Wanita sebagai Komoditas

Bandung, 3 Oktober 2017

05.00 pm

 

Hi readers, masih berkaitan dengan tulisan saya di blog sebelumnya tentang Memetics dan Simulakra, kali ini saya akan membahas mengenai dunia realitas dan dunia hiperealitas dalam konsep ekonomi di mana dalam dunia modern sekarang ini, wanita berperan sebagai komoditas. Namun sebelum kita masuk ke konsep komoditas ekonomi, kita harus tahu dulu bahwa ada aspek-aspek seperti realitas, simulasi, hasrat, dan lainnya yang menjadi dasar hingga sesuatu atau seseorang, khususnya wanita menjadi suatu komoditas.

Yasraf Amir Piliang menjelaskan bahwa ada perbedaan antara dunia realitas dan dunia simbol (symbolic world). Dunia simbol biasanya dipahami sebagai wujud yang merepresentasikan sesuatu di luar dirinya, yaitu realitas atau dunia. Hubungan antara simbol atau tanda (sign) dan dunia realitas bersifat referensia, yaitu bahwa tanda merujuk pada realitas yang direpresentasikannya.

Yasraf menjelaskan mengenai pelipatan dunia, yaitu suatu kondisi di mana sosial, dan seksual diminiaturisasi ke dalam bentuk citra, dengan segala klaim kebenaran di dalamnya. Di sini dunia realitas diredusir ke dalam dunia simulasi. Miniaturisasi ruang dan waktu adalah dalam pengertian dominasi simulasi atas realitas, yaitu kekuatan citra dan informasi yang mengklaim dirinya sebagai realitas dan kebenaran.

Lebih jauh, Yasraf menjelaskan dalam pelipatan ruang-waktu psikis, di mana pelipatan ruang-waktu, pemadatan tindakan, miniaturisasi dunia, dan pemadatan simbol mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap dunia psikis. Persepsi tentang jauh/dekat (distance/close), luar/dalam (inside/outside), cepat/lambat (fast/slow) kini mengalami perubahan yang mendasar. Yang jauh dapat dirasakan dekat, sebaliknya yang dekat menjadi jauh dari psikis. Begitu juga peringkasan dunia ke dalam wujud realitas media dapat merubah pandangan manusia tentang yang nyata/fantasi (real/fantasy), asli/palsu (original/copy), realitas/simulasi (reality/simulation). Selain itu, pemadatan simbol dan bahasa, telah merubah persepsi manusia tentang makna. Makna tidak lagi menjadi kebutuhan psikis, tetapi menjadi alat pemenuhan hasrat akan perbedaan dan kepuasan.

Di dalam wacana simulasi, manusia mendiami suatu ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan fantasi sangat tipis, manusia hidup dalam satu ruang khayali yang nyata. Teknologi modern sekarang ini mengantar kita kepada simulasi yang nyata. Content video full HD memanjakan mata kita secara visual melihat dengan puas dan nyaman segala tampilan yang ditayangkan oleh media televisi, youtube, dan sebagainya. Media-media tersebut merupakan alat utama untuk bersimulasi. Apa yang ditampilkan oleh media sangat jauh dari realitas, namun terlihat dan terasa sangat nyata saat ditonton atau dikonsumsi oleh khalayak.

Yasraf menjelaskan bahwa potret dunia didominasi oleh citra-citra besar. Salah satunya citra hasrat (desire) dan libido. Inilah sebuah dunia yang segala ada (being) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelepasan hasrat, sebuah dunia yang didominasi oleh mesin-mesin hasrat yang memproduksi segala sesuatu sebagai cara pembebasan hasrat dari batas-batasnya.

Image result for narcissistic

Narcissistic

Kunci untuk memahami hasrat dalam kepemilikan subjektif dan aspek-aspek kulturalnya bisa ditemukan dalam diktum Lacan di mana hasrat (desire) bisa dipahami sebagai hasrat akan liyan (desire of the other). Ada 3 ambiguitas krusial dalam formulasi yang terdaftar dalam 3 basis untuk distingsi di ranah hasrat.

Pertama, hasrat bisa mengambil bentuk baik sebagai hasrat menjadi (to be) atau hasrat memiliki (to have), berhubungan dengan distingsi yang dibuat Freud antara narcissistic dan anaclitic libido. Bentuk narcissistic hasrat memanifestasikan dirinya sebagai cinta/ rasa suka (love) dan identifikasi, di mana bentuk anaclitic melibatkan hasrat untuk suatu jouissance yang secara fundamental tak berbeda; kerap kali bertentangan dengan proses menjadi diri sendiri dan liyan.

Kedua, kata ‘of‘ dalam formulasi Lacan, berfungsi sebagai hal yang subjektif genitif dan objektif genitif, mengidentifikasikan bahwa “other” bisa menjadi subjek maupun objek dari hasrat, suatu distingsi yang diformulasikan Freud sebagai perbedaan antara tujuan aktif dan pasif dari libido.

Ketiga, ‘the other‘ bisa berupa imaji dari liyan yang telah ada dalam daftar imajiner (imaginary register) atau kode yang mengonstitusi tatanan simbolik, atau “other sex” dan/atau objek dari “the real”.

Dalam pembahasan narcissistic, hasrat merupakan aspek utama terbentuknya simulasi. Berawal dari hasrat ingin tampil, hasrat ingin pamer, hasrat ingin menunjukkan lekuk tubuh, hasrat ingin dipuji, hasrat ingin diidolakan, hasrat ingin diakui, dan sebagainya. Hasrat-hasrat tersebutlah yang mengantar seseorang kepada suatu budaya narcissistic, di mana seseorang merasa nyaman dengan simulasi yang ditampilkannya melalui cara berpakaian, cara bicara, barang-barang yang dipakai, dan lain sebagainya.

Lacan menjelaskan hasrat dalam 4 bentuk berikut:

  1. Passive Narcissistic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk menjadi objek dari cinta orang lain (atau kekaguman dari orang lain, idealisasi orang lain, atau rekognisi dari orang lain).
  2. Active Narcissistic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk menjadi orang lain-sebuah hasrat untuk mengidentifikasi adalah bentuk cinta atau devosi pada sesuatu yang lain.
  3. Active Anaclitic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk memiliki orang lain dengan tujuan untuk jouissance.
  4. Passive Anaclitic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk dihasrati atau dimiliki oleh orang lain sebagai objek jouissance orang lain.

Image result for voyeurism

Voyeurism

Voyeurism adalah kegiatan melihat tubuh atau citra tubuh (image), terutama tubuh dan citra tubuh perempuan yang mengarah pada tercapainya kesenangan visual (visual pleasure). Orang-orang tertentu dapat merasakan rangsangan seksual, bahkan orgasme ketika secara diam-diam melihat gambar (hidup) perempuan telanjang, setengah telanjang, sedang membuka pakaian atau sedang melakukan hubungan seksual. Rangsangan dan kepuasan tersebut dapat bangkit pada diri seorang voyeur, disebabkan di dalam dirinya pelbagai fantasi seksual berkembang bersamaan dengan proses melihat itu sendiri. Dengan melihat, ia mengembangkan di dalam dirinya semacam mekanisme metafora, yaitu mekanisme pengumpamaan dirinya sebagai memiliki peran di dalam tindakan seksual itu sendiri, yang memungkinkannya mengembangkan pelbagai fantasi, dan kemudian mendapatkan kepuasan.

