Buku: Supernova 1 (Kesatria, Putri & Bintang Jatuh), Dee Lestari

Bandung, 6 Agustus 2017

02:15pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat terkenal dan fenomenal di Indonesia yang ditulis oleh mantan penyanyi zaman saya SD, yaitu Dee Lestari. hehehehe Buku ini adalah serangkaian buku-buku yang diberi nama “Supernova” yang terdiri dari 6 seri. Nah yang mau saya share sekarang adalah buku seri pertama yang berjudul “Kesatria, Putri & Bintang Jatuh”.

Kalau boleh berkomentar dulu, ini bukunya agak sedikit rumit dan membingungkan yah. Saya sampai harus lihat-lihat lagi halaman-halaman berikutnya supaya benar-benar nangkep maksud/ pesan dari buku ini. Saya tertarik mau baca buku ini karena beberapa orang bilang ini bukunya bagus banget dan ditulis dengan sangat cerdas oleh Dee Lestari, sampai-sampai waktu saya search buku ini via online (ceritanya mau beli di toko buku online), ada orang yang mention saya terus semangat banget rekomendasiin buku ini ke saya, katanya “Wajib banget baca kak. Sumpah si Dee pinter banget. Semua ilmu ada di buku supernova”. Ok ok, akhirnya setelah keliling semua toko buku di Jakarta (tempat saya tinggal sebelum pindah ke Bandung) tidak ketemu buku supernova 1 ini atau biasanya disingkat dengan “KPBJ”, dan akhirnya saya memutuskan beli online.

Well, waktu awal saya baca buku KPBJ ini, saya langsung tertarik karena Dee menggunakan pasangan homoseksual sebagai tokoh utama buku ini, yang bernama Dimas & Reuben. Kenapa saya tertarik? Karena di buku ini si Dimas & Reuben diceritakan sebagai pasangan homoseksual yang berintelektual, alias berpendidikan. Ide ini bagus banget untuk membangun citra bahwa homoseksual sama seperti orang normal yang berpendidikan tinggi, cerdas, intelek, kreatif, dan mampu berkarya. Tidak seperti stereotype yang sudah melekat di masyarakat bahwa homoseksual adalah menjijikkan, tidak berpendidikan, tidak bermoral, bahkan phedofil.

Selain itu, sangat menarik karena Dee menulis cerita di dalam cerita. Maksudnya, Dee menciptakan Dimas & Reuben dalam bukunya, lalu Dimas & Reuben menulis juga tentang tokoh-tokoh lain yang diciptakannya dalam tulisannya. Ini sangat menarik walaupun sedikit membingungkan karena setting ceritanya lompat-lompat ke cerita yang berbeda, namun masih saling terkait.

Kenapa Dee dipuji-puji sangat cerdas melalui buku ini, karena buku ini menyajikan istilah-istilah atau membahas teori-teori yang beragam seperti sastra, filsafat, sains, fisika, kimia, matematika, biologi, anatomi, psikologi, dan lain sebagainya. Seakan Dee berusaha menggabungkan semua ilmu tersebut dalam suatu kehidupan manusia, yang memang saling berkaitan satu sama lain.

Dalam buku ini tokoh Reuben mengatakan, “bahwa kebenaran yang utuh baru kamu dapatkan setelah melihat kedua sisi cermin kehidupan. Tidak cuma sebelah. Dan, cermin itu sangat dekat”. Lalu ia memperjelas bahwa cermin tersebut berada di setiap atom tubuh kita sendiri.

Kalau boleh saya mendefinisikan versi saya sendiri, mungkin maksudnya adalah saat kita mau mencari suatu kebenaran jangan hanya melihat dari satu sisi saja, atau satu aspek saja, atau satu paham saja, atau satu ideologi saja, atau satu agama saja, atau satu ide saja, tetapi pelajarilah, analisalah, lihatlah dari dua sisi yang berbeda, analisalah. Dengan demikian kita akan menemukan kebenaran. Jika kita hanya melihat dari sisi kita sendiri, atau melihat yang kita yakini saja, maka kebenaran tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Adapula dialog dimana Reuben bercerita pada Dimas bahwa orangtua Reuben sudah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang gay, lalu Reuben berkata, “Kalau sampai saya dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka (orangtua Reuben) bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya, kalau saya dianggap produk gagal, berarti mereka juga”.

Wkwkwkwkwkwkwkkwk Dialog ini lucu sekaligus menyindir. Seakan berkata bahwa tidak ada manusia yang merupakan produk gagal, jika seorang manusia adalah heteroseksual, bukan berarti juga dia sempurna. Artinya ya semua manusia diciptakan dengan pribadi yang unik & layak, jika ia terlahir cacat tubuh misalnya, bukan berarti dia produk gagal, dia tetap sempurna. Karena Tuhan pasti adil, ada hal yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain dan begitupun sebaliknya.

Oh iya, tokoh Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh adalah tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Dimas & Reuben, mereka yang menulis cerita atau novel tentang itu. Diceritakan seorang Kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri, namun putri tersebut bukanlah seorang wanita single, namun milik seorang pangeran. Kesatria & Putri sangat sedih & tersiksa karena kenyataannya mereka saling mencintai. Lalu ada tokoh Bintang Jatuh yang diciptakan sebagai seseorang yang harus sepenuhnya mewakili area abu-abu. Teori relativitas berjalan. Manusia yang penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, juga bukan protagonis. Penuh kebajikan, tapi juga penuh kepahitan. Dialah meteor langit setiap orang. Penuh kesan, tapi dengan cepat melesat hilang. Tidak terbendung institusi apa-apa, organisasi manapun, bukan properti siapa-siapa.

Lalu ada dialog di mana Reuben menyebut tentang filosofinya Abraham Maslow yang seorang penemu konsep psikologi transpersonal, yang didasari pada kerangka kerja idealis monistik, yaitu paradigma yang mengatakan bahwa otak dan pikiran berada di realitas yang sama. Idenya adalah sebagai berikut, “Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun dimungkinkan untuk mengejar pencarian lebih tinggi. Aktualisasi diri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri di level yang paling dalam”.

Walaupun cuma sekutipan saja, tetapi bermakna cukup dalam yah. Intinya kita sebagai manusia harus mengejar pencarian yang lebih tinggi, yaitu aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini bentuknya atau kegiatannya bermacam-macam sesuai panggilan nurani setiap manusia. Setiap orang berbeda-beda dalam menangkap konsep aktualisasi diri ini, dengan demikian aktualisasi diri tidak bisa digeneralisasikan sebagai suatu pikiran/tindakan/kegiatan tertentu.

Supernova bukan hanya nama serial buku ini, tetapi juga nama tokoh yang akan selalu ada diseluruh seri buku Supernova. Namun sosok supernova sebenarnya adalah misteri, kalau dibaca dari buku KPBJ, kita belum bisa menemukan siapa supernova sebenarnya.

Dari keseluruhan cerita KPBJ, menurut saya Dee menitikberatkan keseluruhan ceritanya pada teori “Order and Chaos“. Order and Chaos adalah teori tentang sistem deterministik, tetapi pergerakannya sangat sensitif terhadap kondisi-kondisi inisial sehingga tidak memungkinkan adanya prediksi jangka panjang.

Sesempurna apapun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengubrak-abrik. Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya order and chaos hadir bersamaan sebagai perekat. Di mana terdapat zona kuantum, rimba infinit di mana segalanya relatif, kumpulan potensi, dan probabilitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus-putusan. Paradigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan, bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat bagi yang mengagung-agungkan objektivitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif, dan seringkali harus subjektif.

Well readers, uda pusing belum? Sepertinya kalian sama pusingnya seperti saya yah. Pokoknya buku ini recommended banget untuk kamu baca. Pusing sedikit gapapa lah yah untuk menambah pengetahuan kamu.

Untuk cerita detail dan teori-teori serta konsep-konsep keilmuan apa saja yang dibahas di buku ini, kalian bisa langsung beli bukunya dan baca sendiri yah. Semangat!!!

