There is No “Gay Gene” 

by Bradley Eli, M.Div., Ma.Th.
ChurchMilitant.com

Research from Johns Hopkins University shows no one is “born that way”.

After analyzing up-to-date research on sexual orientation from various scientific fields, reputable researchers have concluded that people with same-sex attraction are not born gay.

Researchers from Johns Hopkins University, Dr. Lawrence Mayer and Dr. Paul McHugh, gave a “careful summary and an up-to-date explanation of research — from the biological, psychological and social sciences — related to sexual orientation and gender identity.” Their report, Sexuality and Gender: Findings from the Biological, Psychological and Social Sciences, was published in fall 2016 in The New Atlantis, a scientific journal.

Findings from the study concluded, “The idea that people are ‘born that way’ is not supported by scientific evidence.” The report also found youth with same-sex attraction typically change their sexual orientation as they grow older, “as 80 percent of male adolescents who report same-sex attractions no longer do so as adults.”

After looking into current and credible scientific studies regarding homosexual behavior, the research showed little evidence of any biological factors causing homosexual orientation.

“While there is evidence that biological factors such as genes and hormones are associated with sexual behaviors and attractions,” said the report, “there are no compelling causal biological explanations for human sexual orientation.”

While discrediting the idea that nature determines a person’s sexual orientation, the research did find compelling data to support the premise that nurture, or social environment, had a hand in establishing a person’s homosexual orientation. The study uncovered the fact that, “[c]ompared to heterosexuals, non-heterosexuals are about two to three times as likely to have experienced childhood sexual abuse.”

Regarding same-sex attraction, the Catechism of the Catholic Church in paragraph 2357 says, “Its psychological genesis remains largely unexplained.” The fact that many people with a homosexual orientation were sexually abused, however, can’t be denied. An undercover video shot in a gay bar reveal many of the men admit to such abuse, and credit that abuse as a factor in their same-sex lifestyle.

https://www.churchmilitant.com/news/article/no-science-behind-gay-gene-theory

Advertisements

Selidiki Sociopath

Cara Menyelidiki Sociopath
Seorang sociopath, dapat didefinisikan sebagai orang yang mengidap Antisocial Personality Disorder (Kelainan Kepribadian Antisosial). Kelainan ini dicirikan oleh sikap acuh tak acuh akan perasaan orang lain, tidak adanya penyesalan atau rasa malu, perilaku manipulatif, egosentrisme yang tak terkendali, dan kemampuan untuk berbohong demi mencapai tujuan. Paling buruk, sociopath bisa berbahaya, atau sederhananya sangat sulit berurusan dengannya, dan sangat penting untuk mengetahui bila Anda berurusan dengan seorang sociopath, baik itu seseorang yang Anda kencani atau seorang rekan kerja. Bila Anda ingin tahu cara mengenali seorang sociopath, maka Anda harus sangat memperhatikan perkataan dan perbuatan orang tersebut.

Metode 1 dari 2:
Membaca Tanda-Tandanya

1.
Cari tahu apakah ia tidak memiliki penyesalan. Kebanyakan sosiopat mampu melakukan perbuatan keji dan tidak merasakan sedikit pun penyesalan. Perbuatan tersebut dapat meliputi kekerasan fisik atau pelecehan di depan umum terhadap orang lain. Jika orang tersebut benar-benar sosiopat, maka dia tidak akan merasakan penyesalan akibat menyakiti orang lain, berbohong, menipu orang, atau umunya bertingkah dalam cara yang tidak dapat diterima.
Ketika seorang sosiopat berbuat salah, dia cenderung tidak terima disalahkan dan malah menyalahkan orang lain.
Sosiopat bersedia menyakiti siapa pun di mana pun jika tindakannya dapat mewujudkan tujuannya. Ini sebabnya kebanyakan sosiopat adalah orang-orang yang sangat sukses, sangat disayangkan.
Sosiopat juga bisa kejam terhadap binatang dan tidak akan menunjukkan penyesalan tulus akan itu.