Konsep voyeurism inilah yang dimanfaatkan oleh media dan ekonomi saat ini, di mana segala bentuk iklan, video klip, film, dan sebagainya dari berbagai produk berusaha menampilkan content yang berisikan hal-hal yang membangkitkan hasrat dan fantasi penonton dengan menggunakan model wanita sebagai komoditas untuk para voyeur. Dengan demikian, para voyeur akan mendapatkan kepuasan karena merasa masuk ke dalam peran content yang ditampilkan tersebut.

 

Masturbation Voyeurism

Masturbation Voyeurism adalah kegiatan melihat tubuh atau citra tubuh sambil melakukan masturbasi. Menurut Jacques Lacan, masturbasi tidak dapat dipisahkan dari fantasi. Di dalam masturbasi, genital sedang diarahkan pada sebuah citra (image), yang keberadaannya dikaitkan dengan sebuah penanda (signifier) tertentu, misalnya seorang perempuan yang disukai, perempuan seksi, dan seterusnya. Di dalam masturbasi yang menyertai voyeurisme, orgasme hanya dapat terjadi bila citra (seksi, cantik) dan fantasi penanda (perempuan tertentu misalnya) hadir bersanding di dalam membentuk kepuasan seksual.

Masturbation Voyeurism ini terdengar fulgar namun cukup realistis, karena khalayak pria pada umumnya tentu saja akan merasa dibangkitkan hasratnya setelah melihat tampilan-tampilan wanita seksi, bergairah dan sebagainya. Jika reaksi akhirnya adalah melakukan masturbasi, ini tergantung pada kendali diri para khalayak pria itu sendiri. Karena walaupun sebuah content itu dapat meningkatkan hasrat dan fantasi khalayak, tidak semua khalayak pria melakukan masturbasi setelah menonton suatu tayangan fulgar.

Image result for game lara croft

Interactive Voyeurism

Interactive Voyeurism adalah kegiatan melihat gambar interaktif di dalam cyberspace, sambil melakukan interaksi. Ada suatu kepuasan tertentu yang didapatkan ketika orang mengendalikan imajinasi perempuan telanjang, mengendalikan pemeran perempuan dalam sebuah game yang seksi atau telanjang, mengendalikan video perempuan seksi atau telanjang saat berinteraksi.

Interactive Voyeurism ini di mana khalayak berperan aktif pada sesuatu yang ditampilkan, misal bermain game; game yang menampilkan tokoh wanita seksi sebagai hero atau tokoh utama permainannya membuat pemain game (gamer) masuk menjadi bagian dalam game tersebut. Sehingga ada kepuasan tersendiri yang dirasakan oleh pemain, karena dia mengikuti petualangan yang disajikan oleh game tersebut.

Selain game, interaksi seksual yang dilakukan oleh pasangan seks tidak saling kenal pada media internet yang biasa dilakukan dengan cam to cam, atau sex video chat juga merupakan interactive voyeurism. Di mana perempuan-perempuan pada video tersebut adalah real, namun aktivitas yang dilakukan tidaklah real. Perempuan hanya merangsang lawan chatnya melalui gambar dan suara pada video yang ditampilkan. Namun karena perempuan tersebut real, maka pria yang merupakan lawan chatnya dapat berinteraksi melalui media yang digunakan.

Image result for fetishism

Fetishism

Fetishism tampak pada penonjolan bagian-bagian tubuh tertentu yang membuat kekaguman, misal: ukuran payudara, paha, bokong, bibir sensual, dan sebagainya.

Dalam ruang kultur simulakrum, ilusi memberi jalan bagi ilusi itu sendiri untuk mencipta suatu ruang cermin raksasa yang tak ada jalan keluarnya dan manusia harus bertahan hidup dalam ruang ini. Ruang kultur simulakrum adalah sebuah ruang di mana manusia harus belajar untuk hidup dalam ketakmasukakalan melalui membuminya semua ilusi. Pada titik ini, layaknya hantu yang keluar dari kubur, ilusi lepas dari esensinya dan membayangi hidup manusia. Dalam kultur simulakrum, yang esensial menjadi banal, yang banal menjadi esensial.

 

Kapitalisme Tubuh

Kapitalisme mengeksploitasi tubuh sebagai tanda dalam rangka mencari nilai pembedaan (differentiation). Dalam dunia yang berada di bawah spirit posmodernisme, orang mencari dam memburu apa saja yang terkesan berbeda. Desire to be different membawa implikasi, pemasaran lantas tak bisa lagi mengandalkan produksi massal untuk konsumsi massal, melainkan masuk dalam ceruk pasar (Niche). Strategi pemasaran harus mampu mengadaptasi hasrat untuk berbeda. Dunia marketing mengenal differentiation sebagai salah satu strategi pemasaran. Differentiation inilah yang kemudian menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan pemasaran.

Yasraf menjelaskan bahwa nilai tanda tubuh perempuan sebagai komoditas dapat dilihat melalui pelbagai aspek berikut, yang dikonstruksi di dalam sistem komoditas kapitalisme.

Pertama, tampilan  tubuh (body appearance), kerap kali sistem komoditas menekankan aspek umur, yaitu kemudaan tubuh perempuan yang ditampilkan. Perempuan berumur antara 18-35 tahun secara visual mempunyai nilai sensualitas dan seksualitas yang relatif lebih tinggi. Oleh sebab itu, perempuan dengan rentang umur tersebut merupakan figur sentral dan favorit dalam sistem komoditas kapitalisme.

Kedua, perilaku (manner), merupakan aspek lain yang menentukan relasi tanda tubuh (body sign) di dalam media, yang dapat dilihat dari ekspresi tubuh dengan pelbagai gaya dan kecenderungannya; dari pose, dengan pelbagai variasinya, seperti menantang, mempertontonkan, merayu, menggoda, mengajak, ekstase, memperlihatkan gairah, dan sebagainya; dari pakaian, dengan pelbagai gaya, ukuran, dan maknanya yang mampu memperlihatkan posisi sosial tubuh di dalam masyarakat, penghibur, eksibisionis, perayu, dan penantang.

Ketiga, aktivitas tubuh dapat menjadi penanda bagi posisi sosialnya di dalam media. Di antara aktivitas tersebut adalah: sentuhan (touch), yang dapat memperlihatkan apakah sebatang tubuh itu pasif, aktif, lemah, berkuasa, dan sebagainya.