With love,

Naomi Indah Sari

You also can follow my instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: Memetics (Eko Wijayanto)

Bandung, 4 Juli 2017

10:30pm

Hi readers, kali ini saya mau share tentang buku yang sangat menarik yang saya pinjam dari teman saya yang berinisial DS. Buku ini digunakan oleh DS sebagai salah satu referensi untuk tesis S2 nya. Kami sering ngobrol dan diskusi tentang banyak hal, dan sering pula DS berdiskusi dengan saya tentang pengetahuan yang didapatnya selama pengerjaan tesisnya. Dengan penuh semangat DS berbagi ilmu dengan saya dan meminjamkan buku ini untuk saya baca, dan dengan semangat pula saya menyambut buku ini.

Buku Memetics ini merupakan hasil disertasi penulis, Eko Wijayanto saat beliau menempuh pendidikan S3 Filsafat di Universitas Indonesia. Konon menurut cerita DS, Eko Wijayanto adalah orang Indonesia pertama yang membahas tentang Memetics ini, sebelumnya referensi mengenai Memetics ini hanya didapat dari penulis-penulis luar.

Kalian semua pasti sudah mengetahui apa itu meme, namun memetics yang dibahas disini berbeda dengan meme yang kalian sudah ketahui. Walau begitu meme dan memetics tetap ada kaitannya. Meme yang sudah sangat dikenal sekarang ini, misal meme internet itu merupakan hasil/bentuk khusus dari memetics. Sebut saja meme adalah suatu objek, yang dapat kita lihat (ada gambar, ada tulisan, dan lain sebagainya); sedangkan memetics adalah teori dasar mengenai penyebaran atau terbentuknya suatu meme tersebut.

GENETIKA

Sebelum lebih jauh kita membaca tentang memetics, kita harus ketahui lebih dahulu tentang genetika. Genetika identik dengan suatu DNA dalam tubuh manusia. DNA (deoxyribonucleic acid) berperan aktif dalam menentukan aktivitas biokimia dan sifat-sifat khusus sel. Dengan demikian, sifat-sifat bawaan manusia-seperti penyakit tertentu, kepribadian, naluri, perilaku, dan lainnya-sudah terkodekan dalam DNA. Melalui DNA inilah gen diwariskan dari generasi ke generasi. Yang unik pada manusia adalah terdapatnya replikator lain selain gen yang juga diwariskan, yakni replikator yang disebut meme. Meme meliputi segala sesuatu yang kita pelajari melalui imitasi, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan. Meme mudah menyebar, menular, dan melompat dari satu pikiran ke pikiran lain. Meme menyebarkan diri tanpa melihat apakah ia akan berguna, netral, ataupun merugikan manusia.

Contoh meme yang akhirnya menjadi sebuah kepercayaan akan Tuhan. Dahulu kala manusia prasejarah mengenal ide-ide tentang sesuatu yang lebih tinggi dari kehidupan manusia dan melakukan pemujaan terhadapnya untuk mendapatkan kesejahteraan. Seiring perkembangan zaman, meme awal tersebut dianut oleh semakin banyak orang-dan kemungkinan juga mengalami distorsi-sampai akhirnya memiliki kekuatan untuk bertahan hingga sekarang.

DNA adalah protein dalam tubuh makhluk hidup yang membawa informasi genetik yang akan memengaruhi fenotipe dan genotipe kita. DNA diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, setiap generasi tidak mungkin mewarisi DNA yang sama. Pasti terjadi sebuah eror yang disebut mutasi. Mutasi inilah yang menyebabkan perbedaan antara generasi satu dengan generasi lain.

Dengan mengamati fenotipe, kita bisa melihat bagaimana gen membentuk karakteristik individu. Fenotipe adalah karakteristik organisme yang dapat diamati secara langsung seperti warna iris, panjang ekor, warna kulit, dan sebagainya. Variasi makhluk hidup ini terjadi karena pembentukan genetik (genetic make up). Namun, ia tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik, lantaran fenotipe merupakan hasil dari interaksi antara gen dengan lingkungan. Misalnya, orang-orang yang tinggal di sekitar ekuator umumnya memiliki kulit yang lebih gelap daripada mereka yang tinggal di daerah subtropis, apalagi kutub. Hal ini merupakan sebentuk adaptasi untuk melindungi tubuh dari cahaya matahari khatulistiwa yang lebih terik ketimbang di daerah kutub.

Menurut Dawkins, meme sangat mudah menular karena kita mempunyai kecenderungan meniru orang lain, meniru pemikiran dan ucapan orang merupakan langkah pertama dalam belajar. Kita juga merasa nyaman untuk meniru ide-ide dan gaya hidup orang-orang sukses, entah dalam bentuk mode pakaian ataupun cara berbisnis, misalnya.

MEMETIKA

Memetika merupakan derivasi dari teori evolusi Darwin. Jika genetika adalah ilmu yang mempelajari gen, maka memetika adalah ilmu yang mempelajari meme. Meme memiliki daur hidup dan tersebar layaknya virus yang berpindah dan bisa dipindahkan dari pikiran seseorang ke pikiran orang lain.

Penelitian dalam buku ini menggunakan hermeneutika evolusi (evolutionary hermeneutics) sebagai metodenya. Sebagai perkakas teoretis untuk membedah kebudayaan, menurut Nick Szabo, hermeneutika evolusi merupakan metode dalam kajian budaya yang merupakan sintesis antara hermeneutika, di mana Heidegger adalah pionirnya dengan kajian meme sebagai unit informasi budaya; di mana Richard Dawkins adalah pionirnya.

Memetika adalah ilmu pengetahuan yang menyingkap meme sebagai bahan dasar pembentuk mental seseorang. Berbeda dengan makhluk hidup lain, manusia memiliki kemampuan untuk mereplikasi mentalnya ke dalam berbagai bentuk artefak budaya-seni, sastra, agama, dan sebagainya. Hal ini layaknya gen yang bereplikasi membentuk gugusan sel, kemudian tubuh yang mampu bereproduksi.

William D. Hamilton, seorang ahli biologi, mengungkapkan teori seleksi kekerabatan (kin selection). Teori Hamilton ini merupakan pengembangan teori Darwin. Seleksi alam tidak peduli apakah suatu organisme bahagia atau sengsara dalam menjalani prosesnya, karena yang penting, informasi yang terdapat di dalam gen organisme tersebut dapat terus ada secara berkelanjutan. Pada setiap makhluk hidup juga terdapat gen altruisme. Besarnya altruisme pada amasing-masing individu berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang memengaruhinya, salah satunya derajat kedekatan.

ALTRUISME

Altruisme didefinisikan sebagai sikap bersedia berkorban dan berbuat kebaikan demi kepentingan orang lain, baik dengan mengorbankan suatu usaha, waktu, pengeluaran, atau apa pun. Padahal, manusia secara instingtif dan rasional selalu mengejar kepentingan, kesenangan, dan kebahagiannya sendiri.

Dalam buku The Expression of the Emotions in Man and Animals (1872) karya Charles Darwin terdapat sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa seseorang lebih merasakan simpati kepada penderitaan orang lain daripada penderitaannya sendiri. Hal ini membawa kita pada teori Darwin tentang moral manusia. Dalam The Descent of Man, Darwin menulis bahwa seseorang yang terbiasa berbuat baik kepada orang lain akan mendapatkan balasan yang setimpal. Apabila ia terus-menerus mempertahankan perbuatan baik tersebut, maka rasa simpati pun ikut tertanam di jiwanya. Rasa simpati ini, menurut Darwin, nantinya dapat diwariskan melalui gen.

Mengacu pada tulisan Darwin tersebut, George William menambahkan beberapa hal tentang hubungan timbal balik, bahwa apabila seseorang memaksimalkan hubungan pertemanan dan meminimalkan keegoisannya, maka orang tersebut akan mendapatkan keuntungan evolusioner dan bertahan dalam seleksi alam. Menurutnya hal tersebut dapat mengambangkan optimisme dalam hubungan antarindividu.