2.
Lihat jika orang tersebut terus-terusan berbohong. Sosiopat sangat tidak masalah menjalani kehidupan mereka dengan mengatakan rangkaian kebohongan. Kenyataannya, sosiopat sejati merasa tidak nyaman saat mengatakan kebenaran. Jika mereka akhirnya tertangkap tangan berbohong, mereka akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan pertamanya. Namun, jika mereka benar-benar di ambang ketahuan berbohong besar, mereka akan mengakui segalanya supaya dapat mempertahankan kepercayaan Anda.
Sosiopat senang berbohong tentang masa lalu mereka juga. Cari ketidak konsistenan dalam cerita-cerita mereka.
Sebagian sosiopat rela bekerja kerjas untuk meyakinkan Anda akan kebohongan mereka. Contohnya, sosiopat mungkin berpura-pura “pergi kerja” setiap hari sekalipun dia pengangguran.
Banyak sosiopat mengalami delusi hingga titik di mana mereka percaya bahwa kebohongan mereka adalah kenyataan. Contohnya, Charles Manson (pembunuh 7 orang asal Amerika) pernah berkata, “Saya tidak pernah membunuh siapa pun! Saya tidak perlu membunuh siapa pun!”
3.
Lihat jika mereka mampu tenang tak wajar dalam situasi apapun. Seorang sosiopat dapat mengalami emosi sekalipun tanpa menunjukkannya, paling tidak di permukaan (cemooh dalam diam). Mereka seringkali merespon “kabar baik” dengan tatapan dingin kosong. Sosiopat tidak merespon peristiwa dengan cara yang sama seperti non-sosiopat dan sangat sedikit beraksi dalam situasi berbahaya atau menakutkan.
Jika Anda mendapati diri Anda bingung atau panik dan orang yang bersama Anda nyaris tidak terlihat gelisah, maka dia mungkin tidak menganggap peristiwa itu seserius Anda.
Lihat apakah orang tersebut pernah terlihat cemas atau gugup, khususnya dalam situasi yang normalnya akan menimbulkan perilaku tersebut. Meski beberapa orang lebih gampang-jatuh-pingsan dibanding yang lain, sebagian besar orang mempertontonkan bentuk kegelisahan pada akhirnya.
Studi menunjukkan bahwa sosiopat tidak mempertontonkan kegelisahan saat diperlihatkan gambar yang mengganggu atau saat diberikan sedikit kejut listrik, sementara non-sosiopat mengalami kegelisahan dan ketakutan dalam situasi di atas.
4.
Perhatikan apakah mereka sangat memesona pada awalnya. Sosiopat adalah orang-orang yang sangat memesona karena mereka tahu bagaimana mendapatkan keinginan mereka. Orang yang memesona tahu caranya membuat orang lain merasa spesial, bertanya pertanyaan yang tepat tentang diri mereka, dan umumnya dirasa menyenangkan, mudah dicintai, dan menarik. Orang yang sungguh memesona memiliki kemampuan untuk membuai nyaris semua orang, dari anak kecil hingga wanita tua. Jika orang tersebut luar biasa memesona di awal, sedangkan perilakunya belakangan menakutkan Anda, maka mungkin di hadapan Anda adalah sosiopat.
Anda boleh membayangkan sosiopat sebagai penipu ulung yang selalu punya agenda tersembunyi. Mereka perlu tahu cara membuat orang tertarik supaya mereka mendapatkan keinginannya. Untuk mewujudkan tujuannya, pertama-tama mereka harus membaur dalam kerumunan, yang artinya mereka harus tahu caranya tersenyum, menyalami orang, dan membuat orang merasa nyaman.
Meskipun banyak sosiopat sangat memesona, mereka memiliki kecenderungan antisosial yang kuat. Mereka bisa sangat memesona, tetapi dingin dan jauh. Mereka juga tidak tulus dalam berinteraksi. Apabila perilaku seseorang sangat berbeda, dari antisosial hingga sangat memesona, hal ini adalah pertanda disintegrasi dalam psikisnya, dan ini adalah tanda bahaya. Ia juga mungkin mencoba memanfaatkan penolakan dan melukai orang lain untuk mengendalikan, tanpa perasaan iba atau memikirkan kehidupan mereka. Jika hal ini tidak terasa benar-benar berasal dari dalam diri mereka, mungkin orang itu memiliki kecenderungan sosiopat.
5.
Perhatikan apakah orang tersebut manipulatif. Sosiopat memahami kelemahan manusia dan mengeksploitasinya sampai maksimal. Begitu menentukan targetnya, mereka dapat memanipulasi target agar melakukan apapun. Sosiopat memburu orang lemah dan seringkali menjauhi orang yang sama kuat; mereka mencari orang yang sedih, tidak percaya diri, atau orang yang sedang mencari arti hidup; karena sosiopat tahu orang-orang tersebut adalah target empuk. Lihat apakah orang tersebut mahir dalam menyuruh orang lain untuk melakukan apa yang ia mau.
Seorang sosiopat perlahan-lahan akan mendominasi dan mengendalikan orang lain tanpa disadarinya. Mereka merasa senang dapat mengendalikan setiap situasi dan tidak nyaman berada di sekitar orang-orang kuat lainnya. Mereka selalu merasa khawatir akan dikenali. Saat orang yang kuat ada di dekatnya, mereka akan merasa takut tertangkap. Mereka akan menjaga jarak, dan dari jarak jauh, sedikit berhubungan orang yang kuat, untuk mengetahui apakah ia menyadarinya. Meskipun demikian, sosiopat suka memanfaatkan orang terkuat yang dapat mereka tipu, dengan tetap tidak terlihat dan dikenali. Setelah mereka merasa dikenali, mereka akan mengeluarkan kartu as-nya atau pergi, selalu dengan alasan yang tidak masuk akal. Dominasi seorang sosiopat banyak diperoleh dari tekanan psikologis, membuat orang lain ketergantungan akan keberadaannya. Seperti racun, tujuan akhir mereka adalah melemahkan orang lain. Mereka merasa jika tidak dikenali mereka tidak akan jauh dari masalah.
Perhatikan apakah ia merasa nyaman menipu dan mudah membohongi orang lain untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Hal ini sama seperti tidak atau kurang memiliki empati. Selain itu, mereka juga kurang atau tidak memiliki integritas.
6.
Perhatikan tanda-tanda perilaku kekerasan. Waktu masih kecil sebagian sosiopat menyiksa binatang yang tak berdaya seperti katak, anak kucing, atau anak anjing, atau bahkan orang yang tanpa perlawanan (perilaku ini dapat muncul lagi saat dewasa, namun kerusakan diwujudkan via kekerasan mental dan emosional). Orang itu juga mungkin melakukan kekerasan terhadap orang lain atau mungkin marah dan memukul tembok, melempar benda ke lantai, atau mempertontonkan perilaku amarah lain.
Bila Anda merasa bahwa orang tersebut, meski dari luar tampak tenang, tetapi bisa lekas kasar kapan saja, mungkin dia menunjukkan kecenderungan perilaku sosiopat.
7.
Lihat apakah orang tersebut punya ego yang besar. Sosiopat seringkali mengalami delusi tentang keagungannya dan berpikir mereka adalah orang paling hebat di dunia. Mereka sangat tidak responsif terhadap kritik dan terlalu egois. Mereka juga sangat merasa berhak, berpikir mereka pantas mendapat hal-hal luar biasa terjadi pada mereka, sekalipun atas sedikit usaha.
Mereka juga punya pandangan yang sangat tidak realisitis akan kemampuan mereka; misalnya, mereka mungkin berpikir mereka sangat berbakat dalam bernyanyi atau menari, padalah kenyatannya, mereka nyaris tidak punya kemampuan dalam bidang tersebut.
Orang tersebut juga mungkin berpikir dia lebih baik daripada siapa pun di sekitarnya, tanpa bukti bahwa dia superior.
Orang tersebut juga mungkin sangat narsis. Karena ini, orang tersebut jauh lebih tertarik membicarakan tentang diri sendiri daripada mendengar apa yang orang lain harus katakan. Juga, orang tersebut menghabiskan banyak waktu memandang cermin daripada mengamati orang lain di dunia. Orang ini, umumnya, tidak ingin mendengar apa yang harus dikatakan orang lain.
8.
Lihat bila orang tersebut punya sedikit teman sejati. Meskipun tidak semua orang beruntung dalam pertemanan, Anda harus waspada jika orang tersebut kelihatannya tidak punya teman sejati. Dia mungkin punya antek, orang yang berjalan bersamanya hanya untuk disuruh-suruh, atau orang yang bergentayangan di dekatnya hanya untuk minta-minta, namun cobalah melihat apakah orang itu punya hubungan bermakna dengan orang lain. Jika dia nyaris tidak punya teman, maka kemungkinan besar ada yang salah dengannya, kecuali dia sangat pemalu atau punya alasan lain.
Ini juga berlaku untuk anggota keluarga. Jika orang tersebut tidak pernah berhubungan dengan anggota keluarga dan tidak pernah bicara tentang mereka, maka mungkin ada masalah. Tentu saja, bisa jadi ada alasan lain, misalnya mengalami masa kecil yang sulit.
Cari tahu kurangnya hubungan di masa lalu. Jika orang tersebut tidak terlihat punya teman dari SMA, kampus, atau masa lalu kehidupannya, maka dia mungkin sosiopat.
9.
Lihat jika orang tersebut suka mengisolasi Anda. Sosiopat suka bertemu orang dan bergerak cepat dan mendekatinya. Ini supaya Anda tidak punya kesempatan untuk menarik diri atau berubah pikiran. Anda mungkin mendapati, setelah beberapa minggu, si sosiopat bersikap sangat intens di dekat Anda, jika Anda terlibat secara asmara. Dia bahkan mungkin membuat Anda merasa sebagai belahan jiwa karena dia sangat mahir dalam membaca orang, dia dapat mengatakan dengan tepat apa yang ingin Anda dengar. Akhirnya, sosiopat akan mengingini Anda untuk dirinya sendiri, bukannya “berbagi” Anda dengan dunia.
Jika kalian berkencan, si sosiopat akan dengan cepat berusaha mencegah Anda jalan-jalan dengan teman-teman Anda, karena dia akan merasa terancam oleh teman-teman Anda. Dia akan membuat alasan agar Anda tidak jalan-jalan, seperti “Mereka tidak sungguh-sungguh mengerti Kamu seperti Aku” atau “Mereka tidak akan pernah memberi Aku kesempatan,” mencoba membuat Anda merasa setiap orang bertentangan dengan Anda dan Anda harus menghabiskan semua waktu Anda dengannya.
10.
Lihat apakah orang tersebut tidak dewasa. Sosiopat tidak belajar dari kesalahan dan mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lagi. Maka, mereka tidak tumbuh atau berkembang seperti orang lain. Cari perilaku tidak dewasa yang mungkin tertutup oleh karisma dan pesona orang itu. Berikut beberapa perilaku untuk dicari tahu:
Keegoisan ekstrem. Orang tersebut menginginkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri apapun yang terjadi. Dengan ini muncul sebuah ketidaksediaan untuk berbagi.
Ego yang besar. Orang terebut sangat terobsesi dengan dirinya sendiri sampai-sampai dia tidak peduli terhadap orang lain sama sekali.
Perasaan kekurangan. Orang tersebut mungkin ingin Anda ada di sana untuknya kapanpun Anda diinginkan.
Tidak siap untuk bertanggung jawab. Orang tersebut tidak siap atau tidak mampu diberi tanggung jawab berarti. Mereka akan memberikan tugas pada orang lain dan menerima pujian sambil mengelak kesalahan, atau akan menghindari tanggung jawab sepenuhnya.

Metode 2 dari 2:
Menghindar
1.
Jangan berikan apa pun yang mereka mau dari Anda. Saat berurusan dengan sosiopat, jadilah semembosankan mungkin untuk tidak memancing keinginan sosiopat akan rangsangan. Sosiopat mudah bosan. Ini termasuk tidak memberi mereka hiburan emosi. Tetaplah tenang saat bicara dengan mereka. Jangan heboh atau berdebat dengan mereka. Juga berpura-puralah Anda tidak punya apapun yang diinginkan sosiopat. Pura-pura kehilangan uang, barang Anda dicuri, dll. Apapun yang mungkin dicari mereka, carilah alasan – dalam cara yang tidak emosional, tidak konfronsional – untuk tidak dapat memberikan lagi.
2.
Jaga jarak dengannya jika bisa. Begitu Anda tahu pasti orang itu adalah sosiopat sejati, maka paling baik adalah menghindari orang itu sesering mungkin. Jika orang itu adalah rekan kerja atau teman dalam kelompok, maka Anda tidak akan dapat menghindar total, tapi cobalah menghindarinya semampu Anda. Ingatlah sosiopat dapat mendeteksi saat Anda mencoba menjaga jarak dan bisa jadi ingin menarik Anda lebih lagi; tetap kuat dan bertekad untuk meluangkan sesedikit mungkin waktu dengan orang tersebut.
Bukan berarti Anda harus terang-terangan jahat atau kasar; ini malah akan menempatkan Anda dalam situasi berbahaya.
Jangan beritahu orang itu, “Saya tahu Anda sosiopat.” Dia bisa marah dan membuatnya makin bertekad memenangkan Anda. Anda tidak ingin orang itu tahu Anda memikirkannya; cukup jauhi sebisa mungkin tanpa bersikap kasar.
3.
Abaikan pesonanya. Sosiopat mungkin ingin membuat Anda terpesona dan mendapatkan Anda dengan hadiah, pujian, atau cerita yang bertujuan membuat Anda senang kepadanya. Namun ingatlah bahwa begitu Anda yakin bahwa ia adalah sosiopat, tidak ada jalan kembali. Pesona atau kebohongan seperti apapun tidak dapat menyeret Anda ke sisi gelap. Jangan biarkan orang itu menyanjung Anda atau memberinya kesempatan kedua. Anda tidak sebodoh itu.
Jangan menyerah. Sosiopat mungkin akan menjebak Anda agar merasa kasihan padanya, bercerita tentang betapa ia merasa kesepian, atau betapa pentingnya Anda baginya. Namun jika orang ini memang pembohong dan manipulatif seperti yang Anda sangkakan kepadanya, maka tidak mungkin Anda bisa bersimpati padanya, paling-paling sekedar kasihan karena orang ini mengidap kelainan mental.
4.
Jika Anda berkencan dengan orang tersebut, akhiri secepat mungkin. Semakin lama Anda menunggu, semakin buruk, dan semakin mungkin Anda akan terperosok dalam cara pikir orang itu. Jika Anda perlu mengakhiri hubungan, maka Anda harus memberitahunya sesegera mungkin; tidak perlu mengatakan alasannya adalah karena dia sosiopat.
Ingatlah ada perbedaan antara orang yang tidak peduli dan seorang sosiopat. Anda mungkin menyebut seseorang sosiopat hanya karena dia memperlakukan Anda dengan buruk atau bersikap egois, namun ini mungkin hanya tanda-tanda karakter yang buruk. Sosiopat sungguhan benar-benar tidak peduli pada apa yang orang lain pikirkan atau rasakan.
Jika Anda sungguh berada dalam sebuah hubungan yang manipulatif atau mengendalikan, maka lebih baik Anda akhiri sepihak. Lebih baik Anda lakukan lewat telepon atau minta teman membantu jika Anda perlu mengambil barang-barang Anda. Sosiopat mungkin tidak akan menerima jawaban tidak. Jika Anda mencoba mengakhiri hubungan, sosiopat akan depresi dan bahkan melukai supaya Anda tetap bersamanya.
5.
Peringatkan orang lain. Meskipun Anda tidak perlu menyebarkan fakta bahwa orang ini sosiopat ke seluruh dunia (kecuali orang tersebut sangat berbahaya bagi orang lain), Anda harus mempertimbangkan untuk memperingatkan orang yang berada dalam lingkaran si sosiopat. Tentu, peringatkan orang yang Anda anggap berkencan dengan si sosiopat. Jangan buat dia marah dengan mengatakan pada setiap orang ‘dia’ adalah sosiopat. Namun, jika keadaan memaksa karena korban potensial sangat perlu diperingatkan, jangan takut untuk mengatakan apa yang Anda pikirkan.
Lihat ini kasus per kasus. Bila orang tersebut lebih tinggi jabatannya di perusahaan Anda, maka ya, Anda mungkin tidak boleh berkeliaran memperingati orang. Tapi Anda “harus” menjauh sebisa Anda.
6.
Pikirkan kebaikan diri sendiri. Sosiopat memburu orang yang memiliki masalah pikiran akan dirinya sendiri atau yang mencari terlalu banyak panduan. Jalan terbaik agar Anda kebal terhadap sosiopat atau tidak rawan berjumpa sosiopat di masa depan adalah dengan meyakinkan diri bahwa Anda tahu siapa diri Anda dan mampu mengembangkan gagasan sendiri dan melihat dunia dengan mata kepala Anda. Sosiopat menghindari orang yang berpikiran kuat dan para pemikir asli karena sosiopat tahu akan sulit mengontrol orang-orang ini.
Meskipun mungkin diperlukan waktu seumur hidup untuk dapat sungguh-sungguh memikirkan diri sendiri, upayakan untuk tahu informasi akan peristiwa terkini, untuk memahami banyak sudut pandang akan situasi apapun, dan meluangkan waktu bersama orang-orang yang keyakinannya berbeda dengan Anda. Ini dapat bermanfaat dalam membantu Anda menjadi seorang pemikir asli.
Bagian dari ini ada hubungannya dengan kepercayaan diri. Jika Anda percaya pada diri sendiri, Anda akan lebih percaya diri pada ide-ide Anda. Anda akan lebih mungkin menjadi momok bagi para sosiopat yang mendekati Anda!
7.
Jangan takut pada sosiopat. Melainkan, pakai pikiran Anda sendiri (seperti dibahas sebelumnya) dan gunakan alasan dan ketenangan untuk merespon. Untuk pemula, sosiopat dapat memalsukan setiap hal, termasuk yang ditulis di atas, jadi jika orang ini berpura-pura, jadi tidak ada gunanya bermain-main. Kedua, sosiopat itu cerdas dan ini juga sumber bahaya Anda; sosiopat mencoba berdalih menjadi orang cerdas atau berpengetahuan, atau lebih mungkin, mengelak kebutuhan mereka yang besar untuk menjadikan kecerdasan atau kepintaran mereka pusat akan segalanya. Bila Anda berhenti takut pada sosiopat, dan berhenti mencoba jadi lebih baik atau sama baiknya dengan sosiopat, melainkan menjadi lebih menerima diri sendiri dan menghargai apa yang membuat Anda berharga, si sosiopat akan mengalami kesulitan dalam memanipulasi Anda. Sebagian besar sosiopat bukanlah pembunuh, orang sadis, atau monster; mereka manusia yang perlu diperlakukan dengan hati-hati. Mereka tidak memilih jadi sosiopat sama seperti Anda tidak memilih menjadi korban tipu muslihat mereka. Namun, Anda dapat membuat sosiopat lebih mudah atau lebih sulit memanipulasi kelemahan Anda, jadi pilihan ada pada Anda. Pahami maksud manusia memanipulasi dan memperlakukan orang lain dengan buruk, dan persenjatai diri Anda dengan metode untuk menjauhi perlakuan seperti itu dan menjalani kehidupan Anda.
Hal ini bukan berarti sosiopat akan menghargai Anda yang menunjukkan kekuatan diri dan menolak dimanipulasi. Namun, sosiopat akan berhenti menghabiskan energinya untuk memanipulasi Anda karena ia tahu Anda akan melawannya, setiap saat. Itu membosankan, dan sosiopat tidak suka kebosanan.

Tips:
Bila orang tersebut “terlalu baik”, maka mungkin dia sosiopat. Ini kasus untuk DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), termasuk sociopatis, borderline, dan narsisme.
Sociopath seringkali tahu cara membuat orang percaya mereka hanya korban padahal merekalah pelaku sebenarnya.
Orang jenis ini akan memberitahu Anda hal-hal agar Anda memaafkannya dan kemudian berkata dia tidak pernah memberitahu Anda. Ini adalah taktik untuk mempermainkan pikiran.
Beberapa ilmuwan yakin bahwa sosiopat menderita kerusakan pada prefrontal cortex yang mengatur emosi dan moral, dll.
Sociopath cenderung menyalahkan korban atas kelemahan mereka. Mereka tidak pernah mengakui kesalahan dan malah menyerang korban. Faktor kunci dalam diagnosa DSM apapun.
Sebagian besar sadar mereka perlu menyembunyikan sifat dingin, dan adalah aktor yang hebat (telah beradaptasi menjadi berbeda) jadi kebanyakan perilaku jahat ini hanya nyata untuk sosiopat yang kurang cerdas, muda, atau rendah.
Sebagian pakar mengatakan banyak sosiopat juga merupakan korban kekerasan anak.
Perilaku sosiopat sangat mungkin diwariskan, jadi lihatlah masalah dalam keluarga sebagai petunjuk akan kepribadian sejati seseorang.
Anda tahu bahwa sosiopat akan berbohong tentang masa lalu mereka, jadi jangan anggap serius apa yang mereka katakan. Melainkan, carilah konsistensi dalam cerita mereka. Umumnya, ada satu atau dua detil dari semua kebohongan mereka yang sama. Ini mungkin kenyataan, atau sesuatu yang dia sering ucapkan sehingga dia berpikir itu kenyataan.
Sadarilah mereka mungkin mencoba memanipulasi Anda dan mempelajari celah saat mencoba. Kalau tidak, mereka dapat membuat Anda melakukan yang tidak Anda mau.
Cobalah memanipulasi mereka. Meski ini sangat sulit, ini sangat bermanfaat bila Anda mampu melakukannya. Untuk melakukan ini, Anda harus membuat mereka berpikir ini adalah idenya. Buat mereka percaya mereka ingin melakukan yang Anda mau mereka perbuat. Jika mereka berpikir ide ini tidak ada hubungannya dengan Anda, maka mereka akan lebih mungkin melakukannya.
Mereka sering bereaksi emosi berlebihan saat muda. Mereka akan melihat reaksi orang lain terhadap situasi dan meniru respon mereka. Perhatikan baik-baik dan Anda akan melihat bahwa reaksi mereka sedikti tertunda setelah mengamati. Mereka mungkin terlihat seperti anak yang sangat sensitif saat meniru emosi yang mereka lihat namun melakukannya dengan berlebihan.
Peringatan:
Meski tidak semua sosiopat melakukan kekerasan, paling baik adalah menjaga jarak dari orang-orang ini agar tidak masuk tingkatan pertemanan yang emosional.
Sosiopat adalah para pembohong ulung karena mereka tidak punya hati nurani. Jadi mereka akan menggunakan semua dalih untuk perbuatan mereka supaya jati diri mereka tidak ketahuan.
Abaikan pesona mereka. Hal ini mungkin sudah jelas.
Sosiopat lebih kebal akan emosi dan karenanya dapat menggunakan emosi Anda untuk melawan Anda. Paling efektif adalah menghadapi orang dalam kondisi yang mereka pahami; jadi, jika Anda harus berhadapan dengan seorang sosiopat, jangan gunakan emosi/perasaan Anda atau mereka akan mengontrol Anda.
Jangan biarkan mereka tahu Anda memikirkan mereka. Hal ini mungkin berbeda di antara sosiopath, namun paling baik memang mereka jangan sampai tahu apa yang Anda ketahui tentang mereka.
Kecenderungan sosiopat sering rancu dengan kondisi seperti Asperger atau sebaliknya. Perbedaan utamanya adalah sosiopat tidak memiliki nurani, sedangkan Asperger kekurangan teori pikiran.

Source:

https://www.google.co.id/amp/s/id.m.wikihow.com/Menyelidiki-Sociopath%3famp=1

Sociopath

“I have never killed anyone, but I have certainly wanted to. I may have a disorder, but I am not crazy. In a world filled with gloomy, mediocre nothings populating a go-nowhere rat race, people are attracted to my exceptionalism like moths to a flame. This is my story.” – M.E. Thomas “Confessions of a Sociopath.”
Sociopaths, in a nutshell, make every attempt to control your life. If you’ve been in a relationship with a sociopath, chances are you often feel on-edge – and don’t quite understand this (often subtle) feeling.

Maybe you’ve experienced the feeling of being alone, being wrong, or afraid of making your partner angry. Again, these thoughts and feelings come and go; they are frustrating and enigmatic at the same time.

Having any type of a relationship with a sociopath, no matter how “below the surface” any emotions may be, is a dangerous situation. Here’s an excerpt from a book written by the ex-wife of a diagnosed sociopath:

My breath caught. My chest tightened. Fear welled inside me. I swallowed, trying to coax moisture back into my mouth so that I could speak and conceal how scared I was of Paul in that moment and of what might happen in the future.

How are sociopaths able to maintain relationships? Through fear, manipulation, and demoralization.

Self-doubt is often a close cousin of low confidence. Undermining your confidence is one of the ways that sociopaths are able to keep you trapped in their web of deceit.

Are there phrases sociopaths use to “clue you in” on their real intentions?
YES – AND HERE ARE FIVE SUCH CATCHPHRASES:

 1. “YOU’RE THE ONE/WE’RE MEANT TO BE.”

At the beginning of a relationship, it is not uncommon for sociopaths (or narcissists) to “love bomb,” or relentlessly verbalize their “affection” for you. This is not normal behavior. In the best-case scenario, the person is off-balance, e.g., a stalker, or “clinger.” In the worst case, well, they’re manipulative control freaks.

“(People) who go ‘too fast’ (defined as whatever makes you uncomfortable), do not respect boundaries. One definition of ‘abuse’ is ‘that which violates personal boundaries,’ writes Dr. Steven Stosney.

2. “YOU’RE MISUNDERSTANDING ME.”

“Gaslighting is a tactic in which a person or entity, in order to gain more power, makes a victim question their reality,” writes Dr. Stephanie Sarkis, sociopaths that utilize gaslighting because “They know confusion weakens people.”

Essentially, sociopaths use this phrase to (a) cause someone to question themselves, and (b) satisfy their insatiable need to feel right. They will often use gaslighting to recover from a situation that they believe diminishes (or threatens to diminish) their power.

3. “I HATE DRAMA/YOU’RE A DRAMA QUEEN.”

Few other phrases cause someone to doubt themselves more than being labeled a “drama queen.” In reality, this is a phrase that sociopaths use to impart a sense of uncertainty.

The truth is that sociopaths love drama, as without it, they would not be able to achieve their manipulative and self-serving plans. Think about it: drama is the sociopath’s primary source of ammunition.

Drama is the fuel to their fire. Time to put it out.

4. “YOU NEED ME.”

Sociopaths crave control; in fact, sensing or knowing that their victim has surrendered their personal will is their foremost desire.

Obviously, sociopaths don’t say this because they want a healthy relationship. What they want is to, again, create an influx of emotions that override rational thought. Remember the words control through manipulation, and you’re properly equipped to detect a possible sociopath.

Don’t give in. The fact is you don’t need them. It is essential to separate emotions from logical thinking when dealing with a sociopath.

5. “YOU’RE IGNORANT/STUPID/UNEDUCATED.”

This final phrase is included for a couple of reasons. First, to reinforce the fact that sociopaths are capable of abusive behavior. Again, sociopaths have no inhibitions about hurting people emotionally, physically or psychologically.

Now, combine this capacity for abuse with a sociopath’s unfounded, but very real, sense of superiority, need for control, and ruthlessness in getting what they want. In the end, it’s a play on your emotions capable of spiraling into a dangerous situation.

By preparing mentally, you protect yourself against these self-serving creatures.

Source:

https://www.powerofpositivity.com/5-phrases-sociopaths-use-kill-confidence/
REFERENCES:
DODGSON, L. (2017, MARCH 20). 7 PSYCHOLOGICAL PHRASES TO KNOW IF YOU’RE DATING A NARCISSIST. RETRIEVED JUNE 18, 2017, FROM HTTP://WWW.IFLSCIENCE.COM/EDITORS-BLOG/7-PSYCHOLOGICAL-PHRASES-TO-KNOW-IF-YOURE-DATING-A-NARCISSIST/ALL/
SARKIS, S. (2017, JANUARY 22). 11 SIGNS OF GASLIGHTING IN A RELATIONSHIP. RETRIEVED JUNE 18, 2017, FROM HTTPS://WWW.PSYCHOLOGYTODAY.COM/BLOG/HERE-THERE-AND-EVERYWHERE/201701/11-SIGNS-GASLIGHTING-IN-RELATIONSHIP
STOSNY, S. (2008, DECEMBER 17). ARE YOU DATING AN ABUSER? RETRIEVED JUNE 18, 2017, FROM HTTPS://WWW.PSYCHOLOGYTODAY.COM/BLOG/ANGER-IN-THE-AGE-ENTITLEMENT/200812/ARE-YOU-DATING-ABUSER
THOMAS. M.E. (2013, MAY 07). CONFESSIONS OF A SOCIOPATH. RETRIEVED JUNE 18, 2017, FROM HTTPS://WWW.PSYCHOLOGYTODAY.COM/ARTICLES/201305/CONFESSIONS-SOCIOPATH
WARD, O. (2015). HUSBAND, LIAR, SOCIOPATH: HOW HE LIED, WHY I FELL FOR IT & THE PAINFUL LESSONS LEARNED (EXCERPT). RETRIEVED JUNE 18, 2017, FROM HTTPS://WWW.AMAZON.COM/EXEC/OBIDOS/ASIN/B016APS1SG/REF=NOSIM/%20LOVEFRAUD-20

Wanita sebagai Komoditas

Bandung, 3 Oktober 2017

05.00 pm

 

Hi readers, masih berkaitan dengan tulisan saya di blog sebelumnya tentang Memetics dan Simulakra, kali ini saya akan membahas mengenai dunia realitas dan dunia hiperealitas dalam konsep ekonomi di mana dalam dunia modern sekarang ini, wanita berperan sebagai komoditas. Namun sebelum kita masuk ke konsep komoditas ekonomi, kita harus tahu dulu bahwa ada aspek-aspek seperti realitas, simulasi, hasrat, dan lainnya yang menjadi dasar hingga sesuatu atau seseorang, khususnya wanita menjadi suatu komoditas.

Yasraf Amir Piliang menjelaskan bahwa ada perbedaan antara dunia realitas dan dunia simbol (symbolic world). Dunia simbol biasanya dipahami sebagai wujud yang merepresentasikan sesuatu di luar dirinya, yaitu realitas atau dunia. Hubungan antara simbol atau tanda (sign) dan dunia realitas bersifat referensia, yaitu bahwa tanda merujuk pada realitas yang direpresentasikannya.

Yasraf menjelaskan mengenai pelipatan dunia, yaitu suatu kondisi di mana sosial, dan seksual diminiaturisasi ke dalam bentuk citra, dengan segala klaim kebenaran di dalamnya. Di sini dunia realitas diredusir ke dalam dunia simulasi. Miniaturisasi ruang dan waktu adalah dalam pengertian dominasi simulasi atas realitas, yaitu kekuatan citra dan informasi yang mengklaim dirinya sebagai realitas dan kebenaran.

Lebih jauh, Yasraf menjelaskan dalam pelipatan ruang-waktu psikis, di mana pelipatan ruang-waktu, pemadatan tindakan, miniaturisasi dunia, dan pemadatan simbol mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap dunia psikis. Persepsi tentang jauh/dekat (distance/close), luar/dalam (inside/outside), cepat/lambat (fast/slow) kini mengalami perubahan yang mendasar. Yang jauh dapat dirasakan dekat, sebaliknya yang dekat menjadi jauh dari psikis. Begitu juga peringkasan dunia ke dalam wujud realitas media dapat merubah pandangan manusia tentang yang nyata/fantasi (real/fantasy), asli/palsu (original/copy), realitas/simulasi (reality/simulation). Selain itu, pemadatan simbol dan bahasa, telah merubah persepsi manusia tentang makna. Makna tidak lagi menjadi kebutuhan psikis, tetapi menjadi alat pemenuhan hasrat akan perbedaan dan kepuasan.

Di dalam wacana simulasi, manusia mendiami suatu ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan fantasi sangat tipis, manusia hidup dalam satu ruang khayali yang nyata. Teknologi modern sekarang ini mengantar kita kepada simulasi yang nyata. Content video full HD memanjakan mata kita secara visual melihat dengan puas dan nyaman segala tampilan yang ditayangkan oleh media televisi, youtube, dan sebagainya. Media-media tersebut merupakan alat utama untuk bersimulasi. Apa yang ditampilkan oleh media sangat jauh dari realitas, namun terlihat dan terasa sangat nyata saat ditonton atau dikonsumsi oleh khalayak.

Yasraf menjelaskan bahwa potret dunia didominasi oleh citra-citra besar. Salah satunya citra hasrat (desire) dan libido. Inilah sebuah dunia yang segala ada (being) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelepasan hasrat, sebuah dunia yang didominasi oleh mesin-mesin hasrat yang memproduksi segala sesuatu sebagai cara pembebasan hasrat dari batas-batasnya.

Image result for narcissistic

Narcissistic

Kunci untuk memahami hasrat dalam kepemilikan subjektif dan aspek-aspek kulturalnya bisa ditemukan dalam diktum Lacan di mana hasrat (desire) bisa dipahami sebagai hasrat akan liyan (desire of the other). Ada 3 ambiguitas krusial dalam formulasi yang terdaftar dalam 3 basis untuk distingsi di ranah hasrat.

Pertama, hasrat bisa mengambil bentuk baik sebagai hasrat menjadi (to be) atau hasrat memiliki (to have), berhubungan dengan distingsi yang dibuat Freud antara narcissistic dan anaclitic libido. Bentuk narcissistic hasrat memanifestasikan dirinya sebagai cinta/ rasa suka (love) dan identifikasi, di mana bentuk anaclitic melibatkan hasrat untuk suatu jouissance yang secara fundamental tak berbeda; kerap kali bertentangan dengan proses menjadi diri sendiri dan liyan.

Kedua, kata ‘of‘ dalam formulasi Lacan, berfungsi sebagai hal yang subjektif genitif dan objektif genitif, mengidentifikasikan bahwa “other” bisa menjadi subjek maupun objek dari hasrat, suatu distingsi yang diformulasikan Freud sebagai perbedaan antara tujuan aktif dan pasif dari libido.

Ketiga, ‘the other‘ bisa berupa imaji dari liyan yang telah ada dalam daftar imajiner (imaginary register) atau kode yang mengonstitusi tatanan simbolik, atau “other sex” dan/atau objek dari “the real”.

Dalam pembahasan narcissistic, hasrat merupakan aspek utama terbentuknya simulasi. Berawal dari hasrat ingin tampil, hasrat ingin pamer, hasrat ingin menunjukkan lekuk tubuh, hasrat ingin dipuji, hasrat ingin diidolakan, hasrat ingin diakui, dan sebagainya. Hasrat-hasrat tersebutlah yang mengantar seseorang kepada suatu budaya narcissistic, di mana seseorang merasa nyaman dengan simulasi yang ditampilkannya melalui cara berpakaian, cara bicara, barang-barang yang dipakai, dan lain sebagainya.

Lacan menjelaskan hasrat dalam 4 bentuk berikut:

  1. Passive Narcissistic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk menjadi objek dari cinta orang lain (atau kekaguman dari orang lain, idealisasi orang lain, atau rekognisi dari orang lain).
  2. Active Narcissistic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk menjadi orang lain-sebuah hasrat untuk mengidentifikasi adalah bentuk cinta atau devosi pada sesuatu yang lain.
  3. Active Anaclitic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk memiliki orang lain dengan tujuan untuk jouissance.
  4. Passive Anaclitic Desire: seseorang bisa memiliki hasrat untuk dihasrati atau dimiliki oleh orang lain sebagai objek jouissance orang lain.

Image result for voyeurism

Voyeurism

Voyeurism adalah kegiatan melihat tubuh atau citra tubuh (image), terutama tubuh dan citra tubuh perempuan yang mengarah pada tercapainya kesenangan visual (visual pleasure). Orang-orang tertentu dapat merasakan rangsangan seksual, bahkan orgasme ketika secara diam-diam melihat gambar (hidup) perempuan telanjang, setengah telanjang, sedang membuka pakaian atau sedang melakukan hubungan seksual. Rangsangan dan kepuasan tersebut dapat bangkit pada diri seorang voyeur, disebabkan di dalam dirinya pelbagai fantasi seksual berkembang bersamaan dengan proses melihat itu sendiri. Dengan melihat, ia mengembangkan di dalam dirinya semacam mekanisme metafora, yaitu mekanisme pengumpamaan dirinya sebagai memiliki peran di dalam tindakan seksual itu sendiri, yang memungkinkannya mengembangkan pelbagai fantasi, dan kemudian mendapatkan kepuasan.

Konsep voyeurism inilah yang dimanfaatkan oleh media dan ekonomi saat ini, di mana segala bentuk iklan, video klip, film, dan sebagainya dari berbagai produk berusaha menampilkan content yang berisikan hal-hal yang membangkitkan hasrat dan fantasi penonton dengan menggunakan model wanita sebagai komoditas untuk para voyeur. Dengan demikian, para voyeur akan mendapatkan kepuasan karena merasa masuk ke dalam peran content yang ditampilkan tersebut.

 

Masturbation Voyeurism

Masturbation Voyeurism adalah kegiatan melihat tubuh atau citra tubuh sambil melakukan masturbasi. Menurut Jacques Lacan, masturbasi tidak dapat dipisahkan dari fantasi. Di dalam masturbasi, genital sedang diarahkan pada sebuah citra (image), yang keberadaannya dikaitkan dengan sebuah penanda (signifier) tertentu, misalnya seorang perempuan yang disukai, perempuan seksi, dan seterusnya. Di dalam masturbasi yang menyertai voyeurisme, orgasme hanya dapat terjadi bila citra (seksi, cantik) dan fantasi penanda (perempuan tertentu misalnya) hadir bersanding di dalam membentuk kepuasan seksual.

Masturbation Voyeurism ini terdengar fulgar namun cukup realistis, karena khalayak pria pada umumnya tentu saja akan merasa dibangkitkan hasratnya setelah melihat tampilan-tampilan wanita seksi, bergairah dan sebagainya. Jika reaksi akhirnya adalah melakukan masturbasi, ini tergantung pada kendali diri para khalayak pria itu sendiri. Karena walaupun sebuah content itu dapat meningkatkan hasrat dan fantasi khalayak, tidak semua khalayak pria melakukan masturbasi setelah menonton suatu tayangan fulgar.

Image result for game lara croft

Interactive Voyeurism

Interactive Voyeurism adalah kegiatan melihat gambar interaktif di dalam cyberspace, sambil melakukan interaksi. Ada suatu kepuasan tertentu yang didapatkan ketika orang mengendalikan imajinasi perempuan telanjang, mengendalikan pemeran perempuan dalam sebuah game yang seksi atau telanjang, mengendalikan video perempuan seksi atau telanjang saat berinteraksi.

Interactive Voyeurism ini di mana khalayak berperan aktif pada sesuatu yang ditampilkan, misal bermain game; game yang menampilkan tokoh wanita seksi sebagai hero atau tokoh utama permainannya membuat pemain game (gamer) masuk menjadi bagian dalam game tersebut. Sehingga ada kepuasan tersendiri yang dirasakan oleh pemain, karena dia mengikuti petualangan yang disajikan oleh game tersebut.