Di dalam kapitalisme, ekspresi, perilaku, dan aktivitas tubuh di atas merupakan elemen-elemen utama yang dapat menciptakan pelbagai tanda tubuh (body signs), yang dieksploitasi sebagai komoditas (comodity signs).

Di dalam sistem ekonomi libido, sebuah betis yang terbuka, sebuah payudara yang tersingkap, sebuah paha yang diekspos dianggap bukan sebagai bentuk degradasi moral, melainkan sebuah nilai jual dan currency.

Untuk itu, Lyotard berpendapat, bahwa kebudayaan harus bersifat afirmatif dan permisif sehingga manusia dapat memperoleh kesenangan dan jouissance secara maksimal. Siapa saja dapat mewujudkan fantasi-fantasinya secara demokratis lewat tubuhnya, dengan mengeksplorasinya sebagai alat tukar libido (libidinal currency) di dalam sebuah sistem pertukaran hasrat (desiring exchange).

Refleksi Lacan mengenai hasrat juga diikuti oleh neo-freudian Prancis lainnya, Rene Girard. Girard memperkenalkan konsepnya tentang hipotesis mimesis. Menurut hipotesis ini, kendali total ego atas hasrat adalah ilusi. Manusia adalah makhluk yang tidak tahu apa yang harus dihasrati, dan oleh karenanya, berpaling ke orang lain untuk menentukan pilihan. Hasrat tidak muncul dari imperatif ego, melainkan peniruan hasrat orang lain.

Baudrillard melihat bahwa masyarakat kapitalis telah meninggalkan jalur kapitalisme monopoli dengan produksi mekaniknya, dan memasuki kapitalisme mutakhir atau kapitalisme global dengan model produksi simulasinya. Fantasi disimulasi menjadi (seolah-olah) nyata, sehingga perbedaan antara realitas dan fantasi menjadi tidak ada. Memampukan manusia hidup dalam dua dunia.

Dengan demikian, pasar media dan ekonomi sekarang ini hampir selalu menampilkan wanita sebagai komoditas barang atau produknya. Bahkan wanita-wanita tersebut tidak sadar bahwa dirinya digunakan sebagai komoditas, wanita-wanita tersebut bekerja atas dasar hasrat; hasrat ingin tampil, hasrat ingin terkenal, hasrat ingin terlihat cantik dan seksi, hasrat ingin diakui, hasrat ingin mendapatkan uang, hasrat bergaya hidup mewah, dan lain sebagainya.

Berawal dari hasrat, kemudian beralih kepada budaya narcissistic, lalu dimanfaatkan sebagai komoditas. Inilah alur yang sedang populer di era posmodern seperti sekarang ini.

Well readers, sampai disini dulu pembahasan kita mengenai “wanita sebagai komoditas”. Sampai jumpa di pembahasan selanjutnya.

 

Sumber:

Audifax. 2006. Imagining Lara Croft Psikosemiotika, Hiperealitas dan Simbol-simbol Ketaksadaran. Yogyakarta: Jalasutra.

 

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Advertisements

Alpha women are different from other women

SE

Laurel Thatcher Ulrich once said that “Well-behaved women seldom make history,” and those words have been printed on paper and typed onto the internet millions of time ever since. Although it’s easy to take the phrase to mean mostly whatever you want, in truth, these words are meant to celebrate women who make the world, in general, a better place, largely by being bolder and more creative than most other people. Read the following list to find out just how badass alpha-women really are, and to find out just how amazing they are.

#1: They make maximizing enjoyment in life a top priority

Regardless of whether they’re single, dating, engaged, or married, alpha-women make sure to continually shape their situation in life in ways which make it genuinely enjoyable to live. Living requires experiencing, so badass, fearless women embrace new courses, trips, and people whenever they have the opportunities (instead of shying away from these things, or accepting excuses not to be there).

#2: They’re open and assertive.

They’ll be the first person to introduce themselves or the first employee to ask for (a very well-deserved) raise. They don’t tend to beat around the bush or hesitate in general.

#3: They’re confident in their character.

It doesn’t matter if they are aware of every one of their imperfections because alpha-women know that overall, they are truly badass (and no one is perfect anyway).

#4: They’re happy single but open to a relationship which will make them even happier.

This means that they have more than enough people, hobbies, and interests in their life to begin with, but also that they are willing to reduce or cut some things out in order to make room for new people and things which fulfill alpha-women in different ways.

#5: They learn from the past, but don’t dwell on it.

It’s important to remember the past so you can learn from your mistakes, but once the lessons have been learned and remembered, alpha-women put their knowledge to the best use possible by focusing on how they can change and improve their lives in the present to better themselves now and in the future.

#6: They set and maintain boundaries.

They don’t allow people to violate their body, space, dignity, or beliefs. Appropriate words and actions are loud after any of these violations occur (or almost do).

This is the most important point for me. Don’t say any judgement statement to me, don’t think “small” or think “short” about anything before you analize it, don’t intimidate, don’t say any bad word to me. If you do that, I’ll give you minus score. Lol.

#7: They’re not afraid to walk away in some situations.

When a friendship, family relationship, or romantic relationship isn’t perfect, alpha-women are aware of all the pros and cons, and as soon as it’s clear that the juice isn’t worth the squeeze, they move on to a more positive endeavor.

Yes sure, and I’m not afraid to leave anything behind. I’m ready to be alone if people around me piss me off.

#8: They demand physical relationships.

This means that just texting, calling, or video messaging most of the time won’t cut it. I mean, you can still be friends, but alpha-women deserve and demand much more from their partners.

Physical relationship not only about sex, it means you have to show your love by hugging, or kissing, or cuddling, or anything you can do to show your love physically.

#9: They’re opportunistic.

Online networking is great, but badass, fearless women know that putting themselves out there in the real world is key to finding the best opportunities. Partly due to this, alpha-women are highly versatile from the wide ranges of clubs, pubs, museums, and galleries which they’ve been to.

And also don’t be fake and don’t do any simulation on social media to make you look good in my eyes. Real relationship much better than virtual relationship.

#10: They aren’t overly dramatic.

Just truly genuine. Fuck drama! Show me the real you!

#11: They aren’t celebrity worshippers.

Instead, they worship the reality around them—life itself. I worship myself. Lol

#12: They realize their bodies and their minds are investments.

It’s worth working out more now and reading and learning more now in order to be healthier, happier, and more successful in the near future (you’ll be in great shape and well-educated).

#13: They won’t be victimized.

They accomplish this by refusing to re-live negative experiences, and by maintaining control of their feeling, emotions, and life, as a result.

#14: They “just do it.”

Is that still a Nike slogan? Regardless, if an alpha-woman is unsure about saying or doing something, they will end up saying or doing it far more frequently than they will hold back. Because of this, badass, fearless women don’t have very many regrets. 

Never regret, never feel sad, never do drama, never cry when someone leave or dead.

#15: They’re always themselves.

They care about what other people think and do, but after considering the whole picture, they have no choice but to say or do whatever they truly think is best for themselves, their friends, their family members, and the world overall.

Which means I don’t care about what people think about me. Because I’m sure they’re not perfect, and so am I. I do and think what I enjoy & comfort with. I don’t follow people’s action or thought. I’m just me.

Source:

666: Novus Ordo Seclorum (novel by Afred Suci)

Bandung, 29 Agustus 2017

5:45pm

Hi readers, kalau kalian baca dari judul artikel ini, jangan salah paham dulu yah. Waktu saya beli buku ini juga awalnya tertarik dengan covernya yang berwarna hitam dan tertulis 666. Awalnya saya mengira ini buku mistis atau buku yang menceritakan sekte Lucifer. Tapi setelah saya baca ternyata ini hanya novel biasa kok. ^_^

Penulis novel ini orang Indonesia, dan setting cerita dalam novel ini pun berada di kota Jakarta. Dalam novel ini diceritakan kisah fiksi mengenai pembunuhan berantai yang ditujukan kepada orang-orang terpilih yang merupakan anggota suatu sekte yang memiliki identitas tato pentagram di setiap korban yang terbunuh. Tato bergambar pentagram tersebut terdapat di belakang telinga seluruh korban pembunuhan tersebut.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Iptu Adrian dan pacarnya Luci, serta seorang guru spiritual, dan Aziel yang adalah adik kandung Luci.

Adrian adalah polisi yang bertugas khusus menangani kasus pembunuhan berantai ini. Semua korban terbunuh dengan kondisi yang aneh, semuanya meninggal dengan posisi terbalik (kepala dibawah), dan kaki korban yang terikat di atas.

Novus ordo seclorum adalah mantra yang digunakan oleh seluruh anggota sekte saat melakukan ritual. “Novus ordo seclorum….novus ordo seclorum…biarkan dunia baru muncul dalam satu kuasa Lucifer, sang terang yang agung“, begitu bunyi mantranya.

Kami selalu percaya kepada mu, hai utusan agung. Kami percaya Lucifer yang agung akan mempersatukan dunia ini kembali“, sahut pengikut sekte tersebut saat ritual.

Saat Luci sedang berada di dalam kelas dengan “guru”nya, guru menjelaskan bahwa ada beberapa organisasi yang berpaham setan. Bahkan si penulis novel berani menyebutkan beberapa nama tokoh penting di Amerika Serikat yang dalam novel ini disebut sebagai pengikut organisasi setan tersebut. Penulis menyebutkan nama Abraham Lincoln dan John F. Kennedy sebagai salah satu anggota organisasi setan yang terbunuh, bahkan kasus pembunuhan mereka pun masih misteri hingga saat ini.

Guru mengatakan kepada Luci bahwa metode pengajaran organisasi setan tersebut bersifat akademis dengan menerbitkan buku-buku, salah satu buku yang paling terkenal berjudul “Liber Legis” karangan Aleister Crowly, dengan sebuah tulisannya yang paling diminati penganutnya: “Tidak ada hukum, kerjakanlah apa yang kau inginkan. Jadilah kuat, sang laki-laki! Nikmati dan reguklah dengan sepuasnya segala kegairahan nafsu, jangan takut dengan Tuhan karena perbuatanmu itu“. Intinya bagi mereka, dogma-dogma agama hanyalah belenggu yang membatasi. Ajaran Liber Legis dianggap memerdekakan mereka dari rantai yang mengikat selama sekian ratus tahun.

Guru melanjutkan ceritanya bahwa ajaran Crowly ini kemudian dikembangkan menjadi Satanic Bible dan Satanic Ritual oleh Anto Sandorz La Vey. La Vey menyempurnakan ajarannya dengan mendirikan Church of Satan di tahun 1966 di San Fransisco. Injil setan karangan La Vey dianggap pihak gereja sebagai penyelewengan kitab Perjanjian Baru. Selain itu, Guru juga menyebut Satanic Verses karangan Shalman Rusdhie.

Guru juga menyebut tentang ajaran David Berg, pendiri Children of God, yang sebelum menjadi sesat; David dulunya adalah seorang Evangelist. David mengatakan seks adalah wujud nyata dari perasaan bersyukur manusia kepada Tuhan. Jadi yang namanya masturbasi dan seks bebas adalah sah, dan tidak dibatasi dengan pernikahan.

Dalam film Da Vinci Code, David Berg mengatakan bahwa Yesus bersetubuh dengan Maria sehingga menghasilkan anak. Kemudian di tahun 1960an tumbuh generasi bunga dan pemujanya yang disebut hippiest. Mereka benar-benar mengamalkan ajaran La Vey dan David Berg. Segala kenikmatan dunia, seks, minuman keras, dan narkoba, mereka nikmati semuanya tanpa batasan. Penulis juga berani menyebutkan nama-nama musisi seperti Jimmy Hendrix, Led Zeppelin, dan The Beatles sebagai musik pengantar generasi bunga tersebut. Penulis menyebut bahwa musik zaman itu banyak menganjurkan bunuh diri, penggunaan seks bebas dan narkotika.

Saat berbincang-bincang dengan Luci, Guru menceritakan tentang testament (pengakuan) Lucifer. Di salah satu bagian dalam testament Lucifer tersebut, disebutkan Adam memiliki dua anak lelaki. Namanya Kain dan Habel. Kain adalah seorang petani yang bekerja sangat keras, sedangkan Habel adalah seorang penggembala domba. Setiap harinya, Kain bekerja keras mengolah tanahnya agar menghasilkan makanan, sementara Habel hanya duduk-duduk di padang rumput sambil melihat-lihat ternak-ternaknya makan. Kerja keras Kain kemudian memberikan hasil yang bagus, dan ia berniat untuk memberikan hasil yang bagus, dan ia berniat untuk memberikan sebagian hasilnya kepada Tuhan, sebagai tanda syukurnya. Kain kemudian memberikan hasil panennya kepada Tuhan. Habel tak mau ketinggalan, melihat saudaranya itu. Ia pun lalu mempersembahkan daging domba hasil ternaknya. Ternyata, Tuhan memilih persembahan dari Habel, yang terdiri dari lemak-lemak daging domba. Kain yang semula begitu taat kepada Tuhan, kemudian menjadi marah karena dia merasa diperlakukan dengan tidak adil oleh Tuhannya. Padahal ia sudah bersusah payah menanami tanahnya yang keras dan dengan sungguh-sungguh ingin berterima kasih kepada Tuhannya. Menurut pengakuan Lucifer dalam testamentnya, Lucifer menyaksikan dan memperhatikan apa saja yang dilakukan Kain dan Habel pada saat itu. Kain berniat membunuh Habel dan akan dijadikan persembahan untuk Tuhan. Setelah akhirnya Kain berhasil membunuh Habel, Kain membaringkan mayat Habel yang penuh darah diatas altar batu. Ia berteriak keras sekali memanggil Tuhan supaya persembahannya kali ini mau diterima-Nya. Tuhan diam saja. Dia enggan menerima persembahan itu. Sebaliknya dalam perjalanan pulangnya, Kain akhirnya ditegur oleh Tuhan atas tindakannya membunuh saudaranya sendiri. Tuhan marah besar, dan mengutuk Kain menjadi seorang pengembara seumur hidupnya. Dimanapun ia akan mengusahakan tanahnya, maka tanah itu tidak akan memberinya apa-apa. Dari kejadian inilah kemudian menurut pengakuan setan dia mendapatkan inspirasi untuk meminta persembahan manusia atau darahnya dari manusia-manusia pengikutnya.

Tubuh penuh lumpur, darah penuh najis, hati dan jiwa adalah murni. Novus ordo seclorum! Akan tiba bagi kami memimpin mereka“.

Saat Adrian sedang melakukan penyelidikan di lokasi tukang tato yang merupakan langganan anggota sekte setan tersebut, Adrian menemukan buku berwarna hitam saat dia sedang melakukan penggeledahan. Pada sampul buku tersebut terdapat logo pentagram berwarna merah mengkilat. Lalu ia menemukan kalimat berikut pada salah satu halaman buku tersebut:

PADA SAAT ITU MEREKA AKAN MENGORBANKAN JASADNYA UNTUKKU SEBAGAI PERTANDA KEBANGKITANKU DAN MENIUPKAN BENIH ANAKKU: OMEN, TEPAT PADA MALAM 666. MEREKA PARA SATRIAKU ITU ADALAH: IBLIS, SETAN, TERAFIM, ASH-TARTU DAN ABADON. DARAH MEREKA AKAN DIMURNIKAN OLEH SATRIAKU YANG TERKUAT: AZAZEL YANG AKAN MENGHADIRKAN AKU KE TENGAH KALIAN. AKU AKAN MEMBERIKAN PENGANTINKU BENIH DARIKU, SEBELUM AKU KEMBALI KE KERAJAANKU. BENIH ITU AKAN MENJADI YANG DIPUJA OLEH MANUSIA-MANUSIA ITU. BENIH ITU YANG AKAN MENYESATKAN MEREKA SEMUA DARI JALAN SURGA. MEREKA AKAN MEMILIH RUMAHKU. MEREKA ADALAH ANAK-ANAKKU. DAN PADA SAAT ITU AKU SUNGGUH-SUNGGUH INGIN MELIHAT AIR MATA JIBRIL, YANG MENYAKSIKAN SURGA TUHANNYA HANYA DIHUNI OLEH NABI-NABINYA SAJA… “L”.

Untuk cerita detail tentang apa yang dialami Luci dan Adrian kaitannya dengan sekte setan ini, ada baiknya langsung baca sendiri novelnya yah. Novelnya menarik, namun ceritanya cukup sederhana. Malah setelah saya membaca novel ini, seperti menonton ringkasan film yang berjudul “Omen” dengan cerita yang sedikit berbeda. Novel ini sama sekali tidak menakutkan dan tidak ada unsur mistisme yang akan berpengaruh kepada pembaca. Ini hanya sebuah novel biasa yang dikemas dengan cover yang menarik perhatian pembaca untuk penasaran mengenai isi novel ini.

So, don’t afraid to read it. hehehehehe

 

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

Suci, Afred. 2009. 666: Novus Ordo Seclorum. Jakarta: Buku Kita.

 

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Why does anyone stay single?

Why do women prefer more masculine men during the fertile phase of their menstrual cycle? Why are men more distressed by a partner’s sexual infidelity than their emotional infidelity? And why do female dating profiles advertise beauty, while male dating profiles boast about wealth?
The relatively new field of evolutionary psychology has answered all of these questions, and more. By applying evolutionary theory to the study of human mating behavior, psychologists have revolutionized our understanding of attraction, jealousy, lust, and love.

But surely there’s one question that evolutionary psychology can never answer: Why does anyone stay single?

If natural selection favors individuals who are best able to survive and reproduce, what possible benefit might there be to bowing out of the mating market? For countless generations, our ancestors have successfully reproduced. If evolution has shaped human desire, the prospect of life as a singleton should be as terrifying and impossible as holding your breath for 20 minutes. And yet, for many, remaining single is a conscious lifestyle choice. Why?

76 Reasons to Stay Single
It’s a question that occurred to Menelaos Apostelou, an evolutionary psychologist at the University of Nicosia in Cyprus. To answer it, he gathered together 120 men and women for an in-depth discussion of the reasons why people might stay single. After discarding very similar answers, he had a list of 76 distinct reasons.

Next, Apostelou sent a team of research assistants onto the streets of Cyprus to ask the public how likely each of the 76 reasons might be to cause them to stay single. Some reasons tended to go with others: If someone said they were worried that nobody wanted to be with them, they were also likely to say that they couldn’t find the right person. If they said they didn’t want to lose their freedom, there was a good chance they would also say they like to have their own space. Through these surveys, Apostelou found that the 76 reasons clustered into 15 groups, which in turn clustered into three super-groups, or broad and distinct reasons people choose to stay single:

Super-group 1: freedom of choice included reasons that seemed to be about wanting to flirt, be free, not commit, avoid conflict and constraints, and feeling that one is already doing well without a partner, as well as having different priorities and simply enjoying being alone.

Super-group 2: constraints included reasons relating to sexual dysfunction and other factors that might hold a person back from starting a relationship, such as a health problem, being older, or having children from a previous relationship.

Super-group 3: difficulties with relationships included reasons to do with bad experiences in previous romantic encounters, a lack of trust in others, a fear of change, an unwillingness to compromise, difficulties starting a relationship, and a feeling that one would not be better off with a partner.

Although most people will identify with reasons in each of the three super-groups, people who chose a reason from within one super-group were more likely to choose other reasons from within that same group. This suggests that, at least among Apostelou’s Greek-Cypriot research volunteers, there are three broad reasons why people choose to stay single—because they like to be free to set other priorities, because they feel cannot successfully compete for a partner, and because they find relationships difficult.

An Evolutionary Account
So far, so good. But what does this have to do with evolution? Apostelou’s argument goes like this:

Evolution has selected for ways of thinking and behaving that enhance our reproductive success, or the number of offspring we produce. So we shouldn’t be surprised that humans are motivated to pursue relationships. However, it should be surprising if humans pursued relationships indiscriminately, regardless of the costs.

For example, men with a greater earning potential tend to be more attractive to women. This means it makes less sense for a man to settle down with his high-school sweetheart at 18 than to focus on his education and developing his career, so that he can be more competitive for mates later (although a man with fewer opportunities for advancement might do better to marry young). By the same token, a woman who decides to marry the first man she dates might be making a bad move, but after dating more men, she will be better placed to make an informed decision about the best partner for her.

In both cases, these people would be staying single to exercise freedom of choice, applying reasons from Apostelou’s first super-group, but in a manner that is consistent with evolutionary theory. Staying single can allow you to pursue short-term flings, gain experience evaluating potential matches, and develop yourself to better attract desired partners later.

Now imagine another set of possibilities: If you are ill, it might not be the best time to settle down. You may have a better chance of finding an attractive partner if you wait until your health improves. If you have young kids with an ex-partner, this might make you less attractive to a new partner. In this case, you might decide to invest your energy and resources in your children, instead of a romantic relationship. If you are older, or infertile, you may choose to invest in the children of relatives or in your own grandchildren.

All of these constraints could lead you to reason that it makes more sense to stay single, at least for the time being—and again, your behavior would make sense in light of evolutionary theory.

We’ve seen how reasons for staying single that fit within Apostelou’s first and second super-groups are not incompatible with natural selection. But what about the third super-group  —  difficulties with relationships? Here, Apostelou takes a different tack. He reasons that navigating romantic relationships is a modern phenomenon. For much of human history, men may have secured partnerships with women by simply out-competing other men in physical combat, gorilla-style. Meanwhile, women may have had less choice in their partners, with a loose system of marriages arranged by parents as the norm. Apostelou says:

“In ancestral human environments, individuals would get mates from their parents or by fighting other men, rather than by addressing opposite-sex partners directly. Thus, selection forces had not enough time to augment the capacity of individuals to approach and persuade other individuals to establish an intimate relationship with them.”

In other words, those who stay single because they have trouble flirting, because they are too shy, or because they believe nobody wants to be with them are not operating a shrewd, long-term mating strategy. They are not unconsciously weighing the costs and benefits of settling down now rather than later. Instead, they are suffering the consequences of our species’ rapid development from hunter-gatherers to citizens of modern industrial economies in the (relative) blink of an eye.

In Apostelou’s view, natural selection “wants” these people to find a partner, but human circumstances have changed so quickly that evolution has yet to come up with a solution to these dating woes.
References:

Apostolou, M. (2017). Why people stay single: An evolutionary perspective. Personality and Individual Differences, 111, 263-271.

Open Minded

A recent study examined the difference in outlook between open minded and close minded people.
The study stated that the quality of ‘openness’ has a lot of deciding power on what kind of reality an individual lives in. Most open minded people live in a completely different reality than other people!

Openness is not a set quality. It includes keeping an open mind, trying new things, meeting new people – basically a desire to explore and push the boundaries of what you know and have.

Open minded people are very gregarious. The study, called ‘Seeing it both ways’, was conducted in the Melbourne University. A hundred and twenty three participants of various backgrounds were examined. Their character and views were measured.

The test for open mindedness focused on five categories of personality – conscientiousness, neuroticism, extroversion, agreeableness, and the ability to keep an open mind to new experiences.

They then tested who experienced a visual perception phenomenon called “binocular rivalry.” This phenomenon occurs when each eye is shown a different image, in this case a red patch in one eye and a green patch to another.

Most people switch back and forwards between the two incompatible images, as the brain can only perceive one at a time. But some people merge the two images into a unified red-green patch. Most participants who looked at both patches together were the ones who scored higher on openness!

Researchers theorize that open minded people tend to be more creative. Because these people are fine with keeping their mind open to experiences, learning and perception, they easily create new mental routes inside their head. Therefore, they develop new ideas by connecting things a normal person would not. This finding had been mentioned in an old study from 2015 as well.

Open mindedness, therefore, helps individuals attain higher planes of thought and a calmer resting state.

It literally creates a different structure of reality by introducing new elements inside the picture normal people would not perceive. It broadens the world an individual lives in.

Source:

http://theearthtribe.net/psychological-study-reveals-that-open-minded-people-live-in-a-completely-different-reality/

Trip to Bangkok

Bandung, 13 Juni 2017

03:40pm

Hi readers, kali ini gw mau share tentang perjalanan gw ke Bangkok waktu bulan Juni 2016 lalu. ya ya ya… uda basi I know. Gw beneran baru sempat share nie. ^_^

Waktu itu gw ke Bangkok 4 hari 3 malam cuma Rp 2.500.000 ikutan open trip backpacker. Itu uda termasuk tiket pesawat pp, hotel dan biaya transportasi umum selama di Bangkok, makan beli sendiri, terus masuk tempat wisata bayar lagi sendiri yah. Cukup enjoy, seru dan recommended ikutan agent travel backpacker ini. Selama jalan-jalan di Bangkok kita menggunakan bis umum dan perahu… yuhuuu… seru pokoknya. Ga usah sok tajir kalau mau fun, dinikmati aja. hahahahaa Waktu itu gw lupa yah nama agent backpackernya apa, tapi gw masih save nie nomor hp si bos yang punya. Yang mau dapet info tentang trip yang lagi dibuka sama agent backpacker ini bisa hubungi mas Diansyah (082115838000) atau bisa juga buka websitenya di http://www.liburanonline.com.

Jadi waktu itu gw memutuskan ikut open trip ini sendirian. Gw lobi-lobi beberapa teman tapi ternyata banyak teman gw yang uda pernah ke Thailand, jadi mereka prefer pergi ke tempat lain, sementara gw uda ngidam banget mau liburan ke Thailand. Well, dengan modal nekat dan kepedean langsung daftar lha gw ke http://www.liburanonline.com tersebut. Gw excited banget ke Thailand… yuhuuuu…..

Oh iya, sama si yang punya travel kita digabungin di satu grup open trip. Terus gw iseng cari mangsa alias kenalan sama cewek yang ada di grup itu dengan tujuan biar ada teman janjian waktu di bandara Soe-Ta. Terus yaudah dapet terus kenalan, terus janjian, terus duduk bareng, nunggu bareng, terus terus terus…. ehmm… tar lagi yah gw ceritain.

Selama di Bangkok kita nginep di kawasan Khaosan Road, nama hotelnya Thai Cozy House. Hotel ini lumayan nyaman, di kamar ada AC, kulkas, dan disediain wifi. Ok lha buat backpacker. Nginep di kawasan ini seru banget. Dari hotel kita tinggal jalan kaki ke pusat partyyyy….alias banyak cafe, banyak bar, banyak belanjaan, banyak makanan, banyak yang sexy, banyak yang ganteng. Recommended buat kamu yang suka senang-senang dengan budget backpacker bisa nginep di kawasan Khaosan Road ini. Di kawasan ini banyak banget hotel dan penginapan yang harganya cukup terjangkau. Apalagi buat kalian yang hoby party all night long, disini ok banget buat party. Gw penasaran pengen nyobain party di Khaosan Road, cuma mengingat gw sendirian dan ga punya teman yang bisa diajak party, well… gw urungkan niat. Cari aman, karena takut dikasih drugs, takut diperkosa, takut dibawa kabur, dsb. Well, antisipasi lebih baik. Next time mungkin harus bawa temen biar seru kalau mau mampir lagi ke Khaosan Road. hohhoho

Thai Cozy House. Penginapan yang berada di kawasan Khaosan Road

Di Khaosan Road rame banget pokoknya, yang mau coba belalang crispy, capung crispy, kecoa crispy, semut crispy, ulat crispy, dan binatang-binatang lain yang ga dimakan di Indonesia bisa coba dengan harga 10 bath untuk 1 tusuknya. Oh iya di Thailand itu kebanyakan makanannya ga halal, kalau kalian pakai jilbab biasanya yang jual langsung teriak “pork pork” artinya ada babi, jadi ga usah beli disini. Atau kalau kita ga pakai jilbab, kita bisa tanya “Hallal? Yes or no?” nanti dia kasih kode yes terus kita bisa masuk dan makan disitu. Oh ya yang bikin bingung kalau liburan di Thai, kadang menu makanannya pakai tulisan Thailand yang kita ga bisa baca sama sekali. Terus giliran ditanya ada makanan apa aja, terus mereka jawabnya pakai bahasa Thailand. Whhooooaaaa….bunuh aja gw…bunuh… wkwkwkwkwkwkwwkkw Emosi ceritanya. Well, jadi gitu deh kalau nasib orang backpackeran pasti kan ke tempat-tempat yang tergolong murah dimana orang-orangnya minim bahasa Inggris. Yaudah selamat berbahasa tubuh lha pokoknya yah… hahahahahahhaah

Jajanan Thai yang terdiri dari capung, belalang, kecoa, semut, ulat, dll. Salah satunya bisa ditemukan di kawasan Khaosan Road
Naomi saat mencicipi belalang crispy di Khaosan Road
Tempat makan di kawasan Khaosan Road
Suasana di Khaosan Road
Cafe-cafe di kawasan Khaosan Road

Selain makan belalang crispy, di Khaosan Road gw juga makan ice cream coconut ala Thailand gitu. Lumayan lha enak buat nyemil-nyemil. Lupa harga ice creamnya berapa yah, 25 bath kalau ga salah.

Naomi saat mencicipi Thai Coconut Ice Cream

Terus besoknya kita berkunjung ke Sleeping Buddha Temple atau disebut juga Wat Pho Temple. Di tempat ini ada patung sang Buddha lagi tidur, besar sekali patungnya. Tiket masuk Wat Pho itu 100 bath.

Naomi berfoto disamping patung Sleeping Buddha di Wat Pho temple yang besar banget. Saking besarnya jadi cuma kebagian kepala sang Buddha aja.
Halaman di Wat Pho temple

Setelah dari Wat Pho kita lanjut ke Wat Arun. Di sekitaran Wat Arun kamu bisa belanja souvenir dan bisa sewa baju tradisional Thailand untuk berfoto. Oh iya sewa baju ini hanya untuk berfoto aja, ga bisa dipakai sambil jalan-jalan di Wat Arun yah. heheheh Kebetulan gw ga sewa baju tradisional Thailand, karena harga sewa bajunya 200 bath seinget gw. Ga mahal sih, cuma gw uda fokus mau beli barang yang lucu dan uda niat ga mau boros selama di Bangkok. hehehehehe

Suasana di dalam Wat Arun temple
Seorang Biksu yang sedang melayani di Wat Arun temple
Tempat penyewaan baju tradisional Thailand di kawasan Wat Arun temple

Dari Wat Arun terus kita berkunjung ke Grand Palace. Bagus banget deh di Grand Palace. Kalian wajib berkujung kesini. ^_^

Gerbang luar Grand Palace
Halaman Grand Palace
Gerbang dalam Grand Palace. Untuk dapat masuk ke dalam istana harus membayar sekitar 500 bath.

Oh iya selama di Bangkok gw kemana-mana itu naik angkutan umum seperti bis, menikmati pemandangan sambil naik perahu (transportasi air), terus yang paling seru itu naik Tuk-Tuk. horeeee….. seru banget…. supirnya ngebut banget. Tapi ngebutnya seru kayak di film fast & furious gitu. Penumpangnya dibikin kesenengan dan teriak-teriak abis itu ketawa ngakak sambil teriak “again…again…” (lagi…lagi…)…. aneh…. but ini seriusan seru. hahahahahhaa

Transportasi air di Bangkok
Saat naik Tuk-Tuk di Bangkok

Setelah jalan-jalan keliling temple, besoknya akhirnya kita wisata belanja ke The Platinum Fashion Mall. OMG… OH Uh la la…. ini surga bangeeeeetttttttttttttttttttttttttttttttt sist….. murah-murah banget gila….. swear tekewer-kewer. Kalian yang hobi shopping wajib banget liburan ke Bangkok. ajibbbbbbb…… Mulai dari dress yang harganya 150 bath, baju lucu yang harganya 100 bath, sampai bikini-bikini lucu…. uwawww…..
Dari The Platinum Fashion Mall kita ke MBK Center. Di MBK belanja lagi. sok tajir yah… hahahahhahahaha Terus seinget gw sih kita ke Pantip Plaza juga apa gak yah. Lupa deh… pokoknya gw jalan-jalan tapi lupa kadang sama nama tempatnya. Terus yang paling ga boleh dilewatin adalah ASIATIQUE The Riverfront. yuhuuuuu….. seru banget main dan belanja disini. Walau harganya ga semurah di Platinum, tapi ok lha buat cuci mata. Sebenernya harga di Asiatique termasuk standar juga kok kalau menurut gw. Gw beli dompet custom dengan ukiran nama gw donk… yuhuuuu…. seinget gw harganya itu 150 sampai 200 bath deh. Pokoknya kalau dirupiahin cuma 70ribu. Boleh lha yah… Tapi kalau lagi rame, ngantri cuy… ngantri ngukir namanya itu lho. hahahahhahaa Selain itu, kamu juga bisa beli oleh-oleh sabun unik atau disebut dengan Fancy Soap yang bentuknya unik dan fulgar, mulai dari bentuk buah-buahan, bikini, pakaian dalam, hingga berbentuk alat kelamin. 😂 Fancy soap ini biasanya dijual dengan harga 100 bath/3 atau 4 pcs, atau bisa juga dibeli satuan dengan harga 40/50 bath (giliran yang kayak gini kok gw hafal banget yah😅)

Asiatique The Riverfront Bangkok
Suasana di Asiatique The Riverfront Bangkok
Gembok Cinta di Asiatique The Riverfront Bangkok
Dompet custom yang dapat dibeli di Asiatique The Riverfront Bangkok. Kalau ke Bangkok lagi, saya harus beli dompet disini lagi👍
Fancy soaps yang dijual di seluruh pusat oleh-oleh di kota Bangkok. Bentuk sabunnya unik-unik dan sedikit fulgar. Hehehe

Oh iya, kamu bisa tuh cobain bir Thailand yah. Well, sebenernya ini bir biasa aja. Cuma karena gw lagi di Bangkok, yaudah cobain deh. Ini bir ringan banget deh yah. Masa gw ga berasa pusing atau gimana, kayak minum coca cola gitu (*ini antara doyan sama haus ^_^). Rasa bir nya pun jauh banget dari bir Indonesia. Kalau bir bintang, heineken, guinnes kan berasa minum bir kan yah. Ini bir Thailand yang namanya CHANG, sama sekali ga berasa sepet kek, pait kek, apa kek. Biasa aja gitu. No sensasi. Namanya juga coba yah, yaudah yang penting uda tau yah. Tapi aman kok ga bikin mabok (ga tau juga sih, kan gw cuma minum 1 botol) hehehehehe.

Naomi saat mencicipi Chang Beer di kawasan Khaosan Road

Well readers, kayaknya itu aja cerita Naomi selama di Bangkok. Sekedar tips, kalau bisa siapin budget 3jt keatas untuk belanja, karena banyak teman-teman sok ngirit, eh pas di Bangkok semua khilaf pada belanja terus kehabisan bath dan terpaksa narik duit di atm. Narik duit di atm internasional pasti potongannya lumayan yah, jadi mending siapin duit lebih buat jaga-jaga kalau khilaf. Hehehe

Oh iya kalau bisa pelajarin sedikit kata-kata berbahasa Thai untuk membantu komunikasi kita selama disana, karena banyak yang gak bisa bahasa Inggris. Kalau gw waktu itu sempat bingung kalau mau manggil waitress harus sebut apa, kalau di Indonesia kan biasa panggil mas/mba, nah kalau di Thai bingung deh tuh manggilnya gimana. Alhasil gw angkat tangan gw keatas sambil melambai-lambai ke waitressnya (mirip adegan kalau mau jawab soal di kelas…wkwkwkwkwkkkk), atau bisa juga gw harus keluar dari meja dan nyamperin terus colek-colek waitressnya. Hahahahaaaa Terus yang geblek gw sempat sotoy dengan manggil si waitress dengan sebutan “ploy, pai, kim, dsb”, padahal gw juga ga tau itu apaan. wkwkwkwkwkkwkwkwkwkwk Dan apakah kalian pikir mereka nengok dipanggil begitu, kenyataanya tetap tidak nengok yah. hahahahahaa

Thank you for reading….

Sampai jumpa di trip Naomi selanjutnya.
With love,

Naomi Indah Sari
You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

Or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

What childhood trauma does to brain

Traumatic stress impacts the developing brains of males and females differently, according to a new study from the Stanford University School of Medicine and the Early Life Stress and Pediatric Anxiety Program.

In youth with symptoms of post-traumatic stress, there is variation in the volume and surface area of the insula between males and females who have experienced traumatic stress versus those who have not, the study found. The insula is a region buried deep within the cerebral cortex that plays a key role in interoceptive processing (how much or how little attention one pays to sensory information within the body), emotion regulation, and self-awareness. The study was published online in the journal Depression and Anxiety on January 9. It is the first study to date which has examined sex differences in subdivisions of the insula in youth with trauma histories.

While many individuals experience trauma, curiously, not all of them develop post-traumatic stress disorder (PTSD). People who are diagnosed with PTSD or have had a traumatic stressor in their lives endure exposure to actual or threatened death and “intrusive” thoughts afterward, which are associated with the traumatic event. These intrusive symptoms are coined such because they are unwanted and unwelcome by the individual who experiences them, and can include repeated, involuntary distressing memories, dreams, flashbacks, and intense, prolonged psychological and physiological reactions, as if the traumatic event were still occurring (even though it has long ceased). In turn, the individual exposed to trauma who is prone to developing PTSD will avoid any stimuli associated with the traumatic event and will experience changes in thought and mood, as well as consistently heightened arousal (APA, 2013). Previous neuroscience research has found that changes in the insula following trauma contribute not only to the development of PTSD, but also to its maintenance. Similarly, it was found that women who experience trauma are more likely to develop PTSD (Hanson et al., 2008), but scientists have not been able to pinpoint why… until now.

article continues after advertisement

Source: Johnny Greig/Getty Images
59 youth between the ages of 9 and 17 participated in the study. Half of the individuals exhibited PTSD symptoms and half did not. The two trauma versus no-trauma groups had similar age, IQ, and sex characteristics. Of the 30 participants (14 female and 16 male) with trauma, 5 reported one traumatic stressor, while the remainder (n=25) reported more than two traumatic stressors or chronic trauma exposure. Using structural magnetic resonance imaging (sMRI), researchers scanned the participants’ brains and compared healthy male and female brains to the brains of males and females with PTSD symptoms. Though there were no structural differences in insula subdivisions between healthy male and female brains, there were notable differences between males and females in the traumatized group. Boys with trauma had larger insula volume and surface area than boys in the control group, while girls with trauma had smaller insula volume and surface area than girls in the control group. This finding suggests that trauma not only impacts the developing brain, but also that it impacts the development of boys and girls quite differently.

article continues after advertisement

Insula volume decreases with aging (Shaw et al., 2008), and the reduced insula volumes in girls with PTSD symptoms suggests that this part of the brain is prematurely aging in part due to traumatic stress. Klabunde, Weems, Raman, & Carrion (2017) drove home the importance of these findings in their paper:

“By better understanding sex differences in a region of the brain involved in emotion processing, clinicians and scientists may be able to develop sex-specific trauma and emotion dysregulation treatments.”

The study also helps highlight the interplay between nature and nurture when it comes to assessing complex mental health issues, such as PTSD. While most people do not readily have access to equipment such as an MRI scanner used to elucidate this study’s findings, mental health professionals and patients alike do have the ability to remember that environmental stress translates to neurobiological changes and that these changes differ between the sexes, meaning a one-size-fits-all approach to PTSD will be much less effective than a treatment which considers contextual variables of the individual, such as biological sex.

The article citation is listed below and can also be found at this link.

References

American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders. 5th Edition. Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.

Hanson, R. F., Borntrager, C., Self-Brown, S., Kilpatrick, D. G., Saunders, B. E., Resnick, H. S., Amstadter, A. (2008). Relations among Gender, Violence Exposure, and Mental Health: The National Survey of Adolescents. The American Journal of Orthopsychiatry, 78(3). Pp. 313 – 321.

Klabunde, M., Weems, C. F., Raman, M., & Carrion, V. (2017). The moderating effects of sex on insula subdivision structure in youth with posttraumatic stress symptoms. Depression and Anxiety 34. Pp. 51 – 58.

Shaw, P., Kabani, N. J., Lerch, J. P., Eckstrand, K., Lenroot, R., Gogtay, N., Greenstein, D., Clasen, L, Evans, A., Rapoport, J. L., Giedd, J. N., Wise, S. P. (2008). Neurodevelopmental Trajectories of the Human Cerebral Cortex. Journal of Neuroscience, 28(14). Pp. 3586 – 3594.
https://www.psychologytoday.com/blog/greater-the-sum-its-parts/201703/what-childhood-trauma-does-brain-development?utm_source=FacebookPost&utm_medium=FBPost&utm_campaign=FBPost