Darwinisme, yang dinamai oleh T. H. Huxley dan dikenal juga sebagai darwinisme ortodoks, setia pada pandangan awal Darwin bahwa mekanisme seleksi alam terjadi  di level individu dan berlangsung sangat panjang sebagai akibat dari mutasi di level genetik. Sementara sosiobiologi menolak pandangan tersebut dengan argumen bahwa mekanisme seleksi alam berlangsung di level sosial atau kelompok. Sosiobiologi berdiri di atas dua tesis mendasar:

  1. Beberapa sifat tingkah laku itu diwarisi;

  2. Sifat-sifat tingkah laku yang terwarisi itu diasah oleh mekanisme seleksi alam.

MEME

Menurut Richard Dawkins, meme adalah unit kebudayaan yang dapat dipindahkan, dikomunikasikan, digandakan, dan diwariskan. Contohnya lagu, puisi, teknik matematika, mode pakaian, dan berbagai pemanfaatan teknologi. Meme memperbanyak dirinya dengan melompat dari otak ke otak melalui imitasi.

Meme yang terdapat pada pikiran seseorang secara harafiah menjadi parasit dalam otak orang tersebut. Meme mengubah manusia tersebut menjadi perangkat untuk memperbanyak diri dengan cara yang sama dengan virus yang menjadi parasit pada mekanisme genetik sel induknya.

Suatu meme dapat tetap populer karena beberapa faktor:

Pertama, sifatnya yang tak dapat dibantah. Suatu meme doa, misalnya, menjadi berlipat ganda karena terus-menerus dipanjatkan dan tampaknya dikabulkan. Doa tersebut memiliki peluang untuk dipercayai dan sedikit peluang untuk ditolak.

Kedua, murah dalam hal waktu, uang, dan usaha. Ketiga, terasa menyenangkan dan menenteramkan, tak peduli apakah doa kita berhasil atau tidak, berdoa kerap kali tetap melegakan.

Kunci pembahasan Dawkins tentang meme adalah sifatnya yang selfish (egois) dan ruthless (kejam). Meme akan berkompetisi dengan meme rivalnya untuk memperebutkan perhatian otak manusia, mengingat otak manusia dan tubuh yang dikontrolnya tidak dapat menangani lebih dari satu atau beberapa problem pada saat yang bersamaan.

Dalam menjalani replikasi diri, meme mudah berkembang dan mengalami perubahan bentuk. Akan tetapi, sebagian memeplex merupakan konsepsi kuat yang dipegang teguh sehingga sulit untuk diubah. Dawkins menyebutnya sebagai virus of mind, virus pikiran yang tertanam dalam benak dan pemikiran seseorang sehingga sulit diubah dari bentuk awalnya. Virus pikiran ini sangat efektif ditanamkan terutama pada masa kanak-kanak-jika diterapkan pada orang dewasa konsep ini kerap mengalami hambatan dalam replikasinya.

Dalam pemikiran Dawkins, meme digunakan untuk menggambarkan bagaimana prinsip darwinian menjelaskan penyebaran ide dan fenomena budaya. Baik gen maupun meme sama-sama merupakan replikator. Hanya saja, gen diturunkan melalui reproduksi biologis, sementara meme diturunkan melalui proses pembelajaran budaya atau imitasi (mimesis). Sebagaimana gen yang merupakan unit transmisi biologis, sebagai unit transmisi kultural meme juga mengalami mutasi, kombinasi, dan seleksi oleh lingkungannya. Meme juga merupakan salah satu faktor yang berdampak besar terhadap perkembangan seorang individu dalam masyarakat. Di dalam otak manusia, meme tidak hanya tersimpan sebagai informasi untuk diingat, melainkan juga menjadi alat dalam berpikir. Meme juga dapat meniru atau memindahkan apa yang ada dalam satu kepala ke kepala lain melalui suatu rangkaian sosialisasi. Meme juga bukan sekadar faktor yang membantu otak mengingat, melainkan juga membantu menanamkan suatu gagasan dalam benak individu lain melalui persuasi sehingga apa yang ada di dalam pikiran kita dapat dimengerti oleh individu tersebut.

MEME dan MEMEPLEXES

Banyak orang menganggap jiwa sebagai diri yang sesungguhnya, yang akan tetap hidup sekalipun seseorang sudah meninggal. Di sinilah muncul pandangan dualisme yang menganggap bahwa diri terdiri atas mesin yang berupa tubuh dan jiwa yang menggerakkannya. Sebaliknya, ada pula ekstrem yang berseberangan dengan pendapat itu, yang menganggap bahwa diri kita adalah keseluruhan otak ataupun keseluruhan raga.

Ketika suatu meme sudah tersimpan di dalam diri kita sebagai memori, maka ia akan memengaruhi segala tindakan yang kita lakukan. Kesadaran bahkan agak diabaikan ketika memori yang terangkai dari meme Tuhan dan meme-meme lain yang menyokongnya. Ketika orang sudah memiliki keyakinan terhadap Tuhan lantaran meme tentangnya sudah melekat benar di dalam diri orang tersebut, maka ia akan bersedia mengorbankan apa pun demi Tuhannya. Oleh karena itu, tentunya tidak gampang untuk mengontrol diri agar dapat menjadi sosok yang memiliki kesadaran penuh terhadap diri sendiri. Memori dalam hal ini merupakan fakta fisikalitas otak yang sangat terkait dengan temuan Libet mengenai readiness potential. Memori nampaknya bukan hanya mendahului tindakan kita, tapi bahkan mendahului keputusan kita untuk melakukan suatu tindakan. Gagasan ini tentu saja mengusik keyakinan umum tentang (otonomi) diri.

Terkait entitas yang kita namakan diri, kita dapati adanya dua konsep yang kerap digunakan untuk menjelaskannya:

Pertama, konsep real self yang menganggap diri sebagai entitas yang mampu bertahan sepanjang hidup dan terpisah dari otak maupun dunia luar, memiliki memori dan kepercayaan, melakukan imitasi tindakan, mengalami berbagai pengalaman dalam hidup, dan membuat keputusan.

Di sisi lain ada konsep kedua, yaitu illusory self, yang menganggap diri sebagai sekumpulan pikiran, sensasi, dan pengalaman yang disatukan bersama oleh sejarah. Menurut konsep ini ilusi tersebut berasal dari pemikiran otak ataupun sebuah fantasi.

Dalam memetika, diri merupakan memeplex besar yang terdiri atas berbagai pemikiran dan pengalaman yang mendukung tindakan sehari-hari. Memeplex merupakan sekumpulan meme yang berhimpun bersama demi keuntungan bersama dan membentuk suatu kesatuan yang dapat melakukan seleksi untuk menerima ataupun menolak meme baru yang ingin masuk. Dengan kata lain, memeplex menjadi filter bagi kita dalam berinteraksi dengan dunia luar. Agama, ideologi, maupun pendirian merupakan produk dari memeplex yang bekerja dengan sangat sistematis di dalam diri manusia. Pada titik ini kita melihat bahwa meme-meme dapat memperoleh keuntungan dengan membentuk satu asosiasi yang kemudian menjadi konsep diri seseorang.

Meme yang berhasil masuk ke dalam diri dan menjadi ide-ku atau opini-ku adalah para pemenang dalam kompetisi antar meme. Kepemilikan manusia atas sesuatu mempunyai banyak fungsi, termasuk menentukan status personal. Dalam hal ini, kepemilikan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang tanpanya kita akan merasakan kehilangan. Dengan kata lain, kepemilikan inilah yang memberi kita perasaan akan diri. Bentuk-bentuk kepemilikan ini dapat hidup dalam diri kita berkat kontribusi meme yang menjangkiti diri kita. Akan tetapi, hal ini pun menimbulkan konsekuensi: semakin kita terikat pada apa yang kita miliki; kepercayaan, opini, pilihan personal, maka kita sendiri akan kian menjadi pelindung utama bagi meme yang terkait kepemilikan itu. Apalagi semakin kompleks masyarakat yang kita tinggali, semakin banyak pula meme yang berlomba-lomba masuk ke dalam otak kita. Dengan demikian, meme kita mungkin malah akan menjadi senjata makan tuan jika kita salah memanfaatkannya.

Singkat kata, suatu selfplex, diri yang dikonstruksi oleh meme-meme; disebut sukses bukan karena ia benar, baik, atau indah, bukan pula karena ia membuat kita bahagia dan mendukung kelanjutan gen kita. Melainkan, selfplex tersebut sukses tatkala meme yang masuk ke dalam diri mendorong dan berhasil membuat kita bekerja demi kepentingan replikasi mereka. Dengan kata lain, hidup kita ini merupakan bentukan meme, di mana kita terjebak dalam tirani meme.

Meme memang tersimpan dalam otak. Setiap input yang masuk ke otak adalah sesuatu yang didasarkan pada pengalaman. Bila tidak begitu penting dan berharga, maka suatu memori akan menghilang dengan sendirinya. Namun bila inputnya besar atau memori itu penting, ia akan terus berada di otak dan mudah direkonstruksi serta diingat. Begitu pula dengan input yang berupa meme. Suatu meme berada di otak dan mudah bereplikasi jika mudah diingat.

Menurut Lamarck, upaya setiap individu untuk mencapai perbaikan dirinya merupakan sifat yang diturunkan (herediter). Kini istilah Lamarckian mengacu pada karakteristik individu yang diperoleh dalam hidupnya yang dapat diturunkan. Bila dalam hidup individu memperoleh keahlian baru, maka keahlian itu bisa diturunkan. Pandangan ini tidak terlalu cepat karena mengasumsikan keahlian akan berpengaruh terhadap gen seseorang. Hal ini terkait erat dengan fenotipe dan genotipe dalam evolusi biologis. Genotipe merupakan penyusun genetik seseorang, sedangkan fenotipe adalah karakter fisik yang nampak, seperti warna rambut atau warna kulit. Fenotipe jelas sangat bergantung  dan ditentukan oleh genotipe; namun tidak sebaliknya. Dengan demikian, jika seseorang memperoleh keahlian baru (fenotipe), maka keahlian tersebut tidak akan berpengaruh pada genotipnya.

Ketika kita meniru tingkah laku seseorang, ada sesuatu yang berpindah yang kemudian bisa terus-menerus berpindah dari satu orang ke orang lain. “Sesuatu” inilah yang oleh Dawkins disebut meme. Meme adalah segala sesuatu yang bertransmisi dari pikiran satu orang ke orang lain, termasuk kosakata, legenda, kemampuan dan tingkah laku, permainan, lagu, ataupun peraturan.

FREE WILL

Kehendak bebas sebenarnya baru terjadi ketika seseorang secara sadar dan sepenuhnya bebas memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, seseorang itu harus benar-benar menjadi agen yang memiliki kewenangan untuk melakukannya tanpa campur tangan faktor lain. Dalam pandangan filsuf Daniel Dennett, kesadaran manusia hanyalah serangkaian meme yang kompleks dan besar, yang kemudian membentuk selfplex. Semua alat berpikir yang kita gunakan selama ini sebenarnya telah disediakan secara tidak langsung oleh meme.

Well readers, jika penjelasan meme diatas membingungkan, saya akan mencoba menjelaskannya dengan sederhana. Seperti yang sudah dibahas di atas bahwa meme adalah virus of mind, atau virus pikiran yang disebarkan dari pikiran (otak) satu orang ke pikiran (otak) orang yang lain. Dalam arti, meme adalah semacam ideologi, nilai-nilai, pemikiran, konsep-konsep, teori-teori, dan lain sebagainya yang digunakan oleh seseorang dan disebarkan atau dibagikan kepada orang lain melalui pikiran yang dikomunikasikan.

Seperti yang sudah kita baca di atas, meme bersaing dengan meme yang lain. Meme yang kuat (meme yang diberikan secara berulang-ulang) akan menang dan mengalahkan meme yang lain yang lebih lemah.

DS berpendapat berdasarkan buku Memetics ini bahwa meme yang paling kuat adalah meme agama, di mana meme agama sudah ditanamkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sejak masa kanak-kanak. Anak-anak ini akhirnya memiliki konsep pemikiran yang telah dibentuk oleh meme agama tersebut. Semakin sering, semakin banyak, dan semakin rutin anak tersebut menerima meme yang sama setiap saat, meme ini akan semakin kuat mempengaruhi otak/pikiran anak hingga dewasa. Eko Wijayanto sendiri menulis dalam bukunya bahwa saking kuatnya meme agama, banyak pula orang-orang yang bertindak sedemikian rupa untuk membela agamanya, dan lain sebagainya.

Selain itu, DS juga memberikan contoh lain. Misal meme bahasa, saat kita sudah terbiasa berbahasa Indonesia misalnya, lalu kita pindah dan tinggal ke daerah Jawa Barat yang berbahasa Sunda (misal 1 tahun); meme bahasa Indonesia dapat melemah, dan meme bahasa Sunda akan meningkat.

Meme dapat berupa banyak hal, meme hadir pada pikiran manusia tanpa mengetahui apakah dia berguna atau tidak, apakah akan bermanfaat atau tidak, apakah akan merugikan atau menguntungkan, dan sebagainya. Meme adalah salah satu konstruksi yang direplikasikan pada pikiran manusia. Kita semua, termasuk saya adalah bentuk dari meme. Semua yang kita lihat, semua yang kita dengar, semua yang kita pelajari merupakan meme-meme yang tersebar, masuk, dan memengaruhi pikiran kita.

Walau demikian, saya mau sedikit menambahkan walaupun kita seringkali dibenturkan atau dipertemukan oleh meme-meme yang berusaha masuk ke otak/pikiran kita, namun menurut saya kita tetap memiliki gatekeeper dalam pikiran kita yaitu berupa logika di mana kita dapat memilih untuk mengikuti meme yang sudah ditransfer atau tidak. Apapun pilihan kita tersebut tetap saja merupakan pengaruh dari meme sebelumnya yang sudah ada dalam pikiran kita dan standing still (kuat) dan tidak mudah dikalahkan dengan meme lain yang baru saja masuk ke pikiran kita.

Penjelasan saya diatas merupakan penjelasan mengenai teori meme. Nah sekarang apa yang kalian tahu tentang meme? Apakah meme yang seperti di bawah ini?

Untitled.jpg

Gambar di atas tersebut adalah meme, mari kita sebut gambar di atas sebagai meme internet. Meme internet tersebut berasal dan berdasarkan teori memetics. Meme merupakan suatu replikator. Dawkins mengidentifikasi 3 kriteria bagi replikator yang sukses, yaitu harus bisa dikopi secara akurat (fecundity), bisa dikopi dalam jumlah banyak (fidelity), dan bisa bertahan untuk waktu yang lama (longetivity). Nah, kenapa gambar-gambar di atas disebut meme, sederhananya dikarenakan telah memenuhi 3 aspek tersebut, di mana meme dapat dikopi, diperbanyak, disebarkan, dan bertahan dalam kurun waktu tertentu (lama). Gambar meme yang berupa candaan, sindiran, mengandung unsur politik, dan lain sebagainya tersebut dibuat sedemikian menarik untuk memengaruhi orang yang melihat gambar dan membaca tulisan pada gambar tersebut. Sedikit banyak kita tetap diantar pada teori meme, di mana gambar meme tersebut dapat saja memengaruhi pikiran kita dan dapat mengubah pola pikir kita.

Well readers, sampai disini dulu yah pembahasan kita mengenai memetics. Semoga bermanfaat. ^_^

With love,

Naomi Indah Sari

Source:

Wijayanto, Eko. 2013. Memetics: Perspektif Evolusionis Membaca Kebudayaan. Depok: Kepik.

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Buku: The Orange Girl: Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan (Jostein Gaarder)

Bandung, 6 Juni 2017

08:15pm

Hi readers, apa kabar semua?

Kali ini saya mau review satu buku lagi dari Jostein Gaarder yang berjudul The Orange Girl atau Gadis Orange. Novel filsafat ini cukup menarik karena membahas teleskop ruang angkasa Hubble dan tentu saja tentang kisah sang ayah bersama si Gadis Jeruk. Sub Judul buku ini adalah “Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan”. Setelah saya baca buku ini sampai selesai, rasanya saya masih belum puas dan belum mudeng dengan ceritanya. Jadi saya baca ulang lagi buku ini. hehhehehe

Dalam buku ini diceritakan seorang anak bernama Georg Roed yang berasal dari Humleveien, Oslo; yang berusia 15 tahun tiba-tiba menemukan surat dari almarhum ayahnya yang sudah meninggal sejak 11 tahun sebelumnya (saat usia Georg 4 tahun). Menjelang ajalnya sang Ayah telah menulis surat untuk Georg di masa depan. Tidak ada satupun anggota keluarga yang tahu bahwa sang ayah menyimpan surat itu di kereta dorong Georg sekian lama. Sampai akhirnya Georg menemukannya saat usianya 15 tahun.

Dalam review ini saya tidak akan membahas banyak tentang si Gadis Jeruk, jika kalian penasaran silahkan langsung beli bukunya saja yah. Saya hanya akan sedikit menyinggung sedikit tentang si Gadis Jeruk.

Kisah Gadis Jeruk dimulai ketika ayah Georg berdiri diluar Teater Nasional di akhir musim gugur tahun 1970-an. Lalu ayah Georg melihat seorang gadis cantik berdiri di lorong sambil merangkul erat sebuah kantong kertas besar penuh dengan jeruk. Gadis itu mengenakan mantel kulit tua panjang berwarna orange. Nah… biarlah kisah Gadis Jeruk ini jadi misteri untuk kalian yang belum baca yah. Karena kalau saya ceritakan semua kok terkesan membocorkan rahasia buku ini. Etisnya beli dulu bukunya, bacalah, dan temukan yah. hehehehehhe

Saya akan bahas tulisan-tulisan ayah Georg tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble saja yah. Dalam buku ini, Jostein Gaarder seakan memuji-muji Teleskop Hubble, entah apakah ini bagian dari sponsor, politik, atau mungkin konspirasi tentang eksistensi alam semesta. Saya kurang tahu pasti, namun yang jelas kalau memang Teleskop Ruang Angkasa Hubble ini benar-benar dapat menangkap ribuan gambar di ruang angkasa, berarti saya harus yakin bahwa bentuk bumi itu bulat yah (bukan datar). Well, walau tidak bisa juga saya menyimpulkan dengan sangat sederhana semacam itu, tapi sekiranya novel ini seperti mengarahkan kita pada perspektif tersebut. ^_^

Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah diluncurkan  ke orbitnya seputar bumi dari pesawat ruang angkasa Discovery pada 25 April 1990 dari Cape Canaveral. Para ahli menemukan bahwa ada masalah optik yang serius dengan cermin utama teleskop itu, namun kerusakan ini telah diperbaiki oleh para astronaut dari pesawat ruang angkasa Endeavour pada Desember 1993.

Image result for hubble telescope
Hubble Telescope

Gambar-gambar alam semesta yang diambil dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble adalah yang terjelas yang pernah diambil. Ada gambar bintang raksasa Eta Carinae yang sebening kristal, yang jaraknya lebih dari 8.000 tahun cahaya dari sistem tata surya. Eta Carinae adalah salah satu bintang yang paling masif di Bima Sakti dan akan segera meledak menjadi sebuah supernova sebelum sebelum akhirnya mengerut dan membentuk bintang neutron atau sebuah lubang hitam. Ada juga gambar kabut gas dan debu raksasa di Nebula Eagle (M16). Teleskop ini telah mengambil ribuan foto galaksi dan nebula berjarak beberapa juta tahun cahaya dari Bima Sakti.

Related image
Eta Carinae by Hubble Telescope

Related image
Nebula Eagle (M16) by Hubble Telescope

Cahaya bergerak dengan kecepatan 300.000 km/detik. Cahaya dari galaksi-galaksi yang jauh butuh waktu miliaran tahun untuk dapat nampak dari tata surya. Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah mengambil gambar-gambar galaksi yang jauhnya lebih dari dua miliar tahun cahaya.

Dalam novel ini ada tulisan yang menurut saya agak lucu, yaitu waktu Georg mengomentari teman-teman perempuannya yang sibuk dengan eyeliner dan lipstick, dan teman-teman lelakinya yang sibuk dengan sepak bola:

“Kenyataannya kita hidup di sebuah planet di ruang angkasa. Bagiku itu adalah pemikiran yang luar biasa. Sekedar memikirkan keberadaan ruang angkasa saja sudah membuat pikiran takjub. Tapi ada anak-anak perempuan yang tidak bisa melihat alam semesta lantaran eyeliner. Dan ada anak-anak lelaki yang matanya tidak pernah melebihi cakrawala lantaran sepak bola.”

Sontak saya tertawa membaca tulisan diatas, entah karena itu lucu, entah karena mungkin saya merasa bahwa saya adalah salah satu wanita yang juga sibuk dengan eyeliner dan lipstick. hahahhaa Namun perkataan Georg ada benarnya juga. Manusia dibuat sibuk dengan apa yang ada di daratan bumi, dalam arti sibuk dengan penampilannya, sibuk dengan kehidupan sosialnya dan sebagainya; sehingga jarang sekali ada manusia yang berpikir tentang alam semesta, atau jarang sekali ada manusia yang takjub melihat, memikirkan, ataupun mempelajari alam semesta. Padahal kita hidup di suatu sistem Bima Sakti, di mana kita tinggal di salah satu planet yang ada di ruang angkasa bernama Bumi. ^_^

Dalam buku ini ditulis arti kata teleskop adalah “melihat sesuatu yang jauh”. Tujuan menempatkan sebuah teleskop di ruang angkasa jelaslah bukan untuk mendekati bintang-bintang atau planet-planet yang akan diteliti oleh teleskop itu. Ide yang melatarbelakangi pembuatan sebuah teleskop ruang angkasa adalah untuk mempelajari ruang angkasa dari sebuah titik di luar atmosfer bumi.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble membutuhkan waktu 97 menit untuk mengorbit bumi pada kecepatan 28.000 km/jam. Teleskop Ruang Angkasa Hubble mempunyai dua sayap yang terbuat dari panel-panel surya. Panjangnya 12 m dan lebarnya 2.5 m. Panel ini menyediakan tenaga sebesar 3.000 watt untuk satelit itu.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble diberi nama oleh seorang astronom Edwin Powell Hubble. Dialah yang membuktikan bahwa semesta itu mengembang. Pertama dia menemukan bahwa Halo Andromeda sebenarnya bukan sekedar sekumpulan partikel debu dan gas di dalam galaksi kita, melainkan merupakan sebuah galaksi yang sama sekali terpisah di luar Bima Sakti. Penemuan bahwa Bima Sakti hanya merupakan salah satu dari banyak galaksi merevolusi pandangan para astronom alam semesta.

Penemuan Hubble yang terpenting dilontarkan pada 1929 ketika dia mampu memperlihatkan bahwa semakin jauh sebuah galaksi dari Bima Sakti, laju pergerakannya akan tampak semakin cepat. Penemuan ini merupakan landasan dari Teori Dentuman Besar. Menurut teori ini, yang diterima oleh hampir seluruh astronom, alam semesta tercipta oleh sebuah ledakan besar sekitar 12-14 miliar tahun yang lalu.

Menurut Georg, ayahnya sangat mengerti tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble, betapa teleskop tersebut sangat penting bagi umat manusia. Setelah berusia hampir 15 miliar tahun, barulah alam semesta mendapatkan alat yang begitu fundamental seperti mata untuk melihat dirinya sendiri, yaitu Teleskop Ruang Angkasa Hubble yang disebut juga Mata Semesta.

Oh iya, sekali lagi saya masih belum paham kenapa Jostein Gaarder mengangkat tentang teleskop Hubble. Apakah ada kaitannya dengan konspirasi alam semesta antara Globe Earth vs Flat Earth? Saya belum berani berasumsi banyak soal ini. Dan saya pun masih belum mengerti apa kaitannya kisah si Gadis Jeruk dalam novel ini dengan teleskop Hubble? Well, sepertinya akan lebih seru kalau kalian juga baca bukunya dan bisa saling share disini yah. ^_^

Dalam buku ini, Jostein Gaarder menyebutkan lagu Moonlight Sonata dan Unforgettable. Diceritakan ayah Georg seringkali memainkan lagu Moonlight Sonata (Beethouven) dengan pianonya dengan harapan kiranya permainannya dapat terdengar hingga ke seluruh galaksi ruang angkasa.

Sementara lagu Unforgettable disebut dalam buku ini untuk memberikan pengantar bahwa kisah dalam buku ini tentang seorang ayah yang menjelang ajalnya menulis surat untuk Georg di masa depan, sehingga pada saat Georg menerima surat tersebut seakan dia menerimanya dari almarhum sang ayah. Lagu Unforgettable adalah lagu yang dinyanyikan oleh Nat King Cole yang sudah meninggal dunia dan direkam ulang oleh Natalie Cole (anak perempuan Nat King Cole), di mana Natalie akhirnya dapat bernyanyi duet dengan almarhum ayahnya melalui lagu ini.

Well readers, kiranya dua lagu indah tersebut dapat menambah mood kalian jadi lebih baik yah setelah membaca ini. Cerita tentang alam semesta adalah topik yang selalu menarik dan selalu membuat kita penasaran tentang hal-hal yang sulit dilihat dan dijangkau oleh manusia di Bumi. Mari kita berhenti sejenak dari rutinitas kita dan sempatkan diri untuk memandang ke langit dan takjub akan indahnya alam semesta ini.

Thank you for reading…

Sumber:

Gaarder, Jostein. 2016. The Orange Girl. Bandung: Mizan.

You also can follow me on instagram: naomiindahsari

or add me ass friend on facebook: Naomi Indah Sari

 

Whether or not I believed in God

Bandung, February 19th 2017 

6:25pm

Hi readers, I copied the article below from another blog that I follow. He wrote his thoughts about what matter for being a religious or what matter for joining a religion is nonsense. Whatever… Just read it…. 😉 

#############################

I remember around the age of 16/17 being asked by a friend at school whether or not I believed in God. I responded by saying that it would be crazy not to, but I did not believe in God in the way we are taught through the varying religions. So at one level I was saying yes to God but at another level I was denouncing all of the organised religions that I knew. I grew up having been to schools heavily influenced by the Catholic religion and whilst I liked some parts of the teachings, there were far too many discrepancies that I did not agree with and which did not make any sense to me.

This led me to the following conclusions about organised religion:

  • I grew up thinking that religion was something outside of me, where I had to go to a church or a priest to have access. This meant sitting in a cold church on uncomfortable seats, listening to things that in the main did not make much sense to my life!
  • It was something you had to go to on a regular basis. If you did not, you were seen as being bad.
  • You had to renounce your sins and somehow they would be taken away at confession. This starts with the premise that you have sinned and are already bad. It also implies you can get away with anything so long as you confess it afterwards.
  • That in order to be closer to God you needed to be a monk or a priest. This put God out of personal reach.
  • You had Heaven, a state of nirvana or bliss to look forward to at the end of your life… if you lived a good life, otherwise you would end up in hell. This led to a feeling of always trying to do the right and best thing whilst not wanting to own up to or admit mistakes. It led me to try to be a perfect boy growing up – polite, attentive and not saying what I truly felt.
  • You had to prove yourself in order to get to Heaven and that life needed to be hard and arduous. So I could not simply be myself, I was always trying to be someone else, someone better.
  • That you would go to war over your religion. The sheer amount of bloodshed that has been caused over religion is inconceivable. We were told we are all equal, yet those who are not in the religion are perceived as sinners and will go to hell.
  • Illness and disease are punishments from God. This takes away all responsibility for our own actions… leading to us blaming and resenting God and other people.

Now all of those can seem fairly obvious examples of what put me off religion but for me the most insidious one was actually being repulsed and turned off by the word religion itself, so much so that I would run a million miles away from it. When I came across The Way of The Livingness I found it very hard to accept the fact that it was about a religious way of life, and that I already am a deeply religious person. So whilst I struggled internally with this fact, although I knew it to be true, I began to feel how I had stopped fully claiming the relationship with myself, with God and with other people.

I have been almost ashamed or fearful of using the word religion because of its many connotations and so have shied away from using the word in my life. I have even shied away from really opening up about The Way of The Livingness to others, in case they may take it the wrong way. It is crazy in a world where we are led to believe in freedom of speech that I have stopped myself from speaking about the one thing that I hold very dear to my heart.

There are many tenets of The Way of The Livingness which cannot all be listed here, but here are some, which for me show the real and true sense of the word religion:

  • Everything is within me, no one is greater or more special than I am.
  • We are all the equal Sons of God and are born with a knowing of this fact.
  • There is no building you can go to, to be closer to God.
  • We are returning to the love we are and not going anywhere and so are able to live this love no matter what.
  • Access to God or Heaven is not restricted – we simply have to make a choice to connect and live in a way that supports this choice.
  • We are responsible for all of our choices and what happens to us.
  • The doors are always open and no one is ever excluded or judged for their choices.

As I say the list can go on but more is not needed here – this quote says it all:

Honouring the love you are in full and bringing that into full human life forms the basis of a new worldly religious way known as The Way of The Livingness.

(Serge Benhayon, Esoteric Teachings and Revelations, p 648)

It has been a very freeing experience to no longer feel shackled by thoughts that say I am not religious. It is also very freeing to claim that everything I could ever want is already within me.This has taken off a lot of the strain and pressure of wanting and thinking that I need to get somewhere and then, only then, can I let go and be myself.

So yes, I can not only claim that I am religious, I can in fact state that I am deeply religious.

Do I shout this from the rooftops? No, for there is no need.

Do I need to convert people with my words? No, for they will see the way that I live.

Does it matter what anybody else thinks about me? No, for if I am living the love that I am then this is more than enough confirmation for me.

By James Nicholson BNat, Design Consultant, Frome, UK

Source:

Am I Religious? – http://wp.me/p2F6Uc-1jC 


You also can follow my instagram: naomiindahsari 

My facebook: naomi indah sari

Starlight Children: Indigo, Crystal, and Rainbow 

​Bandung, December 20th 2016 

Hi readers, suddenly today I’m wondering about “indigo”, when I searched and read some articles abut this, I found three different types which called “starlight children”, there are indigo, crystal, and rainbow.

Sometimes I’m wondering are those children who indicated as starlight children real or not. If they’re real, why them, who had been chosen? How the parents know, how the children know,  and how the people around them realized if they are starlight children?

Why are they special? Why are they different from other children? I’m also curious about it. Are you one of them?

Happy reading…
Many children being born today are quite unique and different from prior generations. These new children are more connected as they remember our spiritual connection. Each child expresses and experiences it in unique ways. And as a group, they are a more intuitive, more telepathic, more sensitive generation.


Indigo Children

There are older Indigo’s (known as Indigo Scouts) and younger as well.  But the largest number of Indigos came from 1970 through 1995.

They have indigo auras which are connected with the Third Eye’s frequency; these children are creative and some have heightened psychic abilities of clear seeing, hearing, feeling and knowing.


These abilities allow them to hear or see spirits/angels; detect dishonesty; or have accurate inner knowing about events, situations or people. They are sensitive and intuitive.

Indigo’s are Intelligent, quick learners, technologically orientated and often have amazing memories. They are very academic in situations and are direct, determined and confident

Many display warrior temperament yet easily get frustrated with routines, rituals, rules and regulations and are often misunderstood, they can be rebellious and non-conformist as they only accept authority with free-will and respect, They also come across as hyperactive, impatient, in-considerate and direct, BUT, This relates to their high level of creative energies. 

It is therefore important to help Indigo children to divert their energies to creative pursuits such as music, creative writing, arts and craft or even sport to keep them in focus.

Indigos are natural leaders. They are wise old souls returning to lead us into a new age of cooperation, creativity and functional society where there will be no corruption and deceit.

Crystal Children


Crystal Children are here to show the way to peace and acceptance, hence they are also called “The Peacemakers.” Crystals love water, animals, plants, nature, and rocks. They are generous, highly affectionate and forgiving.  Also, extremely sensitive to everything in their environment.

Crystals are highly telepathic, they can read minds and people’s energy.   They tend to communicate with their parents telepathically (sometimes, even before birth).  

It is not uncommon for Crystals to wait until they’re 3 – 4 years old to begin speaking, especially if they communicate easily with their parents without using words. Cystals show an intuitive understanding of spirituality and energy healing.

Born into the Gold Ray of Incarnation and Evolution, which means they have access to gifts of clairvoyance and healing. They are born on the sixth dimension of consciousness, with the potential to open up rapidly to the ninth dimensional level of consciousness, and then from there to the thirteenth dimension, which represents universal consciousness.

The first thing you will recognize about Crystal children is their forgiving nature. They are very sensitive, warm, and caring. Don’t mistake these characteristics as a sign of weakness as Crystal children are also very powerful.

The Crystal child is incredibly sensitive, which stems from the ability to feel universal consciousness. You won’t be able to hide anything from these. You won’t be able to lie to them either, as they will know immediately what the truth is. 

It is important to mention that Crystal children know what is in your thoughts and even more importantly, what is in your heart. This is another reason why they are so sensitive.

Children with a crystal vibration have the ability to reflect things back to the universe that are of no importance to them. Not only will they reflect this energy back, they will reflect it in such a way that it is stronger than when it was taken in.

The trouble comes about when the Crystals are judged by medical and educational personnel as having “abnormal” speaking patterns. It’s no coincidence that as the number of Crystals are born, the number of diagnoses for autism is at a record high.

Rainbow Children


The rainbow children are the third generation of special children that have come to help humanity evolve. The Rainbow children are generally born in the year 2000 and above. 

In some cases, there might also be a few scouts that came to earth before 2000. The few Rainbow children that are here today are born from early Crystal scouts that were born in the 1980’s.

Born on the ninth dimension of consciousness, the dimension of collective consciousness.

As many people might have experienced it, the Rainbow children bring joy and harmony to their families. Unlike the Indigo and Crystal children, the Rainbow child is born to smile, which is accompanied by their huge hearts that are full of forgiveness.

Rainbow children generally recover from a state of negative emotion quickly. This is also an important key that they hold, emotional mastery. Rainbow children are psychic and have the ability to read people’s feelings. This gift is usually revealed, as they grow older.

They have strong wills and strong personalities. Their gifts do not stop there. Known to be natural healers and instant manifesters. It is said that whatever they need or desire they can instantly manifest.

They also resonate with the colors around them. Drawn to color, colorful surroundings and brightly colored clothes. Their energy is expressed in other ways too, as they are high-energy children. Their enthusiasm is demonstrated in their creativity. The Rainbow children are thought to be the builders of the New World, using Divine will.

 

Thank you for reading… 

Source: 

http://humansarefree.com/2014/07/the-new-children-of-planet-earth-indigo.html?m=0

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Religions and Philosophies

Is (or was) Stoicism a religion? I would say no, because there are substantive differences (though there is also overlap) between religions and philosophies, and Stoicism was (and is) primarily a philosophy. It is certainly the case that Stoics can be religious or not — this sort of ecumenicism is one of the main reasons I like Stoicism. It is also true that most if not all the ancient Stoics believed in a god, though they embraced a materialist, pantheistic conception of the divinity, something that moderns can somewhat easily accommodate in the guise of Spinoza’s(sometimes referred to also asEinstein’s) God.

But it wasn’t sophisticated philosophical arguments that recently reinforced in my mind the distinction between religion and philosophy. It was, rather, the simple art of traveling and paying attention to what you see around you.

I have spent four months during the Spring in Rome, writing my forthcoming book, not at all by chance entitled “How to Be a Stoic” (out for Basic Books in April of ’17 or thereabouts). I also then took a side trip to Turkey, part work, part vacation, and ended up in the middle of a coup d’etat. Two episodes during this period are germane to this discussion: seeing the (alleged) chains that bound Saint Peter in Jerusalem and Rome, and admiring a tooth and hairs from the beard of the Profet Muhammad in Instanbul.

Let’s begin with Rome, where my apartment was near the Colosseum and the Roman Forum, but also not far from an unassuming church that contains two major historical and artistic pieces worth seeing. First, San Pietro in Vincoli (literally Saint Peter in Chains) houses a reliquary with the famous chains:

Nobody knows whether the chains are really that old, and much less so if they actually held Peter at any time. I’m pretty sure that the miraculous story of how the chains fused together is not true. According to legend, the empress Elia Eudocia (V Century CE) received one set of chains from the patriarch of Jerusalem. She sent them to her daughter, who in turn gave them to Pope Leone Magno. The Pope already had the similar chains that had allegedly held the Saint when in captivity in Rome. When the two sets were brought near each other, they suddenly and miraculously merged into the single chain we see today.

Ever since, pious Christians come to San Pietro in Vincoli to see the chains, which to them certify a supernatural occurrence that reinforces their faith.

Compare this to the very different second reason to visit the church: the Moses sculpted by Michelangelo in 1513-15, part of the sepulcher of another Pope, Julius II:

People (including, during my stay in Rome, yours truly, several times) go to see the statue not because of its religious meaning (Julius was an interesting Pope, but certainly not worthy of eternal worship — he was justly called the “fearsome” and the “warrior” Pope), but in admiration of the immortal art of Michelangelo.

(Did you notice the two “horns” on Mose’s head? They are apparently the result of a translation error: Exodus tells the story of Moses returning from Mount Sinai with the Commandments for the second time. The phrase “his face was horned from the conversation of the Lord” was translated in Latin by using the word for actual horns, rather than the original Hebrew term “karan,” which means something like shining, or emitting rays, but is similar to “karen,” which actually does mean horns. Talk about being lost in translation!)

So here I was, a non religious person more or less regularly coming to visit the church, not for the reliquary (which I saw once), but for the art.

What does that have to do with philosophy, and Stoicism in particular? Well, that brings me to the second story: my visit to Topkapi Palace. Inside the palace one finds the Chamber of the Sacred Relics. If you visit it, you will see the cloak of the prophet Muhammad, his sword, one tooth, a hair of his beard, his battle sabres, an autographed letter and other relics that are known as the Sacred Trusts.

Entrance to Topkapi Palace, photo by the author

Quite obviously, lots of people visit the chamber in Topkapi as tourists, like I did, but a good number go there as worshippers of the faith began by Muhammad.

Again, compare this to a very different sort of pilgrimage, which I had just done a few days earlier, to modern day Pamukkale, in Turkey. That’s the site of ancient Heirapolis, where Epictetus was born. I walked through the gate of the city (the standing wall is Byzantine, though, not Roman), and visited the splendid theater where Epictetus probably never set foot, since he was a young slave there, before being bought by a better master and moved to Nero’s court in Rome.

The author, walking through the city gate at Hierapolis

I did not go to Hierapolis because I worship Epictetus, or because I have developed a religious feeling for Stoicism. I went there out of curiosity for Greco-Roman history, as well as out of reverence for an intellectual giant that has influenced me personally. And that, it struck me, is the most important difference between a religion and a philosophy.

Religions, of course, incorporate their own philosophies, meaning that Christianity, or Islam, do present their practitioners with philosophical precepts, both in terms of metaphysics and, of course, in terms of ethics. But the worship of a transcendental entity of some sort is a crucial component, without which we wouldn’t recognize them as religions (which is why, for instance, some versions of Buddhism cannot be labeled as such).

When I visited Hierapolis I was in awe of the ancient site, being mindful that Epictetus walked along those streets when he was young. And I did meditate on several passages of the Discourses during my trip. But I don’t think of Epictetus as anything more than a really interesting man. As much as he was famously proud of his philosopher’s beard (Dis courses I.2), I would think it very odd if someone set up a museum featuring some remaining hairs from that beard.

More importantly, I am ready to argue with Epictetus, and Zeno, Chrysippus, Posidonius, Seneca, Marcus, and all the others, because I think they were wrong on this or that. Epictetus leaned too far toward the Cynic spectrum of things, for example, and Seneca’s sexism is downright insufferable, even though it wasn’t at all uncommon at the time. I can do that in good conscience because I am a human being capable of reasoning for myself — and because I don’t think of them as gods to be worshiped. 

Source:

On the difference between religions and philosophies – http://wp.me/p5PZkx-vg


You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari

Shakespeare Vs Donald Trump

Bandung, November 24th 2016

06:00pm

I copied this article from another blog that I follow. Haven’t heard about Shakespeare for so long, and this article is interesting.

Happy reading….😁

I’ve been preoccupied with two people this year. The first, of course, is William Shakespeare. The other, alack, is Donald Trump.

I’ve avoided writing about the latter. It’s not that I don’t see the man everywhere in Shakespeare’s plays. I see him in Richard III’s Machiavellian machinations. In Richard II’s incompetence, overreach, and rashness. I see him in Iago’s Janus-faced manipulations. In Timon of Athen’s extreme egotism. In the glib sexual presumption of Falstaff as he appears in The Merry Wives of Windsor.

It’s that I’ve wanted to keep the two separated. Maybe because I’ve felt the connections were too pat, that discussing today’s politics would be such an obvious, unoriginal move. Maybe because I haven’t wanted to talk about him – because he’s all we ever talk about anymore.

You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

Or maybe it’s because, in spite of my efforts to make sense of my mundane life in 2016, I’ve ended up seeking escape in the Bard, trying to locate, somehow, even my self-divulging, self-indulging reflections in a kind of sacrosanct timelessness I want unsullied by the small, groping, orange hands of the 45th president of the United States. You don’t get to ruin Shakespeare, too, damnit.

But if there’s one thing I’ve learned from Shakespeare, it’s that all politics is personal.

***

I’m shocked. I’m angry. I’m scared. I’m eager for action – no,  this middle-class white guy isn’t pretending this essay on Shakespeare makes a meaningful difference. But I’m also longing to understand. To understand my country. To understand people I know – family, for God’s sake – who cast their vote for a bigot. To understand “what happened,” as we’ve been widely referring to Trump’s election.

And it’s this “what happened” that I’ve been stuck on when it comes to Trump and Shakespeare. “What happened?” we ask, bewildered, when Othello kills Desdemona. “How the hell did this happen?” we ask when Lear cradles a dead Cordelia. “Why in God’s name did we end up here?” when ask, beholding Macbeth’s bloodbath. “What happened?” millions of America’s are asking, dazed and gobsmacked, since November 9. The aftermath all seems so unlikely, so improbable, so dramatic. Too dramatic. Laughably dramatic.

What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary.

Like in The Winter’s Tale. In this romance play, Leontes, King of Sicilia, sees his wife, Hermione, innocently clasp hands with his lifelong friend and King of Bohemia, Polixenes. He becomes paranoid. He silences his advisers. He plots to kill Polixenes. He imprisons his wife, who is pregnant and gives birth while jailed. He wants the newborn burned until deciding to have her abandoned in the wilderness. And, oh my, the ways he talks about women: hagharlotcallathobby-horse,thing. (I’d like to say I’m fishing for Trumpian comparisons here, but no. It’s all there.) And Leontes causes so much terror and stress it ends up killing Leontes’ dear son and Hermione.

How did this happen?

The events are so hyperbolic that we tend to attribute it to larger-than-life personalities and passions, to outsized faults and flaws. Celebrities and Shakespearean villains – they’re just not like us. But we confound the outcome with the cause. What Leontes wreaks is catastrophic, but his original sin is all too ordinary: “I have too much believed mine own suspicion,” Leontes plainly sums it when he first reckons with the death of his wife and son (3.2.149).

Shakespeare, in that extraordinary way the playwright takes us into that interior stage of the mind, lets us glimpse how ‘it happened’ for Leontes. As he works himself up into a frenzy, Leontes rampages:

…Is whispering nothing?
Is leaning cheek to cheek? Is meeting noses?
Kissing with inside lip? Stopping the career
Of laughter with a sigh? – a note infallible
Of breaking honesty. Horsing foot on foot?
Skulking in corners? Wishing clocks more swift,
Hours minutes, noon midnight? And all eyes
Blind with the pin and web but theirs, theirs only,
That would be unseen be wicked? Is this nothing?
Why then the world and all that’s in’t is nothing,
The covering sky is nothing, Bohemia is nothing,
My wife is nothing, nor nothing have these nothings
If this be nothing. (1.2.286-98)

What happened? How did we get here? It was a whisper. It was nothing.

***

We read Shakespeare, we often say, because of how profoundly he probes and depicts human nature. We try to distill his characters down to raw elements: jealousy, ambition, power, hesitation, arrogance, suspicion. Yes, these, but I think Shakespeare ultimately strikes a deeper vein: irrationality.

It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

We, as humans, like to think we’re rational actors. That we make decisions based on the best available evidence. That we weigh choices based on risk and reward. Which is why Shakespeare’s Lears and Macbeths and Leontes evoke so much outrage, pity, and pathos. Why wouldn’t Lear just listen to what Cordelia was saying to him? Why did Macbeth carry out his assassinations in spite of his persistent moral reservations? How could Leontes let his suspicions get so out of hand and so quickly? If only they could see what they were doing, all the suffering, all the loss, all the grief, all the blood and gore would have been avoided. I would never act like that, we tell ourselves as Lear roves the heath and Macbeth talks to imaginary daggers. This is not what I would have done, we say as Leontes, foaming with self-feeding, despotic jealousy, justifies his anger.

Which is precisely why Shakespeare’s tragic figures are so horrifying. Because we do act like them. Because we’re irrational. We turn petty grievances into catastrophes. We let slights fester into disease. We take revenge on others because we are small, broken, needy beings. All for appearing right, to be recognized, not thinking ahead to, and never actually really wanting, the wreckage our egos leave in their wake. We feel guilty when we finally get what we say we want.

As Paulina, Hermione’s faithful attendant, stands up to Leontes:

…Thy tyranny, together working with thy jealousies –
Fancies too weak for boys, too green and idle
For girls of nine – O think, what they have done,
And the run made indeed, stark mad, for all
Thy bygone fooleries were but spices of it. (3.2.177-82).

We’re Leontes, ruled by the petty, childish tyrannies of our unreason – and our blind insistence otherwise – that bemonsters, Hulk-like and Hyde-like, whispers into so much woe. It seems Shakespeare had something in common with the Founding Fathers: a belief in self-government, and just how radical an experiment it really is.

***

Leontes repents. Sixteen years later, magically, it turns out his baby daughter, Perdita, had survived and was raised by a shepherd in Bohemia, where Polixenes’ son, Florizel, has fallen in love with her. But Polixenes will not have his son marry some country girl and responds with all the tyrannical violence of Leontes. The lovers flee to Sicilia, where Leontes reunites with his daughter and discovers Paulina, Hermione’s attendant, has been keeping the queen alive as a statue all this time.

It’s romantic idea, America, but is it a Romance play, where what’s lost is found, what’s divided is reunited? America’s going to need some repentance. It’s going to need some time. It’s going to need a whole lot of self-government, and that starts with checking our inner, irrational autocrats.

Some fairy-tale magic wouldn’t hurt, either. “It is required / You do awake your faith,” Paulina tells Leontes’ court when Hermione’s statue comes alive (5.3.94-95). But we should remember that while Leontes cried in the chapel everyday for 16 years, Paulina was attending to the statue of her Queen every day. That doesn’t just take faith. It takes commitment  and discipline – which require self-government.

And it’s not lost on me that the person who stands up to the tyrant, who puts in the work, is a woman.

Source: 

Shakespeare, Trump, and radical experiments of self-government: The Winter’s Tale – http://wp.me/p76JYn-z1

You also can follow my instagram: 


naomiindahsari 


Or add me as friend on facebook: 


naomi indah sari