Selain game, interaksi seksual yang dilakukan oleh pasangan seks tidak saling kenal pada media internet yang biasa dilakukan dengan cam to cam, atau sex video chat juga merupakan interactive voyeurism. Di mana perempuan-perempuan pada video tersebut adalah real, namun aktivitas yang dilakukan tidaklah real. Perempuan hanya merangsang lawan chatnya melalui gambar dan suara pada video yang ditampilkan. Namun karena perempuan tersebut real, maka pria yang merupakan lawan chatnya dapat berinteraksi melalui media yang digunakan.

Image result for fetishism

Fetishism

Fetishism tampak pada penonjolan bagian-bagian tubuh tertentu yang membuat kekaguman, misal: ukuran payudara, paha, bokong, bibir sensual, dan sebagainya.

Dalam ruang kultur simulakrum, ilusi memberi jalan bagi ilusi itu sendiri untuk mencipta suatu ruang cermin raksasa yang tak ada jalan keluarnya dan manusia harus bertahan hidup dalam ruang ini. Ruang kultur simulakrum adalah sebuah ruang di mana manusia harus belajar untuk hidup dalam ketakmasukakalan melalui membuminya semua ilusi. Pada titik ini, layaknya hantu yang keluar dari kubur, ilusi lepas dari esensinya dan membayangi hidup manusia. Dalam kultur simulakrum, yang esensial menjadi banal, yang banal menjadi esensial.

 

Kapitalisme Tubuh

Kapitalisme mengeksploitasi tubuh sebagai tanda dalam rangka mencari nilai pembedaan (differentiation). Dalam dunia yang berada di bawah spirit posmodernisme, orang mencari dam memburu apa saja yang terkesan berbeda. Desire to be different membawa implikasi, pemasaran lantas tak bisa lagi mengandalkan produksi massal untuk konsumsi massal, melainkan masuk dalam ceruk pasar (Niche). Strategi pemasaran harus mampu mengadaptasi hasrat untuk berbeda. Dunia marketing mengenal differentiation sebagai salah satu strategi pemasaran. Differentiation inilah yang kemudian menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan pemasaran.

Yasraf menjelaskan bahwa nilai tanda tubuh perempuan sebagai komoditas dapat dilihat melalui pelbagai aspek berikut, yang dikonstruksi di dalam sistem komoditas kapitalisme.

Pertama, tampilan  tubuh (body appearance), kerap kali sistem komoditas menekankan aspek umur, yaitu kemudaan tubuh perempuan yang ditampilkan. Perempuan berumur antara 18-35 tahun secara visual mempunyai nilai sensualitas dan seksualitas yang relatif lebih tinggi. Oleh sebab itu, perempuan dengan rentang umur tersebut merupakan figur sentral dan favorit dalam sistem komoditas kapitalisme.

Kedua, perilaku (manner), merupakan aspek lain yang menentukan relasi tanda tubuh (body sign) di dalam media, yang dapat dilihat dari ekspresi tubuh dengan pelbagai gaya dan kecenderungannya; dari pose, dengan pelbagai variasinya, seperti menantang, mempertontonkan, merayu, menggoda, mengajak, ekstase, memperlihatkan gairah, dan sebagainya; dari pakaian, dengan pelbagai gaya, ukuran, dan maknanya yang mampu memperlihatkan posisi sosial tubuh di dalam masyarakat, penghibur, eksibisionis, perayu, dan penantang.

Ketiga, aktivitas tubuh dapat menjadi penanda bagi posisi sosialnya di dalam media. Di antara aktivitas tersebut adalah: sentuhan (touch), yang dapat memperlihatkan apakah sebatang tubuh itu pasif, aktif, lemah, berkuasa, dan sebagainya.

Di dalam kapitalisme, ekspresi, perilaku, dan aktivitas tubuh di atas merupakan elemen-elemen utama yang dapat menciptakan pelbagai tanda tubuh (body signs), yang dieksploitasi sebagai komoditas (comodity signs).

Di dalam sistem ekonomi libido, sebuah betis yang terbuka, sebuah payudara yang tersingkap, sebuah paha yang diekspos dianggap bukan sebagai bentuk degradasi moral, melainkan sebuah nilai jual dan currency.

Untuk itu, Lyotard berpendapat, bahwa kebudayaan harus bersifat afirmatif dan permisif sehingga manusia dapat memperoleh kesenangan dan jouissance secara maksimal. Siapa saja dapat mewujudkan fantasi-fantasinya secara demokratis lewat tubuhnya, dengan mengeksplorasinya sebagai alat tukar libido (libidinal currency) di dalam sebuah sistem pertukaran hasrat (desiring exchange).

Refleksi Lacan mengenai hasrat juga diikuti oleh neo-freudian Prancis lainnya, Rene Girard. Girard memperkenalkan konsepnya tentang hipotesis mimesis. Menurut hipotesis ini, kendali total ego atas hasrat adalah ilusi. Manusia adalah makhluk yang tidak tahu apa yang harus dihasrati, dan oleh karenanya, berpaling ke orang lain untuk menentukan pilihan. Hasrat tidak muncul dari imperatif ego, melainkan peniruan hasrat orang lain.

Baudrillard melihat bahwa masyarakat kapitalis telah meninggalkan jalur kapitalisme monopoli dengan produksi mekaniknya, dan memasuki kapitalisme mutakhir atau kapitalisme global dengan model produksi simulasinya. Fantasi disimulasi menjadi (seolah-olah) nyata, sehingga perbedaan antara realitas dan fantasi menjadi tidak ada. Memampukan manusia hidup dalam dua dunia.

Dengan demikian, pasar media dan ekonomi sekarang ini hampir selalu menampilkan wanita sebagai komoditas barang atau produknya. Bahkan wanita-wanita tersebut tidak sadar bahwa dirinya digunakan sebagai komoditas, wanita-wanita tersebut bekerja atas dasar hasrat; hasrat ingin tampil, hasrat ingin terkenal, hasrat ingin terlihat cantik dan seksi, hasrat ingin diakui, hasrat ingin mendapatkan uang, hasrat bergaya hidup mewah, dan lain sebagainya.

Berawal dari hasrat, kemudian beralih kepada budaya narcissistic, lalu dimanfaatkan sebagai komoditas. Inilah alur yang sedang populer di era posmodern seperti sekarang ini.

Well readers, sampai disini dulu pembahasan kita mengenai “wanita sebagai komoditas”. Sampai jumpa di pembahasan selanjutnya.

 

Sumber:

Audifax. 2006. Imagining Lara Croft Psikosemiotika, Hiperealitas dan Simbol-simbol Ketaksadaran. Yogyakarta: Jalasutra.

 

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Alpha women are different from other women

SE

Laurel Thatcher Ulrich once said that “Well-behaved women seldom make history,” and those words have been printed on paper and typed onto the internet millions of time ever since. Although it’s easy to take the phrase to mean mostly whatever you want, in truth, these words are meant to celebrate women who make the world, in general, a better place, largely by being bolder and more creative than most other people. Read the following list to find out just how badass alpha-women really are, and to find out just how amazing they are.

#1: They make maximizing enjoyment in life a top priority

Regardless of whether they’re single, dating, engaged, or married, alpha-women make sure to continually shape their situation in life in ways which make it genuinely enjoyable to live. Living requires experiencing, so badass, fearless women embrace new courses, trips, and people whenever they have the opportunities (instead of shying away from these things, or accepting excuses not to be there).

#2: They’re open and assertive.

They’ll be the first person to introduce themselves or the first employee to ask for (a very well-deserved) raise. They don’t tend to beat around the bush or hesitate in general.

#3: They’re confident in their character.

It doesn’t matter if they are aware of every one of their imperfections because alpha-women know that overall, they are truly badass (and no one is perfect anyway).

#4: They’re happy single but open to a relationship which will make them even happier.

This means that they have more than enough people, hobbies, and interests in their life to begin with, but also that they are willing to reduce or cut some things out in order to make room for new people and things which fulfill alpha-women in different ways.

#5: They learn from the past, but don’t dwell on it.

It’s important to remember the past so you can learn from your mistakes, but once the lessons have been learned and remembered, alpha-women put their knowledge to the best use possible by focusing on how they can change and improve their lives in the present to better themselves now and in the future.

#6: They set and maintain boundaries.

They don’t allow people to violate their body, space, dignity, or beliefs. Appropriate words and actions are loud after any of these violations occur (or almost do).

This is the most important point for me. Don’t say any judgement statement to me, don’t think “small” or think “short” about anything before you analize it, don’t intimidate, don’t say any bad word to me. If you do that, I’ll give you minus score. Lol.

#7: They’re not afraid to walk away in some situations.

When a friendship, family relationship, or romantic relationship isn’t perfect, alpha-women are aware of all the pros and cons, and as soon as it’s clear that the juice isn’t worth the squeeze, they move on to a more positive endeavor.

Yes sure, and I’m not afraid to leave anything behind. I’m ready to be alone if people around me piss me off.

#8: They demand physical relationships.

This means that just texting, calling, or video messaging most of the time won’t cut it. I mean, you can still be friends, but alpha-women deserve and demand much more from their partners.

Physical relationship not only about sex, it means you have to show your love by hugging, or kissing, or cuddling, or anything you can do to show your love physically.

#9: They’re opportunistic.

Online networking is great, but badass, fearless women know that putting themselves out there in the real world is key to finding the best opportunities. Partly due to this, alpha-women are highly versatile from the wide ranges of clubs, pubs, museums, and galleries which they’ve been to.

And also don’t be fake and don’t do any simulation on social media to make you look good in my eyes. Real relationship much better than virtual relationship.

#10: They aren’t overly dramatic.

Just truly genuine. Fuck drama! Show me the real you!

#11: They aren’t celebrity worshippers.

Instead, they worship the reality around them—life itself. I worship myself. Lol

#12: They realize their bodies and their minds are investments.

It’s worth working out more now and reading and learning more now in order to be healthier, happier, and more successful in the near future (you’ll be in great shape and well-educated).

#13: They won’t be victimized.

They accomplish this by refusing to re-live negative experiences, and by maintaining control of their feeling, emotions, and life, as a result.

#14: They “just do it.”

Is that still a Nike slogan? Regardless, if an alpha-woman is unsure about saying or doing something, they will end up saying or doing it far more frequently than they will hold back. Because of this, badass, fearless women don’t have very many regrets. 

Never regret, never feel sad, never do drama, never cry when someone leave or dead.

#15: They’re always themselves.

They care about what other people think and do, but after considering the whole picture, they have no choice but to say or do whatever they truly think is best for themselves, their friends, their family members, and the world overall.

Which means I don’t care about what people think about me. Because I’m sure they’re not perfect, and so am I. I do and think what I enjoy & comfort with. I don’t follow people’s action or thought. I’m just me.

Source:

666: Novus Ordo Seclorum (novel by Afred Suci)

Bandung, 29 Agustus 2017

5:45pm

Hi readers, kalau kalian baca dari judul artikel ini, jangan salah paham dulu yah. Waktu saya beli buku ini juga awalnya tertarik dengan covernya yang berwarna hitam dan tertulis 666. Awalnya saya mengira ini buku mistis atau buku yang menceritakan sekte Lucifer. Tapi setelah saya baca ternyata ini hanya novel biasa kok. ^_^

Penulis novel ini orang Indonesia, dan setting cerita dalam novel ini pun berada di kota Jakarta. Dalam novel ini diceritakan kisah fiksi mengenai pembunuhan berantai yang ditujukan kepada orang-orang terpilih yang merupakan anggota suatu sekte yang memiliki identitas tato pentagram di setiap korban yang terbunuh. Tato bergambar pentagram tersebut terdapat di belakang telinga seluruh korban pembunuhan tersebut.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Iptu Adrian dan pacarnya Luci, serta seorang guru spiritual, dan Aziel yang adalah adik kandung Luci.

Adrian adalah polisi yang bertugas khusus menangani kasus pembunuhan berantai ini. Semua korban terbunuh dengan kondisi yang aneh, semuanya meninggal dengan posisi terbalik (kepala dibawah), dan kaki korban yang terikat di atas.

Novus ordo seclorum adalah mantra yang digunakan oleh seluruh anggota sekte saat melakukan ritual. “Novus ordo seclorum….novus ordo seclorum…biarkan dunia baru muncul dalam satu kuasa Lucifer, sang terang yang agung“, begitu bunyi mantranya.

Kami selalu percaya kepada mu, hai utusan agung. Kami percaya Lucifer yang agung akan mempersatukan dunia ini kembali“, sahut pengikut sekte tersebut saat ritual.

Saat Luci sedang berada di dalam kelas dengan “guru”nya, guru menjelaskan bahwa ada beberapa organisasi yang berpaham setan. Bahkan si penulis novel berani menyebutkan beberapa nama tokoh penting di Amerika Serikat yang dalam novel ini disebut sebagai pengikut organisasi setan tersebut. Penulis menyebutkan nama Abraham Lincoln dan John F. Kennedy sebagai salah satu anggota organisasi setan yang terbunuh, bahkan kasus pembunuhan mereka pun masih misteri hingga saat ini.

Guru mengatakan kepada Luci bahwa metode pengajaran organisasi setan tersebut bersifat akademis dengan menerbitkan buku-buku, salah satu buku yang paling terkenal berjudul “Liber Legis” karangan Aleister Crowly, dengan sebuah tulisannya yang paling diminati penganutnya: “Tidak ada hukum, kerjakanlah apa yang kau inginkan. Jadilah kuat, sang laki-laki! Nikmati dan reguklah dengan sepuasnya segala kegairahan nafsu, jangan takut dengan Tuhan karena perbuatanmu itu“. Intinya bagi mereka, dogma-dogma agama hanyalah belenggu yang membatasi. Ajaran Liber Legis dianggap memerdekakan mereka dari rantai yang mengikat selama sekian ratus tahun.

Guru melanjutkan ceritanya bahwa ajaran Crowly ini kemudian dikembangkan menjadi Satanic Bible dan Satanic Ritual oleh Anto Sandorz La Vey. La Vey menyempurnakan ajarannya dengan mendirikan Church of Satan di tahun 1966 di San Fransisco. Injil setan karangan La Vey dianggap pihak gereja sebagai penyelewengan kitab Perjanjian Baru. Selain itu, Guru juga menyebut Satanic Verses karangan Shalman Rusdhie.

Guru juga menyebut tentang ajaran David Berg, pendiri Children of God, yang sebelum menjadi sesat; David dulunya adalah seorang Evangelist. David mengatakan seks adalah wujud nyata dari perasaan bersyukur manusia kepada Tuhan. Jadi yang namanya masturbasi dan seks bebas adalah sah, dan tidak dibatasi dengan pernikahan.

Dalam film Da Vinci Code, David Berg mengatakan bahwa Yesus bersetubuh dengan Maria sehingga menghasilkan anak. Kemudian di tahun 1960an tumbuh generasi bunga dan pemujanya yang disebut hippiest. Mereka benar-benar mengamalkan ajaran La Vey dan David Berg. Segala kenikmatan dunia, seks, minuman keras, dan narkoba, mereka nikmati semuanya tanpa batasan. Penulis juga berani menyebutkan nama-nama musisi seperti Jimmy Hendrix, Led Zeppelin, dan The Beatles sebagai musik pengantar generasi bunga tersebut. Penulis menyebut bahwa musik zaman itu banyak menganjurkan bunuh diri, penggunaan seks bebas dan narkotika.

Saat berbincang-bincang dengan Luci, Guru menceritakan tentang testament (pengakuan) Lucifer. Di salah satu bagian dalam testament Lucifer tersebut, disebutkan Adam memiliki dua anak lelaki. Namanya Kain dan Habel. Kain adalah seorang petani yang bekerja sangat keras, sedangkan Habel adalah seorang penggembala domba. Setiap harinya, Kain bekerja keras mengolah tanahnya agar menghasilkan makanan, sementara Habel hanya duduk-duduk di padang rumput sambil melihat-lihat ternak-ternaknya makan. Kerja keras Kain kemudian memberikan hasil yang bagus, dan ia berniat untuk memberikan hasil yang bagus, dan ia berniat untuk memberikan sebagian hasilnya kepada Tuhan, sebagai tanda syukurnya. Kain kemudian memberikan hasil panennya kepada Tuhan. Habel tak mau ketinggalan, melihat saudaranya itu. Ia pun lalu mempersembahkan daging domba hasil ternaknya. Ternyata, Tuhan memilih persembahan dari Habel, yang terdiri dari lemak-lemak daging domba. Kain yang semula begitu taat kepada Tuhan, kemudian menjadi marah karena dia merasa diperlakukan dengan tidak adil oleh Tuhannya. Padahal ia sudah bersusah payah menanami tanahnya yang keras dan dengan sungguh-sungguh ingin berterima kasih kepada Tuhannya. Menurut pengakuan Lucifer dalam testamentnya, Lucifer menyaksikan dan memperhatikan apa saja yang dilakukan Kain dan Habel pada saat itu. Kain berniat membunuh Habel dan akan dijadikan persembahan untuk Tuhan. Setelah akhirnya Kain berhasil membunuh Habel, Kain membaringkan mayat Habel yang penuh darah diatas altar batu. Ia berteriak keras sekali memanggil Tuhan supaya persembahannya kali ini mau diterima-Nya. Tuhan diam saja. Dia enggan menerima persembahan itu. Sebaliknya dalam perjalanan pulangnya, Kain akhirnya ditegur oleh Tuhan atas tindakannya membunuh saudaranya sendiri. Tuhan marah besar, dan mengutuk Kain menjadi seorang pengembara seumur hidupnya. Dimanapun ia akan mengusahakan tanahnya, maka tanah itu tidak akan memberinya apa-apa. Dari kejadian inilah kemudian menurut pengakuan setan dia mendapatkan inspirasi untuk meminta persembahan manusia atau darahnya dari manusia-manusia pengikutnya.

Tubuh penuh lumpur, darah penuh najis, hati dan jiwa adalah murni. Novus ordo seclorum! Akan tiba bagi kami memimpin mereka“.

Saat Adrian sedang melakukan penyelidikan di lokasi tukang tato yang merupakan langganan anggota sekte setan tersebut, Adrian menemukan buku berwarna hitam saat dia sedang melakukan penggeledahan. Pada sampul buku tersebut terdapat logo pentagram berwarna merah mengkilat. Lalu ia menemukan kalimat berikut pada salah satu halaman buku tersebut:

PADA SAAT ITU MEREKA AKAN MENGORBANKAN JASADNYA UNTUKKU SEBAGAI PERTANDA KEBANGKITANKU DAN MENIUPKAN BENIH ANAKKU: OMEN, TEPAT PADA MALAM 666. MEREKA PARA SATRIAKU ITU ADALAH: IBLIS, SETAN, TERAFIM, ASH-TARTU DAN ABADON. DARAH MEREKA AKAN DIMURNIKAN OLEH SATRIAKU YANG TERKUAT: AZAZEL YANG AKAN MENGHADIRKAN AKU KE TENGAH KALIAN. AKU AKAN MEMBERIKAN PENGANTINKU BENIH DARIKU, SEBELUM AKU KEMBALI KE KERAJAANKU. BENIH ITU AKAN MENJADI YANG DIPUJA OLEH MANUSIA-MANUSIA ITU. BENIH ITU YANG AKAN MENYESATKAN MEREKA SEMUA DARI JALAN SURGA. MEREKA AKAN MEMILIH RUMAHKU. MEREKA ADALAH ANAK-ANAKKU. DAN PADA SAAT ITU AKU SUNGGUH-SUNGGUH INGIN MELIHAT AIR MATA JIBRIL, YANG MENYAKSIKAN SURGA TUHANNYA HANYA DIHUNI OLEH NABI-NABINYA SAJA… “L”.

Untuk cerita detail tentang apa yang dialami Luci dan Adrian kaitannya dengan sekte setan ini, ada baiknya langsung baca sendiri novelnya yah. Novelnya menarik, namun ceritanya cukup sederhana. Malah setelah saya membaca novel ini, seperti menonton ringkasan film yang berjudul “Omen” dengan cerita yang sedikit berbeda. Novel ini sama sekali tidak menakutkan dan tidak ada unsur mistisme yang akan berpengaruh kepada pembaca. Ini hanya sebuah novel biasa yang dikemas dengan cover yang menarik perhatian pembaca untuk penasaran mengenai isi novel ini.

So, don’t afraid to read it. hehehehehe

 

With Love,

Naomi Indah Sari

 

Source:

Suci, Afred. 2009. 666: Novus Ordo Seclorum. Jakarta: Buku Kita.

 

You also can follow me on instagram:

naomiindahsari

or add me as friend on facebook:

Naomi Indah Sari

Why does anyone stay single?

Why do women prefer more masculine men during the fertile phase of their menstrual cycle? Why are men more distressed by a partner’s sexual infidelity than their emotional infidelity? And why do female dating profiles advertise beauty, while male dating profiles boast about wealth?
The relatively new field of evolutionary psychology has answered all of these questions, and more. By applying evolutionary theory to the study of human mating behavior, psychologists have revolutionized our understanding of attraction, jealousy, lust, and love.

But surely there’s one question that evolutionary psychology can never answer: Why does anyone stay single?

If natural selection favors individuals who are best able to survive and reproduce, what possible benefit might there be to bowing out of the mating market? For countless generations, our ancestors have successfully reproduced. If evolution has shaped human desire, the prospect of life as a singleton should be as terrifying and impossible as holding your breath for 20 minutes. And yet, for many, remaining single is a conscious lifestyle choice. Why?

76 Reasons to Stay Single
It’s a question that occurred to Menelaos Apostelou, an evolutionary psychologist at the University of Nicosia in Cyprus. To answer it, he gathered together 120 men and women for an in-depth discussion of the reasons why people might stay single. After discarding very similar answers, he had a list of 76 distinct reasons.

Next, Apostelou sent a team of research assistants onto the streets of Cyprus to ask the public how likely each of the 76 reasons might be to cause them to stay single. Some reasons tended to go with others: If someone said they were worried that nobody wanted to be with them, they were also likely to say that they couldn’t find the right person. If they said they didn’t want to lose their freedom, there was a good chance they would also say they like to have their own space. Through these surveys, Apostelou found that the 76 reasons clustered into 15 groups, which in turn clustered into three super-groups, or broad and distinct reasons people choose to stay single:

Super-group 1: freedom of choice included reasons that seemed to be about wanting to flirt, be free, not commit, avoid conflict and constraints, and feeling that one is already doing well without a partner, as well as having different priorities and simply enjoying being alone.

Super-group 2: constraints included reasons relating to sexual dysfunction and other factors that might hold a person back from starting a relationship, such as a health problem, being older, or having children from a previous relationship.

Super-group 3: difficulties with relationships included reasons to do with bad experiences in previous romantic encounters, a lack of trust in others, a fear of change, an unwillingness to compromise, difficulties starting a relationship, and a feeling that one would not be better off with a partner.

Although most people will identify with reasons in each of the three super-groups, people who chose a reason from within one super-group were more likely to choose other reasons from within that same group. This suggests that, at least among Apostelou’s Greek-Cypriot research volunteers, there are three broad reasons why people choose to stay single—because they like to be free to set other priorities, because they feel cannot successfully compete for a partner, and because they find relationships difficult.

An Evolutionary Account
So far, so good. But what does this have to do with evolution? Apostelou’s argument goes like this:

Evolution has selected for ways of thinking and behaving that enhance our reproductive success, or the number of offspring we produce. So we shouldn’t be surprised that humans are motivated to pursue relationships. However, it should be surprising if humans pursued relationships indiscriminately, regardless of the costs.

For example, men with a greater earning potential tend to be more attractive to women. This means it makes less sense for a man to settle down with his high-school sweetheart at 18 than to focus on his education and developing his career, so that he can be more competitive for mates later (although a man with fewer opportunities for advancement might do better to marry young). By the same token, a woman who decides to marry the first man she dates might be making a bad move, but after dating more men, she will be better placed to make an informed decision about the best partner for her.

In both cases, these people would be staying single to exercise freedom of choice, applying reasons from Apostelou’s first super-group, but in a manner that is consistent with evolutionary theory. Staying single can allow you to pursue short-term flings, gain experience evaluating potential matches, and develop yourself to better attract desired partners later.

Now imagine another set of possibilities: If you are ill, it might not be the best time to settle down. You may have a better chance of finding an attractive partner if you wait until your health improves. If you have young kids with an ex-partner, this might make you less attractive to a new partner. In this case, you might decide to invest your energy and resources in your children, instead of a romantic relationship. If you are older, or infertile, you may choose to invest in the children of relatives or in your own grandchildren.

All of these constraints could lead you to reason that it makes more sense to stay single, at least for the time being—and again, your behavior would make sense in light of evolutionary theory.

We’ve seen how reasons for staying single that fit within Apostelou’s first and second super-groups are not incompatible with natural selection. But what about the third super-group  —  difficulties with relationships? Here, Apostelou takes a different tack. He reasons that navigating romantic relationships is a modern phenomenon. For much of human history, men may have secured partnerships with women by simply out-competing other men in physical combat, gorilla-style. Meanwhile, women may have had less choice in their partners, with a loose system of marriages arranged by parents as the norm. Apostelou says:

“In ancestral human environments, individuals would get mates from their parents or by fighting other men, rather than by addressing opposite-sex partners directly. Thus, selection forces had not enough time to augment the capacity of individuals to approach and persuade other individuals to establish an intimate relationship with them.”

In other words, those who stay single because they have trouble flirting, because they are too shy, or because they believe nobody wants to be with them are not operating a shrewd, long-term mating strategy. They are not unconsciously weighing the costs and benefits of settling down now rather than later. Instead, they are suffering the consequences of our species’ rapid development from hunter-gatherers to citizens of modern industrial economies in the (relative) blink of an eye.

In Apostelou’s view, natural selection “wants” these people to find a partner, but human circumstances have changed so quickly that evolution has yet to come up with a solution to these dating woes.
References:

Apostolou, M. (2017). Why people stay single: An evolutionary perspective. Personality and Individual Differences, 111, 263-271.