Buku: Supernova 1 (Kesatria, Putri & Bintang Jatuh), Dee Lestari

Bandung, 6 Agustus 2017

02:15pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat terkenal dan fenomenal di Indonesia yang ditulis oleh mantan penyanyi zaman saya SD, yaitu Dee Lestari. hehehehe Buku ini adalah serangkaian buku-buku yang diberi nama “Supernova” yang terdiri dari 6 seri. Nah yang mau saya share sekarang adalah buku seri pertama yang berjudul “Kesatria, Putri & Bintang Jatuh”.

Kalau boleh berkomentar dulu, ini bukunya agak sedikit rumit dan membingungkan yah. Saya sampai harus lihat-lihat lagi halaman-halaman berikutnya supaya benar-benar nangkep maksud/ pesan dari buku ini. Saya tertarik mau baca buku ini karena beberapa orang bilang ini bukunya bagus banget dan ditulis dengan sangat cerdas oleh Dee Lestari, sampai-sampai waktu saya search buku ini via online (ceritanya mau beli di toko buku online), ada orang yang mention saya terus semangat banget rekomendasiin buku ini ke saya, katanya “Wajib banget baca kak. Sumpah si Dee pinter banget. Semua ilmu ada di buku supernova”. Ok ok, akhirnya setelah keliling semua toko buku di Jakarta (tempat saya tinggal sebelum pindah ke Bandung) tidak ketemu buku supernova 1 ini atau biasanya disingkat dengan “KPBJ”, dan akhirnya saya memutuskan beli online.

Well, waktu awal saya baca buku KPBJ ini, saya langsung tertarik karena Dee menggunakan pasangan homoseksual sebagai tokoh utama buku ini, yang bernama Dimas & Reuben. Kenapa saya tertarik? Karena di buku ini si Dimas & Reuben diceritakan sebagai pasangan homoseksual yang berintelektual, alias berpendidikan. Ide ini bagus banget untuk membangun citra bahwa homoseksual sama seperti orang normal yang berpendidikan tinggi, cerdas, intelek, kreatif, dan mampu berkarya. Tidak seperti stereotype yang sudah melekat di masyarakat bahwa homoseksual adalah menjijikkan, tidak berpendidikan, tidak bermoral, bahkan phedofil.

Selain itu, sangat menarik karena Dee menulis cerita di dalam cerita. Maksudnya, Dee menciptakan Dimas & Reuben dalam bukunya, lalu Dimas & Reuben menulis juga tentang tokoh-tokoh lain yang diciptakannya dalam tulisannya. Ini sangat menarik walaupun sedikit membingungkan karena setting ceritanya lompat-lompat ke cerita yang berbeda, namun masih saling terkait.

Kenapa Dee dipuji-puji sangat cerdas melalui buku ini, karena buku ini menyajikan istilah-istilah atau membahas teori-teori yang beragam seperti sastra, filsafat, sains, fisika, kimia, matematika, biologi, anatomi, psikologi, dan lain sebagainya. Seakan Dee berusaha menggabungkan semua ilmu tersebut dalam suatu kehidupan manusia, yang memang saling berkaitan satu sama lain.

Dalam buku ini tokoh Reuben mengatakan, “bahwa kebenaran yang utuh baru kamu dapatkan setelah melihat kedua sisi cermin kehidupan. Tidak cuma sebelah. Dan, cermin itu sangat dekat”. Lalu ia memperjelas bahwa cermin tersebut berada di setiap atom tubuh kita sendiri.

Kalau boleh saya mendefinisikan versi saya sendiri, mungkin maksudnya adalah saat kita mau mencari suatu kebenaran jangan hanya melihat dari satu sisi saja, atau satu aspek saja, atau satu paham saja, atau satu ideologi saja, atau satu agama saja, atau satu ide saja, tetapi pelajarilah, analisalah, lihatlah dari dua sisi yang berbeda, analisalah. Dengan demikian kita akan menemukan kebenaran. Jika kita hanya melihat dari sisi kita sendiri, atau melihat yang kita yakini saja, maka kebenaran tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Adapula dialog dimana Reuben bercerita pada Dimas bahwa orangtua Reuben sudah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang gay, lalu Reuben berkata, “Kalau sampai saya dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka (orangtua Reuben) bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya, kalau saya dianggap produk gagal, berarti mereka juga”.

Wkwkwkwkwkwkwkkwk Dialog ini lucu sekaligus menyindir. Seakan berkata bahwa tidak ada manusia yang merupakan produk gagal, jika seorang manusia adalah heteroseksual, bukan berarti juga dia sempurna. Artinya ya semua manusia diciptakan dengan pribadi yang unik & layak, jika ia terlahir cacat tubuh misalnya, bukan berarti dia produk gagal, dia tetap sempurna. Karena Tuhan pasti adil, ada hal yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain dan begitupun sebaliknya.

Oh iya, tokoh Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh adalah tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Dimas & Reuben, mereka yang menulis cerita atau novel tentang itu. Diceritakan seorang Kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri, namun putri tersebut bukanlah seorang wanita single, namun milik seorang pangeran. Kesatria & Putri sangat sedih & tersiksa karena kenyataannya mereka saling mencintai. Lalu ada tokoh Bintang Jatuh yang diciptakan sebagai seseorang yang harus sepenuhnya mewakili area abu-abu. Teori relativitas berjalan. Manusia yang penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, juga bukan protagonis. Penuh kebajikan, tapi juga penuh kepahitan. Dialah meteor langit setiap orang. Penuh kesan, tapi dengan cepat melesat hilang. Tidak terbendung institusi apa-apa, organisasi manapun, bukan properti siapa-siapa.

Lalu ada dialog di mana Reuben menyebut tentang filosofinya Abraham Maslow yang seorang penemu konsep psikologi transpersonal, yang didasari pada kerangka kerja idealis monistik, yaitu paradigma yang mengatakan bahwa otak dan pikiran berada di realitas yang sama. Idenya adalah sebagai berikut, “Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun dimungkinkan untuk mengejar pencarian lebih tinggi. Aktualisasi diri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri di level yang paling dalam”.

Walaupun cuma sekutipan saja, tetapi bermakna cukup dalam yah. Intinya kita sebagai manusia harus mengejar pencarian yang lebih tinggi, yaitu aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini bentuknya atau kegiatannya bermacam-macam sesuai panggilan nurani setiap manusia. Setiap orang berbeda-beda dalam menangkap konsep aktualisasi diri ini, dengan demikian aktualisasi diri tidak bisa digeneralisasikan sebagai suatu pikiran/tindakan/kegiatan tertentu.

Supernova bukan hanya nama serial buku ini, tetapi juga nama tokoh yang akan selalu ada diseluruh seri buku Supernova. Namun sosok supernova sebenarnya adalah misteri, kalau dibaca dari buku KPBJ, kita belum bisa menemukan siapa supernova sebenarnya.

Dari keseluruhan cerita KPBJ, menurut saya Dee menitikberatkan keseluruhan ceritanya pada teori “Order and Chaos“. Order and Chaos adalah teori tentang sistem deterministik, tetapi pergerakannya sangat sensitif terhadap kondisi-kondisi inisial sehingga tidak memungkinkan adanya prediksi jangka panjang.

Sesempurna apapun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengubrak-abrik. Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya order and chaos hadir bersamaan sebagai perekat. Di mana terdapat zona kuantum, rimba infinit di mana segalanya relatif, kumpulan potensi, dan probabilitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus-putusan. Paradigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan, bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat bagi yang mengagung-agungkan objektivitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif, dan seringkali harus subjektif.

Well readers, uda pusing belum? Sepertinya kalian sama pusingnya seperti saya yah. Pokoknya buku ini recommended banget untuk kamu baca. Pusing sedikit gapapa lah yah untuk menambah pengetahuan kamu.

Untuk cerita detail dan teori-teori serta konsep-konsep keilmuan apa saja yang dibahas di buku ini, kalian bisa langsung beli bukunya dan baca sendiri yah. Semangat!!!

With love,

Naomi Indah Sari

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Universal Religion

When I came to the works of Serge Benhayon, I was invited to look at my relationship with religion. At first, all I could do was worry – worry about what would be said about religion and the effect this would be having on the people around me, including myself. I seemed to carry an inner-tension I had built up since I was young that would result in an increasing heartbeat the moment religion was spoken about.

For years it would activate all my past experiences of when religion was being heatedly discussed and fought over. Many of the conversations I would hear from my family members and people around would differ so much. I would be feeling quite uncomfortable as people would be sharing different thoughts, different ideals, which would often bring disharmony and destruction into the group.

When Serge first presented on religion, all I could feel and see were those images, those beliefs, those frightening moments, the feeling of war and absolute separation this subject or ‘word’ is causing currently and has caused in the past. My body shook in reaction to these images I had taken on around this word ‘religion.’ I remember it as clearly as yesterday.

So the moment when Serge introduced the word religion, I was bracing in my chair, my automatic response, waiting for the disharmonious conversations to happen. Yet this time it was not the case at all: instead of disharmony, there was a stillness, a love, a holding that held us together, a union, a space and place where there was understanding of each other and courage to trust.

At first I thought it was the word religion that was the negative one, but in this presentation I made a commitment to truly feel what was going on for me. I could see people around me equally react to this subject/word quite strongly. I was intrigued by the offering now given to us all to ponder on.

What does the word religion mean to us? And does it actually represent the religion that is in truth dear to us? And so, is the word religion used and lived in its true meaning?

I felt a little uncomfortable as those questions popped into my mind. I took the time to just sit still and observe whatever I was feeling around this subject. Even though I felt like running away like I always would do when this subject is raised, this discussion somehow felt true and was one that I wanted and was ready to face.

The presentation continued and I knew we were on a path of true and open discussion.

Having the feeling that all the people around me were quite shaken up through the questions being posed and discussing what religion meant to them, I was feeling truly safe, simply because I felt inside that for the first time in my life, the matter of religion was truly being asked without any demand whatsoever. We were being offered a space to truly ponder with no right or wrong scenario – one I had never been offered before. The nervous tension I had been carrying, including the quickened heartbeat, had eased. The feeling of truth and the purpose of what religion truly meant seemed to rise as my heart expanded.

The thing is, all I can say from my ponderings over what occurred this time is that the questions presented by Serge Benhayon offered me so much to consider. It wasn’t just simply the questions themselves, but the way they were discussed that actually inspired me to be more open again to my relationship with the word religion. Instantly, the false images and ideals I had been running with seemed to stand out naturally, as simply a deception and distraction away from the truth.

What I had found was that I had been living on the interpretations, opinions, judgements and expressions about this word, but never truly made it my own. I did not allow myself to have a relationship with the word religion on my own, nor discern how I felt about it. I became aware of what I felt, and at the same time looked at all these images, beliefs, and thoughts I had about religion. I could feel how many of them weren’t actually true to me. Yet I had lived by them, thinking they were true. No longer did these concepts fit as I became more aware of the truth in my heart.

I could feel how it was easier to go with the ideals, emotions, beliefs and expectations of those around me, or even blame others if it suited. But I always had felt that there was more. I could feel that if I were to stand up to feel my own truth about my personal relationship with religion, I would stand out and have more chance of being disliked. So I continued my reflection and simply observed my ways. I observed the way I looked at religion, and if there was anything to ‘living religiously.’ I can remember finding it almost scary to go there. It made me feel more real, vulnerable and tangible and at the same time I felt visible to people from the outside, as if they could see through me like looking through a glass door.

Was I in any way, shape or form religious? And if I was, was this then a bad thing? Instantly I could feel the flavour of hiding again. As I was being more observant with my own behaviours and old patterns around religion, I started to taste the false beliefs I had been walking in. I started to feel how many of these thoughts and questions pulled me away from the actual religion I was feeling on the inside of my heart’s truth. Oh wait, what did I just say?Could it be that what I had thought, believed, and acted on, even though I made myself a non-Christian, non-Islamic, non-Jew, non-Buddhist, non-Hindu etc, besides the bits of truth I carried from them, was so very different to what I felt religion meant within me?

Yes… it did. And at the same time I could feel how everyone had their own space to choose what it meant to them. All the converting and imposition that I once thought religion was about simply faded away.

Honesty and my observations brought me back closer to the truth I know. And so I allowed my power to come out and stand in the fact that I am a deeply religious person. Even though this means the absolute opposite of what is going on in all the religions in the world today, it is okay.

Even though I was not choosing to conform to the norm, I felt an inner joy and deep inner-strength back again, at the same time feeling One and the same with everyone  I was choosing the truth I felt in my heart. Even though there were some parts in life that did reflect the truth of my heart, it was in that very moment that I felt more universal, more expanded and closer to the All. I brought myself back, my religion back, which was not at all anything outside of me, but an activated connection and confirmation from within me. I felt a love that had no words, simply a connection to God. In this space all I found was what I now call my religion.

It was a moment of realisation. I could no longer put aside the truth I was feeling inside and I had to claim it for myself – as it is who I am. I knew that I would no longer fit into a certain box I had held myself in for so, so long. I was willing to take that step, even though I knew I had to leave behind my old behaviours – being nice to people, giving myself away for recognition or approval and wanting to be liked by people around me.

I also let go of certain needs – needing people to fulfil me, to make me feel good or better about myself. I accepted that people all of a sudden might see me as different, as an outsider. This also meant no longer holding on to relationships that naturally no longer worked and/or felt true or respectful.

All of this brought an enormous strength back in my body. With that there came trust and all I could feel wasGOD, Love, People and Brotherhood in action. My true personal relationship with religion became bright and alive again.

All of this was inspired by the teachings of Serge Benhayon: not only on that specific day, but at all the courses, presentations and sessions thereafter. Serge presents a livingness known as The Way of The Livingness, which is based on true religion in our every way –every day.

I came to feel that there is no such thing as having no religion or not being religious,but that we all have a deep knowing of what religion is. It is just a matter of connecting to it again. We are ALL part of it. We know we are all the same and religion binds us All.

Let us all re-awaken to the simple ways of what true religion is. It is within us all.

By Danna Elmalah

Source: 

http://wp.me/p2F6Uc-1pE

Simulacra

Bandung, 17 Juli 2017

10:00am

Hi readers, setelah sebelumnya saya share tentang Memetics, sekarang saya mau share tentang Simulacra. Istilah dan teori Simulacra ini dilontarkan oleh seorang tokoh besar cultural-studies bernama Jean Baudrillard.

Image result for simulacra adalah

Dalam hal simulasi, manusia mendiami suatu realitas, di mana perbedaan antara yang real (nyata) dan fantasi, antara asli dan palsu sangatlah tipis. Dunia-dunia tersebut dapat diibaratkan seperti disneyland, universal studio, china town, las vegas atau beverly hills. Lewat media informasi, seperti iklan, televisi, dan film dunia simulasi tampil sempurna. Dunia simulasi itulah yang kemudian dapat dikatakan tidak lagi peduli dengan realitas atau kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang tanda. Di samping itu, tidak dapat lagi dikenal mana yang asli dan mana yang palsu. Semua itu pada akhirnya menjadi bagian realitas yang di jalani dan dihidupi masyarakat saat ini. Kesatuan inilah yang kemudian oleh Baudrilard disebut sebagai simulacra, yaitu sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya antara nilai, fakta, tanda, citra, dan kode.

Dengan demikian simulacra adalah suatu kebohongan berupa tanda, atau image yang dibangun seseorang yang memiliki sifat pada kontennya yang jauh dari realitas asli orang tersebut.

Contoh: misal saja ada seseorang yang dalam realitas hidupnya berdosa dan kurang bermoral, namun melalui akun pribadinya di sosial media, dia bisa saja memposting hal-hal yang religious mulai dari gambar hingga ayat-ayat suci. Dalam hal ini orang tersebut sedang melakukan suatu simulasi yang berbeda dengan realitas dirinya yang asli. Inilah yang disebut dengan simulacra.

Dalam buku yang berjudul “Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard” yang ditulis oleh M. Imam Aziz, Aziz mengatakan bahwa Iklan telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi semua masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonis kepuasan murni, seperti suatu keadaan alam baru di jantung yang kita miliki dalam hiperperadaban. Kebebasan yang kita miliki dalam hiperperadaban sepenuhnya dibatasi oleh sistem komoditas: “Bebas untuk menjadi diri sendiri” ternyata berarti bebas untuk mengarahkan hasrat pribadi pada barang-barang yang diproduksi. “Bebas untuk menikmati hidup” berarti bebas untuk mundur dan bersikap irasional, dan kemudian menerima suatu organisasi sosial produksi tertentu.

Kalimat “bebas menjadi diri sendiri” yang disebut diatas bukan berarti bebas menjadi diri apa adanya (real), tetapi setiap individu bebas menciptakan diri yang seperti apa yang dia inginkan untuk dilihat orang lain di sosial media. Jika setiap orang melakukan simulasi ini, lantas siapa yang jujur menunjukkan diri aslinya. Bahkan saat seseorang membangun image yang sederhana, ramah, dan baik hatipun mungkin saja itu juga merupakan simulasi.

Orang-orang modern dikelompokkan menurut komoditas yang mereka miliki. Konsumsi merupakan suatu tindakan sistematik dari manipulasi tanda-tanda, yang menandai status sosial melalui pembedaan. Konsumsi menentukan status sosial seseorang melalui objek-objek, setiap pribadi dan kelompok mencari tempatnya dalam suatu aturan, sejenak kemudian mencoba untuk mendesak-desak aturan ini menurut lintasan pribadi.

Dalam Simulacra, ada istilah yang disebut dengan Hyperreal, di mana hyperreal ini merepresentasi fase-fase yang lebih berkembang dalam pengertian bahwa pertentangan antara yang nyata dan yang imajiner ini dihapuskan. Yang tak nyata bukan lagi mimpi atau fantasi, tentang, yang melebihi atau yang di dalam, melainkan kemiripan halusinasi dari yang nyata dengan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, ada 3 istilah yang saling terkait; yaitu simulasi, simulacra, dan hiperrealitas. Simulasi berarti tiruan. Maksudnya adalah realitas tiruan yang masih mengacu pada realitas yang sesungguhnya. Sedangkan kedua, Simulacra. Baudrillard mengartikannya dengan realitas tiruan yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Artinya realitas sesungguhnya sudah dibelokkan yang kemudian benar-benar ditutup dari acuannya. Akan tetapi, realitas ini belum sepenuhnya sempurna dikatakan sebagai sebuah realitas yang benar-benar real. Karena, hubungan timbal baik/ interaktif belum terjadi. Atau kita bisa menyebutnya sebagai semi-realitas.
Nah, yang ketiga adalah Hiperrealitas. Inilah yang disebut sebagai realitas yang benar-benar real, bahkan di atas yang real, yang nantinya akan menggantikan realitas yang real sebelumnya. Artinya, Hiperrealitas adalah sebuah dekonstruksi dari realitas real sebelumnya, karena realitas ini akan sangat benar-benar berbeda dari sebelumnya. Atau dalam bukunya Yasraf Amir Pilliang yang berjudul Dunia Yang Dilipat, Hiperrealitas (Hyper-reality) dijelaskan oleh Baudrillard sebagai, keadaan runtuhnya realitas, karena telah diambil alih oleh rekayasa virtual yang dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur. Sedangkan perbedaan antara fase simulacra dengan fase hiperrealitas, terletak pada cirinya yang interaktivis. Yakni, hal-hal yang tadinya hanya dapat dilakukan dalam realitas real, kini telah tergantikan dalam realitas virtual, seperti berinteraksi, transaksi ekonomi, rapat, belajar dsb. Bahkan, lebih efektif dan efisien cara-cara yang baru ini. sedangkan dalam fase simulasi maupun fase simulacra belum terjadi hal-hal seperti ini.

Image result for simulacra adalah

Dalam buku Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi, Nasrullah menulis bahwa Baudrillard mengungkapkan gagasan simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara terus menerus. Khalayak seolah-olah tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang ada di layar. Khalayak seolah-olah berada di antara realitas dan ilusi sebab tanda yang ada di media sepertinya telah terputus dari realitas.

Term simulakra digunakan Baudrillard untuk menggambarkan bagaimana realitas yang ada di media adalah ilusi, bukan cerminan dari realitas, sebuah penandaan yang tidak lagi mewakili tanda awal, tetapi sudah menjadi tanda baru. Baudrillard menyebutnya sebagai “a copy of a copy with no original“. Di media sosial interaksi yang terjadi adalah simulasi dan terkadang berbeda sama sekali. Misalnya, di media sosial identitas menjadi cair dan bisa berubah-ubah. Perangkat di media sosial memungkinkan siapapun untuk menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang berbeda sekali dengan realitasnya, seperti pertukaran identitas jenis kelamin, hubungan perkawinan, sampai pada foto profil.

Term ini terjadi melalui 4 tahap proses:

  1. Tanda (sign) merupakan presentasi realitas.
  2. Tanda mendistorsi realitas
  3. Realitas semakin kabur, bahkan hilang, malah tanda merupakan representasi dari representasi itu sendiri.
  4. Tanda bukan lagi berhubungan dengan realitas. Imaji telah menjadi pengganti dari realitas itu sendiri.

Contoh: saya memiliki pengalaman berkenalan dengan seorang pria yang sangat genius dalam bidang seni rupa, semua gambar hasil karyanya yang di post olehnya di sosial media sangatlah indah dan bagus, namun ada yang membuat saya curiga dan penasaran. Kebanyakan gambar-gambarnya mengandung unsur nudity, sex, wanita sexy, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Saat saya melihat semua gambar-gambar itu ada dua hipotesa yang ada di pikiran saya. Yang pertama, mungkin saja dia tidak pernah mengenal sex atau tidak pernah menyentuh tubuh wanita sehingga dia berimajinasi dan menuangkannya pada karya-karyanya. Yang kedua, mungkin saja dia orang yang senang berhubungan sex dan menyukai pornografi dan dia terang-terangan membagikan hasil karyanya tersebut pada sosial media. Singkat cerita hubungan kami semakin dekat dan saya jatuh cinta kepadanya. Hingga saya menemukan banyak hal-hal yang aneh yang jauh dari estimasi awal saya sebelumnya. Kesimpulan singkatnya, “ternyata dia adalah pelaku simulakra“. Dia melakukan simulasi dengan membangun image sebagai laki-laki jantan (yang menyukai sex) di sosial media, sementara di dunia real dia sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan dia sangat dingin. Awalnya saya curiga mungkin saja dia impoten atau tidak menyukai lawan jenis, sampai saya akhirnya berkesimpulan bahwa dia adalah seorang Asexual Aromantic (bisa dilihat di post blog saya sebelumnya). Selain image dari hasil karyanya tersebut, dia juga melakukan simulasi lain seperti memamerkan saya sebagai pasangannya dan seringkali comment kalimat-kalimat yang seakan romantis atau seakan dia peduli pada saya, sementara di dunia real dia bahkan tidak pernah berkomunikasi intens dengan saya. Dua bulan sejak kami kenal dan dekat saya terus menganalisa dia, dan akhirnya saya menemukan bahwa dia melakukan kebohongan citra/image yang dia bangun hanya untuk dilihat oleh teman-teman di sosial medianya. Ini sangat mengecewakan karena ternyata saya telah menjalin hubungan dengan seorang penipu citra. ^_^

Nah, jika simulasi yang dibuatnya di sosial media membuat orang yang melihatnya yakin dan percaya bahwa yang ditampilkan di sosial media adalah real, maka orang-orang tersebut dianggap telah terjebak dalam dunia simulacra; padahal konten-konten yang ditampilkan bersifat semu dan jauh dari realitas aslinya.

Inilah yang terjadi dalam cyberspace di mana proses simulasi itu terjadi dan perkembangan teknologi komunikasi serta kemunculan media baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas, menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual.

Menurut Baudrillard, realitas terkadang sudah tidak memiliki kesamaan dengan apa yang direpresentasikan. Teknologi dan media memiliki kekuatan tidak hanya untuk melakukan produksi, tetapi juga mereproduksi tanda (signs) dan objek (objects).

Untuk menjelaskan bagaimana konsep simulakra ini terjadi di media sosial, Tim Jordan mengatakan, ketika berinteraksi dengan pengguna lain melalui antarmuka (interface) di media sosial, pengguna harus melalui 2 kondisi berikut:

  1. Pengguna harus melakukan koneksi untuk berada di ruang siber. Koneksi ini merupakan prosedur standar yang harus dilakukan oleh semua pengguna ketika memanfaatkan media sosial.
  2. Ketika berada di media sosial, penguna kadang melibatkan keterbukaan dalam identitas diri sekaligus mengarahkan bagaimana individu tersebut mengidentifikasikan atau mengonstruk dirinya di dunia virtual.

Image result for simulacra adalah

Realitas Buatan

Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulacra, yaitu “daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa”. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya. Sulit memperkirakan hal-hal yang nyata dari hal-hal yang menyimulasikan yang nyata itu.

Baudrillard memberi contoh media massa. Media lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencerminkan realitas, bahkan menjadi realitas itu sendiri. Saksikan dengan seksama bagaimana media mendramatisasi peristiwa, jika suka atau tidak suka. Semua ada narasi simulasinya. Dia menyebutnya sebagai “cyberblitz“.

Realitas yang ditampilkan tampak benar dan objektif, tetapi sebuah kebenaran dan objektivitas yang dikonstruksi sesuai selera para aktor yang berkepentingan.

Sebenarnya pengertian simulakra tidak sesempit dan sesederhana itu, kita yang menganggap diri jujur, benar, dan apa adanya pun masih saja terjebak dalam dunia simulacra. Kejujuran yang kita post apa adanya sesuai pemikiran dan perasaan kita di sosial mediapun kerapkali dianggap pencitraan, pembentukan image, dan lain sebagainya. Ini dikarenakan masyarakat telah terbiasa melakukan simulasi, sehingga mereka menganggap kita melakukan simulasi yang sama. Sehingga semua yang buruk bisa menjadi baik saat disimulasi, dan semua yang baik menjadi buruk karena dipaksa untuk melakukan simulasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, simulakra dalam kaitannya dengan hiperrealitas terjadi karena gencatan yang terpaksa harus dilakukan oleh sebagian khalayak yang psikisnya telah terpapar oleh teknologi media. Misal dengan adanya fasilitas “follow“, “like“, “love“, dan lain sebagainya tersebut membuat khalayak berlomba-lomba membuat simulasi yang terbaik untuk mencitrakan dirinya atau untuk membuat image yang disukai masyarakat, di mana hal tersebut telah dibuat jauh dari karakter realnya. Seakan merupakan kebanggaan pribadi saat seseorang memiliki followers terbanyak atau mendapatkan likes terbanyak. Fasilitas ini tidak hanya mempengaruhi psikis seseorang, tetapi juga memengaruhi kualitas emosi orang tersebut. Tidak sedikit orang yang sebal, kesal, dan iri jika orang lain memliki lebih banyak followers dibandingkan dirinya. Perasaan seperti ini adalah perasaan simulakrum. Suatu emosi yang terjebak pada dunia imitasi. Mereka marah karena dunia imitasinya tidak lebih baik dari dunia imitasi orang lain.

Sampai disini dulu yah penjelasan saya tentang simulacra. Semoga bermanfaat… ^_^

 

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

Aziz, M. Imam. 2001. Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard. Yogyakarta: LKiS

Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalasutra.

https://lingkarstudipopularculture.wordpress.com/2010/05/08/simulasi-simulacra-dan-hiperrealitas/

http://www.republika.co.id/berita/kolom/teh-anget/16/09/23/odytgn319-paradoks-dunia-simulacra

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: Memetics (Eko Wijayanto)

Bandung, 4 Juli 2017

10:30pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat menarik yang saya pinjam dari teman saya yang berinisial DS. Buku ini digunakan oleh DS sebagai salah satu referensi untuk tesis S2 nya. Kami sering ngobrol dan diskusi tentang banyak hal, dan sering pula DS berdiskusi dengan saya tentang pengetahuan yang didapatnya selama pengerjaan tesisnya. Dengan penuh semangat DS berbagi ilmu dengan saya dan meminjamkan buku ini untuk saya baca, dan dengan semangat pula saya menyambut buku ini.

Buku Memetics ini merupakan hasil disertasi penulis, Eko Wijayanto saat beliau menempuh pendidikan S3 Filsafat di Universitas Indonesia. Konon menurut cerita DS, Eko Wijayanto adalah orang Indonesia pertama yang membahas tentang Memetics ini, sebelumnya referensi mengenai Memetics ini hanya didapat dari penulis-penulis luar.

Kalian semua pasti sudah mengetahui apa itu meme, namun memetics yang dibahas disini berbeda dengan meme yang kalian sudah ketahui. Walau begitu meme dan memetics tetap ada kaitannya. Meme yang sudah sangat dikenal sekarang ini, misal meme internet itu merupakan hasil/bentuk khusus dari memetics. Sebut saja meme adalah suatu objek, yang dapat kita lihat (ada gambar, ada tulisan, dan lain sebagainya); sedangkan memetics adalah teori dasar mengenai penyebaran atau terbentuknya suatu meme tersebut.

GENETIKA

Sebelum lebih jauh kita membaca tentang memetics, kita harus ketahui lebih dahulu tentang genetika. Genetika identik dengan suatu DNA dalam tubuh manusia. DNA (deoxyribonucleic acid) berperan aktif dalam menentukan aktivitas biokimia dan sifat-sifat khusus sel. Dengan demikian, sifat-sifat bawaan manusia-seperti penyakit tertentu, kepribadian, naluri, perilaku, dan lainnya-sudah terkodekan dalam DNA. Melalui DNA inilah gen diwariskan dari generasi ke generasi. Yang unik pada manusia adalah terdapatnya replikator lain selain gen yang juga diwariskan, yakni replikator yang disebut meme. Meme meliputi segala sesuatu yang kita pelajari melalui imitasi, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan. Meme mudah menyebar, menular, dan melompat dari satu pikiran ke pikiran lain. Meme menyebarkan diri tanpa melihat apakah ia akan berguna, netral, ataupun merugikan manusia.

Contoh meme yang akhirnya menjadi sebuah kepercayaan akan Tuhan. Dahulu kala manusia prasejarah mengenal ide-ide tentang sesuatu yang lebih tinggi dari kehidupan manusia dan melakukan pemujaan terhadapnya untuk mendapatkan kesejahteraan. Seiring perkembangan zaman, meme awal tersebut dianut oleh semakin banyak orang-dan kemungkinan juga mengalami distorsi-sampai akhirnya memiliki kekuatan untuk bertahan hingga sekarang.

DNA adalah protein dalam tubuh makhluk hidup yang membawa informasi genetik yang akan memengaruhi fenotipe dan genotipe kita. DNA diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, setiap generasi tidak mungkin mewarisi DNA yang sama. Pasti terjadi sebuah eror yang disebut mutasi. Mutasi inilah yang menyebabkan perbedaan antara generasi satu dengan generasi lain.

Dengan mengamati fenotipe, kita bisa melihat bagaimana gen membentuk karakteristik individu. Fenotipe adalah karakteristik organisme yang dapat diamati secara langsung seperti warna iris, panjang ekor, warna kulit, dan sebagainya. Variasi makhluk hidup ini terjadi karena pembentukan genetik (genetic make up). Namun, ia tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik, lantaran fenotipe merupakan hasil dari interaksi antara gen dengan lingkungan. Misalnya, orang-orang yang tinggal di sekitar ekuator umumnya memiliki kulit yang lebih gelap daripada mereka yang tinggal di daerah subtropis, apalagi kutub. Hal ini merupakan sebentuk adaptasi untuk melindungi tubuh dari cahaya matahari khatulistiwa yang lebih terik ketimbang di daerah kutub.

Menurut Dawkins, meme sangat mudah menular karena kita mempunyai kecenderungan meniru orang lain, meniru pemikiran dan ucapan orang merupakan langkah pertama dalam belajar. Kita juga merasa nyaman untuk meniru ide-ide dan gaya hidup orang-orang sukses, entah dalam bentuk mode pakaian ataupun cara berbisnis, misalnya.

MEMETIKA

Memetika merupakan derivasi dari teori evolusi Darwin. Jika genetika adalah ilmu yang mempelajari gen, maka memetika adalah ilmu yang mempelajari meme. Meme memiliki daur hidup dan tersebar layaknya virus yang berpindah dan bisa dipindahkan dari pikiran seseorang ke pikiran orang lain.

Penelitian dalam buku ini menggunakan hermeneutika evolusi (evolutionary hermeneutics) sebagai metodenya. Sebagai perkakas teoretis untuk membedah kebudayaan, menurut Nick Szabo, hermeneutika evolusi merupakan metode dalam kajian budaya yang merupakan sintesis antara hermeneutika, di mana Heidegger adalah pionirnya dengan kajian meme sebagai unit informasi budaya; di mana Richard Dawkins adalah pionirnya.

Memetika adalah ilmu pengetahuan yang menyingkap meme sebagai bahan dasar pembentuk mental seseorang. Berbeda dengan makhluk hidup lain, manusia memiliki kemampuan untuk mereplikasi mentalnya ke dalam berbagai bentuk artefak budaya-seni, sastra, agama, dan sebagainya. Hal ini layaknya gen yang bereplikasi membentuk gugusan sel, kemudian tubuh yang mampu bereproduksi.

William D. Hamilton, seorang ahli biologi, mengungkapkan teori seleksi kekerabatan (kin selection). Teori Hamilton ini merupakan pengembangan teori Darwin. Seleksi alam tidak peduli apakah suatu organisme bahagia atau sengsara dalam menjalani prosesnya, karena yang penting, informasi yang terdapat di dalam gen organisme tersebut dapat terus ada secara berkelanjutan. Pada setiap makhluk hidup juga terdapat gen altruisme. Besarnya altruisme pada amasing-masing individu berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang memengaruhinya, salah satunya derajat kedekatan.

ALTRUISME

Altruisme didefinisikan sebagai sikap bersedia berkorban dan berbuat kebaikan demi kepentingan orang lain, baik dengan mengorbankan suatu usaha, waktu, pengeluaran, atau apa pun. Padahal, manusia secara instingtif dan rasional selalu mengejar kepentingan, kesenangan, dan kebahagiannya sendiri.

Dalam buku The Expression of the Emotions in Man and Animals (1872) karya Charles Darwin terdapat sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa seseorang lebih merasakan simpati kepada penderitaan orang lain daripada penderitaannya sendiri. Hal ini membawa kita pada teori Darwin tentang moral manusia. Dalam The Descent of Man, Darwin menulis bahwa seseorang yang terbiasa berbuat baik kepada orang lain akan mendapatkan balasan yang setimpal. Apabila ia terus-menerus mempertahankan perbuatan baik tersebut, maka rasa simpati pun ikut tertanam di jiwanya. Rasa simpati ini, menurut Darwin, nantinya dapat diwariskan melalui gen.

Mengacu pada tulisan Darwin tersebut, George William menambahkan beberapa hal tentang hubungan timbal balik, bahwa apabila seseorang memaksimalkan hubungan pertemanan dan meminimalkan keegoisannya, maka orang tersebut akan mendapatkan keuntungan evolusioner dan bertahan dalam seleksi alam. Menurutnya hal tersebut dapat mengambangkan optimisme dalam hubungan antarindividu.

Darwinisme, yang dinamai oleh T. H. Huxley dan dikenal juga sebagai darwinisme ortodoks, setia pada pandangan awal Darwin bahwa mekanisme seleksi alam terjadi  di level individu dan berlangsung sangat panjang sebagai akibat dari mutasi di level genetik. Sementara sosiobiologi menolak pandangan tersebut dengan argumen bahwa mekanisme seleksi alam berlangsung di level sosial atau kelompok. Sosiobiologi berdiri di atas dua tesis mendasar:

  1. Beberapa sifat tingkah laku itu diwarisi;

  2. Sifat-sifat tingkah laku yang terwarisi itu diasah oleh mekanisme seleksi alam.

MEME

Menurut Richard Dawkins, meme adalah unit kebudayaan yang dapat dipindahkan, dikomunikasikan, digandakan, dan diwariskan. Contohnya lagu, puisi, teknik matematika, mode pakaian, dan berbagai pemanfaatan teknologi. Meme memperbanyak dirinya dengan melompat dari otak ke otak melalui imitasi.

Meme yang terdapat pada pikiran seseorang secara harafiah menjadi parasit dalam otak orang tersebut. Meme mengubah manusia tersebut menjadi perangkat untuk memperbanyak diri dengan cara yang sama dengan virus yang menjadi parasit pada mekanisme genetik sel induknya.

Suatu meme dapat tetap populer karena beberapa faktor:

Pertama, sifatnya yang tak dapat dibantah. Suatu meme doa, misalnya, menjadi berlipat ganda karena terus-menerus dipanjatkan dan tampaknya dikabulkan. Doa tersebut memiliki peluang untuk dipercayai dan sedikit peluang untuk ditolak.

Kedua, murah dalam hal waktu, uang, dan usaha. Ketiga, terasa menyenangkan dan menenteramkan, tak peduli apakah doa kita berhasil atau tidak, berdoa kerap kali tetap melegakan.

Kunci pembahasan Dawkins tentang meme adalah sifatnya yang selfish (egois) dan ruthless (kejam). Meme akan berkompetisi dengan meme rivalnya untuk memperebutkan perhatian otak manusia, mengingat otak manusia dan tubuh yang dikontrolnya tidak dapat menangani lebih dari satu atau beberapa problem pada saat yang bersamaan.

Dalam menjalani replikasi diri, meme mudah berkembang dan mengalami perubahan bentuk. Akan tetapi, sebagian memeplex merupakan konsepsi kuat yang dipegang teguh sehingga sulit untuk diubah. Dawkins menyebutnya sebagai virus of mind, virus pikiran yang tertanam dalam benak dan pemikiran seseorang sehingga sulit diubah dari bentuk awalnya. Virus pikiran ini sangat efektif ditanamkan terutama pada masa kanak-kanak-jika diterapkan pada orang dewasa konsep ini kerap mengalami hambatan dalam replikasinya.

Dalam pemikiran Dawkins, meme digunakan untuk menggambarkan bagaimana prinsip darwinian menjelaskan penyebaran ide dan fenomena budaya. Baik gen maupun meme sama-sama merupakan replikator. Hanya saja, gen diturunkan melalui reproduksi biologis, sementara meme diturunkan melalui proses pembelajaran budaya atau imitasi (mimesis). Sebagaimana gen yang merupakan unit transmisi biologis, sebagai unit transmisi kultural meme juga mengalami mutasi, kombinasi, dan seleksi oleh lingkungannya. Meme juga merupakan salah satu faktor yang berdampak besar terhadap perkembangan seorang individu dalam masyarakat. Di dalam otak manusia, meme tidak hanya tersimpan sebagai informasi untuk diingat, melainkan juga menjadi alat dalam berpikir. Meme juga dapat meniru atau memindahkan apa yang ada dalam satu kepala ke kepala lain melalui suatu rangkaian sosialisasi. Meme juga bukan sekadar faktor yang membantu otak mengingat, melainkan juga membantu menanamkan suatu gagasan dalam benak individu lain melalui persuasi sehingga apa yang ada di dalam pikiran kita dapat dimengerti oleh individu tersebut.

MEME dan MEMEPLEXES

Banyak orang menganggap jiwa sebagai diri yang sesungguhnya, yang akan tetap hidup sekalipun seseorang sudah meninggal. Di sinilah muncul pandangan dualisme yang menganggap bahwa diri terdiri atas mesin yang berupa tubuh dan jiwa yang menggerakkannya. Sebaliknya, ada pula ekstrem yang berseberangan dengan pendapat itu, yang menganggap bahwa diri kita adalah keseluruhan otak ataupun keseluruhan raga.

Ketika suatu meme sudah tersimpan di dalam diri kita sebagai memori, maka ia akan memengaruhi segala tindakan yang kita lakukan. Kesadaran bahkan agak diabaikan ketika memori yang terangkai dari meme Tuhan dan meme-meme lain yang menyokongnya. Ketika orang sudah memiliki keyakinan terhadap Tuhan lantaran meme tentangnya sudah melekat benar di dalam diri orang tersebut, maka ia akan bersedia mengorbankan apa pun demi Tuhannya. Oleh karena itu, tentunya tidak gampang untuk mengontrol diri agar dapat menjadi sosok yang memiliki kesadaran penuh terhadap diri sendiri. Memori dalam hal ini merupakan fakta fisikalitas otak yang sangat terkait dengan temuan Libet mengenai readiness potential. Memori nampaknya bukan hanya mendahului tindakan kita, tapi bahkan mendahului keputusan kita untuk melakukan suatu tindakan. Gagasan ini tentu saja mengusik keyakinan umum tentang (otonomi) diri.

Terkait entitas yang kita namakan diri, kita dapati adanya dua konsep yang kerap digunakan untuk menjelaskannya:

Pertama, konsep real self yang menganggap diri sebagai entitas yang mampu bertahan sepanjang hidup dan terpisah dari otak maupun dunia luar, memiliki memori dan kepercayaan, melakukan imitasi tindakan, mengalami berbagai pengalaman dalam hidup, dan membuat keputusan.

Di sisi lain ada konsep kedua, yaitu illusory self, yang menganggap diri sebagai sekumpulan pikiran, sensasi, dan pengalaman yang disatukan bersama oleh sejarah. Menurut konsep ini ilusi tersebut berasal dari pemikiran otak ataupun sebuah fantasi.

Dalam memetika, diri merupakan memeplex besar yang terdiri atas berbagai pemikiran dan pengalaman yang mendukung tindakan sehari-hari. Memeplex merupakan sekumpulan meme yang berhimpun bersama demi keuntungan bersama dan membentuk suatu kesatuan yang dapat melakukan seleksi untuk menerima ataupun menolak meme baru yang ingin masuk. Dengan kata lain, memeplex menjadi filter bagi kita dalam berinteraksi dengan dunia luar. Agama, ideologi, maupun pendirian merupakan produk dari memeplex yang bekerja dengan sangat sistematis di dalam diri manusia. Pada titik ini kita melihat bahwa meme-meme dapat memperoleh keuntungan dengan membentuk satu asosiasi yang kemudian menjadi konsep diri seseorang.

Meme yang berhasil masuk ke dalam diri dan menjadi ide-ku atau opini-ku adalah para pemenang dalam kompetisi antar meme. Kepemilikan manusia atas sesuatu mempunyai banyak fungsi, termasuk menentukan status personal. Dalam hal ini, kepemilikan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang tanpanya kita akan merasakan kehilangan. Dengan kata lain, kepemilikan inilah yang memberi kita perasaan akan diri. Bentuk-bentuk kepemilikan ini dapat hidup dalam diri kita berkat kontribusi meme yang menjangkiti diri kita. Akan tetapi, hal ini pun menimbulkan konsekuensi: semakin kita terikat pada apa yang kita miliki; kepercayaan, opini, pilihan personal, maka kita sendiri akan kian menjadi pelindung utama bagi meme yang terkait kepemilikan itu. Apalagi semakin kompleks masyarakat yang kita tinggali, semakin banyak pula meme yang berlomba-lomba masuk ke dalam otak kita. Dengan demikian, meme kita mungkin malah akan menjadi senjata makan tuan jika kita salah memanfaatkannya.

Singkat kata, suatu selfplex, diri yang dikonstruksi oleh meme-meme; disebut sukses bukan karena ia benar, baik, atau indah, bukan pula karena ia membuat kita bahagia dan mendukung kelanjutan gen kita. Melainkan, selfplex tersebut sukses tatkala meme yang masuk ke dalam diri mendorong dan berhasil membuat kita bekerja demi kepentingan replikasi mereka. Dengan kata lain, hidup kita ini merupakan bentukan meme, di mana kita terjebak dalam tirani meme.

Meme memang tersimpan dalam otak. Setiap input yang masuk ke otak adalah sesuatu yang didasarkan pada pengalaman. Bila tidak begitu penting dan berharga, maka suatu memori akan menghilang dengan sendirinya. Namun bila inputnya besar atau memori itu penting, ia akan terus berada di otak dan mudah direkonstruksi serta diingat. Begitu pula dengan input yang berupa meme. Suatu meme berada di otak dan mudah bereplikasi jika mudah diingat.

Menurut Lamarck, upaya setiap individu untuk mencapai perbaikan dirinya merupakan sifat yang diturunkan (herediter). Kini istilah Lamarckian mengacu pada karakteristik individu yang diperoleh dalam hidupnya yang dapat diturunkan. Bila dalam hidup individu memperoleh keahlian baru, maka keahlian itu bisa diturunkan. Pandangan ini tidak terlalu cepat karena mengasumsikan keahlian akan berpengaruh terhadap gen seseorang. Hal ini terkait erat dengan fenotipe dan genotipe dalam evolusi biologis. Genotipe merupakan penyusun genetik seseorang, sedangkan fenotipe adalah karakter fisik yang nampak, seperti warna rambut atau warna kulit. Fenotipe jelas sangat bergantung  dan ditentukan oleh genotipe; namun tidak sebaliknya. Dengan demikian, jika seseorang memperoleh keahlian baru (fenotipe), maka keahlian tersebut tidak akan berpengaruh pada genotipnya.

Ketika kita meniru tingkah laku seseorang, ada sesuatu yang berpindah yang kemudian bisa terus-menerus berpindah dari satu orang ke orang lain. “Sesuatu” inilah yang oleh Dawkins disebut meme. Meme adalah segala sesuatu yang bertransmisi dari pikiran satu orang ke orang lain, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan.

FREE WILL

Kehendak bebas sebenarnya baru terjadi ketika seseorang secara sadar dan sepenuhnya bebas memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, seseorang itu harus benar-benar menjadi agen yang memiliki kewenangan untuk melakukannya tanpa campur tangan faktor lain. Dalam pandangan filsuf Daniel Dennett, kesadaran manusia hanyalah serangkaian meme yang kompleks dan besar, yang kemudian membentuk selfplex. Semua alat berpikir yang kita gunakan selama ini sebenarnya telah disediakan secara tidak langsung oleh meme.

Well readers, jika penjelasan meme diatas membingungkan, saya akan mencoba menjelaskannya dengan sederhana. Seperti yang sudah dibahas di atas bahwa meme adalah virus of mind, atau virus pikiran yang disebarkan dari pikiran (otak) satu orang ke pikiran (otak) orang yang lain. Dalam arti, meme adalah semacam ideologi, nilai-nilai, pemikiran, konsep-konsep, teori-teori, dan lain sebagainya yang digunakan oleh seseorang dan disebarkan atau dibagikan kepada orang lain melalui pikiran yang dikomunikasikan.

Seperti yang sudah kita baca di atas, meme bersaing dengan meme yang lain. Meme yang kuat (meme yang diberikan secara berulang-ulang) akan menang dan mengalahkan meme yang lain yang lebih lemah.

DS berpendapat berdasarkan buku Memetics ini bahwa meme yang paling kuat adalah meme agama, di mana meme agama sudah ditanamkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sejak masa kanak-kanak. Anak-anak ini akhirnya memiliki konsep pemikiran yang telah dibentuk oleh meme agama tersebut. Semakin sering, semakin banyak, dan semakin rutin anak tersebut menerima meme yang sama setiap saat, meme ini akan semakin kuat mempengaruhi otak/pikiran anak hingga dewasa. Eko Wijayanto sendiri menulis dalam bukunya bahwa saking kuatnya meme agama, banyak pula orang-orang yang bertindak sedemikian rupa untuk membela agamanya, dan lain sebagainya.

Selain itu, DS juga memberikan contoh lain. Misal meme bahasa, saat kita sudah terbiasa berbahasa Indonesia misalnya, lalu kita pindah dan tinggal ke daerah Jawa Barat yang berbahasa Sunda (misal 1 tahun); meme bahasa Indonesia dapat melemah, dan meme bahasa Sunda akan meningkat.

Meme dapat berupa banyak hal, meme hadir pada pikiran manusia tanpa mengetahui apakah dia berguna atau tidak, apakah akan bermanfaat atau tidak, apakah akan merugikan atau menguntungkan, dan sebagainya. Meme adalah salah satu konstruksi yang direplikasikan pada pikiran manusia. Kita semua, termasuk saya adalah bentuk dari meme. Semua yang kita lihat, semua yang kita dengar, semua yang kita pelajari merupakan meme-meme yang tersebar, masuk, dan memengaruhi pikiran kita.

Walau demikian, saya mau sedikit menambahkan walaupun kita seringkali dibenturkan atau dipertemukan oleh meme-meme yang berusaha masuk ke otak/pikiran kita, namun menurut saya kita tetap memiliki gatekeeper dalam pikiran kita yaitu berupa logika di mana kita dapat memilih untuk mengikuti meme yang sudah ditransfer atau tidak. Apapun pilihan kita tersebut tetap saja merupakan pengaruh dari meme sebelumnya yang sudah ada dalam pikiran kita dan standing still (kuat) dan tidak mudah dikalahkan dengan meme lain yang baru saja masuk ke pikiran kita.

Penjelasan saya diatas merupakan penjelasan mengenai teori meme. Nah sekarang apa yang kalian tahu tentang meme? Apakah meme yang seperti di bawah ini?

Untitled.jpg

Gambar di atas tersebut adalah meme, mari kita sebut gambar di atas sebagai meme internet. Meme internet tersebut berasal dan berdasarkan teori memetics. Meme merupakan suatu replikator. Dawkins mengidentifikasi 3 kriteria bagi replikator yang sukses, yaitu harus bisa dikopi secara akurat (fecundity), bisa dikopi dalam jumlah banyak (fidelity), dan bisa bertahan untuk waktu yang lama (longetivity). Nah, kenapa gambar-gambar di atas disebut meme, sederhananya dikarenakan telah memenuhi 3 aspek tersebut, di mana meme dapat dikopi, diperbanyak, disebarkan, dan bertahan dalam kurun waktu tertentu (lama). Gambar meme yang berupa candaan, sindiran, mengandung unsur politik, dan lain sebagainya tersebut dibuat sedemikian menarik untuk memengaruhi orang yang melihat gambar dan membaca tulisan pada gambar tersebut. Sedikit banyak kita tetap diantar pada teori meme, di mana gambar meme tersebut dapat saja memengaruhi pikiran kita dan dapat mengubah pola pikir kita.

Well readers, sampai disini dulu yah pembahasan kita mengenai memetics. Semoga bermanfaat. ^_^

With love,

Naomi Indah Sari

Source:

Wijayanto, Eko. 2013. Memetics: Perspektif Evolusionis Membaca Kebudayaan. Depok: Kepik.

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: The Magic Library (Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken), Jostein Gaarder

Bandung, 28 Juni 2017

04:00pm

Hi readers,

Saya baru saja selesai membaca novelnya Jostein Gaarder yang berjudul “The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”, seperti biasa saya akan share hal-hal menarik dari buku ini. Dalam novel ini diceritakan sepasang sepupu bernama Nils dan Berit yang tinggal berjauhan dan saling berkomunikasi melalui buku-surat (mereka surat menyurat pada sebuah buku). Di awal novel kita disajikan bacaan surat yang seakan kita sedang membaca surat-menyurat mereka.

Dalam buku-surat tersebut, Nils dan Berit saling beradu pendapat, bertengkar, dan melakukan investigasi bersama mengenai seorang penulis misterius bernama Bibbi Bokken. Di awal cerita mereka berdebat mengenai definisi bibliografer dan incunabula, hingga akhirnya terjadi kesepakatan bahwa bibliografer berasal dari kata Yunani biblion yang berarti “buku”, bibliografer berarti seseorang yang melakukan kegiatan bibliografi, atau hal-hal mengenai buku-buku. Berbeda dengan bibliophile yang berarti pencinta buku, yaitu seseorang yang mengoleksi buku-buku langka dan bermutu. Sementara incunabula adalah kata Latin yang berarti “timbangan”, namun untuk masa modern seperti sekarang incunabula merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan pada buku-buku yang diterbitkan sebelum tahun 1500. Incunabula adalah buku yang pertama kali dicetak setelah seni percetakan buku ditemukan.

Nils dan Berit juga menyebut tentang Anne Frank dalam buku-suratnya. Berit menceritakan pada Nils tentang Anne Frank. Anne Frank adalah gadis yang berasal dari keluarga Yahudi-Jerman. Pada tahun 1933, ia melarikan diri dari Jerman dan menetap di Amsterdam. Saat Jerman kemudian menduduki Belanda, orang Yahudi di sana dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi (Jerman ingin membasmi semua orang Yahudi Eropa. Korbannya mencapai 6 juta orang). Untuk menyelamatkan jiwa mereka, keluarga Anne Frank bersembunyi di dalam ruang kecil di belakang toko yang dulunya adalah tempat ayahnya bekerja. Mereka sempat tak tertangkap selama 2 tahun, dan Anne Frank mengisi waktunya dengan menulis buku harian. Ia bercita-cita menjadi penulis dan berharap buku hariannya dapat diterbitkan setelah perang usai. Namun datanglah tragedi pada Agustus 1944, Nazi menyerbu masuk ke tempat persembunyiannya dan seluruh anggota keluarga Anne pun dikirim ke salah satu kamp konsentrasi yang mengerikan di Jerman. Dua bulan sebelum perang berakhir, Anne meninggal dunia.

Untungnya buku harian Anne ditemukan oleh seseorang yang baik hati, ia menjaga buku itu baik-baik. Setelah perang usai, buku harian Anne diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Dengan begitu, Anne pun berhasil menjadi seorang penulis. Ia telah menulis salah satu karya paling terkemuka di dunia. Tetapi, ia sendiri tak bisa menyaksikan ketenarannya ini. Buku harian Anne ditulis antara 14 Juni 1942 sampai dengan 1 Agustus 1944 (yaitu 3 hari sebelum Nazi menyerbu persembunyian mereka). Pada 20 Juni 1942, Anne menulis:

“Untuk seseorang yang seperti aku, ada perasaan aneh ketika menulis buku harian. Bukan hanya karena aku belum pernah menulis, melainkan karena aku pun berpikir bahwa baik aku maupun orang lain tak akan tertarik pada curahan hati seorang remaja berusia 13 tahun. Tapi, sebenarnya bukan itu permasalahannya. Aku ingin menulis dan berbincang dengan diriku sendiri tentang apa saja yang muncul dari dalam jiwaku. Kertas kan lebih sabar daripada manusia”.

“Untuk itulah, buku harian ini ada. Supaya lebih kuat lagi kesan kehadiran seorang teman yang kurindukan, aku tidak hanya menuliskan fakta dalam buku harianku, seperti orang lain. Namun buku harian ini sendiri yang akan menjadi temanku dan ia bernama Kitty.”

Anne Frank yang pada saat itu dalam keadaan tertekan, bingung, dan kesepian menggantungkan diri sosialnya dengan buku hariannya, yang menurutnya kertas lebih sabar daripada manusia. Anne mengangap kertas adalah sahabatnya yang setia mendengar dan menyaksikannya menulis dan bercerita.

Bagi yang belum tahu Anne Frank, di bawah ini adalah foto Anne Frank:

Image result for anne frank
Anne Frank

Image result for buku harian anne frank
Buku Harian Anne Frank yang diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia

Image result for buku harian anne frank
Buku Harian Anne Frank

Related image
Secarik kertas pada buku harian Anne Frank yang ditulis oleh Anne sendiri

Itulah kira-kira sedikit cerita tentang Anne Frank. Bagi yang penasaran mengenai isi dari buku harian Anne Frank, bisa cari buku-bukunya di toko-toko buku yah. Sudah banyak penerbit di seluruh dunia yang menerbitkan buku tentang Anne Frank.

Nils dan Berit akhirnya berhasil memecahkan misteri mengenai Bibbi Bokken dan dapat langsung bertemu dengannya di perpustakaan ajaibnya. Pada list buku perpustakaan ajaib Bibbi Bokken tertulis 990 jenis buku yang terdapat pada perpustakaan tersebut. Ada pula buku mengenai Rhaeto-Romanik, yaitu kelompok bahasa Romawi dan berikut dialek-dialeknya yang masih digunakan di beberapa tempat di Pegunungan Alpen, Swiss, dan Italia.

Dalam buku-surat Nils dan Berit, mereka membahas sebuah cerita dongeng yang terkenal, yaitu dongeng tentang bulu yang berubah menjadi 5 ekor ayam. Pengarangnya berkebangsaan Denmark bernama Hans Christian Andersen.

Ceritanya adalah tentang seekor ayam yang mencabuti bulunya sendiri dan berkotek-kotek sambil berkata “Hilanglah ia. Semakin banyak kucabuti, semakin cantik aku jadinya”. Ayam lain melihat itu berbisik kepada ayam di sebelahnya bahwa ayam pertama yang mencabuti semua bulunya itu tengah mencari muka di hadapannya. Seekor burung hantu yang mendengar tentang itu menceritakannya kepada burung hantu lain, lalu cerita itu sampai juga kepada dua ekor merpati dan seekor ayam. Namun ceritanya sudah mengalami perubahan. Dan si ayam berkokok pada ketiga ayam lain yang semuanya sudah mencabuti bulu-bulu mereka dan menjadi kedinginan karena cinta yang tak berbalas kepada seekor ayam. Lalu cerita itu pun terus beredar hingga akhirnya sampai kembali pada si ayam pertama yang mencabuti bulunya, dan saat itu ceritanya sudah berubah menjadi seperti ini:

Dahulu kala hiduplah 5 ekor ayam yang semuanya mencabuti bulu-bulu mereka untuk membuktikan siapa di antara mereka yang paling menderita akibat cinta yang tak berbalas kepada seekor ayam. Kemudian, mereka saling mematuk hingga berdarah-darah, lalu mati karena merasa malu kepada keluarga mereka dan karena merasa sangat kehilangan harta mereka yang paling berharga.

Ayam pertama menjadi jengkel dan memasukkan cerita tersebut ke koran sebagai shock therapy sekaligus peringatan. Dan ketika cerita itu terpampang di koran, tentu saja semua menganggap cerita itu benar. Karena koran kan tak mungkin berbohong.

Saya sedikit bingung menerjemahkan maksud dari dongeng tersebut, namun bila boleh saya sederhanakan setiap informasi yang beredar from mouth to mouth ceritanya selalu saja berubah ada yang dikurangi dan dilebihkan, sehingga cerita yang didengar oleh orang yang terakhir menjadi jauh berbeda dari cerita dari orang pertama. Kalimat terakhir dongeng tersebut membuat saya tertawa, “karena koran kan tak mungkin berbohong.” Menurut saya kedua hal pada dongeng tersebut seakan sia-sia. Jika berita beredar dari mouth to mouth merupakan kebohongan, maka berita yang disampaikan melalui koran juga merupakan kebohongan walaupun informasi yang diambil langsung dari pihak pertama. Jadi kesimpulannya, nobody is telling you the truth. ^_^

Dalam buku-surat Bils dan Berit seringkali menyebutkan kota Fjaerland. Fjaerland adalah salah satu kota di Norwegia yang menjadi tempat diselenggarakan peresmian Museum Gletser Norwegia pada 31 Mei 1991 oleh Ratu Sonja.

Related image
Museum Gletser Norwegia

Sang arsitek, Sverre Fehn, mendirikan dan merancang museum unik ini sebagai prasarana untuk memfasilitasi pengumpulan informasi atau pengetahuan empiris seputar fenomena gletser dan cuaca yang selanjutnya dilakukan analisa dan disebarkan kepada masyarakat luas. Obyek-obyek yang terpajang di museum ini menjelaskan kepada pengunjung bagaimana proses pembentukan gletser dan mengapa keberadaannya saat ini menjadi langka seiring peningkatan pemanasan global.

Sverre menentukan dan mengatur sendiri komposisi dan material bangunan untuk ruang pamer, aula pertunjukan, toko buku, dan tempat makan. Pada 1997, Sverre dianugerahi penghargaan internasional “Pritzker” atas karya arstitekturnya, dan museum gletser tercatat sebagai salah satu hasil karyanya yang sangat luar biasa.

Buku-buku yang berada di perpustakaan ajaib Bibbi Bokken disusun dengan menggunakan sistem Dewey, yaitu berdasarkan Klasifikasi Desimal Dewey. Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC), juga disebut Sistem Desimal Dewey) adalah sebuah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey (1851-1931) pada tahun 1876. Klasifikasi Dewey muncul pada sisi buku-buku koleksi perpustakaan. Klasifikasi dilakukan berdasarkan subjek, kecuali untuk karya umum dan fiksi. Kodenya ditulis atau dicetak ke sebuah stiker yang dilekatkan ke sisi buku atau koleksi perpustakaan tersebut. Bentuk kodenya harus lebih dari tiga digit; setelah digit ketiga akan ada sebuah tanda titik sebelum diteruskan angka berikutnya.

Contoh kode:

  • 330.94 = ekonomi Eropa, di mana 330 adalah kode untuk Ekonomi dan 94 untuk Eropa.

Buku-buku diletakkan dengan mengurutkan berdasarkan nomor. Jika dua atau lebih buku memiliki nomor klasifikasi yang sama, sistem akan membagi kelas tersebut secara alfabet. Ada sepuluh kelas utama dalam klasifikasi Dewey. Sepuluh kelas tersebut dibagi lagi kepada 10 bagian; yang lalu bisa dibagi lagi kepada 10 bagian. Sepuluh kelas utama tersebut adalah:

  • 000 Komputer, Informasi dan Referensi Umum
  • 100 Filsafat dan Psikologi
  • 200 Agama
  • 300 Ilmu Sosial
  • 400 Bahasa
  • 500 Sains dan Matematika
  • 600 Teknologi
  • 700 Kesenian dan rekreasi
  • 800 Sastra
  • 900 Sejarah dan Geografi

Tidak hanya perpustakaan ajaib Bibbi Bokken saja yang menggunakan sistem Dewey pada penataan buku-bukunya, namun banyak juga perpustakaan di seluruh dunia yang menggunakan sistem Dewey tersebut.

Nils dan Berit mengingatkan saya kembali melalui buku ini bahwa dulu harga buku mahal dan tak terjangkau oleh sebagian besar orang. Di beberapa tempat di dunia, dicoba untuk menggoreskan huruf pada pelat kayu sehingga bisa berkali-kali cetak. Dengan cara inilah, berkembang seni penggandaan. Namun pencetakan buku adalah sebuah proses yang makan waktu dan mahal. Bisa dibayangkan pada zaman itu hanya orang-orang dari kalangan tertentu saja yang bisa membeli atau membaca buku, buku dianggap sebagai barang yang mewah dan berharga karena selain jumlahnya masih sedikit; pengetahuan di dalamnya pun sangat berharga.

Setelah itu dunia boleh berbahagia karena pada tahun 1450 muncul Gutenberg. Seni pencetakan buku merupakan revolusi terbesar kedua dalam budaya huruf pada saat itu. Gutenberg menggunakan huruf bongkar pasang (movable type) dari timah hitam. Pada awalnya, ia adalah seorang pandai besi. Tapi, sebagaimana ia mahir membuat perhiasan dari emas dan perak, ia pun dapat membuat cetakan huruf. Demikianlah, ia akhirnya mampu mencetak seluruh halaman buku. Huruf bongkar pasang tersebut dapat dipergunakan berulang-ulang. Ia menciptakan atom-atom dan molekul-molekul dari dunia perbukuan. Pada era inilah yang dinamakan era cetak (printed era) dimana percetakan atau penggandaan buku mulai maju pesat.

Image result for mesin cetak gutenberg

Bibbi Bokken menjelaskan pada Nils dan Berit bahwa pada tahun 1989, Parlemen Norwegia memutuskan membangun tempat penyimpanan di Mo i Rana. Dan sampai sekarang di sana sudah dibuat 2 buah gua besar di pegunungan. Di salah satu gua, dibangun sebuah bangunan berlantai 4. Di dalamnya terdapat apa yang dinamakan kompakt-magazine (Penyimpanan Lengkap), yang berisi segala macam buku, surat kabar, foto, film, dan kaset. Selain itu, di sana juga ada rekaman segala acara televisi dan radio dari stasiun Norwegia. Tempat ini disebut Divisi Rana yang berada di Perpustakaan Nasional Norwegia.

Image result for perpustakaan nasional norwegia
Tampak luar Perpustakaan Nasional Norwegia

Novel Jostein Garrder ini mengajarkan kita bahwa buku adalah teman terbaik. Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur, di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam.

Well readers, sampai disini yah pembahasan kita mengenai The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi bokken, jika kalian ingin tahu lebih lanjut mengenai petualangan Nils dan Berit bisa langsung beli bukunya yah.

Thank you for reading…

 

With Love,

Naomi Indah Sari

Source:

Gaarder, Jostein. 2016. The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Bandung: Mizan.

https://museumku.wordpress.com/2010/12/30/museum-gletser-norwegia/

https://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_Desimal_Dewey

 

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Aromantic

Bandung, June 20th 2017

09:00 pm

Hi readers,

on my last blog I wrote about Asexuality, now I’m sharing you about “Aromantic”. Asexuality and Aromantic are different but could be related. Someone who is asexual, maybe not aromantic, but someone who is asexual also could be aromantic. Or someone who is aromantic, maybe not asexual, but someone who is aromantic, could be asexual as well.

Why is this possible to be both? Because as we know from the blog before that Asexuality is someone who doesn’t experience sexual attraction with anybody, and “Aromantic” is someone who doesn’t experience romantic attraction. So, that’s why someone who has no interest for romantic attraction could be not interest for sexual attraction, but it could be no interest for romantic attraction, but interest in sexual attraction. If someone is identified as asexual and aromantic, they are called “ace-aro”.

These are some definitions about Aromantic:

  • A person who is aromantic does not experience romantic attraction. A person who is aromantic does not have to be asexual (a person who does not experience sexualitet attraction), and they might still experience sensual and aesthetic attraction. Example: Sarah is an aromantic bisexual. She feels sexual attraction to two genders, but does not feel romantic attraction.
  • One who lacks interest in or desire for romantic relationships.
  • Not experiencing romantic attraction. Not the same as being asexual, which means experiencing no sexual attraction. Aromantics can still be in a romantic relationship, they just do not experience an attraction towards their parter.
  • Not attracted to anyone in any way. Used by asexuals to differentiate themselves from asexuals who are attracted to people in romantic, but not sexual ways.
  • To have no romantic attraction, not to be asexual, which is no sexual attraction. An aromantic person is not nessicarily asexual. Example: Guy: “Why did José have sex with me but not call me back?”, Girl: (*shrugs*) “Maybe he’s aromantic…?”
  • A person who finds other people to be sexually attractive, but has no romantic feeling toward them.
  • Someone who doesn’t fall in love or loves.

Well readers, by reading those definitions I bet you understand now what aromantic is all about.

The aromantic spectrum

Alloromantic people experience frequent attraction. Everyone else can be considered part of the aromantic (aro) spectrum. This includes aromantic, gray-romantic, lithromantic/akoiromantic, wtfromantic/quoiromantic, and other non-alloromantic orientations. People on the aromantic spectrum experience romantic attraction less frequently, weakly, or in some fundamentally different way than alloromantic people.

Variations of gray-romantic are gray-aromantic, grayromantic, and swapping “gray” for “grey”. The definition of gray-romantic varies. One definition is infrequent attraction; gray-romantic people may only be romantically attracted to a couple or even one person in their lifetime. Another definition is between aromantic and alloromantic. Gray-romantic is sometimes used as an umbrella term for all non-aro, non-allo orientations.

The aro spectrum is not a universally agreed upon concept. Some people with an aro spectrum identity think of themselves as alloromantic. Furthermore, some people consider the idea of an aro spectrum nonsensical since aromanticism itself is total lack of romantic attraction. Both aro spectrum and alloromantic people can be romance-positive, -neutral, or -repulsed. Romance-positive aromantic people may be involved in romantic relationships. Some people consider this appropriation of the aromantic identity.

Arophobia

Arophobia is the fear and hatred of all people who are on the aromantic spectrum and/or express their aromanticism. Arophobia encompases any belief which posits alloromanticism as superior to aromanticism. Arophobia is related to amatonormativity. Elizabeth Brake defined amatonormativity as the following in her book Minimizing Marriage: Marriage, Morality, and the Law:

The assumption that a central, exclusive, amorous relationship is normal for humans, in that it is a universally shared goal, and that such a relationship is normative, in the sense that it should be aimed at in preference to other relationship types.

Some examples of amatornomativity include: pressuring people to pursue romantic relationships; insisting that romantic relationships are superior to all other ones; assuming that people who are not in romantic relationships are miserable; and assuming that everyone wants to end up with a romantic partner. Some examples of arophobia specifically include assuming that aromantic people are lonely, “sociopaths”, damaged, heartless, or hypersexual. Insisting that aromantic people just need to find the “right” person to fall in love with is also arophobic.

 

Queerplatonic relationships

Queerplatonic (or quasiplatonic) are aromantic relationships They are not romantic but nonetheless involve an intense emotional connection beyond or in addition to friendship.

The term like the concept of queering gender, it aims to subvert and question the norms we set out for relationships. People of all orientations and genders can be in (a) queerplatonic relationship(s). Queerplatonic relationships can involve sex (intercourse), but are defined non-romantic attachment.

Aromantic pride

There have been dozens of proposed pride flags. A flag that has existed for some time is the one on National Coalition for Aromantic Visibility’s website, reproduced at the top of the article. The stripes have the following meanings:

The different stripes represent different aspects of aromanticism and our community. Green is for aromantics, who do not naturally experience romantic attachment. Yellow represents romantic friendship, friends with benefits, friendship dating, and queerplatonic relationships. Orange stands for lithromantics, individuals who experience romantic love but do not wish it returned. And finally, the black stripe is for romantics who consciously choose to reject traditional romantic culture.

Symbols for aromantic pride often include arrows. Much like the ace of spades for the asexual (ace) community, “arrow” is a pun on the abbreviation “aro”.

Here is aromantic test you could try:

http://www.allthetests.com/quiz32/quiz/1434229189/Are-you-aromantic

Well readers, thank you so much for reading. Actually I was curious about my ex because he was too cold and has no desire in romantic and sexual. So maybe he is an ace-aro, but I don’t wanna judge him before he gets any psychology test. It was my uncomfortable feeling and suffer while I was with him because he seemed like he had no interest to be with me, or not interested having romantic relationship or anything. But thank God our relationship is over now and I will be more carefull to date any other guy next time.

With Love,

Naomi Indah Sari

Source:

http://www.urbandictionary.com/define.php?term=aromantic

http://sjwiki.org/wiki/Aromanticism#.WUkzeoyGPIU

Related Information:

http://everydayfeminism.com/2016/09/asexual-and-aromantic-matter/

https://www.vice.com/en_us/article/aromantics-amelia-tait-322

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Asexuality

Bandung, June 20th 2017

11:00 am

Hi readers, today I wanna share you about asexuality. I got a word “asexuality” was about 5 years ago, actually I forgot where did I get it. But I remember I watched some documenter videos about asexuality on youtube. I’m interested about this topic from several years ago, but I never wrote about it until last time I dated a guy who said that he has no desire for sexuality. Then I thought about it, I analyzed it more from the internet and tested him, and I also watched his action to me, etc. After we dated for several months I found he was cold, cold in sexuality, cold in communication, cold in everything. I felt really suffer because I didn’t feel he loved me or interested on me. Seemed like he was busy with his world and had no desire for being in relationship, and of course I did’t find any quality in our relationship because he talked less and did less. It was my first experience dating with a guy who didn’t have any desire on me and also he couldn’t show his attention or his care to me and to our relationship. So, I felt like I dated a “man doll” with no expression, no desire, no attention, no care and no everything.

Suddenly today I read again about asexuality, and I wanna share to you readers what asexuality is all about. I don’t judge my ex as asexual person, but maybe he is, but of course we need do more valid psychology test to get to know him. But well, just forget it. lol

Right now I wanna share you an article from  http://www.whatisasexuality.com/intro/

Happy reading….

Image result for asexuality is

What Is Asexuality?
Asexuality is a sexual orientation characterized by a persistent lack of sexual attraction toward any gender.

At least 1% of people are believed to be asexual.

Who Is Asexual?
An asexual person (“ace”, for short) is simply someone who does not experience sexual attraction. That’s all there is to it. Aces can be any sex or gender or age or ethnic background or body type, can be rich or poor, can wear any clothing style, and can be any religion or political affiliation.

In short: There is no asexual “type”.

Image result for asexuality is

A Misunderstood Orientation
Many people hear the word “asexual” and make assumptions about what it means. They think of single-celled organisms in a petri dish. They think of a celibate monk on far off mountaintop. They think of a genderless robot from outer space. Asexuality isn’t any of those things.

In particular:

Asexuality is not an abstinence pledge. (Although there may be abstinent aces.)
Asexuality is not a synonym for celibacy. (There are celibate aces and promiscuous aces and aces everywhere in between.)
Asexuality is not a gender identity. (Although there may be trans, non-binary, or genderqueer aces.)
Asexuality is not a disorder. (Although there may be aces with physical or mental conditions.)
Asexuality is not a choice. (Although not every ace is “born that way”.)
Asexuality is not a hormone imbalance. (Although there may be aces with hormone issues.)
Asexuality is not a fear of sex or relationships. (Although there may be aces who are afraid of or otherwise dislike sex or relationships.)

Image result for asexuality is

Attraction, Not Action
Asexuality is a sexual orientation, like homosexuality or heterosexuality. And like being straight or being gay, it’s about what someone feels, not what someone does. Dating, having sex, masturbating, falling in love, getting married, or having children do not conflict with asexuality in any way. There are many reasons why an asexual person might do these things that do not require sexual attraction to be present.

Experiencing arousal or orgasm also do not conflict with asexuality.

Some Do, Some Don’t
Many questions people have about asexuality can be answered with the same phrase: “Some Do, Some Don’t.” Do asexuals date? Some do, some don’t. Do asexuals fall in love? Some do, some don’t. Do asexuals have sex? Some do, some don’t. Do asexuals masturbate? Some do, some don’t. Do asexuals like pepperoni pizza? Some do, some don’t. We are all individuals, with our own individual preferences and personalities, and it is generally impossible to make blanket statements about us.

The Gray Areas
Some people feel that they are “almost asexual” or “asexual with an exception”. That is, they strongly identify with being asexual, except for a few limited or infrequent experiences of sexual attraction. Gray-asexual people fall in between asexuality and non-asexuality. In some cases, they experience sexual attraction only rarely. In others, they’re unsure if they’ve experienced it or don’t feel that they quite fit the definition of asexual in some way. Demisexual people are only capable of feeling sexual attraction after developing a strong emotional bond with someone. Demisexuality and gray-asexuality fall within what’s called the “asexual spectrum”.

The Concept of Love
Along with a sexual orientation, people have what’s called a romantic or affectional orientation that describes who that person might be romantically attracted to. In many people, the sexual and romantic orientations are aligned, so people tend not to think about them being separate concepts. It is not uncommon for asexuals to experience romantic attraction.

Romantic orientations are given names that parallel sexual orientations. For instance, a heteroromantic person is someone who experiences romantic attraction toward a different gender, homoromantic toward the same gender, and so on. A significant number of asexuals also identify as aromantic, which means that they do not experience romantic attraction.

Separating romantic and sexual attraction is not strictly limited to asexual people, however. For instance, it is possible for someone to be an aromantic heterosexual, or any other combination.

How Can I Tell?
If you want to know if you’re asexual, ask yourself the following question: “Do I feel sexual attraction?” If the answer is “No”, you’re asexual. The problem with that question is that “sexual attraction” is a vague phrase. It’s difficult to say that you’ve never felt something, if you don’t know what that something feels like.

If you’re still unsure, here is a list of questions to help guide your thoughts. They’re not meant as a checklist to “diagnose” asexuality, rather, they describe feelings that many asexual people have had.

Are you generally disinterested in sex?
Is your interest in sex more scientific than emotional?
Do you feel left out or confused when others discuss sex?
If you had sex, did you think it was dull or boring, and not the amazing experience other people made it out to be?
Have you ever had to pretend to be interested in someone in order to fit in?
Have you ever felt “broken” because you don’t experience sexual feelings like those around you?
Have you ever felt that you were straight “by default” or that you were bi or pan because you were equally (dis)interested in all genders?
Have you ever gone out with someone or had sex because you felt “that’s what you’re supposed to do?”
If you want to know if someone else is asexual, you have to talk to them about it. There are no outward signs of asexuality, and you shouldn’t attempt to label someone else against their will.

Well readers, I’m also sharing to you the video when David Jay, who is asexual (ace) sharing his struggle for being asexual. David Jay was born in April 24th 1982, he is an American asexual activist. Jay is the founder and webmaster of the Asexual Visibility and Education Network (AVEN).

Jay is from St. Louis, Missouri, and he graduated from Crossroads College Preparatory School in 2000. At the age of 15, Jay began considering himself asexual, and he came out as asexual while a student at Wesleyan University in Connecticut.

Frustrated with the lack of resources available regarding asexuality, Jay launched AVEN’s website in 2001. Since then, he has taken a leading role in the asexuality movement, appearing on multiple television shows, and being featured heavily in Arts Engine’s 2011 documentary (A) sexual.

AVEN, which Salon.com referred to as the “unofficial online headquarters” of the asexuality movement, is widely recognised as the largest online asexual community. Its two main goals are to create public acceptance and discussion about asexuality and to facilitate the growth of a large online asexual community. As of June 17, 2013, AVEN has nearly 70,000 registered members.

In New York City, working both with the Department of Education and private organizations, he’s been providing training on Ace inclusion to health educators.

He has a vision for a post-sex world, one that asks all of us to work on building a more empathetic, intimate society that celebrates any kind of close human relationship, whether or not it involves sex.

You also can try this asexual test:

https://lonerwolf.com/asexuality-test/

https://www.proprofs.com/quiz-school/personality/quizshow.php?title=so-you-think-youre-asexual&q=1

http://www.allthetests.com/quiz33/quiz/1468985189/Are-you-asexual

 

 

Thank you so much everyone for reading…

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

http://www.whatisasexuality.com/

https://en.wikipedia.org/wiki/David_Jay

 

Related Information:

Glossary — WhatIsAsexuality.com
Asexuality: A Brief Introduction — AsexualityArchive.com
Q & Ace — AsexualityArchive.com
Possible Signs of Asexuality — AsexualityArchive.com
Am I Ace? — WhatIsAsexuality.com

 

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari