Alpha women are different from other women

SE

Laurel Thatcher Ulrich once said that “Well-behaved women seldom make history,” and those words have been printed on paper and typed onto the internet millions of time ever since. Although it’s easy to take the phrase to mean mostly whatever you want, in truth, these words are meant to celebrate women who make the world, in general, a better place, largely by being bolder and more creative than most other people. Read the following list to find out just how badass alpha-women really are, and to find out just how amazing they are.

#1: They make maximizing enjoyment in life a top priority

Regardless of whether they’re single, dating, engaged, or married, alpha-women make sure to continually shape their situation in life in ways which make it genuinely enjoyable to live. Living requires experiencing, so badass, fearless women embrace new courses, trips, and people whenever they have the opportunities (instead of shying away from these things, or accepting excuses not to be there).

#2: They’re open and assertive.

They’ll be the first person to introduce themselves or the first employee to ask for (a very well-deserved) raise. They don’t tend to beat around the bush or hesitate in general.

#3: They’re confident in their character.

It doesn’t matter if they are aware of every one of their imperfections because alpha-women know that overall, they are truly badass (and no one is perfect anyway).

#4: They’re happy single but open to a relationship which will make them even happier.

This means that they have more than enough people, hobbies, and interests in their life to begin with, but also that they are willing to reduce or cut some things out in order to make room for new people and things which fulfill alpha-women in different ways.

#5: They learn from the past, but don’t dwell on it.

It’s important to remember the past so you can learn from your mistakes, but once the lessons have been learned and remembered, alpha-women put their knowledge to the best use possible by focusing on how they can change and improve their lives in the present to better themselves now and in the future.

#6: They set and maintain boundaries.

They don’t allow people to violate their body, space, dignity, or beliefs. Appropriate words and actions are loud after any of these violations occur (or almost do).

This is the most important point for me. Don’t say any judgement statement to me, don’t think “small” or think “short” about anything before you analize it, don’t intimidate, don’t say any bad word to me. If you do that, I’ll give you minus score. Lol.

#7: They’re not afraid to walk away in some situations.

When a friendship, family relationship, or romantic relationship isn’t perfect, alpha-women are aware of all the pros and cons, and as soon as it’s clear that the juice isn’t worth the squeeze, they move on to a more positive endeavor.

Yes sure, and I’m not afraid to leave anything behind. I’m ready to be alone if people around me piss me off.

#8: They demand physical relationships.

This means that just texting, calling, or video messaging most of the time won’t cut it. I mean, you can still be friends, but alpha-women deserve and demand much more from their partners.

Physical relationship not only about sex, it means you have to show your love by hugging, or kissing, or cuddling, or anything you can do to show your love physically.

#9: They’re opportunistic.

Online networking is great, but badass, fearless women know that putting themselves out there in the real world is key to finding the best opportunities. Partly due to this, alpha-women are highly versatile from the wide ranges of clubs, pubs, museums, and galleries which they’ve been to.

And also don’t be fake and don’t do any simulation on social media to make you look good in my eyes. Real relationship much better than virtual relationship.

#10: They aren’t overly dramatic.

Just truly genuine. Fuck drama! Show me the real you!

#11: They aren’t celebrity worshippers.

Instead, they worship the reality around them—life itself. I worship myself. Lol

#12: They realize their bodies and their minds are investments.

It’s worth working out more now and reading and learning more now in order to be healthier, happier, and more successful in the near future (you’ll be in great shape and well-educated).

#13: They won’t be victimized.

They accomplish this by refusing to re-live negative experiences, and by maintaining control of their feeling, emotions, and life, as a result.

#14: They “just do it.”

Is that still a Nike slogan? Regardless, if an alpha-woman is unsure about saying or doing something, they will end up saying or doing it far more frequently than they will hold back. Because of this, badass, fearless women don’t have very many regrets. 

Never regret, never feel sad, never do drama, never cry when someone leave or dead.

#15: They’re always themselves.

They care about what other people think and do, but after considering the whole picture, they have no choice but to say or do whatever they truly think is best for themselves, their friends, their family members, and the world overall.

Which means I don’t care about what people think about me. Because I’m sure they’re not perfect, and so am I. I do and think what I enjoy & comfort with. I don’t follow people’s action or thought. I’m just me.

Source:

Advertisements

Buku: Supernova 1 (Kesatria, Putri & Bintang Jatuh), Dee Lestari

Bandung, 6 Agustus 2017

02:15pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat terkenal dan fenomenal di Indonesia yang ditulis oleh mantan penyanyi zaman saya SD, yaitu Dee Lestari. hehehehe Buku ini adalah serangkaian buku-buku yang diberi nama “Supernova” yang terdiri dari 6 seri. Nah yang mau saya share sekarang adalah buku seri pertama yang berjudul “Kesatria, Putri & Bintang Jatuh”.

Kalau boleh berkomentar dulu, ini bukunya agak sedikit rumit dan membingungkan yah. Saya sampai harus lihat-lihat lagi halaman-halaman berikutnya supaya benar-benar nangkep maksud/ pesan dari buku ini. Saya tertarik mau baca buku ini karena beberapa orang bilang ini bukunya bagus banget dan ditulis dengan sangat cerdas oleh Dee Lestari, sampai-sampai waktu saya search buku ini via online (ceritanya mau beli di toko buku online), ada orang yang mention saya terus semangat banget rekomendasiin buku ini ke saya, katanya “Wajib banget baca kak. Sumpah si Dee pinter banget. Semua ilmu ada di buku supernova”. Ok ok, akhirnya setelah keliling semua toko buku di Jakarta (tempat saya tinggal sebelum pindah ke Bandung) tidak ketemu buku supernova 1 ini atau biasanya disingkat dengan “KPBJ”, dan akhirnya saya memutuskan beli online.

Well, waktu awal saya baca buku KPBJ ini, saya langsung tertarik karena Dee menggunakan pasangan homoseksual sebagai tokoh utama buku ini, yang bernama Dimas & Reuben. Kenapa saya tertarik? Karena di buku ini si Dimas & Reuben diceritakan sebagai pasangan homoseksual yang berintelektual, alias berpendidikan. Ide ini bagus banget untuk membangun citra bahwa homoseksual sama seperti orang normal yang berpendidikan tinggi, cerdas, intelek, kreatif, dan mampu berkarya. Tidak seperti stereotype yang sudah melekat di masyarakat bahwa homoseksual adalah menjijikkan, tidak berpendidikan, tidak bermoral, bahkan phedofil atau psikopat.

Selain itu, sangat menarik karena Dee menulis cerita di dalam cerita. Maksudnya, Dee menciptakan Dimas & Reuben dalam bukunya, lalu Dimas & Reuben menulis juga tentang tokoh-tokoh lain yang diciptakannya dalam tulisannya. Ini sangat menarik walaupun sedikit membingungkan karena setting ceritanya lompat-lompat ke cerita yang berbeda, namun masih saling terkait.

Kenapa Dee dipuji-puji sangat cerdas melalui buku ini, karena buku ini menyajikan istilah-istilah atau membahas teori-teori yang beragam seperti sastra, filsafat, sains, fisika, kimia, matematika, biologi, anatomi, psikologi, dan lain sebagainya. Seakan Dee berusaha menggabungkan semua ilmu tersebut dalam suatu kehidupan manusia, yang memang saling berkaitan satu sama lain.

Dalam buku ini tokoh Reuben mengatakan, “bahwa kebenaran yang utuh baru kamu dapatkan setelah melihat kedua sisi cermin kehidupan. Tidak cuma sebelah. Dan, cermin itu sangat dekat”. Lalu ia memperjelas bahwa cermin tersebut berada di setiap atom tubuh kita sendiri.

Kalau boleh saya mendefinisikan versi saya sendiri, mungkin maksudnya adalah saat kita mau mencari suatu kebenaran jangan hanya melihat dari satu sisi saja, atau satu aspek saja, atau satu paham saja, atau satu ideologi saja, atau satu agama saja, atau satu ide saja, tetapi pelajarilah, analisalah, lihatlah dari dua sisi yang berbeda, analisalah. Dengan demikian kita akan menemukan kebenaran. Jika kita hanya melihat dari sisi kita sendiri, atau melihat yang kita yakini saja, maka kebenaran tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Adapula dialog dimana Reuben bercerita pada Dimas bahwa orangtua Reuben sudah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang gay, lalu Reuben berkata, “Kalau sampai saya dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka (orangtua Reuben) bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya, kalau saya dianggap produk gagal, berarti mereka juga”.

Wkwkwkwkwkwkwkkwk Dialog ini lucu sekaligus menyindir. Seakan berkata bahwa tidak ada manusia yang merupakan produk gagal, jika seorang manusia adalah heteroseksual, bukan berarti juga dia sempurna. Artinya ya semua manusia diciptakan dengan pribadi yang unik & layak, jika ia terlahir cacat tubuh misalnya, bukan berarti dia produk gagal, dia tetap sempurna. Karena Tuhan pasti adil, ada hal yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain dan begitupun sebaliknya.

Oh iya, tokoh Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh adalah tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Dimas & Reuben, mereka yang menulis cerita atau novel tentang itu. Diceritakan seorang Kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri, namun putri tersebut bukanlah seorang wanita single, namun milik seorang pangeran. Kesatria & Putri sangat sedih & tersiksa karena kenyataannya mereka saling mencintai. Lalu ada tokoh Bintang Jatuh yang diciptakan sebagai seseorang yang harus sepenuhnya mewakili area abu-abu. Teori relativitas berjalan. Manusia yang penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, juga bukan protagonis. Penuh kebajikan, tapi juga penuh kepahitan. Dialah meteor langit setiap orang. Penuh kesan, tapi dengan cepat melesat hilang. Tidak terbendung institusi apa-apa, organisasi manapun, bukan properti siapa-siapa.

Lalu ada dialog di mana Reuben menyebut tentang filosofinya Abraham Maslow yang seorang penemu konsep psikologi transpersonal, yang didasari pada kerangka kerja idealis monistik, yaitu paradigma yang mengatakan bahwa otak dan pikiran berada di realitas yang sama. Idenya adalah sebagai berikut, “Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun dimungkinkan untuk mengejar pencarian lebih tinggi. Aktualisasi diri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri di level yang paling dalam”.

Walaupun cuma sekutipan saja, tetapi bermakna cukup dalam yah. Intinya kita sebagai manusia harus mengejar pencarian yang lebih tinggi, yaitu aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini bentuknya atau kegiatannya bermacam-macam sesuai panggilan nurani setiap manusia. Setiap orang berbeda-beda dalam menangkap konsep aktualisasi diri ini, dengan demikian aktualisasi diri tidak bisa digeneralisasikan sebagai suatu pikiran/tindakan/kegiatan tertentu.

Supernova bukan hanya nama serial buku ini, tetapi juga nama tokoh yang akan selalu ada diseluruh seri buku Supernova. Sosok supernova sebenarnya adalah misteri, namun setelah saya nonton film Supernova KPBJ yang diadopsi langsung dari buku ini; ternyata baru terlihat siapa supernova sebenarnya. ^_^

Dari keseluruhan cerita KPBJ, menurut saya Dee menitikberatkan keseluruhan ceritanya pada teori “Order and Chaos“. Order and Chaos adalah teori tentang sistem deterministik, tetapi pergerakannya sangat sensitif terhadap kondisi-kondisi inisial sehingga tidak memungkinkan adanya prediksi jangka panjang.

Sesempurna apapun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengubrak-abrik. Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya order and chaos hadir bersamaan sebagai perekat. Di mana terdapat zona kuantum, rimba infinit di mana segalanya relatif, kumpulan potensi, dan probabilitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus-putusan. Paradigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan, bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat bagi yang mengagung-agungkan objektivitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif, dan seringkali harus subjektif.

Well readers, uda pusing belum? Sepertinya kalian sama pusingnya seperti saya yah. Pokoknya buku ini recommended banget untuk kamu baca. Pusing sedikit gapapa lah yah untuk menambah pengetahuan kamu.

Untuk cerita detail dan teori-teori serta konsep-konsep keilmuan apa saja yang dibahas di buku ini, kalian bisa langsung beli bukunya dan baca sendiri yah. Semangat!!!

With love,

Naomi Indah Sari

 

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Simulacra

Bandung, 17 Juli 2017

10:00am

Hi readers, setelah sebelumnya saya share tentang Memetics, sekarang saya mau share tentang Simulacra. Istilah dan teori Simulacra ini dilontarkan oleh seorang tokoh besar cultural-studies bernama Jean Baudrillard.

Image result for simulacra adalah

Dalam hal simulasi, manusia mendiami suatu realitas, di mana perbedaan antara yang real (nyata) dan fantasi, antara asli dan palsu sangatlah tipis. Dunia-dunia tersebut dapat diibaratkan seperti disneyland, universal studio, china town, las vegas atau beverly hills. Lewat media informasi, seperti iklan, televisi, dan film dunia simulasi tampil sempurna. Dunia simulasi itulah yang kemudian dapat dikatakan tidak lagi peduli dengan realitas atau kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang tanda. Di samping itu, tidak dapat lagi dikenal mana yang asli dan mana yang palsu. Semua itu pada akhirnya menjadi bagian realitas yang di jalani dan dihidupi masyarakat saat ini. Kesatuan inilah yang kemudian oleh Baudrilard disebut sebagai simulacra, yaitu sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya antara nilai, fakta, tanda, citra, dan kode.

Dengan demikian simulacra adalah suatu kebohongan berupa tanda, atau image yang dibangun seseorang yang memiliki sifat pada kontennya yang jauh dari realitas asli orang tersebut.

Contoh: misal saja ada seseorang yang dalam realitas hidupnya berdosa dan kurang bermoral, namun melalui akun pribadinya di sosial media, dia bisa saja memposting hal-hal yang religious mulai dari gambar hingga ayat-ayat suci. Dalam hal ini orang tersebut sedang melakukan suatu simulasi yang berbeda dengan realitas dirinya yang asli. Inilah yang disebut dengan simulacra.

Dalam buku yang berjudul “Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard” yang ditulis oleh M. Imam Aziz, Aziz mengatakan bahwa Iklan telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi semua masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonis kepuasan murni, seperti suatu keadaan alam baru di jantung yang kita miliki dalam hiperperadaban. Kebebasan yang kita miliki dalam hiperperadaban sepenuhnya dibatasi oleh sistem komoditas: “Bebas untuk menjadi diri sendiri” ternyata berarti bebas untuk mengarahkan hasrat pribadi pada barang-barang yang diproduksi. “Bebas untuk menikmati hidup” berarti bebas untuk mundur dan bersikap irasional, dan kemudian menerima suatu organisasi sosial produksi tertentu.

Kalimat “bebas menjadi diri sendiri” yang disebut diatas bukan berarti bebas menjadi diri apa adanya (real), tetapi setiap individu bebas menciptakan diri yang seperti apa yang dia inginkan untuk dilihat orang lain di sosial media. Jika setiap orang melakukan simulasi ini, lantas siapa yang jujur menunjukkan diri aslinya. Bahkan saat seseorang membangun image yang sederhana, ramah, dan baik hatipun mungkin saja itu juga merupakan simulasi.

Orang-orang modern dikelompokkan menurut komoditas yang mereka miliki. Konsumsi merupakan suatu tindakan sistematik dari manipulasi tanda-tanda, yang menandai status sosial melalui pembedaan. Konsumsi menentukan status sosial seseorang melalui objek-objek, setiap pribadi dan kelompok mencari tempatnya dalam suatu aturan, sejenak kemudian mencoba untuk mendesak-desak aturan ini menurut lintasan pribadi.

Dalam Simulacra, ada istilah yang disebut dengan Hyperreal, di mana hyperreal ini merepresentasi fase-fase yang lebih berkembang dalam pengertian bahwa pertentangan antara yang nyata dan yang imajiner ini dihapuskan. Yang tak nyata bukan lagi mimpi atau fantasi, tentang, yang melebihi atau yang di dalam, melainkan kemiripan halusinasi dari yang nyata dengan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, ada 3 istilah yang saling terkait; yaitu simulasi, simulacra, dan hiperrealitas. Simulasi berarti tiruan. Maksudnya adalah realitas tiruan yang masih mengacu pada realitas yang sesungguhnya. Sedangkan kedua, Simulacra. Baudrillard mengartikannya dengan realitas tiruan yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Artinya realitas sesungguhnya sudah dibelokkan yang kemudian benar-benar ditutup dari acuannya. Akan tetapi, realitas ini belum sepenuhnya sempurna dikatakan sebagai sebuah realitas yang benar-benar real. Karena, hubungan timbal baik/ interaktif belum terjadi. Atau kita bisa menyebutnya sebagai semi-realitas.
Nah, yang ketiga adalah Hiperrealitas. Inilah yang disebut sebagai realitas yang benar-benar real, bahkan di atas yang real, yang nantinya akan menggantikan realitas yang real sebelumnya. Artinya, Hiperrealitas adalah sebuah dekonstruksi dari realitas real sebelumnya, karena realitas ini akan sangat benar-benar berbeda dari sebelumnya. Atau dalam bukunya Yasraf Amir Pilliang yang berjudul Dunia Yang Dilipat, Hiperrealitas (Hyper-reality) dijelaskan oleh Baudrillard sebagai, keadaan runtuhnya realitas, karena telah diambil alih oleh rekayasa virtual yang dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur. Sedangkan perbedaan antara fase simulacra dengan fase hiperrealitas, terletak pada cirinya yang interaktivis. Yakni, hal-hal yang tadinya hanya dapat dilakukan dalam realitas real, kini telah tergantikan dalam realitas virtual, seperti berinteraksi, transaksi ekonomi, rapat, belajar dsb. Bahkan, lebih efektif dan efisien cara-cara yang baru ini. sedangkan dalam fase simulasi maupun fase simulacra belum terjadi hal-hal seperti ini.

Image result for simulacra adalah

Dalam buku Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi, Nasrullah menulis bahwa Baudrillard mengungkapkan gagasan simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara terus menerus. Khalayak seolah-olah tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang ada di layar. Khalayak seolah-olah berada di antara realitas dan ilusi sebab tanda yang ada di media sepertinya telah terputus dari realitas.

Term simulakra digunakan Baudrillard untuk menggambarkan bagaimana realitas yang ada di media adalah ilusi, bukan cerminan dari realitas, sebuah penandaan yang tidak lagi mewakili tanda awal, tetapi sudah menjadi tanda baru. Baudrillard menyebutnya sebagai “a copy of a copy with no original“. Di media sosial interaksi yang terjadi adalah simulasi dan terkadang berbeda sama sekali. Misalnya, di media sosial identitas menjadi cair dan bisa berubah-ubah. Perangkat di media sosial memungkinkan siapapun untuk menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang berbeda sekali dengan realitasnya, seperti pertukaran identitas jenis kelamin, hubungan perkawinan, sampai pada foto profil.

Term ini terjadi melalui 4 tahap proses:

  1. Tanda (sign) merupakan presentasi realitas.
  2. Tanda mendistorsi realitas
  3. Realitas semakin kabur, bahkan hilang, malah tanda merupakan representasi dari representasi itu sendiri.
  4. Tanda bukan lagi berhubungan dengan realitas. Imaji telah menjadi pengganti dari realitas itu sendiri.

Contoh: saya memiliki pengalaman berkenalan dengan seorang pria yang sangat genius dalam bidang seni rupa, semua gambar hasil karyanya yang di post olehnya di sosial media sangatlah indah dan bagus, namun ada yang membuat saya curiga dan penasaran. Kebanyakan gambar-gambarnya mengandung unsur nudity, sex, wanita sexy, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Saat saya melihat semua gambar-gambar itu ada dua hipotesa yang ada di pikiran saya. Yang pertama, mungkin saja dia tidak pernah mengenal sex atau tidak pernah menyentuh tubuh wanita sehingga dia berimajinasi dan menuangkannya pada karya-karyanya. Yang kedua, mungkin saja dia orang yang senang berhubungan sex dan menyukai pornografi dan dia terang-terangan membagikan hasil karyanya tersebut pada sosial media. Singkat cerita hubungan kami semakin dekat dan saya jatuh cinta kepadanya. Hingga saya menemukan banyak hal-hal yang aneh yang jauh dari estimasi awal saya sebelumnya. Kesimpulan singkatnya, “ternyata dia adalah pelaku simulakra“. Dia melakukan simulasi dengan membangun image sebagai laki-laki jantan (yang menyukai sex) di sosial media, sementara di dunia real dia sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan dia sangat dingin. Awalnya saya curiga mungkin saja dia impoten atau tidak menyukai lawan jenis, sampai saya akhirnya berkesimpulan bahwa dia adalah seorang Asexual Aromantic (bisa dilihat di post blog saya sebelumnya). Selain image dari hasil karyanya tersebut, dia juga melakukan simulasi lain seperti memamerkan saya sebagai pasangannya dan seringkali comment kalimat-kalimat yang seakan romantis atau seakan dia peduli pada saya, sementara di dunia real dia bahkan tidak pernah berkomunikasi intens dengan saya. Dua bulan sejak kami kenal dan dekat saya terus menganalisa dia, dan akhirnya saya menemukan bahwa dia melakukan kebohongan citra/image yang dia bangun hanya untuk dilihat oleh teman-teman di sosial medianya. Ini sangat mengecewakan karena ternyata saya telah menjalin hubungan dengan seorang penipu citra. ^_^

Nah, jika simulasi yang dibuatnya di sosial media membuat orang yang melihatnya yakin dan percaya bahwa yang ditampilkan di sosial media adalah real, maka orang-orang tersebut dianggap telah terjebak dalam dunia simulacra; padahal konten-konten yang ditampilkan bersifat semu dan jauh dari realitas aslinya.

Inilah yang terjadi dalam cyberspace di mana proses simulasi itu terjadi dan perkembangan teknologi komunikasi serta kemunculan media baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas, menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual.

Menurut Baudrillard, realitas terkadang sudah tidak memiliki kesamaan dengan apa yang direpresentasikan. Teknologi dan media memiliki kekuatan tidak hanya untuk melakukan produksi, tetapi juga mereproduksi tanda (signs) dan objek (objects).

Untuk menjelaskan bagaimana konsep simulakra ini terjadi di media sosial, Tim Jordan mengatakan, ketika berinteraksi dengan pengguna lain melalui antarmuka (interface) di media sosial, pengguna harus melalui 2 kondisi berikut:

  1. Pengguna harus melakukan koneksi untuk berada di ruang siber. Koneksi ini merupakan prosedur standar yang harus dilakukan oleh semua pengguna ketika memanfaatkan media sosial.
  2. Ketika berada di media sosial, penguna kadang melibatkan keterbukaan dalam identitas diri sekaligus mengarahkan bagaimana individu tersebut mengidentifikasikan atau mengonstruk dirinya di dunia virtual.

Image result for simulacra adalah

Realitas Buatan

Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulacra, yaitu “daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa”. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya. Sulit memperkirakan hal-hal yang nyata dari hal-hal yang menyimulasikan yang nyata itu.

Baudrillard memberi contoh media massa. Media lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencerminkan realitas, bahkan menjadi realitas itu sendiri. Saksikan dengan seksama bagaimana media mendramatisasi peristiwa, jika suka atau tidak suka. Semua ada narasi simulasinya. Dia menyebutnya sebagai “cyberblitz“.

Realitas yang ditampilkan tampak benar dan objektif, tetapi sebuah kebenaran dan objektivitas yang dikonstruksi sesuai selera para aktor yang berkepentingan.

Sebenarnya pengertian simulakra tidak sesempit dan sesederhana itu, kita yang menganggap diri jujur, benar, dan apa adanya pun masih saja terjebak dalam dunia simulacra. Kejujuran yang kita post apa adanya sesuai pemikiran dan perasaan kita di sosial mediapun kerapkali dianggap pencitraan, pembentukan image, dan lain sebagainya. Ini dikarenakan masyarakat telah terbiasa melakukan simulasi, sehingga mereka menganggap kita melakukan simulasi yang sama. Sehingga semua yang buruk bisa menjadi baik saat disimulasi, dan semua yang baik menjadi buruk karena dipaksa untuk melakukan simulasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, simulakra dalam kaitannya dengan hiperrealitas terjadi karena gencatan yang terpaksa harus dilakukan oleh sebagian khalayak yang psikisnya telah terpapar oleh teknologi media. Misal dengan adanya fasilitas “follow“, “like“, “love“, dan lain sebagainya tersebut membuat khalayak berlomba-lomba membuat simulasi yang terbaik untuk mencitrakan dirinya atau untuk membuat image yang disukai masyarakat, di mana hal tersebut telah dibuat jauh dari karakter realnya. Seakan merupakan kebanggaan pribadi saat seseorang memiliki followers terbanyak atau mendapatkan likes terbanyak. Fasilitas ini tidak hanya mempengaruhi psikis seseorang, tetapi juga memengaruhi kualitas emosi orang tersebut. Tidak sedikit orang yang sebal, kesal, dan iri jika orang lain memliki lebih banyak followers dibandingkan dirinya. Perasaan seperti ini adalah perasaan simulakrum. Suatu emosi yang terjebak pada dunia imitasi. Mereka marah karena dunia imitasinya tidak lebih baik dari dunia imitasi orang lain.

Sampai disini dulu yah penjelasan saya tentang simulacra. Semoga bermanfaat… ^_^

 

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

Aziz, M. Imam. 2001. Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard. Yogyakarta: LKiS

Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalasutra.

https://lingkarstudipopularculture.wordpress.com/2010/05/08/simulasi-simulacra-dan-hiperrealitas/

http://www.republika.co.id/berita/kolom/teh-anget/16/09/23/odytgn319-paradoks-dunia-simulacra

 

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Aromantic

Bandung, June 20th 2017

09:00 pm

Hi readers,

on my last blog I wrote about Asexuality, now I’m sharing you about “Aromantic”. Asexuality and Aromantic are different but could be related. Someone who is asexual, maybe not aromantic, but someone who is asexual also could be aromantic. Or someone who is aromantic, maybe not asexual, but someone who is aromantic, could be asexual as well.

Why is this possible to be both? Because as we know from the blog before that Asexuality is someone who doesn’t experience sexual attraction with anybody, and “Aromantic” is someone who doesn’t experience romantic attraction. So, that’s why someone who has no interest for romantic attraction could be not interest for sexual attraction, but it could be no interest for romantic attraction, but interest in sexual attraction. If someone is identified as asexual and aromantic, they are called “ace-aro”.

These are some definitions about Aromantic:

  • A person who is aromantic does not experience romantic attraction. A person who is aromantic does not have to be asexual (a person who does not experience sexualitet attraction), and they might still experience sensual and aesthetic attraction. Example: Sarah is an aromantic bisexual. She feels sexual attraction to two genders, but does not feel romantic attraction.
  • One who lacks interest in or desire for romantic relationships.
  • Not experiencing romantic attraction. Not the same as being asexual, which means experiencing no sexual attraction. Aromantics can still be in a romantic relationship, they just do not experience an attraction towards their parter.
  • Not attracted to anyone in any way. Used by asexuals to differentiate themselves from asexuals who are attracted to people in romantic, but not sexual ways.
  • To have no romantic attraction, not to be asexual, which is no sexual attraction. An aromantic person is not nessicarily asexual. Example: Guy: “Why did José have sex with me but not call me back?”, Girl: (*shrugs*) “Maybe he’s aromantic…?”
  • A person who finds other people to be sexually attractive, but has no romantic feeling toward them.
  • Someone who doesn’t fall in love or loves.

Well readers, by reading those definitions I bet you understand now what aromantic is all about.

The aromantic spectrum

Alloromantic people experience frequent attraction. Everyone else can be considered part of the aromantic (aro) spectrum. This includes aromantic, gray-romantic, lithromantic/akoiromantic, wtfromantic/quoiromantic, and other non-alloromantic orientations. People on the aromantic spectrum experience romantic attraction less frequently, weakly, or in some fundamentally different way than alloromantic people.

Variations of gray-romantic are gray-aromantic, grayromantic, and swapping “gray” for “grey”. The definition of gray-romantic varies. One definition is infrequent attraction; gray-romantic people may only be romantically attracted to a couple or even one person in their lifetime. Another definition is between aromantic and alloromantic. Gray-romantic is sometimes used as an umbrella term for all non-aro, non-allo orientations.

The aro spectrum is not a universally agreed upon concept. Some people with an aro spectrum identity think of themselves as alloromantic. Furthermore, some people consider the idea of an aro spectrum nonsensical since aromanticism itself is total lack of romantic attraction. Both aro spectrum and alloromantic people can be romance-positive, -neutral, or -repulsed. Romance-positive aromantic people may be involved in romantic relationships. Some people consider this appropriation of the aromantic identity.

Arophobia

Arophobia is the fear and hatred of all people who are on the aromantic spectrum and/or express their aromanticism. Arophobia encompases any belief which posits alloromanticism as superior to aromanticism. Arophobia is related to amatonormativity. Elizabeth Brake defined amatonormativity as the following in her book Minimizing Marriage: Marriage, Morality, and the Law:

The assumption that a central, exclusive, amorous relationship is normal for humans, in that it is a universally shared goal, and that such a relationship is normative, in the sense that it should be aimed at in preference to other relationship types.

Some examples of amatornomativity include: pressuring people to pursue romantic relationships; insisting that romantic relationships are superior to all other ones; assuming that people who are not in romantic relationships are miserable; and assuming that everyone wants to end up with a romantic partner. Some examples of arophobia specifically include assuming that aromantic people are lonely, “sociopaths”, damaged, heartless, or hypersexual. Insisting that aromantic people just need to find the “right” person to fall in love with is also arophobic.

Queerplatonic relationships

Queerplatonic (or quasiplatonic) are aromantic relationships They are not romantic but nonetheless involve an intense emotional connection beyond or in addition to friendship.

The term like the concept of queering gender, it aims to subvert and question the norms we set out for relationships. People of all orientations and genders can be in (a) queerplatonic relationship(s). Queerplatonic relationships can involve sex (intercourse), but are defined non-romantic attachment.

Aromantic pride

There have been dozens of proposed pride flags. A flag that has existed for some time is the one on National Coalition for Aromantic Visibility’s website, reproduced at the top of the article. The stripes have the following meanings:

The different stripes represent different aspects of aromanticism and our community. Green is for aromantics, who do not naturally experience romantic attachment. Yellow represents romantic friendship, friends with benefits, friendship dating, and queerplatonic relationships. Orange stands for lithromantics, individuals who experience romantic love but do not wish it returned. And finally, the black stripe is for romantics who consciously choose to reject traditional romantic culture.

Symbols for aromantic pride often include arrows. Much like the ace of spades for the asexual (ace) community, “arrow” is a pun on the abbreviation “aro”.

Here is aromantic test you could try:

http://www.allthetests.com/quiz32/quiz/1434229189/Are-you-aromantic

Well readers, thank you so much for reading. Actually I was curious about my ex because he was too cold and has no desire in romantic and sexual. So maybe he is an ace-aro, but I don’t wanna judge him before he gets any psychology test. It was my uncomfortable feeling and suffer while I was with him because he seemed like he had no interest to be with me, or not interested having romantic relationship or anything. But thank God our relationship is over now and I will be more carefull to date any other guy next time.

With Love,

Naomi Indah Sari

Source:

http://www.urbandictionary.com/define.php?term=aromantic

http://sjwiki.org/wiki/Aromanticism#.WUkzeoyGPIU

Related Information:

http://everydayfeminism.com/2016/09/asexual-and-aromantic-matter/

https://www.vice.com/en_us/article/aromantics-amelia-tait-322

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Asexuality

Bandung, June 20th 2017

11:00 am

Hi readers, today I wanna share you about asexuality. I got a word “asexuality” was about 5 years ago, actually I forgot where did I get it. But I remember I watched some documenter videos about asexuality on youtube. I’m interested about this topic from several years ago, but I never wrote about it until last time I dated a guy who said that he has no desire for sexuality. Then I thought about it, I analyzed it more from the internet and tested him, and I also watched his action to me, etc. After we dated for several months I found he was cold, cold in sexuality, cold in communication, cold in everything. I felt really suffer because I didn’t feel he loved me or interested on me. Seemed like he was busy with his world and had no desire for being in relationship, and of course I did’t find any quality in our relationship because he talked less and did less. It was my first experience dating with a guy who didn’t have any desire on me and also he couldn’t show his attention or his care to me and to our relationship. So, I felt like I dated a “man doll” with no expression, no desire, no attention, no care and no everything.

Suddenly today I read again about asexuality, and I wanna share to you readers what asexuality is all about. I don’t judge my ex as asexual person, but maybe he is, but of course we need do more valid psychology test to get to know him. But well, just forget it. lol

Right now I wanna share you an article from  http://www.whatisasexuality.com/intro/

Happy reading….

Image result for asexuality is

What Is Asexuality?
Asexuality is a sexual orientation characterized by a persistent lack of sexual attraction toward any gender.

At least 1% of people are believed to be asexual.

Who Is Asexual?
An asexual person (“ace”, for short) is simply someone who does not experience sexual attraction. That’s all there is to it. Aces can be any sex or gender or age or ethnic background or body type, can be rich or poor, can wear any clothing style, and can be any religion or political affiliation.

In short: There is no asexual “type”.

Image result for asexuality is

A Misunderstood Orientation
Many people hear the word “asexual” and make assumptions about what it means. They think of single-celled organisms in a petri dish. They think of a celibate monk on far off mountaintop. They think of a genderless robot from outer space. Asexuality isn’t any of those things.

In particular:

Asexuality is not an abstinence pledge. (Although there may be abstinent aces.)
Asexuality is not a synonym for celibacy. (There are celibate aces and promiscuous aces and aces everywhere in between.)
Asexuality is not a gender identity. (Although there may be trans, non-binary, or genderqueer aces.)
Asexuality is not a disorder. (Although there may be aces with physical or mental conditions.)
Asexuality is not a choice. (Although not every ace is “born that way”.)
Asexuality is not a hormone imbalance. (Although there may be aces with hormone issues.)
Asexuality is not a fear of sex or relationships. (Although there may be aces who are afraid of or otherwise dislike sex or relationships.)

Image result for asexuality is

Attraction, Not Action
Asexuality is a sexual orientation, like homosexuality or heterosexuality. And like being straight or being gay, it’s about what someone feels, not what someone does. Dating, having sex, masturbating, falling in love, getting married, or having children do not conflict with asexuality in any way. There are many reasons why an asexual person might do these things that do not require sexual attraction to be present.

Experiencing arousal or orgasm also do not conflict with asexuality.

Some Do, Some Don’t
Many questions people have about asexuality can be answered with the same phrase: “Some Do, Some Don’t.” Do asexuals date? Some do, some don’t. Do asexuals fall in love? Some do, some don’t. Do asexuals have sex? Some do, some don’t. Do asexuals masturbate? Some do, some don’t. Do asexuals like pepperoni pizza? Some do, some don’t. We are all individuals, with our own individual preferences and personalities, and it is generally impossible to make blanket statements about us.

The Gray Areas
Some people feel that they are “almost asexual” or “asexual with an exception”. That is, they strongly identify with being asexual, except for a few limited or infrequent experiences of sexual attraction. Gray-asexual people fall in between asexuality and non-asexuality. In some cases, they experience sexual attraction only rarely. In others, they’re unsure if they’ve experienced it or don’t feel that they quite fit the definition of asexual in some way. Demisexual people are only capable of feeling sexual attraction after developing a strong emotional bond with someone. Demisexuality and gray-asexuality fall within what’s called the “asexual spectrum”.

The Concept of Love
Along with a sexual orientation, people have what’s called a romantic or affectional orientation that describes who that person might be romantically attracted to. In many people, the sexual and romantic orientations are aligned, so people tend not to think about them being separate concepts. It is not uncommon for asexuals to experience romantic attraction.

Romantic orientations are given names that parallel sexual orientations. For instance, a heteroromantic person is someone who experiences romantic attraction toward a different gender, homoromantic toward the same gender, and so on. A significant number of asexuals also identify as aromantic, which means that they do not experience romantic attraction.

Separating romantic and sexual attraction is not strictly limited to asexual people, however. For instance, it is possible for someone to be an aromantic heterosexual, or any other combination.

How Can I Tell?
If you want to know if you’re asexual, ask yourself the following question: “Do I feel sexual attraction?” If the answer is “No”, you’re asexual. The problem with that question is that “sexual attraction” is a vague phrase. It’s difficult to say that you’ve never felt something, if you don’t know what that something feels like.

If you’re still unsure, here is a list of questions to help guide your thoughts. They’re not meant as a checklist to “diagnose” asexuality, rather, they describe feelings that many asexual people have had.

Are you generally disinterested in sex?
Is your interest in sex more scientific than emotional?
Do you feel left out or confused when others discuss sex?
If you had sex, did you think it was dull or boring, and not the amazing experience other people made it out to be?
Have you ever had to pretend to be interested in someone in order to fit in?
Have you ever felt “broken” because you don’t experience sexual feelings like those around you?
Have you ever felt that you were straight “by default” or that you were bi or pan because you were equally (dis)interested in all genders?
Have you ever gone out with someone or had sex because you felt “that’s what you’re supposed to do?”
If you want to know if someone else is asexual, you have to talk to them about it. There are no outward signs of asexuality, and you shouldn’t attempt to label someone else against their will.

Well readers, I’m also sharing to you the video when David Jay, who is asexual (ace) sharing his struggle for being asexual. David Jay was born in April 24th 1982, he is an American asexual activist. Jay is the founder and webmaster of the Asexual Visibility and Education Network (AVEN).

Jay is from St. Louis, Missouri, and he graduated from Crossroads College Preparatory School in 2000. At the age of 15, Jay began considering himself asexual, and he came out as asexual while a student at Wesleyan University in Connecticut.

Frustrated with the lack of resources available regarding asexuality, Jay launched AVEN’s website in 2001. Since then, he has taken a leading role in the asexuality movement, appearing on multiple television shows, and being featured heavily in Arts Engine’s 2011 documentary (A) sexual.

AVEN, which Salon.com referred to as the “unofficial online headquarters” of the asexuality movement, is widely recognised as the largest online asexual community. Its two main goals are to create public acceptance and discussion about asexuality and to facilitate the growth of a large online asexual community. As of June 17, 2013, AVEN has nearly 70,000 registered members.

In New York City, working both with the Department of Education and private organizations, he’s been providing training on Ace inclusion to health educators.

He has a vision for a post-sex world, one that asks all of us to work on building a more empathetic, intimate society that celebrates any kind of close human relationship, whether or not it involves sex.

You also can try this asexual test:

https://lonerwolf.com/asexuality-test/

https://www.proprofs.com/quiz-school/personality/quizshow.php?title=so-you-think-youre-asexual&q=1

http://www.allthetests.com/quiz33/quiz/1468985189/Are-you-asexual

Thank you so much everyone for reading…

With Love,

Naomi Indah Sari

Source:

http://www.whatisasexuality.com/

https://en.wikipedia.org/wiki/David_Jay

Related Information:

Glossary — WhatIsAsexuality.com
Asexuality: A Brief Introduction — AsexualityArchive.com
Q & Ace — AsexualityArchive.com
Possible Signs of Asexuality — AsexualityArchive.com
Am I Ace? — WhatIsAsexuality.com

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Sexual Harrasment: Case Study in USA

Bandung, April 14th 2017 

6:40pm 

I found an article about the issue in USA which talk about sexual harrasment. I really concern about this topic, and I found this interesting article. Lets read it…

Happy reading….. 

====================================

One of the most pernicious ideas in American life is that sexual harassment lawsuits are an example of political correctness gone mad.

For the last few months I’ve been working on a video series for Highline, a re-examination of all the things we got wrong in the 1990s. The first episode is about the sexual harassment freakouts that cropped up in the wake of the Anita Hill hearing and what was really behind them.

Here’s a sequence that didn’t make it into the final cut, four women testifying at a 1992 Congressional hearing:

This is why we have sexual harassment laws.

Before 1986, none of these stories would have been illegal. Until Meritor Savings Bank v. Vinson, the only workplace discrimination that fell under the law was quid pro quo harassment, the kind where your boss explicitly tells you that if you want this promotion, you’ll have to sleep with him. Skeezy comments about your looks, getting groped at the water cooler, being told you had to meet a higher standard because of your gender, all that was just the cost of being a woman at work.

The most incredible thing about these cases, though, isn’t just the shittiness of the people perpetrating them. It’s the narrow-mindedness of the people in charge of punishing them.

Reading old sexual harassment cases, what you see over and over again is judges who simply couldn’t accept that women were blameless in their own abuse. One victim testified that she been assaulted by her boss for three straight years, that he touched her under the table during work meetings, that he bought her dinner her first week on the job and invited her to a motel afterward. The judges were skeptical. What was she wearing? Why did she go to dinner in the first place? Didn’t she eventually give in and have sex with him? Surely his advances weren’t that unwelcome.

This is how members of Congress treated Anita Hill too. If Clarence Thomas had been such a terrible boss, they asked her in 50 different ways, why did she later ask him for a reference? Despite all the alleged harassment, Arlen Specter pointed out, she never once complained to Thomas’s superiors. She even—gasp—picked him up at the airport once, years after they stopped working together.

It’s fascinating to me all the ways in which societal power is invisible to the people wielding it. For old, white, affluent judges, it simply didn’t make sense that a woman would have sex with her manager unless she really wanted to. Congress members couldn’t comprehend why a woman would maintain a relationship with her dickhead former boss, why she would wait years before publicly complaining about his behavior, why she would read aggression into his flirting and his backrubs and his ribald anecdotes.

I don’t think every judge and every Senator back then was a big old sleazebag. What I do think is that they suffered from a specific form of blindness, one that is human and understandable and utterly pernicious. We are all, in ways major and minor, incapable of seeing the world through anything but our own example. If you have never feared unemployment, the moral compromises others make to avoid it seem foreign. If you have never been hurt by jokes about your gender or your race or your sexuality, those who complain about them seem oversensitive.

Somehow, in the 25 years since the Anita Hill hearing (and, as I argue in the video, the passage of the 1991 Civil Rights Act), sexual harassment has become a synonym for a country that can no longer take a joke. Colleagues can’t even ask each other out for a drink nowadays. Managers can’t pat their employees on the shoulder.

But in fact, sexual harassment cases have been dwindling for years, and the mechanisms behind them have been steadily eroded. Since 1991, punitive damages have been capped at $500,000. Those eight-digit settlements you’re always reading about? Companies only have to pay a fraction of them. A study in 2002 found that more than half of large punitive damages awards got overturned on appeal. And that’s for the cases that make it to court. The vast majority of them don’t.

The real problem, in other words, is not that we have all become oversensitive. It is that we are not sensitive enough.

I am sure that, in this big and crowded country, someone somewhere has filed a frivolous lawsuit claiming to be sexual harassed when they weren’t. But becoming the country where that happens is not what we should fear. It is becoming the country that we used to be—one where  no one is allowed to file them at all.

Source:

What we talk about when we talk about sexual harassment 

http://wp.me/p13yED-2Ac

EGO by Tom Burkin

England, June 12th 2016 

06:30 am
There’s writing and there’s writings

There’re thoughts and there’re thoughts

There are actions and actions

There are words and there are words
Intention, intention, intention

Motivation and inspiration

The place of source, the origin

Distinguishes from original sin
There’s desires and deviancies

There’s want and there’s need

There’s what within, what’s beneath

And there’s what we’re fed to believe
What is a truth, but a subjective opinion

What is a belief, but a personal delusion

What is our sight but perfect illusion

What are we ourselves but an ego creation

============≠====================== 
Instagram: naomiindahsari
Facebook: Naomi Indah Sari