang membuat saya curiga dan penasaran. Kebanyakan gambar-gambarnya mengandung unsur nudity, sex, wanita sexy, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Saat saya melihat semua gambar-gambar itu ada dua hipotesa yang ada di pikiran saya. Yang pertama, mungkin saja dia tidak pernah mengenal sex atau tidak pernah menyentuh tubuh wanita sehingga dia berimajinasi dan menuangkannya pada karya-karyanya. Yang kedua, mungkin saja dia orang yang senang berhubungan sex dan menyukai pornografi dan dia terang-terangan membagikan hasil karyanya tersebut pada sosial media. Singkat cerita hubungan kami semakin dekat dan saya jatuh cinta kepadanya. Hingga saya menemukan banyak hal-hal yang aneh yang jauh dari estimasi awal saya sebelumnya. Kesimpulan singkatnya, “ternyata dia adalah pelaku simulakra“. Dia melakukan simulasi dengan membangun image sebagai laki-laki jantan (yang menyukai sex) di sosial media, sementara di dunia real dia sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan dia sangat dingin. Awalnya saya curiga mungkin saja dia impoten atau tidak menyukai lawan jenis, sampai saya akhirnya berkesimpulan bahwa dia adalah seorang Asexual Aromantic (bisa dilihat di post blog saya sebelumnya). Selain image dari hasil karyanya tersebut, dia juga melakukan simulasi lain seperti memamerkan saya sebagai pasangannya dan seringkali comment kalimat-kalimat yang seakan romantis atau seakan dia peduli pada saya, sementara di dunia real dia bahkan tidak pernah berkomunikasi intens dengan saya. Dua bulan sejak kami kenal dan dekat saya terus menganalisa dia, dan akhirnya saya menemukan bahwa dia melakukan kebohongan citra/image yang dia bangun hanya untuk dilihat oleh teman-teman di sosial medianya. Ini sangat mengecewakan karena ternyata saya telah menjalin hubungan dengan seorang penipu citra. ^_^

Nah, jika simulasi yang dibuatnya di sosial media membuat orang yang melihatnya yakin dan percaya bahwa yang ditampilkan di sosial media adalah real, maka orang-orang tersebut dianggap telah terjebak dalam dunia simulacra; padahal konten-konten yang ditampilkan bersifat semu dan jauh dari realitas aslinya.

Inilah yang terjadi dalam cyberspace di mana proses simulasi itu terjadi dan perkembangan teknologi komunikasi serta kemunculan media baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas, menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual.

Menurut Baudrillard, realitas terkadang sudah tidak memiliki kesamaan dengan apa yang direpresentasikan. Teknologi dan media memiliki kekuatan tidak hanya untuk melakukan produksi, tetapi juga mereproduksi tanda (signs) dan objek (objects).

Untuk menjelaskan bagaimana konsep simulakra ini terjadi di media sosial, Tim Jordan mengatakan, ketika berinteraksi dengan pengguna lain melalui antarmuka (interface) di media sosial, pengguna harus melalui 2 kondisi berikut:

  1. Pengguna harus melakukan koneksi untuk berada di ruang siber. Koneksi ini merupakan prosedur standar yang harus dilakukan oleh semua pengguna ketika memanfaatkan media sosial.
  2. Ketika berada di media sosial, penguna kadang melibatkan keterbukaan dalam identitas diri sekaligus mengarahkan bagaimana individu tersebut mengidentifikasikan atau mengonstruk dirinya di dunia virtual.

Image result for simulacra adalah

Realitas Buatan

Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulacra, yaitu “daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa”. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya. Sulit memperkirakan hal-hal yang nyata dari hal-hal yang menyimulasikan yang nyata itu.

Baudrillard memberi contoh media massa. Media lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencerminkan realitas, bahkan menjadi realitas itu sendiri. Saksikan dengan seksama bagaimana media mendramatisasi peristiwa, jika suka atau tidak suka. Semua ada narasi simulasinya. Dia menyebutnya sebagai “cyberblitz“.

Realitas yang ditampilkan tampak benar dan objektif, tetapi sebuah kebenaran dan objektivitas yang dikonstruksi sesuai selera para aktor yang berkepentingan.

Sebenarnya pengertian simulakra tidak sesempit dan sesederhana itu, kita yang menganggap diri jujur, benar, dan apa adanya pun masih saja terjebak dalam dunia simulacra. Kejujuran yang kita post apa adanya sesuai pemikiran dan perasaan kita di sosial mediapun kerapkali dianggap pencitraan, pembentukan image, dan lain sebagainya. Ini dikarenakan masyarakat telah terbiasa melakukan simulasi, sehingga mereka menganggap kita melakukan simulasi yang sama. Sehingga semua yang buruk bisa menjadi baik saat disimulasi, dan semua yang baik menjadi buruk karena dipaksa untuk melakukan simulasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, simulakra dalam kaitannya dengan hiperrealitas terjadi karena gencatan yang terpaksa harus dilakukan oleh sebagian khalayak yang psikisnya telah terpapar oleh teknologi media. Misal dengan adanya fasilitas “follow“, “like“, “love“, dan lain sebagainya tersebut membuat khalayak berlomba-lomba membuat simulasi yang terbaik untuk mencitrakan dirinya atau untuk membuat image yang disukai masyarakat, di mana hal tersebut telah dibuat jauh dari karakter realnya. Seakan merupakan kebanggaan pribadi saat seseorang memiliki followers terbanyak atau mendapatkan likes terbanyak. Fasilitas ini tidak hanya mempengaruhi psikis seseorang, tetapi juga memengaruhi kualitas emosi orang tersebut. Tidak sedikit orang yang sebal, kesal, dan iri jika orang lain memliki lebih banyak followers dibandingkan dirinya. Perasaan seperti ini adalah perasaan simulakrum. Suatu emosi yang terjebak pada dunia imitasi. Mereka marah karena dunia imitasinya tidak lebih baik dari dunia imitasi orang lain.

Sampai disini dulu yah penjelasan saya tentang simulacra. Semoga bermanfaat… ^_^

 

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

Aziz, M. Imam. 2001. Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard. Yogyakarta: LKiS

Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalasutra.

https://lingkarstudipopularculture.wordpress.com/2010/05/08/simulasi-simulacra-dan-hiperrealitas/

http://www.republika.co.id/berita/kolom/teh-anget/16/09/23/odytgn319-paradoks-dunia-simulacra

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: Memetics (Eko Wijayanto)

Bandung, 4 Juli 2017

10:30pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat menarik yang saya pinjam dari teman saya yang berinisial DS. Buku ini digunakan oleh DS sebagai salah satu referensi untuk tesis S2 nya. Kami sering ngobrol dan diskusi tentang banyak hal, dan sering pula DS berdiskusi dengan saya tentang pengetahuan yang didapatnya selama pengerjaan tesisnya. Dengan penuh semangat DS berbagi ilmu dengan saya dan meminjamkan buku ini untuk saya baca, dan dengan semangat pula saya menyambut buku ini.

Buku Memetics ini merupakan hasil disertasi penulis, Eko Wijayanto saat beliau menempuh pendidikan S3 Filsafat di Universitas Indonesia. Konon menurut cerita DS, Eko Wijayanto adalah orang Indonesia pertama yang membahas tentang Memetics ini, sebelumnya referensi mengenai Memetics ini hanya didapat dari penulis-penulis luar.

Kalian semua pasti sudah mengetahui apa itu meme, namun memetics yang dibahas disini berbeda dengan meme yang kalian sudah ketahui. Walau begitu meme dan memetics tetap ada kaitannya. Meme yang sudah sangat dikenal sekarang ini, misal meme internet itu merupakan hasil/bentuk khusus dari memetics. Sebut saja meme adalah suatu objek, yang dapat kita lihat (ada gambar, ada tulisan, dan lain sebagainya); sedangkan memetics adalah teori dasar mengenai penyebaran atau terbentuknya suatu meme tersebut.

GENETIKA

Sebelum lebih jauh kita membaca tentang memetics, kita harus ketahui lebih dahulu tentang genetika. Genetika identik dengan suatu DNA dalam tubuh manusia. DNA (deoxyribonucleic acid) berperan aktif dalam menentukan aktivitas biokimia dan sifat-sifat khusus sel. Dengan demikian, sifat-sifat bawaan manusia-seperti penyakit tertentu, kepribadian, naluri, perilaku, dan lainnya-sudah terkodekan dalam DNA. Melalui DNA inilah gen diwariskan dari generasi ke generasi. Yang unik pada manusia adalah terdapatnya replikator lain selain gen yang juga diwariskan, yakni replikator yang disebut meme. Meme meliputi segala sesuatu yang kita pelajari melalui imitasi, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan. Meme mudah menyebar, menular, dan melompat dari satu pikiran ke pikiran lain. Meme menyebarkan diri tanpa melihat apakah ia akan berguna, netral, ataupun merugikan manusia.

Contoh meme yang akhirnya menjadi sebuah kepercayaan akan Tuhan. Dahulu kala manusia prasejarah mengenal ide-ide tentang sesuatu yang lebih tinggi dari kehidupan manusia dan melakukan pemujaan terhadapnya untuk mendapatkan kesejahteraan. Seiring perkembangan zaman, meme awal tersebut dianut oleh semakin banyak orang-dan kemungkinan juga mengalami distorsi-sampai akhirnya memiliki kekuatan untuk bertahan hingga sekarang.

DNA adalah protein dalam tubuh makhluk hidup yang membawa informasi genetik yang akan memengaruhi fenotipe dan genotipe kita. DNA diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, setiap generasi tidak mungkin mewarisi DNA yang sama. Pasti terjadi sebuah eror yang disebut mutasi. Mutasi inilah yang menyebabkan perbedaan antara generasi satu dengan generasi lain.

Dengan mengamati fenotipe, kita bisa melihat bagaimana gen membentuk karakteristik individu. Fenotipe adalah karakteristik organisme yang dapat diamati secara langsung seperti warna iris, panjang ekor, warna kulit, dan sebagainya. Variasi makhluk hidup ini terjadi karena pembentukan genetik (genetic make up). Namun, ia tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik, lantaran fenotipe merupakan hasil dari interaksi antara gen dengan lingkungan. Misalnya, orang-orang yang tinggal di sekitar ekuator umumnya memiliki kulit yang lebih gelap daripada mereka yang tinggal di daerah subtropis, apalagi kutub. Hal ini merupakan sebentuk adaptasi untuk melindungi tubuh dari cahaya matahari khatulistiwa yang lebih terik ketimbang di daerah kutub.

Menurut Dawkins, meme sangat mudah menular karena kita mempunyai kecenderungan meniru orang lain, meniru pemikiran dan ucapan orang merupakan langkah pertama dalam belajar. Kita juga merasa nyaman untuk meniru ide-ide dan gaya hidup orang-orang sukses, entah dalam bentuk mode pakaian ataupun cara berbisnis, misalnya.

MEMETIKA

Memetika merupakan derivasi dari teori evolusi Darwin. Jika genetika adalah ilmu yang mempelajari gen, maka memetika adalah ilmu yang mempelajari meme. Meme memiliki daur hidup dan tersebar layaknya virus yang berpindah dan bisa dipindahkan dari pikiran seseorang ke pikiran orang lain.

Penelitian dalam buku ini menggunakan hermeneutika evolusi (evolutionary hermeneutics) sebagai metodenya. Sebagai perkakas teoretis untuk membedah kebudayaan, menurut Nick Szabo, hermeneutika evolusi merupakan metode dalam kajian budaya yang merupakan sintesis antara hermeneutika, di mana Heidegger adalah pionirnya dengan kajian meme sebagai unit informasi budaya; di mana Richard Dawkins adalah pionirnya.

Memetika adalah ilmu pengetahuan yang menyingkap meme sebagai bahan dasar pembentuk mental seseorang. Berbeda dengan makhluk hidup lain, manusia memiliki kemampuan untuk mereplikasi mentalnya ke dalam berbagai bentuk artefak budaya-seni, sastra, agama, dan sebagainya. Hal ini layaknya gen yang bereplikasi membentuk gugusan sel, kemudian tubuh yang mampu bereproduksi.

William D. Hamilton, seorang ahli biologi, mengungkapkan teori seleksi kekerabatan (kin selection). Teori Hamilton ini merupakan pengembangan teori Darwin. Seleksi alam tidak peduli apakah suatu organisme bahagia atau sengsara dalam menjalani prosesnya, karena yang penting, informasi yang terdapat di dalam gen organisme tersebut dapat terus ada secara berkelanjutan. Pada setiap makhluk hidup juga terdapat gen altruisme. Besarnya altruisme pada amasing-masing individu berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang memengaruhinya, salah satunya derajat kedekatan.

ALTRUISME

Altruisme didefinisikan sebagai sikap bersedia berkorban dan berbuat kebaikan demi kepentingan orang lain, baik dengan mengorbankan suatu usaha, waktu, pengeluaran, atau apa pun. Padahal, manusia secara instingtif dan rasional selalu mengejar kepentingan, kesenangan, dan kebahagiannya sendiri.

Dalam buku The Expression of the Emotions in Man and Animals (1872) karya Charles Darwin terdapat sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa seseorang lebih merasakan simpati kepada penderitaan orang lain daripada penderitaannya sendiri. Hal ini membawa kita pada teori Darwin tentang moral manusia. Dalam The Descent of Man, Darwin menulis bahwa seseorang yang terbiasa berbuat baik kepada orang lain akan mendapatkan balasan yang setimpal. Apabila ia terus-menerus mempertahankan perbuatan baik tersebut, maka rasa simpati pun ikut tertanam di jiwanya. Rasa simpati ini, menurut Darwin, nantinya dapat diwariskan melalui gen.

Mengacu pada tulisan Darwin tersebut, George William menambahkan beberapa hal tentang hubungan timbal balik, bahwa apabila seseorang memaksimalkan hubungan pertemanan dan meminimalkan keegoisannya, maka orang tersebut akan mendapatkan keuntungan evolusioner dan bertahan dalam seleksi alam. Menurutnya hal tersebut dapat mengambangkan optimisme dalam hubungan antarindividu.

Darwinisme, yang dinamai oleh T. H. Huxley dan dikenal juga sebagai darwinisme ortodoks, setia pada pandangan awal Darwin bahwa mekanisme seleksi alam terjadi  di level individu dan berlangsung sangat panjang sebagai akibat dari mutasi di level genetik. Sementara sosiobiologi menolak pandangan tersebut dengan argumen bahwa mekanisme seleksi alam berlangsung di level sosial atau kelompok. Sosiobiologi berdiri di atas dua tesis mendasar:

  1. Beberapa sifat tingkah laku itu diwarisi;

  2. Sifat-sifat tingkah laku yang terwarisi itu diasah oleh mekanisme seleksi alam.

MEME

Menurut Richard Dawkins, meme adalah unit kebudayaan yang dapat dipindahkan, dikomunikasikan, digandakan, dan diwariskan. Contohnya lagu, puisi, teknik matematika, mode pakaian, dan berbagai pemanfaatan teknologi. Meme memperbanyak dirinya dengan melompat dari otak ke otak melalui imitasi.

Meme yang terdapat pada pikiran seseorang secara harafiah menjadi parasit dalam otak orang tersebut. Meme mengubah manusia tersebut menjadi perangkat untuk memperbanyak diri dengan cara yang sama dengan virus yang menjadi parasit pada mekanisme genetik sel induknya.

Suatu meme dapat tetap populer karena beberapa faktor:

Pertama, sifatnya yang tak dapat dibantah. Suatu meme doa, misalnya, menjadi berlipat ganda karena terus-menerus dipanjatkan dan tampaknya dikabulkan. Doa tersebut memiliki peluang untuk dipercayai dan sedikit peluang untuk ditolak.

Kedua, murah dalam hal waktu, uang, dan usaha. Ketiga, terasa menyenangkan dan menenteramkan, tak peduli apakah doa kita berhasil atau tidak, berdoa kerap kali tetap melegakan.

Kunci pembahasan Dawkins tentang meme adalah sifatnya yang selfish (egois) dan ruthless (kejam). Meme akan berkompetisi dengan meme rivalnya untuk memperebutkan perhatian otak manusia, mengingat otak manusia dan tubuh yang dikontrolnya tidak dapat menangani lebih dari satu atau beberapa problem pada saat yang bersamaan.

Dalam menjalani replikasi diri, meme mudah berkembang dan mengalami perubahan bentuk. Akan tetapi, sebagian memeplex merupakan konsepsi kuat yang dipegang teguh sehingga sulit untuk diubah. Dawkins menyebutnya sebagai virus of mind, virus pikiran yang tertanam dalam benak dan pemikiran seseorang sehingga sulit diubah dari bentuk awalnya. Virus pikiran ini sangat efektif ditanamkan terutama pada masa kanak-kanak-jika diterapkan pada orang dewasa konsep ini kerap mengalami hambatan dalam replikasinya.

Dalam pemikiran Dawkins, meme digunakan untuk menggambarkan bagaimana prinsip darwinian menjelaskan penyebaran ide dan fenomena budaya. Baik gen maupun meme sama-sama merupakan replikator. Hanya saja, gen diturunkan melalui reproduksi biologis, sementara meme diturunkan melalui proses pembelajaran budaya atau imitasi (mimesis). Sebagaimana gen yang merupakan unit transmisi biologis, sebagai unit transmisi kultural meme juga mengalami mutasi, kombinasi, dan seleksi oleh lingkungannya. Meme juga merupakan salah satu faktor yang berdampak besar terhadap perkembangan seorang individu dalam masyarakat. Di dalam otak manusia, meme tidak hanya tersimpan sebagai informasi untuk diingat, melainkan juga menjadi alat dalam berpikir. Meme juga dapat meniru atau memindahkan apa yang ada dalam satu kepala ke kepala lain melalui suatu rangkaian sosialisasi. Meme juga bukan sekadar faktor yang membantu otak mengingat, melainkan juga membantu menanamkan suatu gagasan dalam benak individu lain melalui persuasi sehingga apa yang ada di dalam pikiran kita dapat dimengerti oleh individu tersebut.

MEME dan MEMEPLEXES

Banyak orang menganggap jiwa sebagai diri yang sesungguhnya, yang akan tetap hidup sekalipun seseorang sudah meninggal. Di sinilah muncul pandangan dualisme yang menganggap bahwa diri terdiri atas mesin yang berupa tubuh dan jiwa yang menggerakkannya. Sebaliknya, ada pula ekstrem yang berseberangan dengan pendapat itu, yang menganggap bahwa diri kita adalah keseluruhan otak ataupun keseluruhan raga.

Ketika suatu meme sudah tersimpan di dalam diri kita sebagai memori, maka ia akan memengaruhi segala tindakan yang kita lakukan. Kesadaran bahkan agak diabaikan ketika memori yang terangkai dari meme Tuhan dan meme-meme lain yang menyokongnya. Ketika orang sudah memiliki keyakinan terhadap Tuhan lantaran meme tentangnya sudah melekat benar di dalam diri orang tersebut, maka ia akan bersedia mengorbankan apa pun demi Tuhannya. Oleh karena itu, tentunya tidak gampang untuk mengontrol diri agar dapat menjadi sosok yang memiliki kesadaran penuh terhadap diri sendiri. Memori dalam hal ini merupakan fakta fisikalitas otak yang sangat terkait dengan temuan Libet mengenai readiness potential. Memori nampaknya bukan hanya mendahului tindakan kita, tapi bahkan mendahului keputusan kita untuk melakukan suatu tindakan. Gagasan ini tentu saja mengusik keyakinan umum tentang (otonomi) diri.

Terkait entitas yang kita namakan diri, kita dapati adanya dua konsep yang kerap digunakan untuk menjelaskannya:

Pertama, konsep real self yang menganggap diri sebagai entitas yang mampu bertahan sepanjang hidup dan terpisah dari otak maupun dunia luar, memiliki memori dan kepercayaan, melakukan imitasi tindakan, mengalami berbagai pengalaman dalam hidup, dan membuat keputusan.

Di sisi lain ada konsep kedua, yaitu illusory self, yang menganggap diri sebagai sekumpulan pikiran, sensasi, dan pengalaman yang disatukan bersama oleh sejarah. Menurut konsep ini ilusi tersebut berasal dari pemikiran otak ataupun sebuah fantasi.

Dalam memetika, diri merupakan memeplex besar yang terdiri atas berbagai pemikiran dan pengalaman yang mendukung tindakan sehari-hari. Memeplex merupakan sekumpulan meme yang berhimpun bersama demi keuntungan bersama dan membentuk suatu kesatuan yang dapat melakukan seleksi untuk menerima ataupun menolak meme baru yang ingin masuk. Dengan kata lain, memeplex menjadi filter bagi kita dalam berinteraksi dengan dunia luar. Agama, ideologi, maupun pendirian merupakan produk dari memeplex yang bekerja dengan sangat sistematis di dalam diri manusia. Pada titik ini kita melihat bahwa meme-meme dapat memperoleh keuntungan dengan membentuk satu asosiasi yang kemudian menjadi konsep diri seseorang.

Meme yang berhasil masuk ke dalam diri dan menjadi ide-ku atau opini-ku adalah para pemenang dalam kompetisi antar meme. Kepemilikan manusia atas sesuatu mempunyai banyak fungsi, termasuk menentukan status personal. Dalam hal ini, kepemilikan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang tanpanya kita akan merasakan kehilangan. Dengan kata lain, kepemilikan inilah yang memberi kita perasaan akan diri. Bentuk-bentuk kepemilikan ini dapat hidup dalam diri kita berkat kontribusi meme yang menjangkiti diri kita. Akan tetapi, hal ini pun menimbulkan konsekuensi: semakin kita terikat pada apa yang kita miliki; kepercayaan, opini, pilihan personal, maka kita sendiri akan kian menjadi pelindung utama bagi meme yang terkait kepemilikan itu. Apalagi semakin kompleks masyarakat yang kita tinggali, semakin banyak pula meme yang berlomba-lomba masuk ke dalam otak kita. Dengan demikian, meme kita mungkin malah akan menjadi senjata makan tuan jika kita salah memanfaatkannya.

Singkat kata, suatu selfplex, diri yang dikonstruksi oleh meme-meme; disebut sukses bukan karena ia benar, baik, atau indah, bukan pula karena ia membuat kita bahagia dan mendukung kelanjutan gen kita. Melainkan, selfplex tersebut sukses tatkala meme yang masuk ke dalam diri mendorong dan berhasil membuat kita bekerja demi kepentingan replikasi mereka. Dengan kata lain, hidup kita ini merupakan bentukan meme, di mana kita terjebak dalam tirani meme.

Meme memang tersimpan dalam otak. Setiap input yang masuk ke otak adalah sesuatu yang didasarkan pada pengalaman. Bila tidak begitu penting dan berharga, maka suatu memori akan menghilang dengan sendirinya. Namun bila inputnya besar atau memori itu penting, ia akan terus berada di otak dan mudah direkonstruksi serta diingat. Begitu pula dengan input yang berupa meme. Suatu meme berada di otak dan mudah bereplikasi jika mudah diingat.

Menurut Lamarck, upaya setiap individu untuk mencapai perbaikan dirinya merupakan sifat yang diturunkan (herediter). Kini istilah Lamarckian mengacu pada karakteristik individu yang diperoleh dalam hidupnya yang dapat diturunkan. Bila dalam hidup individu memperoleh keahlian baru, maka keahlian itu bisa diturunkan. Pandangan ini tidak terlalu cepat karena mengasumsikan keahlian akan berpengaruh terhadap gen seseorang. Hal ini terkait erat dengan fenotipe dan genotipe dalam evolusi biologis. Genotipe merupakan penyusun genetik seseorang, sedangkan fenotipe adalah karakter fisik yang nampak, seperti warna rambut atau warna kulit. Fenotipe jelas sangat bergantung  dan ditentukan oleh genotipe; namun tidak sebaliknya. Dengan demikian, jika seseorang memperoleh keahlian baru (fenotipe), maka keahlian tersebut tidak akan berpengaruh pada genotipnya.

Ketika kita meniru tingkah laku seseorang, ada sesuatu yang berpindah yang kemudian bisa terus-menerus berpindah dari satu orang ke orang lain. “Sesuatu” inilah yang oleh Dawkins disebut meme. Meme adalah segala sesuatu yang bertransmisi dari pikiran satu orang ke orang lain, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan.

FREE WILL

Kehendak bebas sebenarnya baru terjadi ketika seseorang secara sadar dan sepenuhnya bebas memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, seseorang itu harus benar-benar menjadi agen yang memiliki kewenangan untuk melakukannya tanpa campur tangan faktor lain. Dalam pandangan filsuf Daniel Dennett, kesadaran manusia hanyalah serangkaian meme yang kompleks dan besar, yang kemudian membentuk selfplex. Semua alat berpikir yang kita gunakan selama ini sebenarnya telah disediakan secara tidak langsung oleh meme.

Well readers, jika penjelasan meme diatas membingungkan, saya akan mencoba menjelaskannya dengan sederhana. Seperti yang sudah dibahas di atas bahwa meme adalah virus of mind, atau virus pikiran yang disebarkan dari pikiran (otak) satu orang ke pikiran (otak) orang yang lain. Dalam arti, meme adalah semacam ideologi, nilai-nilai, pemikiran, konsep-konsep, teori-teori, dan lain sebagainya yang digunakan oleh seseorang dan disebarkan atau dibagikan kepada orang lain melalui pikiran yang dikomunikasikan.

Seperti yang sudah kita baca di atas, meme bersaing dengan meme yang lain. Meme yang kuat (meme yang diberikan secara berulang-ulang) akan menang dan mengalahkan meme yang lain yang lebih lemah.

DS berpendapat berdasarkan buku Memetics ini bahwa meme yang paling kuat adalah meme agama, di mana meme agama sudah ditanamkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sejak masa kanak-kanak. Anak-anak ini akhirnya memiliki konsep pemikiran yang telah dibentuk oleh meme agama tersebut. Semakin sering, semakin banyak, dan semakin rutin anak tersebut menerima meme yang sama setiap saat, meme ini akan semakin kuat mempengaruhi otak/pikiran anak hingga dewasa. Eko Wijayanto sendiri menulis dalam bukunya bahwa saking kuatnya meme agama, banyak pula orang-orang yang bertindak sedemikian rupa untuk membela agamanya, dan lain sebagainya.

Selain itu, DS juga memberikan contoh lain. Misal meme bahasa, saat kita sudah terbiasa berbahasa Indonesia misalnya, lalu kita pindah dan tinggal ke daerah Jawa Barat yang berbahasa Sunda (misal 1 tahun); meme bahasa Indonesia dapat melemah, dan meme bahasa Sunda akan meningkat.

Meme dapat berupa banyak hal, meme hadir pada pikiran manusia tanpa mengetahui apakah dia berguna atau tidak, apakah akan bermanfaat atau tidak, apakah akan merugikan atau menguntungkan, dan sebagainya. Meme adalah salah satu konstruksi yang direplikasikan pada pikiran manusia. Kita semua, termasuk saya adalah bentuk dari meme. Semua yang kita lihat, semua yang kita dengar, semua yang kita pelajari merupakan meme-meme yang tersebar, masuk, dan memengaruhi pikiran kita.

Walau demikian, saya mau sedikit menambahkan walaupun kita seringkali dibenturkan atau dipertemukan oleh meme-meme yang berusaha masuk ke otak/pikiran kita, namun menurut saya kita tetap memiliki gatekeeper dalam pikiran kita yaitu berupa logika di mana kita dapat memilih untuk mengikuti meme yang sudah ditransfer atau tidak. Apapun pilihan kita tersebut tetap saja merupakan pengaruh dari meme sebelumnya yang sudah ada dalam pikiran kita dan standing still (kuat) dan tidak mudah dikalahkan dengan meme lain yang baru saja masuk ke pikiran kita.

Penjelasan saya diatas merupakan penjelasan mengenai teori meme. Nah sekarang apa yang kalian tahu tentang meme? Apakah meme yang seperti di bawah ini?

Untitled.jpg

Gambar di atas tersebut adalah meme, mari kita sebut gambar di atas sebagai meme internet. Meme internet tersebut berasal dan berdasarkan teori memetics. Meme merupakan suatu replikator. Dawkins mengidentifikasi 3 kriteria bagi replikator yang sukses, yaitu harus bisa dikopi secara akurat (fecundity), bisa dikopi dalam jumlah banyak (fidelity), dan bisa bertahan untuk waktu yang lama (longetivity). Nah, kenapa gambar-gambar di atas disebut meme, sederhananya dikarenakan telah memenuhi 3 aspek tersebut, di mana meme dapat dikopi, diperbanyak, disebarkan, dan bertahan dalam kurun waktu tertentu (lama). Gambar meme yang berupa candaan, sindiran, mengandung unsur politik, dan lain sebagainya tersebut dibuat sedemikian menarik untuk memengaruhi orang yang melihat gambar dan membaca tulisan pada gambar tersebut. Sedikit banyak kita tetap diantar pada teori meme, di mana gambar meme tersebut dapat saja memengaruhi pikiran kita dan dapat mengubah pola pikir kita.

Well readers, sampai disini dulu yah pembahasan kita mengenai memetics. Semoga bermanfaat. ^_^

With love,

Naomi Indah Sari

Source:

Wijayanto, Eko. 2013. Memetics: Perspektif Evolusionis Membaca Kebudayaan. Depok: Kepik.

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Shakespeare Vs Donald Trump

Bandung, November 24th 2016

06:00pm

I copied this article from another blog that I follow. Haven’t heard about Shakespeare for so long, and this article is interesting.

Happy reading….😁

I’ve been preoccupied with two people this year. The first, of course, is William Shakespeare. The other, alack, is Donald Trump.

I’ve avoided writing about the latter. It’s not that I don’t see the man everywhere in Shakespeare’s plays. I see him in Richard III’s Machiavellian machinations. In Richard II’s incompetence, overreach, and rashness. I see him in Iago’s Janus-faced manipulations. In Timon of Athen’s extreme egotism. In the glib sexual presumption of Falstaff as he appears in The Merry Wives of Windsor.

It’s that I’ve wanted to keep the two separated. Maybe because I’ve felt the connections were too pat, that discussing today’s politics would be such an obvious, unoriginal move. Maybe because I haven’t wanted to talk about him – because he’s all we ever talk about anymore.

You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

Or maybe it’s because, in spite of my efforts to make sense of my mundane life in 2016, I’ve ended up seeking escape in the Bard, trying to locate, somehow, even my self-divulging, self-indulging reflections in a kind of sacrosanct timelessness I want unsullied by the small, groping, orange hands of the 45th president of the United States. You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

But if there’s one thing I’ve learned from Shakespeare, it’s that all politics is personal.

***

I’m shocked. I’m angry. I’m scared. I’m eager for action – no,  this middle-class white guy isn’t pretending this essay on Shakespeare makes a meaningful difference. But I’m also longing to understand. To understand my country. To understand people I know – family, for God’s sake – who cast their vote for a bigot. To understand “what happened,” as we’ve been widely referring to Trump’s election.

And it’s this “what happened” that I’ve been stuck on when it comes to Trump and Shakespeare. “What happened?” we ask, bewildered, when Othello kills Desdemona. “How the hell did this happen?” we ask when Lear cradles a dead Cordelia. “Why in God’s name did we end up here?” when ask, beholding Macbeth’s bloodbath. “What happened?” millions of America’s are asking, dazed and gobsmacked, since November 9. The aftermath all seems so unlikely, so improbable, so dramatic. Too dramatic. Laughably dramatic.

What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary.

Like in The Winter’s Tale. In this romance play, Leontes, King of Sicilia, sees his wife, Hermione, innocently clasp hands with his lifelong friend and King of Bohemia, Polixenes. He becomes paranoid. He silences his advisers. He plots to kill Polixenes. He imprisons his wife, who is pregnant and gives birth while jailed. He wants the newborn burned until deciding to have her abandoned in the wilderness. And, oh my, the ways he talks about women: hagharlotcallathobby-horse,thing. (I’d like to say I’m fishing for Trumpian comparisons here, but no. It’s all there.) And Leontes causes so much terror and stress it ends up killing Leontes’ dear son and Hermione.

How did this happen?

The events are so hyperbolic that we tend to attribute it to larger-than-life personalities and passions, to outsized faults and flaws. Celebrities and Shakespearean villains – they’re just not like us. But we confound the outcome with the cause. What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary: “I have too much believed mine own suspicion,” Leontes plainly sums it when he first reckons with the death of his wife and son (3.2.149).

Shakespeare, in that extraordinary way the playwright takes us into that interior stage of the mind, lets us glimpse how ‘it happened’ for Leontes. As he works himself up into a frenzy, Leontes rampages:

…Is whispering nothing?
Is leaning cheek to cheek? Is meeting noses?
Kissing with inside lip? Stopping the career
Of laughter with a sigh? – a note infallible
Of breaking honesty. Horsing foot on foot?
Skulking in corners? Wishing clocks more swift,
Hours minutes, noon midnight? And all eyes
Blind with the pin and web but theirs, theirs only,
That would be unseen be wicked? Is this nothing?
Why then the world and all that’s in’t is nothing,
The covering sky is nothing, Bohemia is nothing,
My wife is nothing, nor nothing have these nothings
If this be nothing. (1.2.286-98)

What happened? How did we get here? It was a whisper. It was nothing.

***

We read Shakespeare, we often say, because of how profoundly he probes and depicts human nature. We try to distill his characters down to raw elements: jealousy, ambition, power, hesitation, arrogance, suspicion. Yes, these, but I think Shakespeare ultimately strikes a deeper vein: irrationality.

It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

We, as humans, like to think we’re rational actors. That we make decisions based on the best available evidence. That we weigh choices based on risk and reward. Which is why Shakespeare’s Lears and Macbeths and Leontes evoke so much outrage, pity, and pathos. Why wouldn’t Lear just listen to what Cordelia was saying to him? Why did Macbeth carry out his assassinations in spite of his persistent moral reservations? How could Leontes let his suspicions get so out of hand and so quickly? If only they could see what they were doing, all the suffering, all the loss, all the grief, all the blood and gore would have been avoided. I would never act like that, we tell ourselves as Lear roves the heath and Macbeth talks to imaginary daggers. This is not what I would have done, we say as Leontes, foaming with self-feeding, despotic jealousy, justifies his anger.

Which is precisely why Shakespeare’s tragic figures are so horrifying. Because we do act like them. Because we’re irrational. We turn petty grievances into catastrophes. We let slights fester into disease. We take revenge on others because we are small, broken, needy beings. All for appearing right, to be recognized, not thinking ahead to, and never actually really wanting, the wreckage our egos leave in their wake. We feel guilty when we finally get what we say we want.

As Paulina, Hermione’s faithful attendant, stands up to Leontes:

…Thy tyranny, together working with thy jealousies –
Fancies too weak for boys, too green and idle
For girls of nine – O think, what they have done,
And the run made indeed, stark mad, for all
Thy bygone fooleries were but spices of it. (3.2.177-82).

We’re Leontes, ruled by the petty, childish tyrannies of our unreason – and our blind insistence otherwise – that bemonsters, Hulk-like and Hyde-like, whispers into so much woe. It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

***

Leontes repents. Sixteen years later, magically, it turns out his baby daughter, Perdita, had survived and was raised by a shepherd in Bohemia, where Polixenes’ son, Florizel, has fallen in love with her. But Polixenes will not have his son marry some country girl and responds with all the tyrannical violence of Leontes. The lovers flee to Sicilia, where Leontes reunites with his daughter and discovers Paulina, Hermione’s attendant, has been keeping the queen alive as a statue all this time.

It’s romantic idea, America, but is it a Romance play, where what’s lost is found, what’s divided is reunited? America’s going to need some repentance. It’s going to need some time. It’s going to need a whole lot of self-government, and that starts with checking our inner, irrational autocrats.

Some fairy-tale magic wouldn’t hurt, either. “It is required / You do awake your faith,” Paulina tells Leontes’ court when Hermione’s statue comes alive (5.3.94-95). But we should remember that while Leontes cried in the chapel everyday for 16 years, Paulina was attending to the statue of her Queen every day. That doesn’t just take faith. It takes commitment  and discipline – which require self-government.

And it’s not lost on me that the person who stands up to the tyrant, who puts in the work, is a woman.

Source: 

Shakespeare, Trump, and radical experiments of self-government: The Winter’s Tale – http://wp.me/p76JYn-z1

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Alpha Female is NOT easy!

Bandung, November 20th 2016
10:45pm
Hi readers, right now I’m sharing you some points of alpha female’s characters. I heard about alpha character from my special friend. She gave me an ebook about alpha female character, but actually I still have no time to read it; until an article which written about it appeared on my facebook wall. Based on the explanation below, I think I’m an alpha female; but I shouldn’t be confident about it, I need to do some test to get to know wheter I’m an alpha female or not.

​Some men like their women submissive, sweet, feminine, and nurturing – and hey, there’s nothing wrong with that. But those character are certainly not an Alpha Female.
Alpha Females are badass bitches, it takes a very particular man to be able to handle them. Yes, they might as well admit it now: they are a handful.

Potential Alpha Female Lovers: don’t say you weren’t warned. You best know your woman before you fall head over heels for Miss Independent:

1. She will challenge you.

Not only she will challenge you, but she probably won’t forfeit too easily; she will be persistent and insistent. She will debate with you over anything from the Blasio’s new policy, to the actual color of a tennis ball (green? or yellow?), and she expects to win. Some advice: challenge her back.

2. She doesn’t need a man to make it happen.

If you’re the kind of guy who loves to feel needed all the time, this girl just isn’t for you. She is fiercely independent and prides herself on being self-reliant and self-sufficient: Miss Outta My Way. The great thing about being with an Alpha is that you won’t feel tied down because she doesn’t need you, she wants you.

3. She will be straight-up with you.

If your Alpha has a problem, you will most likely know about it. You can’t expect her to be too gentle with her words, so hopefully you’ll understand that she isn’t trying to be mean – this is just the way she is. But, hey, you won’t need to deal with the typical passive-aggressive bullshit that most girls pull!

4. She’s a do-er, not a talk-er.

Alpha’s take action, so if she says she’s gonna do something – you bet your ass, she’s gonna do it. She probably expects the same in return: if you say you’re gonna do something, you sure as hell better follow through. And if you don’t, she will…so don’t miss the boat, Mister. Hop on!

5. She doesn’t wear her Alpha on her sleeve.

Chocolates? Flowers? One of those Hallmark cards are cute. You can show how much you love her. Yeah, these things will probably make her vom a little in her mouth before it makes her heart melt. Not that she’s a total cynic, but she’s used to the doting – the lovey dovey crap that every girl wants – and in order to get her attention, you’ll need to come up with something a little more original.

6. She’s not easy.

If you think loving an Alpha Female is easy, you’re wrong. She’s difficult, competitive, and probably complicated. She gets off from being free, being in power, and will step on any man who gets in her way. She is, in fact, ab. So. Lute. Ly. Impossible.

7. But she’s definitely worth it.

Her my-way-or-the-highway attitude and complete self-competence will, at times, make you feel small. Instead, let it empower you. Let it strengthen your weaknesses, and let it feed your drive to success. She will help you learn about yourself; she will push you; she will change you; she will impact you. Overall, she will make you a better man.

Point number 1, alpha females like challenging you. But it doesn’t mean they are stubborn. They only want to know how you respon something, what’s your perception about something.

I think point number 2 is representing me. I don’t understand, but I feel uncomfortable when a man acts like I should need him all the time. I need boyfriend, yes, but I don’t like if I should act like I need him so much & depend on him. I really wanna do anything with my own way, of course with full of respect I would ask my boyfriend about something I wanna do. When I act too independent, it doesn’t mean I don’t need partner. I only need & want him understand that I’m different. So don’t treat me like other women.

And I also agree with point number 3, that alpha females don’t do “suck up” to make people happy. Alpha females like telling you the truth. If it’s right, they will say it’s right. If it’s wrong, they will stand for the right thing and don’t ever you argue with them. It doesn’t mean that alpha females are rude, maybe the exact word to describe them is “idealist”.

Point number 4, alpha females don’t talk boolshit. They will say something usefull and also do something important. Don’t talk to much boolshit to them if you don’t want them to leave you.

Point number 5, alpha females are not too cool to not recieve chocolates or flowers. Anthing you called romantic stuffs are ok. The problem is the way you give those stuff. Alpha females will be so happy to accept it, but don’t act like a “drama king”.

Point number 6, why alpha females are not easy; It’s because they want you to respect them. They want to discuss anything with you. So don’t push her to do this or that, because they have their own choices. They are not easy because they want you realize that they are worthy enough for you.

Point number 7. I bet you won’t regret having alpha females as your girlfriend or wife. They know what to think, they know what to speak, they know how to act. What you need to do is, be a great partner for them! Don’t be too careless, but also don’t be too exagerate.

Well readers, are you an alpha female? Don’t worry. Enjoy it. Enjoy your relationship, enjoy your life, enjoy everything. It’s kinda cool being an alpha female right? We have the standard, we have the values. We only need someone who will understand us that we need to love them as who we are. We’re not too feminin, we’re not too boyish. We’re just a bit different from those women. ^_^

Thank you for reading….
With Love,

Naomi Indah Sari
Source:

7 Important Things To Know Before Dating An Alpha Female

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Buku: Socrates (Sahrul Mauludi)

Bandung, 11 November 2016.

Hi readers, ga terasa uda 1 bulan lebih saya ga ngeblog. Maklum sibuk…hahaha lebih tepatnya saya belum sempat mikirin ide mau nulis apa, belum sempat baca buku, jadi belum sempat ngeblog. hehehe

Kali ini saya mau mereview suatu buku yang sarat makna dan inspirasi yang berjudul Socrates, buku ini ditulis oleh Sahrul Mauludi yang adalah seorang penulis dan jurnalis. Sebelumnya saya pernah membahas tentang biografinya Socrates di blog sebelumnya, kali ini saya lebih membahas tentang beberapa point  menarik yang saya kutip dari buku ini.

Socrates adalah orang yang baik hati dan bijaksana (sok tahu banget yah, padahal ga pernah kenalan^_^), saya merasa demikian karena dari beberapa tulisan yang saya baca tentang Socrates. Socrates membagikan nilai-nilai dan pemikirannya kepada murid-muridnya dan masyarakat Athena pada masa hidupnya, sampai dia dianggap manusia paling bijaksana di Athena pada saat itu.
Dalam buku ini, Sahrul Mauludi mengutip kalimat George Rudebusch (2009) yang mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah darah dan daging tertentu (yaitu manusianya), melainkan pikiran besarnya (great mind) yang perlu kita pahami.

Berdasarkan kutipan diatas, George ingin menekankan bahwa hal-hal yang bersifat badaniah, jasmani, manusia, darah dan daging, fisik, penampilan tidaklah penting. Yang terpenting adalah bagaimana seorang manusia berpikir, ide apa yang dimilikinya, imajinasi apa yang dimilikinya, dan apa yang dia pikirkan. Karena pikiran lah yang dapat mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan manusia.

Sebagai seorang filsuf, Socrates seringkali dianggap atheis oleh sebagian orang. Namun Socrates berusaha membela dirinya bahwa ia bukan seorang atheis dan ia tidak memiliki maksud untuk merusak pikiran kaum muda. Bahkan, menurut Socrates, apa yang dilakukannya berdasarkan perintah Tuhan. “Tuhan memerintahkanku untuk hidup berfilsafat, menguji diriku dan orang lain.”

Memang apa salahnya berfilsafat? apa filsafat menjauhkan manusia dari Tuhan? apa filsafat bermakna anti Tuhan? kalau boleh saya perjelas disini, filsafat adalah suatu cara untuk mencari, mempelajari, dan mendapatkan kebijaksanaan. Sebagai seorang penganut agama pun kita dituntut untuk menjadi umat yang bijaksana, bijaksana dalam berpikir, bijaksana dalam bertindak, bijaksana dalam berucap. Jika para penganut agama tidak bijaksana, bisa saja memiliki karakter dan pikiran yang negatif, dan tidak menghargai kemanusiaan. Bahkan Socrates sendiri mengatakan bahwa kita harus menguji diri kita sendiri dan orang lain. Dalam arti, kita tidak boleh merasa diri kita lah yang paling benar, tetapi kita diajak untuk menguji diri kita, sudah sejauh mana kita merasa benar, kelemahan apa yang kita miliki, aspek mana yang perlu kita perbaiki. Sehingga dengan demikian kita tidak bisa bermegah dan sombong atas diri kita, tetapi dengan bijaksana merendahkan diri dan menguji diri kita sendiri.

Menurut Ronald Gross, Socrates telah memperkenalkan cara berpikir baru mengenai diri dan kehidupan kita:

  1. Ia mendasarkan pada pemikiran daripada unsur spiritual. Daripada bertanya pada pendeta atau peramal sebagai panduan, Socrates menekankan menggunakan akal untuk memahami diri kita sendiri dan memecahkan masalah.
  2. Socrates mempertanyakan “kearifan konvensional” yang telah lazim dianut saat itu. Melalui diskusi yang sering ia lakukan, Socrates mempertanyakan apa itu cinta, keberanian, keadilan, persahabatan, dan seterusnya. Orang akan menjawab sesuai dengan asumsinya masing-masing. Lalu Socrates menanggapinya dengan pernyataan yang berlawanan sehingga membuat bingung lawan bicaranya; sampai akhirnya mereka mulai meragukan pendapat mereka sendiri.
  3. Socrates menjadikan diskusi atau dialog sebagai sarana pencarian. Hal ini karena memang saling membutuhkan satu sama lain untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai diri kita. Kita perlu mengemukakan dan membela pemikiran kita dan mendengarkan bagaimana tanggapan orang lain. Sering kali kita tidak betul-betul menyadarai apa sesungguhnya pemikiran dan pendapat kita sampai mendengar apa yang kita kemukakan sendiri lalu kita menyadari ternyata tidak sepenuhnya benar dan untuk itu perlu diperbaiki.

Socrates juga merevolusi nilai dengan berargumen bahwa apa yang paling membuat manusia bahagia bukanlah uang, popularitas, atau kekuasaan, tetapi keadaan jiwa seseorang. Dia merevolusi etika dengan menekankan bahwa seseorang yang baik tidak akan merugikan orang lain.

Setuju dengan Socrates bahwa kepuasan tertinggi manusia tidak akan pernah bisa didapat dari harta, popularitas, dan kekuasaan, tetapi pada jiwa. Walaupun dengan memiliki kekayaan dan kekuasaan membuat jiwa kita secara otomatis bahagia, namun itu tetap saja bukan kebahagiaan sejati. Bahagia yang demikian hanya akan berlangsung sesaat saja.

Jika seorang manusia memiliki jiwa yang sehat dan bahagia, manusia tersebut akan terpanggil hati nuraninya untuk berbuat baik. seperti yang dikatakan Socrates bahwa orang yang baik tidak akan merugikan orang lain. Catat! ^_^

Hal yang paling menarik adalah saat Chaerepon (sahabat setia Socrates) mendatangi kuil dewa Apollo dan bertemu dengan peramal (orakel), Chaerepon bertanya pada peramal itu “apakah ada orang yang lebih arif bijaksana daripada Socrates?”, lalu peramal tersebut menjawab, “Sophocles bijaksana, Euripides bijaksana, namun yang paling bijaksana dari semuanya adalah Socrates.” Mendengar jawaban peramal tersebut, Chaerepon langsung mendatangi Socrates dan menyampaikan ucapan peramal tersebut bahwa Socrates adalah yang paling bijaksana. Lalu Socrates kaget dan dengan rendah hati dia berkata, “saya bijak? mengapa saya? memangnya siapa saya?”

Respon dan jawaban Socrates sungguh memukau saya. Di Athena kala itu, semua orang yang berdarah biru dan berpendidikan berlomba-lomba ingin dianggap bijak. Karena memiliki predikat bijak di Athena pada zaman itu dianggap memiliki prestise yang tinggi. Namun Socrates tidak dengan mudah merasa bangga saat menerima kabar itu, melainkan dia berpikir dan melihat dirinya lagi, “apakah saya benar bijaksana?”.

Akhirnya Socrates menyadari bahwa dirinya disebut bijaksana bukan karena “serba tahu”, tetapi karena “ia sadar bahwa dirinya tidak tahu”, ia sadar dirinya bukanlah orang bijaksana. Sedangkan mereka yang merasa bijaksana pada dasarnya adalah tidak bijaksana karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana. Ini merupakan ironi.

Dari cerita diatas, kunci dari kebijaksanaan Socrates adalah kerendahanhati. Karena hanya orang yang rendah hati lah yang tidak merasa diri bijaksana, dan tidak merasa diri pintar. Hanya orang yang rendah hati lah yang mau bertanya, belajar, dan mencari tahu.

Socrates memiliki pemikiran yang luar biasa. Pemikiran adalah kekuatan kita, seperti yang dikatakan Robert Kiyosaki (2000) dalam bukunya Rich Dad Poor Dad mengatakan, bahwa in reality, the only real asset you have is your mind, the most powerful tool we have (dalam kenyataannya, satu-satunya aset  nyata yang anda miliki adalah pikiran anda, alat yang paling kuat yang kita miliki).

Alfred North Whithead (1929) mengatakan “fungsi dari pemikiran adalah untuk menunjang hidup.” Yang pertama untuk hidup (to live), kedua untuk hidup dengan baik (to live well), ketiga untuk hidup lebih baik (to live better).

Dalam buku ini kita diajak untuk berpikir kritis, berpikir kreatif, berpikir mendalam, dan berpikir positif. Karena berpikir positif itu baik dan bermanfaat, sementara berpikir negatif itu merusak. Dengan berpikir positif kita bisa mengembangkan ide, kreatifitas, pengetahuan, dan hal-hal bermanfaat lainnya, sementara dengan berpikir negatif menimbulkan perpecahan, konflik, tekanan batin, merusak emosi, dan lain sebagainya.

Menurut Napoleon Hill, orang-orang paling sukses di dunia telah memperbaiki titik lemah tertentu dalam kepribadian mereka sebelum mereka mulai sukses. Kelemahan ini antara lain sikap intoleran, serakah, iri, curiga, dendam, egoisme, sombong, kecenderungan untuk mendapatkan apa yang tidak mereka lakukan, dan kebiasaan menghabiskan lebih daripada apa yang mereka dapatkan.

Ehm….bagus sekali jika analisa Napoleon Hill ini benar terjadi. Namun pada kenyataannya kok banyak orang sukses, atau pemimpin yang karakternya berbanding terbalik dengan analisanya Napoleon Hill. hehehehe Tapi tentu saja saya sangat setuju jika kita mau sukses, kita harus memperbaiki kepribadian kita, setidaknya mereduksi sifat-sifat atau perilaku-perilaku negatif kita, sehingga kita dapat memiliki integritas dan dapat bekerja, berusaha, dan menggapai sukses melalui integritas yang dimiliki.  Bahasa agamanya TOBAT! wkwwkkwwkk ^_^

Menurut Gardner, seseorang dengan kecerdasan personal mampu mengenali dirinya dengan lebih baik maupun dengan orang lain. Gardner menulis bahwa inti pengetahuan diri (personal knowledge) terdapat dua jenis informasi:

  1. Kemampuan kita untuk mengenal orang lain; seperti mengenal wajah, suara dan kepribadian mereka, menanggapi mereka dengan tepat, terlibat dalam aktivitas mereka.
  2. Kepekaan kita terhadap perasaan kita sendiri, harapan, dan ketakutan.

Bagi Socrates pengetahuan kita tentang diri sangatlah sedikit dan perlu terus belajar. Manusia perlu untuk menyadari kebodohannya agar terus belajar. Menurut Socrates, kebijaksanaan sejati datang kepada kita ketika menyadari betapa sedikitnya pemahaman kita atas kehidupan, diri sendiri, dan dunia sekeliling kita. Socrates menambahkan bahwa hidup yang tak teruji adalah hidup yang tak bermakna.

Tidak seperti kaum sofis yang mengajarkan kebenaran dan kebijaksanaan, agar orang-orang menjadi pandai dan mengetahui banyak hal, Socrates malah mengingatkan bahwa kita tidak tahu banyak hal. Dia malah memuji kesadaran akan ketidaktahuan sebagai kebijaksanaan, orang yang bijaksana bukan orang yang serba tahu, tetapi mereka yang sadar akan ketidaktahuannya, sadar akan kebodohannya, lalu mau terus belajar.

Dalam konteks ini, Socrates bukan memuji kebodohan dan meremehkan pengetahuan, tetapi mengajarkan ilmu padi, semakin pandai semakin rendah hati, semakin terpelajar semakin tahu diri, semakin luas pengetahuan semakin senang belajar, semakin mendalam wawasan semakin suka mendengarkan. Itulah kebijaksanaan.

Dengan demikian kesadaran akan keterbatasan diri merupakan sikap rendah hati yang bijaksana. Sementara itu merasa diri bijak adalah sikap yang naif, cenderung merasa puas dan hebat. Socrates mempraktikkan jalan hidup yang bermakna. Tidak dengan kemewahan, tetapi dengan kebenaran, tidak dengan pemuasan nafsu jasadi, tetapi dengan kebajikan, tidak dengan bersenang-senang, tetapi dengan pemikiran dan pengetahuan.

Untuk membangun kualitas jiwa kita, kita harus memiliki kecerdasan spiritual. Kita harus melatih jiwa kita dan mengajarkan jiwa kita hal-hal yang baik dan positif. Kita harus berpikir, berfilsafat, dan menguji diri. Walau begitu Sahrul menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh.

Well readers, sampai disini dulu yah. Thank you for reading.

With love,

Naomi Indah Sari ^_^

Source:

Mauludi, Sahrul. 2016. Socrates: Inspirasi dan Pencerahan untuk Hidup Lebih Bermakna. Jakarta: Elex Media Komputindo.

 

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Buku: Motherless Daughters (True Story), Hope Edelman

Bandung, 1 Oktober 2016 

Pukul 11:30 WIB 
Hi readers, berhubung saat ini saya sedang dalam perjalanan Bandung-Bekasi dengan menggunakan bis ekonomi, dan saya bingung mau ngapain selama perjalanan; jadi saat ini saya memilih untuk membahas buku yg sudah selesai saya baca & ada di dalam tas saya.

Kali ini saya mau mereview salah satu buku kisah nyata yg dikaji dalam ilmu psikologi, yg berjudul “Motherless Daughters: Gema Suara Perempuan yang Kehilangan Ibu” yg ditulis oleh Hope Edelman. 
Di halaman awal bab pertama tertulis: 

Ibu yg kehilangan putrinya, atau sebaliknya putri yg kehilangan ibunya, adalah tragedi penting yg dialami oleh wanita.” -Adrienne Rich, Of Woman Born- 

Saya tidak menyadari bahwa kehilangan ibu adalah salah satu faktor yg memengaruhi psikis seorang anak. Sampai akhirnya saya menemukan buku ini dan mulai menganalisa diri saya sendiri sebagai salah satu anak yg tidak pernah tinggal bersama ibu. Fisik ibu berada jauh dari saya dan kami tidak pernah tinggal bersama, batin & emosional antara ibu dan anak pun tidak pernah terjalin karena kurangnya kedekatan, hanya ada “dingin“.

Beberapa ahli terapis percaya bahwa anak-anak yg kehilangan orangtua dengan jenis kelamin yang sama, selama tahap perkembangan berikutnya akan menghadapi masa-masa paling sulit. Terjebak di antara perubahan dan penyesuaian, anak-anak ini sering berusaha keras menghindari perasaan sedih mereka.

Anak-anak yg kehilangan ibu harus menghadapi perubahan dan akibat apa pun yg mengganggu. Namun, benteng pertahanan secara psikologis yg dikembangkan oleh anak itu, lebih rentan dan primitif dibanding pertahanan orang dewasa. Sementara orang dewasa memperlihatkan kedewasaan secara kognitif dan emosional terhadap situasi kehilangan, anak-anak biasanya mengambil langkah mundur, memproyeksikan, mengenalinya atau berbalik melawan dirinya sendiri pada tingkat yg lebih dramatis. 

Perkembangan yg tertahan (Arrested Development) didefinisikan bahwa kehilangan ibu menciptakan tantangan perkembangan yg penting bagi anak. Mungkin ia terpaksa bertanggung jawab pada dirinya sendiri, dan menyebabkannya meningkatnya beberapa bidang dalam perkembangannya.

Akibatnya, orang dewasa yg mempertahankan beberapa sifat pada perkembangan sebelumnya, merasa seolah bagian dari dirinya masih terjebak di masa kecil dan remajanya.

Anak yg perkembangannya tertahan di bagian tertentu, akan mengalami gangguan emosional yg berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yg secara normal terkait dengan urutan waktu usia. Anak-anak yg kehilangan ibu dianggap memiliki kesulitan mencapai kedewasaan secara intelektual dan emosional. 

Saya kurang setuju jika Hope mengatakan bahwa anak-anak yg kehilangan ibu tidak dewasa secara intelektual dan emosional, karena saya tidak merasa seperti itu. Saya bersyukur sekali dengan kehidupan kanak-kanak saya tanpa orangtua karena itu membentuk saya menjadi pribadi yg dapat belajar sendiri, baik dalam bidang akademik, non-akademik, kehidupan sosial dan sebagainya. Selain itu emosional saya juga cukup stabil karena saya mengajari diri saya sendiri untuk menerima kehidupan tanpa harus complaint, belajar bersyukur, tidak manja, serta berpikir dewasa dalam belajar dan bekerja. Jadi menurut saya tidak semua anak tak beribu gagal dalam mengembangkan intelektual & emosionalnya.

Menurut Hope, anak-anak yg kehilangan orangtuanya memperlihatkan perilaku yg lebih agresif dan mengganggu dibandingkan kawan-kawan sebayanya yg tidak kehilangan. Mereka jg lebih menutup diri dalam pergaulan, dan menderita akibat penilaian diri yg rendah.

Beban perkembangan remaja yaitu dalam mengembangkan hak untuk mandiri, berhadapan dengan figur yg dapat diandalkan, belajar untuk hidup dalam pertentangan dan kebimbangan, mengembangkan kemampuan untuk menumbuhkan keakraban, mengokohkan identitas seksual, belajar mengendalikan emosi, mengembangkan cara penilaian diri, dan mempertahankan kesadaran akan keadaan berkecukupan dan kemampuan; semuanya dapat terhambat atau terhenti disebabkan oleh kehilangan ibu.

Anak-anak yg kehilangan ibu menganggap diri mereka kurang pandai bergaul dan tidak dapat mengendalikan nasib mereka dibanding teman-teman mereka yg tidak pernah mengalami kehilangan. 

Jika saya pribadi, saya merasa cukup pandai bergaul sejak saya duduk di bangku sekolah hingga saat ini. Jika ada anak tak beribu yg dianggap kurang pandai dalam bergaul, mungkin saja dikarenakan karakter anak tersebut yg cenderung pemalu atau melankolis. Tidak semua anak tak beribu memiliki karakter yg sama, sehingga tidak bisa digeneralisasikan secara umum.

Selama masa remaja yg normal, ketika gadis remaja mengendurkan ikatan dengan ibunya, ia akan mencurahkan lebih banyak energi pada kelompok teman-teman sebayanya dan mungkin juga kekasihnya. 

Yup, untuk kutipan diatas saya setuju bahwa anak-anak tak beribu atau pun anak-anak yatim piatu pasti merasakan kekosongan dalam dirinya yg belum pernah diisi oleh figur orangtua. Dengan demikian anak-anak tersebut akan mencari kenyamanan baik dalam hubungan pertemanan, persahabatan, mau pun hubungan romantika.

Terpisah dari figur ibu selama masa remaja, merupakan bagian pokok dari proses yg mengubah gadis remaja menjadi wanita dan penuh percaya diri. 

Setuju dengan Hope, bahwa berpisah dari figur ibu dapat membuat seorang anak mulai menggali kemampuan dalam dirinya dan menjadi seseorang yg penuh percaya diri.

Para remaja, ketika mengalami perpisahan dari keluarganya secara simbolis, sebenarnya memiliki banyak kesamaan dengan perasaan anak yatim piatu, yaitu perasaan terasing, pengasingan, dan rendahnya harga diri; kondisi rumah yg penuh gejolak; dan rasa takut ditinggalkan oleh kelompok yg berbeda. 

Anak-anak yg kehilangan ibu juga sering menghindari pembicaraan tentang kehilangan atau menyatakan kemarahan, depresi, rasa bersalah, kegelisahan, atau kebingungan pada teman-temannya, dengan mengadopsi cara bertahan yg tenang dan tidak emosional. Ini dilakukan sebagian untuk menyesuaikan diri terhadap perilaku kelompok “dapat diterima”, tapi juga sebagai tindakan pertahanan diri untuk melindungi dirinya dari perasaan gelisah dan dukacita yg meliputi. Namun, semakin anak remaja itu terlihat tenang, semakin besar resiko untuk mengalami dukacita yg belum terpecahkan dan bertahan lama. 

Pada waktu yg sama, anak itu mengesampingkan emosi-emosi yg sering dialami oleh orang yg berkabung, dan juga mengeluarkan sejumlah besar energi untuk terlihat normal pada dunia luar. Seolah ia berkata, “Lihat! Ini aku, kapten regu sepak bola, bendahara kelas, siswa terhormat, dan pemimpin drama sekolah. Tak ada yg salah dengan diriku.” 

Wanita yg kehilangan ibunya pada usia 20-an sering menjadi anak perempuan yg paling diremehkan dan disalahartikan. Ia salah seorang yg mungkin tinggal di luar rumah, telah merawat dirinya atau keluarganya sendiri; yg mungkin juga membuatnya putus asa dan bingung ketika peristiwa kehilangan ibu memaksanya berubah menjadi kubangan emosional. 

Hope Edelman menulis bahwa ada 74% anak perempuan berkata bahwa kehilangan ibu adalah salah satu hal tersulit yg pernah mereka hadapi, dan sisanya menganggap kematian ibunya sebagai berkat. 

Ibu yg mengabaikan anak-anaknya meninggalkan setumpuk pertanyaan: Siapakah ia dulu? siapakah ia sekarang? Di mana dia sekarang? Kenapa ia pergi? Seperti anak yg ibunya meninggal, anak-anak yg diabaikan hidup dengan perasaan kehilangan, namun ia juga berjuang dengan pengetahuan bahwa ibunya masih hidup tapi tak dapat terjangkau dan tak tersentuh. Kematian memiliki ketegasan tentang keadaan yg tak dapat ditarik kembali, sementara keadaan ditelantarkan tidak. 

Sebagai akibatnya, anak itu sering mengembangkan perasaan rendah diri dan tidak layak bahkan lebih nyata dibanding anak-anak yg ibunya telah meninggal. 

Kehilangan karena kematian, sesulit apapun, tidak akan melibatkan penolakan,” Gina Mireault, Ph.D., asisten prof. Psikologi di Johnson State University. 

Kalau ibu kita meninggal, kita bisa mengenalinya. Kita bisa berkata, “mama meninggal”, dan bukan “mama pergi”, atau “mama kabur dengan lelaki lain.” 

Sebagai ahli terapi dan orang yg bertahan hidup karena kehilangan ibu, menurut Hope ada sesuatu yg lebih berharga kalau memiliki orangtua yg sudah meninggal dibandingkan memiliki orangtua yg pergi, hampir menyerupai sesuatu yg lebih bermartabat. 

Entah ibu meninggalkan anaknya secara fisik ataupun emosional, akibatnya tetap saja seperti sebuah serangan terhadap harga diri anak itu.

Dari beberapa paragraph diatas, saya menyimpulkan bahwa ibu yg meninggal lebih bermartabat & terhormat dibandingkan ibu yg pergi, dibandingkan ibu yg menelantarkan atau mengabaikan anaknya secara fisik ataupun mental.

Judith Mishne, dalam artikelnya “Parental Abandonment: A Unique Form of Loss and Narcissistic Injury“, menerangkan bahwa anak-anak yg ditelantarkan dapat menderita kehilangan empati, depresi, perasaan hampa, kenakalan remaja, kecanduan, kemarahan tak terkendali, tindakan berdusta yg tak wajar, prasangka hypochondriacal (kegelisahan yg tidak wajar terhadap kesehatan tubuh seseorang), dan khayalan diri yg terlalu besar. 

Anak perempuan yg ditelantarkan, ditinggalkan dengan perasaan marah, penuh kebencian, dan kesedihan mendalam, Ia juga memiliki luka emosional yg diserahkan, disimpan, ditinggalkan atau dihilangkan. 

Ilusi anak perempuan yg ditelantarkan oleh sosok ibu khayalannya sangat sulit berkaitan dengan kenyataan menyakitkan tentang ibu kandungnya yg memilih untuk meninggalkan anaknya. 

Dengan demikian hal tersebut membuktikan bahwa ketika seorang ibu meninggalkan anaknya secara mental, anak itu bahkan merasa lebih kuat dibanding anak yg ibunya meninggal

Setelah Hope menganalisa hasil terapi dari beberapa wanita-wanita yg kehilangan ibu, mereka mulai memahami bahwa ibu mereka yg kurang beruntung, tidak layak, merasa tidak aman, tidak berkuasa untuk menyakiti mereka lagi. Kalau ibu mereka terus berperilaku yg bersifat merusak, dengan mudah mereka dapat pergi menjauhinya. 

Dalam audiotapeWarming the Stone Child: Myth and Stories About Abandonment and the Unmothered Child,” Clarissa Pinkola Estes, Ph.D (psikolog dan penulis) menjelaskan bahwa ditelantarkan tanpa asuhan dan perhatian ibu benar-benar neraka bagi orang yg sensitif, karena mereka adalah orang-orang yg digambarkan seperti ini, jika anda sekedar menggaruknya, akan berdarah. Mereka seperti orang-orang tanpa kulit. Berjalan berkeliaran dengan urat-urat saraf terlihat jelas. Secara individu mereka tidak mampu bangkit kembali dari kehilangan dengan cepat. 

Anak perempuan yg merasa dirinya mampu dan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri sepeninggal ibu, sering mencapai tingkat penguasaan atas lingkungannya. Ia dapat bertindak dan bereaksi terhadap kehilangan itu, ia dapat mengembangkan penghargaan diri dan kepercayaan diri tertentu sehingga membantu melindungi diri menghadapi tekanan berikutnya. Ia dapat berpegang pada sumber alami yg dimilikinya sendiri. 

Istilah tepat yatim piatu mencerminkan keunikan kondisi kemampuan untuk memahami kesendirian. Dianggap tak berharga dan tak bernilai, dipandang remeh oleh orang bodoh, tetapi dicintai oleh orang yg bijak. Bahkan kemudian, dipercayai bila para yatim piatu menyimpan pengetahuan khusus dan memperoleh pemahaman yg tidak dicapai orang lain. 

Beberapa ahli teori tentang hubungan secara umum membagi individu ke dalam tiga kelompok: 

  1. Mereka yg membentuk hubungan kuat dengan orang lain setelah dewasa;
  2. Mereka yg gelisah & memiliki sikap penolakan terhadap hubungan sosial dan asmara mereka; dan
  3. Mereka yg menghindari kedekatan dengan orang lain. 

Dari 3 point diatas, sepertinya mungkin saja saya ada berada pada point nomor 1, 2 dan 3. Hahaha Sepertinya saya merasakan seluruh point-point tersebut, hanya saja dengan persentase yg berbeda-beda. Untuk point mana yg paling dominan bagi saya, saya harus melakukan berbagai tes untuk dapat mengetahuinya sehingga tidak asal tebak saja. Hehe

Dalam buku ini pun dibahas efek ketertarikan sesama jenis yg dialami oleh anak-anak perempuan tak beribu. Anak perempuan tak beribu yg memilih wanita sebagai kekasih, mencari keamanan secara emosional yg sama seperti mereka memilih pria, juga menemukan pelipur lara dalam diri mereka yg menawarkan stabilitas dan perhatian yg tetap. 

Anak perempuan tak beribu membicarakan tentang ruang-ruang kosong. Tentang potongan-potongan yg hilang. Kehampaan ini mengubah anak-anak yg tidak mendapat perhatian dan asuhan menjadi orang yg menimbun emosi.

Ketika unsur maternal hilang dari perkembangan sifat-sifat kewanitaannya, anak itu tumbuh besar dengan  mengambil gagasan dan kebiasaan orang untuk diterapkan pada diri sendiri, kekuasaan dan otoritas tanpa mengelompokkan jenis kelamin; bukan hanya keberadaan secara sosial dan politis yg digambarkan oleh istilah wanita, tapi juga sebagai wanita itu sendiri.

Ketika anak perempuan tak beribu menemukan dirinya ditinggalkan bersama seseorang yg merawatnya, yg awalnya tak berdaya akibat dukacita atau tak mampu memenuhi tuntutan untuk membesarkan anak, ia perlu mengembangkan kepercayaan diri dan tidak perlu bantuan untuk bertahan hidup semasa kanak-kanak dan remaja sebagai wanita seorang diri. Ia harus belajar bagaimana cara menjaga dirinya sendiri. 

Kemandirian yg tangguh dan kemampuan mencukupi keperluan sendiri adalah perisainya, mendorong maju seperti memperlihatkan dirinya pada publik bahwa ia punya kemampuan; meskipun kehilangan dan menarik diri sebagai perlindungan dirinya melawan kesepian yg menghancurkan yg dirasakannya. 

Anak-anak tak beribu percaya bahwa bergantung terlalu banyak pada orang lain, berarti menanggung resiko terluka akibat kehilangan lebih jauh lagi. Ada rasa khawatir yg dirasakan karena telah terbiasanya mandiri & mengandalkan diri sendiri, yg kemudian jika kemandirian itu sirna dan mulai bergantung dengan orang lain; misal mengharapkan dan bergantung akan kasih sayang yg lebih dari kekasih, hal ini dianggap akan berdampak buruk dan akan menimbulkan kekecewaan dan kehilangan yg lebih buruk lagi dari yg pernah dialaminya.

Ada pun salah satu istilah yg disebut dalam buku ini, yaitu Matrophobia (Adrienne Rich dalam Of Woman Born), adalah perasaan takut anak perempuan untuk menjadi ibu. Perasaan takut ini disebabkan karena anak-anak perempuan tak beribu tidak pernah melihat metode-metode atau pun cara-cara bagaimana seorang ibu merawat, mendidik dan membesarkan dirinya. Sehingga timbul rasa khawatir bahwa ia tidak dapat menjadi ibu yg baik karena tidak memiliki pengalaman melihat figur seorang ibu. Kalau saya pribadi, saya yakin sekali akan dapat menjadi ibu yg baik; karena saya menyadari bahwa ketiadaan seorang ibu secara fisik dan mental sangat tidak baik bagi perkembangan psikis & emosi seorang anak. Saya ingin membuktikan bahwa saya dapat menjadi ibu yg lebih baik daripada ibu saya. ^_^

Phyllis Klaus berkata bahwa semua tragedi dalam kehidupan bisa menjadi papan loncatan untuk kreativitas dan pertumbuhan, dan mengatasi tragedi itu dengan cara yg sangat sehat. 

Yup, tidak semua anak-anak tak beribu berdampak negatif bagi hidupnya; banyak pula anak-anak tak beribu yg terbukti cerdas dan kreatif. Berikut ini beberapa tokoh sukses yg kehilangan ibu di masa kanak-kanaknya:

Dorothy Wordsworth (pada waktu kelahiran), Harriet Beecher Stowe (saat 5 tahun), Charlotte, Emily, dan Anne Bronte (saat usia 5, 3, dan 1 tahun); George Eliot (saat usia 16 tahun), Jane Adams (saat usia 2 tahun), Marie Curie (saat usia 11 tahun), Gertrude Stein (saat usia 14 tahun), Eleanor Roosevelt (saat usia 19 tahun), dan Marilyn Monroe yg menghabiskan masa kanak-kanaknya menjadi anak angkat dan berada di panti asuhan. 

Selain itu ada pula para negarawan (Thomas Jefferson, Abraham Lincoln), seniman (Michel Angelo, Ludwig van Beethoven), ahli pemikir (Charles Darwin, Georg Hegel, Immanuel Kant), dan penulis (Joseph Conrad, Yohanes Keats, Edgar Allan Poe).

Tetapi ada juga studi-studi lain yg mengungkapkan banyaknya tingkat kehilangan ibu yg tinggi di antara para kriminal dan narapidana. Itu memperlihatkan bahwa anak-anak yg kehilangan orangtua secara umum meresponnya dengan satu dari dua cara: mereka mengembangkan perasaan fatalisme (kepercayaan bahwa nasib menentukan segala sesuatu yg terjadi), mengharapkan, bahkan mendorong terjadinya peristiwa-peristiwa yg tidak menguntungkan di masa depan, atau menerimanya, menolaknya, dan menemukan tekad dan motivasi untuk melanjutkan hidup.

dr. Denes Raj menjelaskan bahwa para penganut filsafat eksistentialisme menganggap untuk mencapai keberhasilan, kita harus sadar akan keterbatasan diri kita sendiri. Kecuali jika kita merasa bahwa kehidupan berada di antara dua jangkar: kelahiran dan kematian; kita dapat memenuhi apa pun yg kita inginkan. Para penganut filsafat eksistentialisme memahami bahwa hidup ini bukan tanpa batas. Setelah orangtua meninggal, mereka akan memandang ke sekeliling dan bertanya, “Apa yg tersisa untuk kulakukan?”, lalu mencoba melakukan itu. 

Selain tokoh-tokoh sukses yg sudah disebut diatas, ada pula Jane Fonda (saat usia 15 tahun) dan Roma Downey (saat usia 10 tahun) ketika ibu mereka meninggal, penyanyi country Shania Twain (saat usia 22 tahun), aktris Mariska Hargitay (saat usia 3 tahun), dan penulis Jacqueline Mitchard (saat usia 19 tahun). Carol Burnett dibesarkan neneknya, sementara ibunya pecandu alkohol. Liza Minelli (saat usia 23 tahun) ketika ibunya over dosis. Sejak usia 3 tahun lebih, Maya Angelou lebih sering tinggal bersama neneknya di Arkansas. Oprah Winfrey dan Madonna tumbuh besar tanpa kehadiran ibu mereka. Ruth Simmons (kepala Brown University) berusia 15 tahun ketika kehilangan ibunya. Jackie Joyner Kersee (saat usia 18 tahun), Sarah Ferguson (Duchess of York terdahulu) tumbuh dewasa tanpa kehadiran ibu. Aktris Meg Ryan (saat usia 14 tahun) ketika orangtuanya bercerai, Doris Kearns Goodwin (penulis dan ahli sejarah) berusia 13 tahun ketika kehilangan ibunya. Aktris dan komedian Janeane Garafolo (saat usia 20 tahun), atlet sepatu roda Oksana Baiul (saat usia 13 tahun), Rosie O’Donnell (komedian dan pembawa acara talkshow) berusia 10 tahun ketika ibunya meninggal. 

Bukan kebetulan kalau wanita-wanita tak beribu meraih puncak dalam bidang mereka masing-masing. Banyak kondisi mereka yg menguntungkan untuk mencapai prestasi; kondisi-kondisi di mana wanita-wanita lain khususnya harus bekerja keras untuk meraihnya; yg sudah ada dalam kehidupan perempuan tak beribu, menjadikannya calon berbakat alami untuk kreativitas, prestasi, dan kesuksesan yg superior.

Jika boleh saya menambahkan satu tokoh lagi yaitu saya sendiri, Naomi Indah Sari ditinggalkan ibu menikah lagi dan pindah ke kota lain saat saya berusia 6 tahun, hampir jarang sekali ada telepon rutin atau jalinan komunikasi darinya. Namun saya ada saat ini sebagai salah satu anak perempuan yg berhasil. Berhasil disini yaitu dalam arti saya tidak pernah merokok, tidak nge-drugs, tidak hamil diluar nikah (semoga tidak terjadi); dan saya pun bersyukur dan bangga terhadap diri saya sendiri karena saya cukup berprestasi saat saat sekolah dan kuliah, dan tentu saja saya juga bangga karena saya memiliki pekerjaan yg terhormat. 

Dengan demikian saya ingin mematahkan mitos bahwa anak broken home biasanya nakal, pergaulan bebas, jadi preman, memakai narkoba, menjual diri, dan hal-hal negatif lainnya. Saya meng-encourage para pembaca yg mungkin saja seorang anak yatim piatu, khususnya anak tak beribu, anak korban perceraian, anak korban pelecehan seksual, anak korban kekerasan, anak yg ditinggalkan, ditelantarkan dan diabaikan; satu pesan saya bahwa hidup kita tidak berhenti di saat kita tidak memiliki orangtua, hidup kita tidak berhenti saat orangtua kita ada secara fisik namun tidak pernah mendukung secara moral, hidup kita tidak berhenti saat kita terlanjur dilecehkan secara seksual, hidup kita tidak berhenti saat tubuh kita sudah digerogoti oleh narkoba. Hidup kita adalah tanggung jawab kita yg bisa kita mulai detik ini juga untuk merubahnya menjadi lebih baik. Jika banyak sekali orang yg underestimate atas kita, ini saatnya kita membuat mereka untuk menelan ludah mereka sendiri bahwa kita tidak seperti yg mereka katakan. Kita berharga dan kita pasti menjadi pribadi yg lebih baik. Mari buktikan kepada mereka yg meninggalkan, menelantarkan dan mengabaikan kita bahwa mereka harus menyesal telah melakukan itu.

Hope Edelman menutup buku ini dengan beberapa kalimat yg ditulisnya mewakili para anak perempuan tak beribu:

Kehadirannya memengaruhi siapakah saya sebelumnya,

dan ketidakhadirannya memengaruhi siapa diri saya sekarang. 

Hidup kami dibentuk dari banyaknya orang-orang yg meninggalkan kami seperti juga mereka yg tetap bertahan hidup.

Kehilangan adalah warisan kami. 

Kemampuan untuk memahami segala sesuatu adalah hadiah kami. 

Memori adalah penuntun kami.


Thank you all for reading… 

With Love,

Naomi Indah Sari 

Source: 

Hope Edelman. 2010. Motherless Daughters: Gema Suara Perempuan yang Kehilangan Ibu. Jakarta: Elex Media Komputindo

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari